Minggu, 22 September 2013

Resensi I'm (Not) Perfect


Judul Buku      :  I’m (Not) Perfect
                           Walaupun Tidak Sempurna, Perempuan Tetap Bisa Bahagia
Penulis             : Dian Kristiani
Penerbit           :  PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    :  2013
Tebal Buku      :  153 Halaman + vii

Menjadi perempuan sempurna, siapa yang tak mau? Menjadi perempuan tak sempurna, itu manusiawi. Sedangkan bahagia, itu absolute. Jadi, perempuan, please…jangan tergantung orang lain dalam menilai diri kita. Dan perempuan, please…jangan suka menghakimi kaummu sendiri. We are not in the same shoes! Perfect or not perfect, still, we are women.

Begitulah kira-kira bunyi paragrap terakhir sekapur sirih Cece Dian Kristiani. Baru membaca judulnya, aku udah merasa cocok dengan buku ini. klop begitu ceritanya. Klik! Apalagi Cece memberi wejangan di depan,  “We’re not perfect, but we can be the best”. Komplit deh. Semakin penasaran sama buku ini.

Kali ini Cece Dian alih profesi, eh tepatnya geser bentar dari dunia anak-anak dink. Beliau yang suka ngocak bikin cerita di buku ini makin khas. Sederhana dan ringan. Tapi sarat makna.

Kumpulan kisah, tepatnya curhatan sehari-hari terangkum pas di buku ini. Kita sebagai perempuan tak pernah lepas dari yang namanya gosip. Entah itu apa, ketika ngumpul pasti jadi bahan gosip. Apalagi jaman semakin canggih, nggosip bisa via BBM, twitter, facebook, whatsapp, line, dkk. Well, mau nggak ngaku? Hehehe…pernahkah seharian diam tanpa melakukan aktivitas?

Who’s perfect? Nobody… Saat kita dicemooh orang lain tentang kekurangan, pasti ada rasa sakit hati. Apalagi kita seorang perempuan, dianggap sempurna ketika kita bisa melakukan sesuatu dengan sempurna pula. Wow! Wonder woman!

Dari sekian cerita, semuanya aku setuju. Semuanya ada di sekitar kehidupanku sehari-hari. Dan beberapa cerita memang pas banget. Setidaknya aku bisa berpikir saat akan memutuskan sesuatu. Walaupun tidak sekarang, setidaknya nanti ketika tiba saatnya.  Misal, aku calon working mom. Bisa jadi referensi, nggak melulu pusing mikirin ntar gimana. Bla...bla...bla...

Semua cerita di buku ini sangat berkesan. Tapi tentu dari sekian ada donk ya yang paling berkesan. Yups. Aku sangat terkesan dengan cerita “Perawan Tua”. Memang sampai sekarang aku masih single dan umurku belum menginjak seperempat abad. Masih dua tahun lagi. Tapi jangan salah, sebagai orang ndeso, umur segini udah diuber-uber buat merit. Bukan apa dan aku juga tak menyalahkan orang tua jika tiap pulang nikah jadi bahasan wajib. Beliau takut aku jadi perawan tua. Apalagi rekan sekolahku satu per satu sudah mulai melepas masa lajangnya. Huhuhu. Sedih kalau liat ortu kepikiran. Tapi mau gimana? Memang belum ada yang cocok :(. Memang sih kalau di kota besar seusiaku masih heboh kuliah, cari kerja, dll. Tapi balik lagi, aku orang ndeso. Aku lahir dan dibesarkan di desa. Akan sangat sulit jika dibandingkan dengan orang kota. Paling banter aku cuma bisa tersenyum dan minta didoakan. Semoga jodohku disegerakan. Aamiin.

Hal paling menyedihkan adalah saat orang di sekitar kita sering bertanya hal sama. Bukannya ngasih semangat tapi malah bikin down :(. Membandingkan dengan sesama temanku yang udah punya pasangan. Minimal mereka punya target menikah kapan, dengan siapa. Jangan salah dulu aku juga punya target merit kapan. Insya Allah. Usiaku masih segini, apa salah kalau aku masih suka menimbang? Apa salah saat aku masih suka haha hihi kluyuran sana sini? Apa salah aku masih mencari orang yang tepat dan sreg di hati? Bukankah menikah itu akan digunakan sampai akhir hayat?

Suatu hari ada rekan kantor bilang, “kamu nyari pacar yang udah punya jabatan sih. Kaya si A kan?” Glek. Aku syok! SIGH. Bisa-bisanya ngomong kaya gitu dengan santai kaya di pantai. Pernah ada yang bilang aku orangnya terlalu pemilih. Pasang target terlalu tinggi lah. Hei, bukankah jodoh itu urusan Tuhan? Kalau toh sampai sekarang aku belum menemukan, bukan berarti aku nggak laku. Bukan berarti aku akan jadi perawan tua. Aku percaya Tuhan masih menyimpan jodohku dan akan memberikannya ketika aku siap.

Buku ini cukup memberi pencerahan bagiku. Cerita ringan dan mudah dicerna. Biasalah aku bukan tipe pemikir, aku kan sukanya yang ringan-ringan sajah. Xixixixi. Aku dulu sering sedih, melli guslow, eh mellow, gara-gara dianggap nggak laku, sekarang slow sajah. Take it easy. God, always give the best a way for every person. Just follow this flow. Pray hard and do the best :)

Kalau ngomongin kekurangan, aku jadi bingung apa kurangnya buku ini. Bukan berarti karena aku ngefans sama penulisnya, lho. Hihihi. Buku ini kurang tebel, kurang banyak ceritanya. Semoga ada buku lanjutan, yak. I’m not perfect jilid II dan jilid-jilid selanjutnya. Atau lagi bikin kumpulan kisah I’m not perfect. Hihihi. Mau deh ikutan *modus :p

Ce Dian, teruslah berkarya. Aku suka karya-karyamu walau belum semua buku bisa kebeli. Huhuhu. Tapi kalau dikasih mau dink. Terus menginspirasi hingga akhir hayat. Setiap orang punya ciri khas. Dan aku suka ciri khasmu. Ringan dan tajam. Tapi nggak setajam silet, lho. I love you more, Cece :*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar