Senin, 11 Maret 2013

Save Your Document!

Hai, hai, hai, jumpa lagi dengan saya, Sutarmoth! Cewek paling manis dan imut sedunia jagad raya, kembali hadir mewarnai dunia blogger. Apa kabar semuanyah? Semoga senantiasa sehat dan gemar makan selalu *lho, eh maksudnya kalau doyan makan berarti sehat *random*. Hihihihi *berasa penyiar radio*

Kali ini saya akan curhat masalah dokumentasi. Dokumentasi? Wah, kayane kok formal dan resmi gini, ya? Ohooo...tenang, tenang, walau kelihatan resmi tapi ini cuma sharing doank. Buat pelajaran dan catatan bagi semua, bahwa dokumentasi itu sangat sangat penting!!! Jangan sampai orang lain mengalami hal yang sama. Okeee, let's see my story!

Suatu hari di awal bulan yang cerah ceria nun penuh suka cita dan warna *eh gagal fokus, saya mendapat email untuk mengikuti diklat dari perusahaan. Pikir saya, karena acara masih di akhir bulan, jadi niat menghadap pimpinan saya pending. Yap. Saat itu saya cuma kepikiran kalau jauh hari saya udah ijin, nanti bisa lupa donk pimpinan saya. Toh ini juga cuma 3 hari, bukan dalam jangka waktu yang panjang kaya diklat kemarin. Hmm...memang manusia hanya berencana, kembali lagi Tuhan yang berhak menentukan *uhuk uhuk*

Singkat cerita dan tak perlu diceritakan gimana kejadian yang sesungguhnya. Takut ada pihak-pihak yang merasa tersungging, eh tersinggung dengan curhat saya kali ini. Eh, salah lagi, maksudnya saya nggak rela ada pihak yang mendadak tenar karena postingan ini. Biarlah dia tetap menjadi kodok dalam cerita *eh. Empat hari menjelang keberangkatan, saya, yang entah kesambet apa mendadak malas menghadap pimpinan. Ini jujur, rasanya berat dan feeling saya jelek. Jadi, saya hanya memforwardkan email dari kantor pusat. Yups. Sekali lagi ini tidak perlu terjadi pada orang lain. Cukup jadi pengalaman dan saya korbannya. Kebetulan saya juga baru selesai mengikuti rapat di kantor pusat, walau cuma orang pendamping doank si. Hihihihi, setidaknya ikutan nampang sesekali. Biar wajah unyu-unyu saya ini dikenal *eh gagal fokus lagi :p

"Silakan diikuti dan dipersiapkan diklatnya, mbak"

Kurang lebih seperti itulah email balasan yang saya dapat. Apa yang ada di pikiran para pembaca budiman sekalian? *berasa punya pembaca banyak hihihi* Tentu banyak asumsi dan persepsi dari kalimat tersebut. Asumsi saya, ketika mendapat email seperti itu, berarti saya boleh mengikuti diklat. Walaupun secara fisik saya belum menghadap pimpinan. Yak, inilah kesalahan pertama saya! Tapi sehari sebelum berangkat saya sudah menghadap atasan saya langsung. Di sini pimpinan dan atasan langsung punya wewenang berbeda. Jadi nggak usah bingung dengan cerita ini, karna saya nggak mau menyebutkan secara detail jabatan keduanya. Tujuan saya menghadap hanya untuk memastikan bahwa kerjaan sudah selesai. Dan memang saat itu ada pekerjaan yang membutuhkan campur tangan saya secara langsung. Ayem. Plong! Setidakya saya bisa fokus ke diklat. Saya juga bilang ke atasan langsung, bahwa saya diklat 3 hari dan semua pekerjaan sudah beres. Beberapa pekerjaan yang butuh pendelegasian, sudah saya delegasikan ke rekan kerja. Fyuuh! Nggak sia-sia lembur saya berhari-hari mentelengin kerjaan demi mengikuti diklat. Soalnya jatah diklat kami memang dibatasi, satu semester satu diklat per pegawai. Eman-eman kan kalau nggak diikuti?

Selama diklat memang akses internet dibatasi. Hiks, maksudnya mungkin biar fokus diklat, bukan main-main internet. Dilemanya nggak bisa mantau kerjaan. Kami bekerja memang tergantung internet, semua sudah online dan bisa diakses dimana dan kapan saja. Nah, ditambah lagi modem saya habis quotanya. Huhuhuhu makin menderita deh @____@
Beruntung jaman canggih, saya tetep bisa mantau kerjaan via bebe. Email tang tung tang tung, bbm tulalit tulalit, sms dan telpon beruntun, semua bahas tentang kerjaan. Dewi fortuna rupanya sedang ngambek sama saya. Selama diklat saya jatuh sakit. Hiks. Melas. Kondisi yang tak memungkinkan untuk bekerja, membuat saya bablas ijin 3 hari. Sekali lagi pikir saya pendelegasian berjalan lancar dan jaya manunggal. Ups, ternyata saya salah!

Hari pertama masuk kerja saya langsung dipanggil atasan langsung. Banyak hal yang akan dibahas. Salah satunya bisa ditengok lagi di postingan saya sebelumnya di sini. Entah efek abis sakit otak jadi lemot, atau entah gimana, omongan atasan langsung hanya sekilas mendarat. Parah. Saya nggak bisa mencerna. Hari selanjutnya beberapa omongan miring mampir ke telinga saya. Damn! Saya nggak pernah akan bisa menerima, saya merasa dilecehkan. You know, pimpinan saya dengan enteng dan tanpa merasa berdosa bilang bahwa dia nggak tau saya diklat! Catet "DIA NGGAK TAU"!!! Jelas saya marah. Kalau dia nggak tau saya diklat, kemarin siapa yang balas email? Setan? Hantu? Kuntilanak? Dengan semangat 45 saya mengecek inbox dan outbox email. Klarifikasi hanya bisa dilakukan dengan email ini, hanya itu satu-satunya senjata saya. Malang bagi saya, inbox balasan yang menyatakan persetujuan seperti yang saya sebutkan di atas sudah terdelete :(. Memang, kuota email kami dibatasi, jadi pikir saya email itu nggak terlalu penting dan hanya menuhin saja. But, I'm wrong, this email so important for me. Mau bagaimana lagi? Nasi telah jadi bubur, email sudah terdelete permanen. Mau dicari sampai ubanan nggak bakalan ketemu. Hiks. Naseb. Tapi tetep aja saya nggak terima. Huhuhu. Bagi saya, sekali saya dibuat nggak enak hati, selanjutnya nggak akan ada respek sama sekali. Bodo amat itu mau jabatannya apah. Aaaarrrgghhh gemaaasss!

Gini deh, kalau saya nggak diijinkan tapi nekat berangkat, misal ada kejadian di jalan tentu perusahaan nggak mau tau. Lah, udah ada omongan seperti itu :( Walaupun ada surat dinas dan pendukung bahwa saya mengikuti diklat tersebut. Tetap saja saya berada di pihak yang salah. Huhuhuhu. 

Satu lagi pelajaran berharga yang saya dapat dari kejadian ini. Pertama, bahwa bukti otentik itu sangat perlu disimpan. Setidaknya jangan pernah mendelete email yang kira-kira penting. Walaupun udah ada surat resmi penunjukan. Bisa didelete setelah semua pekerjaan atau kegiatan sudah benar-benar selesai dilaksanakan. Kalau pimpinan komplain nggak tau, tinggal sodorin aja tuh cetakan email. Rebes, kan? Kedua, setor muka ke pimpinan itu sangat perlu, setidaknya memastikan dan meminta ijin, sungkem kalau mau mengikuti kegiatan. Biar si pimpinan restu dan meridhoi. Hahahaha.

Ini hanya sekadar sharing. Sekali lagi jangan sampai kejadian ini terulang atau bahkan dialami teman-teman saya. Cukup saya saja. Hmmm...walaupun nggondok tapi tetep aja nggak bisa melakukan pembelaan. Huks. Huks. Huks :( So, pesen saya, simpan dokumen baik-baik, entah itu dalam bentuk hard atau soft copy.


1 komentar:

  1. Ya PCkantor nya Diremote dari Rumah ...
    #mencari solusi ... :D

    BalasHapus