Kamis, 18 Oktober 2012

Mengeja Asa, Mengejar Cita


Siapa yang tak butuh listrik? Hampir sebagian besar kegiatan kita bergantung sepenuhnya pada listrik. Mulai dari masak, minum, mandi, nge-game, dan yang terbaru mobil listrik. Nah lho, bisa dibayangkan gimana sehari saja tanpa listrik? Misal, kalau lagi ada pemadaman atau gangguan, pasti udah berkali-kali cari info ke kantor PLN sambil ngomel. Hihihi.

Sering kita mendengar ungkapan tak kenal maka tak sayang, so yuk menyimak sejarah perusahaan listrik negara kita. Kurang afdhol rasanya kalau sama sekali gak tahu. Hitung-hitung memperluas pengetahuan juga, kan? Jadi mari kita simak bareng-bareng.
Berawal di akhir abad ke 19, perkembangan ketenagalistrikan di Indonesia mulai ditingkatkan saat beberapa perusahaan asal Belanda yang bergerak di bidang pabrik gula dan pabrik teh mendirikan pembangkit listrik untuk keperluan sendiri.

Antara tahun 1942-1945 terjadi peralihan pengelolaan perusahaan-perusahaan Belanda tersebut oleh Jepang, setelah Belanda menyerah kepada pasukan tentara Jepang di awal Perang Dunia II.
Proses peralihan kekuasaan kembali terjadi di akhir Perang Dunia II pada Agustus 1945, saat Jepang menyerah kepada Sekutu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para pemuda dan buruh listrik melalui delegasi Buruh/Pegawai Listrik dan Gas yang bersama-sama dengan Pimpinan KNI Pusat berinisiatif menghadap Presiden Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan tersebut kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5 MW.
Pada tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas yang dibubarkan pada tanggal 1 Januari 1965. Pada saat yang sama, 2 (dua) perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pengelola tenaga listrik milik negara dan Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai pengelola gas diresmikan.

Pada tahun 1972, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.17, status Perusahaan Listrik Negara (PLN) ditetapkan sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara dan sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) dengan tugas menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum.
Seiring dengan kebijakan Pemerintah yang memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan listrik, maka sejak tahun 1994 status PLN beralih dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dan juga sebagai PKUK dalam menyediakan listrik bagi kepentingan umum hingga sekarang. (Sumber : http://www.pln.co.id/).

Nah, itu dia sejarah kelistrikan di Indonesia. Ternyata umur PLN sama tua dengan bangsa kita Indonesia. Enam puluh tujuh tahun bergerak dalam bisnis kelistrikan tentu mengalami berbagai macam fase perubahan. Perubahan dari waktu ke waktu membuat masyarakat menuai banyak harap dan menambah kepercayaan kepada PLN.

Berbicara tentang harapan, tentu banyak yang kita harapkan pada perusahaan listrik ini. Seperti kita ketahui PLN merupakan salah satu perusahaan adi kuasa listrik di Indonesia. Saya sebut adi kuasa karena belum ada saingan seperti Telkom, Bank, Pertamina, dll. Sebagai perusahaan adi kuasa tentu ada amanat besar yang harus dipikul. Menerangi listrik hingga pelosok nusantara adalah amanat dan tanggung jawab PLN hingga nanti. Tapi benar ada adanya bahwa harapan belum tentu sesuai dengan kenyataan. Setinggi apapun kita berharap tapi tidak mendukung program-program PLN hasilnya tentu tidak maksimal. Contoh kecil, mengijinkan petugas PLN membersihkan pohon di depan rumah yang sudah tinggi hingga menyentuh jaringan. Kalau tidak dibersihkan, bisa jadi pohon tersebut penyebab listrik mati. Siapa yang kita salahkan? PLN lagi, bukan?

Membaca buku Indonesia Mengajar 1-2, membuat saya merenung dan terbersit sedikit harap kepada PLN. Selama ini PLN belum sepenuhnya memberikan kontribusi lebih kepada masyarakat Indonesia. Terutama mereka yang berada di daerah pedalaman. Listrik menjadi barang langka. Bisa dibilang sebelas dua belas dengan kebutuhan pokok seperti makan dan minum. Hanya genset jadi andalan, itupun tak lebih dari beberapa jam. Sebenarnya PLN bukan belum mampu, lebih tepat masih berjuang untuk bisa menyalurkan listrik hingga ke daerah pedalaman. Fenomena ini tentu membuat kita semua miris. Di daerah pedalaman sana banyak anak-anak cerdas yang lebih dikenal "mutiara terpendam". Mutiara-mutiara itu perlu diasah hingga menjadi indah. Kalau saja mereka mengenal listrik, pasti sudah melek terhadap dunia luar, internet misalnya.

Sumbangsih PLN dalam menyalurkan listrik ke seluruh pelosok negeri memberi kontribusi besar dalam dunia pendidikan. Yayasan Indonesia Mengajar telah menyumbangkan pengajar professional hingga ke pelosok negeri. PLN tentu ingin berpartisipasi dalam dunia pendidikan. Menurut saya menyalurkan listrik hingga ke pelosok sudah sebagai bentuk partisipasi. Bukankah mencerdaskan kehidupan bangsa itu tanggungjawab kita bersama? Pendiri IM, Bapak Anies Baswedan diakhir kata pengantar buku Indonesia Mengajar 2 berkata, "Lebih baik menyalakan lilin daripada sekadar mengutuki kegelapan. Lebih baik berjuang daripada berpangku tangan". Sangat gamblang tersirat bahwa tidak ada alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Semua butuh perjuangan. Begitu juga PLN harus terus berjuang hingga semua merasakan listrik. Seperti halnya slogan PLN, listrik untuk kehidupan yang lebih baik. Harapan saya dengan tersalurnya listrik ke seluruh Indonesia, negeri ini bisa menelurkan generasi berprestasi yang bisa membangun negara tercinta ini.

Sumber energy yang digunakan untuk PLN tentu lambat laun akan habis entah berapa tahun kedepan. Kalau tidak dicanangkan mencari sumber energy alternatif mulai dari sekarang, tidak menutup kemungkinan kita akan bergantung pada pihak luar. Relakah kita semua asset dikuasai negara asing? Tentu saja tidak, bukan? Apa tidak lebih baik memanfaatkan dan mencari sumber alternatif yang ada di negara kita demi kelangsungan pasokan energy listrik. Toh, PLN mempunyai sumber daya manusia yang tentu cerdas dan bisa dihandalkan. Tetapi itu semua butuh waktu, tenaga, pikiran dan tentu modal yang cukup besar. Tidak mungkin semudah membalikkan telapak tangan.

Beberapa tahun belakangan ini PLN gencar melakukan rekrutment mulai dari lulusan SMK/SMA hingga sarjana muda. Menurut kabar PLN sedang melakukan regenerasi pegawai. Harapan saya semoga peluang kerja yang ditawarkan ini bisa mengurangi pengangguran di Indonesia. Tidak hanya menciptakan lapangan kerja tetapi juga harus merekrut tenaga kerja handal. Sehingga para rekrutment terpilih bisa memberikan kontribusi demi kelangsungan PLN.

Wah, kalau menulis harapan tidak akan ada habisnya. Bisa berpuluh-puluh halaman nih harapan saya pada PLN. Tambahan satu lagi, deh. Harapan ini untuk internal PLN. Saya melihat dalam hal seragam, PLN itu tidak seragam. Boleh saya sebut, seragam yang tidak seragam. Seringkali saya berjumpa petugas lapangan yang tidak memakai seragam, tanpa ID Card atau identitas lain. Entah itu petugas pemutusan listrik, catat meter dan petugas teknik. Jaman telah berkembang, masyarakat tidak lagi buta informasi. Banyak penipuan yang mengatasnamakan suatu institusi. Untuk menghindari dan mencegah anggapan masyarakat kepada petugas lapangan, tidakkah lebih baik petugas-petugas tersebut diseragamkan? Selain terlihat lebih rapi, sopan, tentu juga menambah kepercayaan masyarakat kepada PLN. Sehingga citra PLN lambat laun akan membaik.

Seragam tidak hanya untuk para personil PLN saja. Mungkin sebaiknya gedung PLN juga diseragamkan. Saya melihat dari kota satu ke kota lain gedung PLN berwarna macam-macam. Yang menandakan bahwa itu gedung PLN hanya tanda petir dengan warna biru, kuning, dan merah. Juga tanda keberadaan kantor yang berada di pinggir jalan. Hmmm…bagaimana kalau warna gedung juga dibuat standar seperti Telkomsel, Indosat, Telkom, Kantor Pos, dll. Selain lebih menarik, juga terlihat lebih resmi bahwa itu kantor PLN. Tentu masyarakat akan lebih mudah mengenalinya.

Itulah sedikit harapan saya kepada PLN. Tak lupa saya ucapkan, selamat ulang tahun ke-67, semoga semakin jaya dan terus memberikan kontribusi terbaik kepada bangsa ini. Mari merenung, apa yang telah kita sumbangkan untuk bangsa ini? Terutama untuk saudara-saudara kita yang masih membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Apapun sumbangan itu, tentu sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar