Kamis, 07 Maret 2013

Delegasi vs Komunikasi

Terpancing postingan mbak Uniek, aku nyolong waktu buat ngeblog bentar setelah beberapa hari tepar tak berdaya aka sakit. Hiks. *Grok grok grok* :p

Entah kenapa bulan Februari kali ini tak bersahabat denganku. Heran. Pasti. Padahal itu bulan sapisial, eh special dalam hidupku. Yup. Pertama, karna ultahku tepat tanggal 11 Februari *gak boleh kurang lhooo. Kedua, tepat tanggal 9 Februari 2013 kemarin itu aku 4 tahun sudah mengabdi di tempatku nguli. Harusnya aku merayakan dengan gembira dan suka cita. Tapi keadaan justru berbanding terbalik. Kejadian-kejadian diluar prediksi muncul tanpa permisi. Mengobrak-abrik semua rencana indahku. Huhuhuhu *tergugu pilu

Semua berawal hanya karna satu kata "KOMUNIKASI". Yaps, komunikasi itu penting, guys! Tolong ditulis besar-besar dan ditempelkan di jidat kalau perlu biar tiap waktu inget. Hahaha. 

Aku yang memang sejak awal seorang collector merasa "kecolongan" dengan kejadian ini. Nggak usah diceritain gimana sih beratnya kolektor, dari namanya udah pada tau, kan? Tukang tagih alias nyari duit dari pelanggan tiap bulan. Berat? Masuk sini dulu, baru bisa bilang kerjaanku berat atau enggak. Hihihii
Kejadian berawal ada satu perusahaan yang komplain tagihannya terlalu kecil. Sebagai "pelayan" yang baik, aku menjembatani karna memang aku lumayan dekat dengan si perusahaan. Eits, bukan dekat dalam konteks lain, lho, ini konteks kerjaan. Karna kami memang sering komunikasi. Just info, job descku seharusnya dua divisi sekaligus tapi karna "sesuatu" yang tak bisa diceritakan di sini, aku tetap pegang divisi collector. 

Entah karna jadwal berbagai macam audit bebarengan, permintaan data bejibun, detlen-detlen lain mengejar, aku lupa memantau komplain pelanggan itu. Harap maklum awal taun *mekso sitik* :p
Pikirku, pendelegasian itu sudah berjalan dengan baik. Tapi kenyataannya malah jadi masalah besar sampai ke kantor pusat. Kaget? Pasti! Dipanggil atasan? Nggak usah tanya lagi. Ditelpon sana-sini? So mesti. Dikomplain pelanggan? Tetep!
You know, duit 4.7M terkotang-katung nggak jelas sampai menjelang akhir bulan. Pie nggak stress? Kalaupun nombok aku juga nggak punya duit, sekitar 139jutaan boooooo'. Itu gajiku juga belom ada segitu, lah, emang gue nggak butuh buat hidup di perantauan? You pikir, eike hidup nebeng di kantor apah *salah fokus

Saat dipanggil atasan, aku jawab apa adanya. Karna aku memang bukan pemegang user komplain, otomatis aku serahkan pada pihak yang berwenang donk. Kalau aku ikutan nanti dikira ngrebut kerjaan orang? Bener nggak? Dilogika lagi, setiap komplain pelanggan memang harus ada "TANDA TANGAN" dari atasan langsung. So,,,,? Apa yang bisa disimpulkan? Terserah pembaca sendiri deh ya. Xixixixixi. 
Tapi, tapi, kembali lagi ke jabatanku sebagai "collector" rupanya mendukung untuk disalahkan. Saking percaya dengan pihak delegasi dan pelanggan, aku melepaskan begitu saja. Seharusnya memang aku pantau terus, apalagi termasuk pelanggan dengan nominal besar. Yah, seharian aku dikejar-kejar sana-sini, harus konfirmasi dan diomelin berbagai macam omongan. Dikiranya aku nggak bisa kerja. Miris. Bener-bener miris. Sudah sehati-hati apapun tetep bisa terperosok, apalagi kalau aku ceroboh? Langsung dipecat kali, ya? Sampai seharian aku nggak sempet makan, hanya ngurusin pelanggan dan audit yang datang dadakan. Makin kuyuuussss!

Collector itu tugasnya harus mantau pergerakan penjualan tiap hari. Harus tau mana aja yang belom terbayar hingga menjelang jatuh tempo. Mana aja yang minta dispensasi, sampai mana aja yang benar-benar tak tertagih. Itu aja? Enggak! Kerjaan harian tak kalah ribetnya, apalagi aku juga menghadapi pelanggan tiap hari. Jadi, seribet apapun kerjaanku, harus masih bisa memantau pergerakan pelanggan nominal besar! Catet! Nggak boleh kelewatan barang sebijipun. Aku udah hampir putus asa, pasrah kalau memang harus lengser dari jabatan sekarang. Ridho banget kalau dipindah, apalagi balik ke kampung halaman. Wuiih, impian gueh banget getoh. Rupanya Tuhan masih berbaik hati, setelah aku diklat urusan itu mendadak selesai, sebenere aku juga mantau via email sih. Alhamdulillah nggak jadi tombok 139juta. Tapi dasarnya aku itu agak aneh, nggak ada niatan sama sekali tanya ke "orang-orang" di kantor. Malas. Toh, aku udah dicap sebagai pihak yang salah. Mau apalagi? Mau melakukan pembelaan kaya apapun statusku tetap "salah"! Hahahaha naseeeeeb!

Rupanya Tuhan masih menguji kesabaran dan keikhlasanku di collector ini. Tombok menombok jadi hantu di siang bolong. Menjelang akhir bulan aku dapat panggilan diklat 3 hari. Pikirku, lumayan bisa refreshing, tapi dari awal udah agak dag dig dug. Akhir bulan tak tinggal diklat, pie kabare kantorku? Ada transaksi vital yang memang harus dipantau secara ketat. Berhubung sekali lagi, aku sudah mendelegasikan pekerjaan itu kepada teman jadi aku tenang. Ayem. Setidaknya bebanku berkurang. Hmmm...ternyata owh ternyata aku salah. Setelah ijin 3 hari karna sakit, kemarin aku langsung dipanggil atasan, dimintai penjelasan kronologis versiku. You know, ada rasa sakit dan sedih yang aku rasakan. Bukan masalah uang 1.7juta yang harus aku tanggung. Bukan. Memang kalau itu tanggung jawabku, aku nggak mungkin menghindar lagi. Ada kata "nggak mau tau" dan entah bagaimana caranya aku harus menyelesaikan persoalan ini. So, kesimpulan seperti apalagi yang bisa ditarik? Aku sebagai pihak yang disalahkan lagi. 

Setelah sebelumnya aku dikabarin temen, bahwa bakal tombok 1.7 juta, aku konfirmasi ulang ke teman yang aku mandatin. Pikirku, semua yang memang urgent udah bisa dihendel. Toh, atasanku juga tau kalau aku diklat, setidaknya ada yang memback up, pikirku. Entah aku yang nggak bisa komunikasi, atau koneksi terlalu lemot, aku sekali lagi sebagai pihak yang salah. Padahal aku udah nulisin semua kerjaan yang harus dikerjaan selama aku diklat. Yaah, naseb. Mau gimana? Tak ada pilihan lain, opsi terakhir memang aku harus merogoh kocek. Tapi aku percaya, Tuhan Maha Baik, pasti ada rejeki pengganti yang lebih besar. Aamiin.

Ceramah yang aku dapat kemarin bahwa aku harus bisa komunikasi dengan baik dan benar. Nggak boleh salah-salah. Nggak boleh pokoknya salah inpo. Harus sesuai prosedur dan SOP yang berlaku. Yasudah ini sebagai pelajaran berharga buatku, sangat-sangat berharga. Mungkin aku harus banyak sedekah, banyak infaq, sodaqoh. Aku ikhlas untuk uang itu. Harus lebih bisa dewasa menyikapi tiap masalah. Aku harus lebih selektif dan hati-hati dalam bekerja. Apalagi aku masih muda, jalanku masih panjang, masih banyak sejuta impian yang harus aku capai. Cuma satu hal, aku kecewa dengan sikap "nggak mau tau" karna pengaruh ke kinerja. Hah? Segitunya, ya? Hahahaha.

Memang harus ada pihak yang dikorbankan. Aku salah satunya. Bukan merasa jadi korban tapi yaah begitulah. Belajar ikhlas dan lapang dada. Tuhan tak pernah tidur. Pasrahkan semua kepada Tuhan. Ikhlas. Ikhlas. Ikhlas!!!

Satu point lagi, komunikasi itu sangat penting. Jadi jangan sampai miskom dan berefek seperti kejadian yang menimpaku ini. Sekiaaaaan. Let's see, everything gonna be okay! Nggak salah donk ya aku kemarin  ikut diklat komunikasi dasar. Ternyata aku belom bisa berkomunikasi  secara baik dan benar. Hahahaha. Manfaat donk ya ilmuku.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar