Senin, 23 Mei 2016

[Belitong Trip] Tersihir Sosok Legendaris Laskar Pelangi, Bu Muslimah



"Ayo silakan masuk. Rumah Ibu adanya hanya begini. Silakan duduk di manapun boleh. Pokoknya cari tempat yang nyaman. Ibu tidak menyangka tamunya sebanyak ini. Desak-desakan tidak apa-apa, ya?" sambut wanita berbalut baju panjang riang. 

Gantong usai diguyur hujan deras siang itu. Rintik-rintik sisa hujan masih menyambut gembira kedatangan kami. Udara dingin menembus dinding rumah sederhana berhalaman luas. Baju basah karena jogging di stasiun dini hari menguap bersama udara dingin yang berhembus. Kelelahan karena packing marathon dan berbagai hal kecil lain luntur saat menatap wajah bijaksana berbalut kerudung kuning. Iya, Belitong kali ini terasa begitu istimewa. Mata saya menelusuri deretan penghargaan dan foto di dinding ruang tamu. Ada rasa damai dan haru menelisip.


Bu Muslimah Laskar Pelangi
Bu Muslimah dan sederet penghargaan

Senin, 11 April 2016

Ngopi Sore dan Diskusi Seru Bareng BPJS Kesehatan

Ngopi Sore dan Diskusi Seru Bareng BPJS Kesehatan


"Ibu, pertanyaan saya sederhana saja. Banyak gosip yang beredar bahwa praktek di lapangan, pasien BPJS dibedakan dengan pasien lain. Dalam artian pasien yang menggunakan jasa asuransi lain atau membayar sendiri lebih diutamakan. Apakah sejak awal tidak ada MoU yang mengikat pihak rumah sakit dengan BPJS?" saya melempar satu pertanyaan yang selama ini mengganggu pikiran usai opname beberapa bulan lalu.

"Jika ada kejadian seperti itu laporkan pada kami, Mbak. Boleh melalui SMS, telepon, akun sosial media yang ada. Sebutkan nama rumah sakitnya. Kami sangat terbuka dan terbantu dengan laporan dari masyarakat. Kami bahkan sudah memutus kontrak dengan dua rumah sakit swasta besar di Jawa Tengah ini," sang ibu menjawab lantang.

Saya terdiam. Ingin menanggapi lebih lanjut tetapi waktu sudah mepet. Lagipula saya juga harus segera melipir ke acara lain. 

Namun masih ada yang membayangi benak. Benarkah dengan melaporkan pihak rumah sakit ke BPJS Kesehatan semua akan selesai? Ada banyak perut yang mencari nafkah di sana. Tetapi di sisi lain pasien juga berhak mendapatkan pelayanan yang layak.

Minggu, 10 April 2016

Kamu (Hanya) Liburan di Rumah?

Kamu (Hanya) Liburan di Rumah?


Terlahir dan besar di desa membuat saya hampir nggak kenal sama liburan ke tempat jauh. Paling banter ke tempat simbah di desa sebelah. Atau enggak ngikut bapak ke pasar. Hal paling menyenangkan jika liburan tiba. Ke pasar, dibeliin jajan, masih dibungkusin pula. Kesempatan langka. Hihihi. 

Jika libur panjang tiba, saya dan teman-teman akan bermain sepuasnya. Petak umpet, kelereng, masak-masakan, rumah-rumahan, dan aneka permainan lain. Kami bisa main sampai sore dan lupa tugas rumah. Entah kenapa ya dulu saya senang aja liburan sekolah hanya di rumah. Nggak seperti sekarang kalau weekend atau ada tanggal merah berdekatan bawaannya mau cuti *eh*

Setelah bisa mengais rupiah dan merantau ke luar kota, weekend menjadi hari paling favorit. Pasti sudah ada rencana pergi ke suatu tempat. Nongkrong-nongkrong kece di cafe kekinian. Menghabiskan segelas es teh ditemani rumpian dari A-Z. Belum lagi cerita ngalor ngidul lain. Kebiasaan nongkrong dari kafe ke kafe tiap weekend bikin kantong bolong juga. Hiks. Akhirnya saya dan teman-teman sepakat, hanya dua kali sebulan saja kami nongkrong kece. Selain itu diserahkan ke masing-masing. Bagi yang punya duit monggo nongkrong. Kalau yang mepet siap-siap nongkrongin kosan.

Sabtu, 09 April 2016

Ketika Hujan Datang di Malam Hari

Ketika Hujan Datang di Malam Hari


"Bingung mau nulis apa di ODOP ketiga belas ini," curhat saya ke Mbak Uniek.

"Temanya tentang pengalaman horor ya? Duh, aku opo ya. Soale aku pemberani sih," jawaban sombong keluar dari emak antagonis.

Bukannya ngasih ide, si emak ini malah pamer keberanian. Pengin nimpuk pakai sendal jadinya. Haha. Alhasil saya mendapat ilham untuk tema one day one post dari obrolan kami selanjutnya. Terpenting adalah saya nggak mau nulis tentang hantu. Hahaha. Penakut eeeuuuyyyy. 

Terus mau nulis apa donk? Kan temanya horor.

Aih kalian itu, horor kan nggak harus ngomongin soal hantu doank ya. Banyak pengalaman lain yang nggak kalah horor. Apa contohnya?

"Takut hujan di malam hari"

Ada yang takut hujan di malam hari kayak saya? Ngacung! 

Jumat, 08 April 2016

Perlukah Sharing Kerjaan dengan Rekan Kerja?

Perlukah Sharing Kerjaan dengan Rekan Kerja?

Menginjak tahun ketiga di kantor induk, memaksa saya untuk melek tentang banyak hal. Berbagai dinamika ada di kantor tujuh lantai ini. Pengetahuan bertambah? Pasti! Kesabaran dan kecantikan bertambah? Wajib! *uhuk* Teman dan jejaring makin melebar? Banget! Intinya di kantor induk itu menyenangkan. Terkadang ada juga hal (agak) menyebalkan sebagai bumbunya. Dari kantor inilah saya belajar tentang "elu elu gue gue", kemandirian, tanggung jawab juga kerja keras. Bagaimana menjadi diri sendiri dan bisa survive ditengah gempuran ritme pekerjaan, gaya hidup dan hingar bingar ibukota provinsi *padahal juga cuma ibukota kecil :p 

Sekitar dua ratus tiga puluh karyawan menempati bangunan samping tol ini. Sisanya menyebar ke unit-unit. Jangan heran sewaktu bertandang ke kantor hanya berjumpa segelintir orang. Kalau nggak dinas, sakit, cuti, ijin, ya, memang itu personilnya. Termasuk  sub bagian saya yang hanya empat orang termasuk supervisor. Jika jadwal dinas merepet, ada yang cuti atau sakit, bisa dipastikan satu orang yang stand by di kantor.