Minggu, 02 Desember 2012

Namanya Pasar Bubrah


Aku tertegun memandang kantong kerupuk di tangan. Dua kantong kerupuk yang masing-masing berisi 6 biji dihargai dua ribu rupiah. “Wah, murah banget ya,” batinku. Sebiji kerupuk yang biasanya dipatok harga 200-500 rupiah, di pasar itu hanya 166,67 rupiah. Wow. Murah. Melihat sekeliling, aku tertarik untuk membeli makanan lain. Dan, ternyata memang harganya diluar dugaan semua. Nangka matang satu gelondong gede hanya enam ribu rupiah. Buah-buahan dipatok mulai dua ribu rupiah saja. Belum lagi tetek bengek kebutuhan rumah tangga lain.
Dulu, sempat ragu mendengar cerita temanku. Hampir setiap weekend dia pergi ke pasar bubrah. Katanya harga barang dan makanan jauh lebih murah dibanding pasar tradisional apalagi supermarket. Sekarang akupun membuktikannya. Harganya memang lebih terjangkau
Kudus. Di sinilah aku menjumpai berbagai macam keunikan. Salah satunya pasar bubrah. Pasar bubrah merupakan pasar non maden yang berada di sepanjang jalan dimana pabrik rokok berdiri. Pasar tersebut hanya ada pada jam-jam tertentu. Tergantung dari jam kerja karyawan pabrik. Bisa pagi buta, siang, atau bahkan sore hari. Karyawan yang mayoritas adalah ibu rumah tangga menjadi target utama para pedagang. Walaupun sebagian masyarakat juga senang berbelanja di sini. Alasan utama harga murah, dapat banyak pula. Tapi ada juga yang beranggapan barang dan makanan di pasar bubrah kualitasnya tidak bagus. Bisa disebut KW dua mungkin, ya? Tapi kembali lagi tergantung kemampuan dan kesukaan seseorang donk.
Jangan dibandingkan dengan pasar tradisional. Pasar bubrah memang bisa disebut pasar mau bubar. Para pedagang hanya menggelar lapak seadanya. Ada yang berjualan di mobil terbuka, gelar tikar, berpayung ria, bawa sepeda motor, dan lain sebagainya. Kebanyakan dari mereka membuat bangunan sederhana yang bisa dibongkar pasang. Benar-benar sederhana. Hanya kayu penyangga, terpal, dan meja bambu untuk menggelar dagangan.
Aku tertegun memandang keriuhan ibu-ibu yang baru keluar dari pabrik. Bergegas mereka mencari aneka kebutuhan rumah tangga. Seolah takut tidak kebagian jatah. Mereka yang sering disebut “wong mbathil” kebanyakan memang langsung membelanjakan uang hasil kerjanya. Miris rasanya, mereka digaji berdasarkan jumlah pesanan. Bahkan ada yang bekerja hanya  dua jam dengan upah sekitar sepuluh ribu rupiah.
Itulah salah satu alasan harga barang dan makanan di pasar bubrah jauh lebih murah. Target pedagang memang hanya para karyawan pabrik. Mereka tidak mungkin dihargai standar pasar tradisional. Barang dan makanan yang dijual sudah dibungkus mulai harga 500 rupiah. Ketika karyawan pabrik bubar, tidak perlu lagi ada tawar menawar harga. Semua sudah terpatok. Ternyata para pedagang tidak kalah cerdas dengan supermarket. Memberi harga pas, menyingkat waktu , dan mengantisipasi terjadinya tawar menawar yang alot.
Keunikan lain, jika pabrik tersebut sudah selesai jam kerjanya, maka pedagang akan pindah ke pabrik lain. Tergantung dari jam kerja pabrik tersebut. Bisa sampai dua kali dalam sehari. Padahal jarak antara pabrik satu dengan lainnya jarang berdekatan. Kudus yang sebagian besar dikuasai pabrik rokok mempermudah para pedagang menggelar dagangannya.
Pasar bubrah ramai diserbu penduduk local sekitar pabrik untuk pagi hari. Selain barang masih fresh, pilihan juga lebih beragam. Berbeda jika berbelanja di pasar bubrah siang hari. Barang jauh lebih sedikit, panas, dan pasti kalah dengan para karyawan. Jadi, lebih baik berburu barang murah meriah pagi hari di pasar bubrah. Selain dapat barang banyak sesuai keinginan, juga menghemat uang belanja, bukan?

1 komentar: