Senin, 23 September 2013

Dollar, Pesonamu Kini...



Dakuw bukan seorang pakar ekonom dan nggak ngarep jadi pakar ekonom deh. Takut botak dan nggak bisa bobok nyenyak. Abisnya kepikiran kurs yang naik turun. Hihihi. Mending jadi komedian gitu, ala tukul en sule. Hahaha :p Tapi masih boleh kan ya, dakuw mengutarakan uneg-uneg? Hanya saja ini menurut calon ekonom gadungan.

Beberapa hari ini negara ini disibukkan dengan melemahnya nilai rupiah terhadap dollar. Istilah kerennya inflasi. Yups. Saat ini memang Indonesia sedang terpuruk. Suasana politik semakin memanas, maklum lah menjelang pemilu. Harga barang komoditi pangan juga semakin meroket. Nggak tanggung-tanggung. Kalau melirik ke belakang, beberapa bulan terakhir kita kekurangan pasokan cabe, bawang merah, bawang putih, dan sekarang tempe. Padahal Indonesia kan negara agraris, kalau dipikir nggak mungkin sampai ada kelangkaan pangan. Tapi begitulah realitanya. Mau berkata apa?


Inflasi memberi dampak ke beberapa aspek. Terutama perusahaan-perusahaan berkembang di Indonesia. Mungkin beberapa dari mereka sudah mengambil kebijakan gimana menghadapi si inflasi ini. Dan tentu kebijakan itu akan berpengaruh terhadap biaya produksi dan karyawan. Dakuw nggak akan menyoroti masalah biaya produksi, abisnya masih terlalu dangkal ilmunya. Hihihi. Sementara dakuw hanya menelusuri dari sisi karyawan saja. Itung-itung dakuw juga sebagai karyawan juga di sebuah perusahaan. Tentu sudah ada beberapa "slentingan" dampak inflasi terhadap perusahaanku ini.

Jujur saja, aku masih ngeri ngebayangin terjadi lagi krisis ekonomi seperti taun 1998. Saat itu aku masih SD, belum paham masalah duit. Kerusuhan dan penjarahan terjadi di mana-mana. PHK besar-besaran dilakukan oleh hampir semua perusahaan. Harga bahan pangan meroket tanpa bisa terkendali. Masih segar dalam ingatan, untuk makan saja susah. Gimana kalau kondisi itu terulang kembali? Nggak bisa bayangin :(

Sebagai karyawan tentu ada pikiran galau, takut kalau ntar-ntar mendadak ada PHK. Huhuhu. Sedih nggak sih tetiba jadi pengangguran dan susah cari kerja? Semoga saja tidak! Aamiin. Tapi banyak faktor yang kadang bikin aku takut sendiri. Terutama masalah pendidikan. Aku memang belum lulus sarjana, masih sekolah. Jujur saja masih kepikiran cari loncatan lain, entah itu apa. Mendalami sebuah profesi baru emang bukan hal mudah. Apalagi aku kan tipe-tipe mudah putus asa. Huhuhu. Galau, Dab! Kepriwe nasibe nyong? :(

Tuhan pasti punya rencana, ikhtiar dan optimis bisa melalui masa-masa ini. Ehe, walau dakuw bukan seorang pakar dan nggak kuat mikir kenceng, tapi kalau gini jadi kepikiran juga. Mau nggak mau, lho, ya. Semoga kondisi ini segera membaik, setidaknya rupiah kembali stabil. Dollar, pesonamu sungguh tiada bandingnya :(

*catatan random*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar