Senin, 19 Agustus 2013

Di Balik Pesona Sebuah “Gadget”



Sering menjumpai pemandangan ini, bukan? (gambar dari google)

Jaman sekarang hampir semua orang kenal dengan gadget. Nggak pandang usia. Bahkan anak usia PAUD pun udah mulai pegang gadget. Hmmm…beda jamanku dulu, usia segitu masih ingusan sambil nangis minta dot. Boro-boro pegang gadget, yang ada mainan lumpur di sawah. Hahaha. Maklum sih orang desa. Kenalnya sama mainan jaman kuno.

Teknologi semakin canggih. Produsen-produsen handphone mulai berlomba mengeluarkan gadget andalan mereka. Semakin banyak pesaing, semakin banyak pula barang model terbaru. Istilah kerennya new arrival. Baru dan gress, masih kencling pokoknya. Hihihihi. Efeknya harga bersaing cepat di pasaran. Suatu kali pernah beli HP gress, eeeh baru beberapa bulan udah turun drastis. Hiks. Nyesek deh nyesek. Sambil memandang bulan di loteng sembari mikir, “Kenapa aku buru-buru beli. Tau gini nunggu sampe diskon 50%” atau “Andai ada yang berkenan beliin lagi, dengan senang hati aku terima” *lho

Sebenarnya aku bukan gadget mania. Beli HP sekali bisa awet bertahun-tahun tanpa ganti. Walaupun pesek dan lecet tetep dipertahanin. Udah terlanjur cinta sih. Wkwkwk. Tapi sepertinya virus “gadget” menulariku begitu cepat. Apalagi aku termasuk labil, gampang banget dipengaruhi. Setelah punya gadget baru hidupku mulai berubah. Ritme yang dulu aku jalanin berbelok arah. Pagi-pagi mata melek ngecek gadget, awalnya sih ngecek jam tapi ujung-ujungnya buka macem-macem. Di kantor kalau lagi error dan kerjaan sepi bisa puas chattingan dan selancar di dunmay. Sampai kosan leyeh-leyeh, pegang gadget, endingnya bisa malas ngapa-ngapain. Parahnya bisa sampai ketiduran dan masih berkostum seragam kantor. Hiks. Ampuun deh. Aku terkena virus gadget mania! *sigh*

Memang gadget memudahkan komunikasi. Berbagai macam aplikasi bisa dengan gampang didownload. Games, whatsapp, line, kakao talk, we chat, camera 360, photo wonder, twin camera, photo square, path, instagram, dll. Masih banyak lagi aplikasi lain yang memanjakan pengguna gadget. Bingung nggak ya dengan macem-macem aplikasi gitu? Kalau aku sih banyak nggak dipake dan bingungnya. Hihihihi dasar ndeso, ya.
Kecanggihan teknologi juga didukung dengan maraknya penawaran menarik dari perusahaan telekomunikasi. Berbagai macam promo gencar diiklankan, baik itu secara online maupun offline. Wow…gimana nggak tertarik coba? Punya gadget canggih dan promo murmer, wah pasangan yang cocok! Dan akibatnya banyak sekali orang yang hobi gonta ganti nomer. Jujur aku paling nggondok kalau ada orang begitu. Dulu ngasih nomer pake yang A, mendadak sms pake B, suatu hari nelpon pake C. Hahaha. Udah kaya konter pulsa berjalan deh. Aku yang emang malas update kontak, sering banget kelupaan nggak ngesave. Lha wong nomere bejibun. Ntar yang ada bingung saat dibutuhin. Akibatnya sering banget ada sms tanpa nama. Kalau lagi baek hati aku balesin. “Ini nomer siapa ya? Sorii lupa ngesave.” Terkadang bahkan nggak aku balas sama sekali. Aku sering dibilang orang “sombong” gegara jarang balas sms :D

Bukannya aku tak suka dengan teknologi yang semakin berkembang. Menandakan Indonesia sudah cukup maju, bukan? Tapi terkadang aku jadi kasihan melihat perkembangan anak-anak jaman sekarang. Bukan hanya anak tapi juga para remaja dan orang tua. Dunia mereka dikuasai oleh gadget. Mengamati saat lagi ke mall, rumah makan, tempat wisata, hampir semua pegang gadget. Akibatnya komunikasi sering mandek, malah lebih asyik sama gadget. Bukan maksud menghakimi orang lain tapi aku sendiri juga sering melakukan hal yang sama. Otak atik gadget dan lupa orang di sekitar. Hiks. 

Pelan-pelan aku mulai menyadari, aku nggak boleh dikuasai gadget. Seharusnya gadget yang takluk denganku. Aku baru merilis beberapa langkah yang harus kutempuh. Demi menebus rasa bersalahkuu terhadap fenomena “gadget mania”. Sederhana dan harus pelan-pelan. Inilah resolusiku terhadap gadget. Semoga berhasil!


1.  Membatasi jam-jam chatting dengan teman. Harus ada jam tertentu yang memang khusus hanya untuk  ngobrol. Pengecualian jika untuk urusan pekerjaan. Aku sering ditegur teman gara-gara balas chatting lama. Xixixixi.

2.      Saat di kantor, jangan sering-sering buka gadget. Selain bisa kena tegur atasan, hihihi, gadget bisa neror kita buat “lupa kerja”. Simpan gadget dalam dompet dan setting silent atau vibrate only. Amannya sih vibrate, biar kalau ada hal penting segera tahu.

3.      Nomor untuk pekerjaan dan hal penting lain aku bedakan dengan nomor di gadget. Termasuk nomor yang dipublikasikan. Kalau aku nomor di gadget hanya untuk khalayak tertentu. Nggak semua tahu. Hehehe. Misi tersembunyi :D

4.      Saat menghadiri sebuah acara, misal pernikahan, makan-makan, rapat atau acara lain, aku usahakan gadget nangkring manis di tas. Terkadang orang bisa tersinggung saat kita asyik dengan gadget. Tujuan berkumpul tentu menjalin silaturahmi, bukan asyik sendiri dengan dunia gadget. Kecuali untuk foto-foto :D *tetep yaa

5.      Saat pulang kampung, aku membatasi pegang gadget. Membiarkan gadget di kamar adalah trik paling aman. Aku mengawal ponakan untuk bersahabat dengan gadget. Ada kalanya mereka aku ijinkan bergadget ria, tapi lebih sering aku cekokin berbagai macam buku dan belajar pekerjaan tangan. Hihihihi. Tantenya galak :D. Bukan aku tak ingin mereka mengenal teknologi tapi semua itu harus ada batas, antara porsi dan waktu yang pas.

6.      Saat di kosan aku mulai mengusahakan kembali ke dunia dulu. Beberes kos, membaca buku, latihan nulis dan nonton tivi. Gadget aku simpan rapi di dompet. Kalau toh chattingan, aku mulai membatasi sampai jam berapa. Keseringan ngecek dunmay juga berefek keasyikan pegang gadget. Jadinya sampai kosan malas ngapa-ngapain 


Memang baik buruknya pengaruh gadget tergantung penggunanya. Tak ada maksud menghakimi para pemegang gadget itu jadi pemalas dan lupa dunia nyata. Banyak kok orang-orang yang bisa mengendalikan penggunaan gadget. Tulisan ini adalah murni pengalaman pribadi. Setelah semedi beberapa hari terakhir dan mulai menemukan clue tentang gadget. Suatu hari aku pernah baca postingan seorang teman di FB, sebuah quote oleh Albert Einsten. “I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots”. Benarkah demikian? Melihat kondisi di sekitar kita memang benar quote Mbah Albert Einsten ini. Mari tanya pada diri sendiri. Akankah kita takluk oleh gadget atau kita menguasainya? Yuk, belajar jadi orang cerdas “bergadget” ^^

Salam,

Tarmoth

3 komentar:

  1. Aq pernah liat sepasang kekasih di malam minggu, jalan bersisian, tapi malah pegang hp/ La njur ngopo malam minggon barang haha mending di rumah :)

    BalasHapus
  2. aku juga bukan gadget mania, kadang pergi2 malah lupa bawa hape. Hape mati karena lowbatt sampe dua hari ngga di cas krn malas hihihi

    BalasHapus
  3. Iya mbak Esti, hihihihi, berasa jadi alien yak kalau keseringan pegang gadget. Nah itu mah mending pacaran di rumah ajah, sambil masak, kan enak, ngirit pulak :p

    @mak rahmi : hahaahaha...agak2 parah juga ya. Hihihihi. kalau aku keseringan lupa bawa dompet :D

    BalasHapus