Senin, 17 Oktober 2011

NOTULEN WORKSHOP CERPEN IIDN SEMARANG


NOTULEN WORKSHOP CERPEN IIDN SEMARANG

Pembicara           : Wiwin Wintarto
Tempat                                : RM Ayam Kaliwang, Jl. Mulawarman 49A, Semarang
Hari/Tanggal       : Sabtu, 15 Oktober 2011
Jam                        : 10.00 s.d. selesai

Secara keseluruhan acara berjalan lancar, menyenangkan dan pastinya sarat ilmu. Santai tapi serius. Walau molor dari undangan, tak apalah. Ini beberapa catetan yang jadi titik point acara workshop. Menurut Mas  Win, cerpen yang memberi nilai jual adalah :
1.       Tempat dan waktu kejadian ditulis seaktual mungkin. Misal di desa, kota atau negara lain. Perlu dituliskan juga hari, tanggal dan jam kejadian.
2.       Menggunakan nama tokoh asli, jika ingin disamarkan maka diberi catatan.
3.       Adanya punch sehingga memberikan unsur menyentak dan mengejutkan.
4.       Menonjolkan konflik
5.       Adanya “dialog” di awal sebuah cerita merupakan hak preogratif penulis. Jika di awal sebuah cerita merupakan “narasi” maka pembaca sudah diberi gambaran sekilas mengenai cerita tersebut. Jika di awal sebuah cerita merupakan “dialog” maka penjelasan isi cerita berada di tengah atau akhir.
6.       Untuk cerpen anak-anak “satu kalimat” tidak boleh lebih dari “10 kata”. Sehingga apa yang kita tulis lebih mudah dicerna dan dipahami oleh anak.
Sedangkan untuk menulis novel harus melirik resep dibawah ini :
1.       Saat menulis naskah tersebut, kita sudah memikirkan mau dikirim ke penerbit mana naskah kita. Misal novel islami ke Divapers, teenlit ke GPU, naskah kocak ke Gradien, dll.
2.       Harus imajinatif. Kebanyakan untuk penulis pemula mengambil cerita dari kejadian yang ada di sekitar kita. Belum sepenuhnya mengembangkan imajinasi. Mengasah otak dengan membiasakan menulis walau hanya sebuah note. Banyak membaca berbagai macam buku akan memperluas khasanah perbendaharaan kata dan imajinasi kita. Mengambil kisah nyata biasanya kekurangannya pada konflik yang terjadi. Disinilah penulis pintar-pintar mengembangkan konflik dan kejutan-kejutan agar ceritanya lebih menarik, dan seru. Melenceng dari cerita asli juga boleh karena kita hanya menulis terinspirasi kisah nyata bukan menulis berita tentang itu yang harus akurat.
3.       Untuk penulisan narasi dan dialog orang lain harus menjorok. Misalnya :
Vian meletakkan backpack-nya di meja, dan ia sudah menduga langsung bisa menebak reaksi anak-anak melihat penampilannya pagi ini.
“Wuah, si tomboi is back!” seru Sarif si ketua kelas XI IPA 1.
“Aduh, Vian, kenapa rambutmu jadi gini?” celetuk Banu sok sendu. “Aku lebih suka liat kamu berambut panjang. Lebih feminim-lebih cantik!”
Rita yang sejak tadi nongkrong di bangku sebelah Vian tak ketinggalan pula berkomentar. “Kok nggak ngajak-ngajak sih ke salonnya!?” teriaknya sengit. “Aku sebenarnya juga pengin ngerapiin rambut. Dasar jahat!”
(Ini tulisan Mas Win di buku terbarunya “The Unfunniest Comedy”)
4.       Tidak usah memberi imbuhan setelah dialog. Misalnya :
“Assalamu’alaikum”, sapaku dengan suara khas ngantuk.
“Wa’alaikumsalam”, suara seorang wanita diseberang sana.
Aku baru sadar itu bukan suara mamaku tapi suara tante, adik mama. Langsung mataku melek lebar dan terjaga, pikiranku melayang kemana-mana. Kenapa hape mama bisa dibawa tante, pikirku.
”Sudah tidur nduk?” tanya tante dengan suara serak.
“Sudah tant, kebangun ada telpon dari mama, eh ternyata tante. Ada apa tant malem – malem telpon?” tanyaku penasaran.
5.       Sinopsis diperlukan juga dalam pengajuan naskah novel ke penerbit. Tetapi ada kalanya penulis tidak memberikan sinopsis dan sedikit “memaksa” editor agar membaca cerita dari awal hingga akhir. Ini bertujuan agar jika ada kesalahan pasti langsung dicoret oleh editor.

Menurut sang penulis desain interior mas Ruli Amin, dalam penulisan cerpen maupun novel perlu adanya komunikasi. Beberapa poin penting komunikasi dalam sebuah cerpen atau novel :
1.       Komunikasi bertujuan untuk memperjelas paradigma/persepsi untuk orang lain. Karena sebuah cerita jika ditulis hanya disimpan dan dibaca sendiri, maka itu hanya untuk konsumsi pribadi. Berbeda jika cerita dalam sebuah majalah atau novel, dia akan menjadi konsumsi umum.  Untuk itu perlu komunikasi, akan dibawa kemanakah cerita itu. Apakah untuk kalangan anak-anak, remaja atau dewasa. Sehingga tidak terjadi salah konsumsi, anak-anak membaca cerita remaja atau dewasa.
2.       Sebelum mengirim naskah ke majalah atau penerbit, perlu adanya review ulang tentang naskah tersebut. Sehingga masih ada kesempatan untuk mengoreksi jika ada kesalahan.
3.       Untuk pembuatan tokoh cerita, persepsi antara penulis dan pembaca harus sama. Setiap orang pasti punya pandangan berbeda akan deskripsi tentang seseorang. Misal, Pak Bambang menurut mbak Bella itu berkulit putih, tinggi, hidung mancung, badan tegap. Sedangkan menurut mbak Adel, pak Bambang berambut keriting, kecil, berwajah tirus dan bersuara keras. Untuk menyamakan persepsi tentang pak Bambang, maka perlu adanya komunikasi dalam menulis.

Tambahan saja dari mbak Vivin Purwandini, sang master jarimatika. Mungkin sedikit diulas dan boleh dicoba. Ini baru jarimatika dasar, untuk lebih jelas silakan kontak mbak Vivin dan beli bukunya.
1.       Kesepakatan awal bahwa tangan kanan sebagai “satuan” dan tangan kiri sebagai “puluhan”.
2.       Dimulai dari tangan kanan, jari telunjuk : satu,  jari tengah : dua, jari manis : tiga, kelingking : empat, jempol : lima, telunjuk : enam, jari tengah : tujuh, jari manis : delapan, kelingking : sembilan.
3.       Tangan kiri penggunaannya sama tetapi diakui sebagai puluhan. Dimulai dari jari telunjuk : sepuluh, jari tengah : dua puluh, jari manis : tiga puluh, kelingking : empat puluh, jempol : lima puluh, telunjuk : enam puluh, jari tengah : tujuh puluh, jari manis : delapan puluh, kelingking : sembilan puluh.
4.       Sehingga total jika kedua tangan dibuka adalah 99
5.       Untuk penambahan dan pengurangan, maka kesepakatannya adalah “jika jari dibuka maka ditambah” dan “jika jari ditutup maka dikurangi”.
6.       Contoh : jari telunjuk dan jempol tangan kiri dibuka, jempol, jari telunjuk dan jari tengah dibuka maka hasilnya 67.
7.       Untuk contoh lebih lanjut bisa intip di buku mbak Vivin atau bu Septi ya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar