Kamis, 14 Maret 2013

Cerita Tentang Hati

Entah mengapa beberapa hari terakhir dakuw dilanda galau luar biasa. Enggak seperti biasanya, kali ini diwarnai insiden nyesek tapi susah nangis :'(. Sungguh luar biasa sakit, berasa ada beban menghimpit dada. Efeknya banyak aktivitas yang aku lakukan hanya sebatas "formalitas" semata. Menyedihkan sekali, kan? :(
Curhat ke sahabat terdekat pun masih berasa sakit dan belum bisa nangis. Aaaaaa...rasanya pengen ngumpet di kutub bumi entah sebelah mana, biar nggak ngerasain kaya gini. Huhuhuhu. Tulung akuh.

Rupanya efek kegalauan sangat dramatis. Dakuw yang memang hobi baca buku, kalau lagi waras dan sehat sehari bisa satu novel habis dibaca. Keren? Enggak juga sih. Itu dalam kondisi nggak ngapa-ngapain, lho. Kalau lagi kerja begini, ya, malam hari aja bisa baca. Jam kerja lebih banyak mantengin blog, facebook, twitter, hihihihi kalau kerjaan lagi longgar donk ya *ngeles abis. Saat galau melanda, boro-boro bisa baca satu novel sehari, beberapa halaman aja udah ketiduran. Lelah mendera, terutama batin amat terasa. Sungguh menyakitkan. Beraktivitas hanya sebatas formalitas. Bukan dengan hati riang gembira. Outputnya? Tolong jangan ditanya tapi cukup deskripsikan sendiri, ya.

"Lakukan semua aktivitas dengan hati"

Sepotong kalimat itu menggema terus di udara. Melenusup pelan. Merasuk bersama helaan napas panjang. Mengalir ke persendian bersama darah. Terngiang-ngiang ucapan seorang kawan, bahwa ketika kita melakukan sesuatu dengan "hati" pasti akan terasa ringan. Tak pernah ada beban, yang ada hanya perasaan riang. Dan aku rasakan, ucapan itu sangat benar. Aku juga pernah baca blog mbak Fita Chakra, sangat terasa semua postingan di sana berasal dari hati. Sesuai banget dengan judul blognya "Menulis Dengan Hati". Buktinya karya-karya mbak Fita sungguh cetar membahana. Hmmm...tara tengkyu, mbak Fita :))

Galau itu nggak nikmat sama sekali. Hanya menyiksa belaka. Hal yang paling terasa adalah saat baca novel terbaru seorang penulis terkenal. Novel itu ramai dibicarakan di socmed, terutama twitter. Hanya karna penasaran dan pengobat galau, aku beli novel itu. Bisa ditebak saat baca pun aku hanya sepintas baca. Maksudnya di sini, baca ya hanya asal baca. Sama sekali nggak bisa menikmati dan mengambil intisari novel tersebut. Biasanya aku gampang larut dan masuk dalam sebuah bacaan. Setelah dipikir dengan hati jernih beberapa hari kemudian, ternyata aku membaca bukan dengan hati. Aku hanya baca doank pakai mata. Hmmm...rupanyah rupanyah melakukan aktivitas bukan dengan hati itu nggak enak sama sekali. Selain outputnya nggak ada, saat aktivitas juga ogah-ogahan. Huaaaaa...kapoook!!!

Sesuatu yang dilakukan dengan "hati" hasilnya akan lebih terasa. Ada kepuasan tersendiri ketika target tercapai, entah itu dalam hal apapun. Tetap ada rasa lelah tapi dalam balutan senang tiada tara. Rasanya sungguh berbeda ketika melakukan tanpa hati. Hilangkan galau, gunakan hati dalam aktivitas sehari-hari. Sugesti diri bahwa semua akan berjalan sesuai ritme kehidupan. Hati tak akan pernah bisa dibohongi. Dia akan berbicara apa adanya. Tergantung bagaimana diri sendiri menyikapi.

Ini hanya sharing pengalaman kemarin, tak bermaksud menggurui siapa pun. Aku juga masih belajar melakukan "sesuatu" dengan hati. Yuk, belajar bareng :))


Tidak ada komentar:

Posting Komentar