Jumat, 15 November 2013

Catatan Sekolah Kehidupan I

Lelah. Cukup sepatah kata ini yang bisa terlontar. Dua minggu terakhir full kerjaan hingga larut malam. Padahal ini baru 2 bulan menjelang akhir tahun, tapi fisik dan mental benar-benar terkuras. Apalagi pas bulan terakhir, ya? Hanya berharap selalu sehat dan semangat *tertawa miris. Aku ingin menulis catatan ini.  Pengingat sekaligus pelajaran di universitas kehidupan yang sangat berharga. Bagiku terutama. Dan semoga bermanfaat bagi yang lain :)

Seringkali aku ditanya, apa dan kenapa kamu ingin masuk ke perusahaan ini? Enggak hanya sekali saja saat wawancara, tapi terakhir kemarin ketika wawancara penilaian. Entah apa istilahnya, toh, aku tak ingin membuat para pembaca setiaku bingung *sok punya pembaca :p

Lalu, apa jawabanku? Dulu, saat aku masih unyu dan awam, ketika lulus sekolah aku hanya ingin kerja. Dapat duit, nyenengin keluarga, bisa mandiri dengan duit sendiri. Yak. Jaman masih unyu, masih belum mengerti bener apa itu artinya kehidupan. Walau sekarang juga belum ngerti sepenuhnya sih. Nggak pengen kuliah? Pengen, dong. Alhamdulillah bisa kuliah walau dengan beasiswa. Dan sekarang masih lanjut sembari kerja. Jadi yang bener kuliah sambil kerja atau kerja sambil kuliah? Hihihi.

Itu dulu, dulu ketika aku masih unyu. Sekarang, seiring berkurangnya umur, sedikit banyak aku semakin mengerti. Aku paham. Dan mulai memahami. Hidup ini nggak semudah yang sering dikoar-koarkan. Lingkungan sekitar cukup memberi dampak berarti untuk pendewasaan diri. Menjadi dewasa, memaksa atau dipaksa dewasa? Hmmm...sering mendengar ungkapan "umur tak pernah menentukan kedewasaan seseorang" atau "dewasa itu adalah sebuah pilihan". Mungkin ungkapan itu benar, mungkin. Atau tergantung juga persepsi masing-masing orang.

Sekarang? Sekarang bagaimana denganku? Apa sebatas itu saja, aku menggeluti pekerjaanku hingga 4 tahun lebih? Ah, rasanya terlalu dangkal. Pernah terobsesi ingin resign dan ambil kerjaan di tempat lain. Melihat orang-orang dengan mudah masuk keluar dari satu perusahaan ke perusahaan lain, rasanya kok pengen nyoba. Segampang itukah? Tidak! Seorang sahabatku pernah menasihati, "Jika kamu hanya sebatas mencoba, lebih baik jangan. Jangan ambil hak orang. Kalau kamu ambil, berarti kamu mengambil kesempatan orang lain". Rasanya aku tertohok. Itu benar. Mungkin aku hanya mengikuti arus kehidupan teman. Apalagi sahabatku berhasil resign dan mendapat kerjaan impian. Juga beberapa sahabat mendukung jika aku resign. Dilema. Dan mengapa baru sekarang aku ingin resign? Mungkin benar kala sahabatku bilang, "Kamu butuh refreshing, istirahat. Kamu hanya lelah. Ada saatnya kamu memikirkan dirimu sendiri. Nggak melulu kantor dan kantor"

Aku tak pernah bermimpi masuk ke perusahaan ini. Aku di sini karena beasiswa. Saat aku masih kecil, aku hanya kagum pada tiang listrik dan lampu. Saat itu yang ada di pikiranku cuma satu, hebat! Hebat sekali orang-orang yang bisa bikin tiang listrik dan segala tetek bengek perlengkapannya. Ketika pula saat aku masuk, tugas perusahaan kami itu mulia. Walaupun tak kalah sering diomeli para konsumen.

Ritme pekerjaan yang beragam membuatku semakin paham, inilah hidup. Hidup itu butuh perjuangan. Berjuang di kala tugas menumpuk, berjuang saat mengejar target, dan berjuang menahan emosi. Tekanan fisik dan mental terkadang membuatku limbung. Ingin saja kembali ke masa kecil, kembali ke pelukan ibu dan bapak. Cukup. Itu saja. Ah, tapi kembali lagi, inilah ritme kehidupan. Pasang surutnya terkadang sering membuatku menangis dalam diam. Toh nggak mungkin juga aku kembali ke masa lalu. Apapun itu, aku harus berjuang menghadapinya. Berjalan tangguh, tak perlu lagi menengok ke belakang. Cukup ikuti jalan yang telah Tuhan tentukan. Kelak semua akan bermuara, menjawab semuanya. 

Katanya setiap orang harus punya prinsip. Nggak mencla mencle. Hehehe. Gini-gini aku juga berprinsip, lho. Prinsipku dalam bekerja, saat aku diberi tanggung jawab, aku akan berusaha menyelesaikannya. Entah gimana caranya itu. Aku sering kepikiran kalau tugas belum kelar. Rela menghabiskan malam dan wiken di kantor adalah lumrah. Setiap berpindah divisi, aku selalu belajar mencintai pekerjaan itu. Sulit. Bukan semudah yang dibayangkan. Tapi aku mencobanya. Walau seringkali aku harus menghela napas panjang, mengatur emosi dan seringkali mengalah. Apakah karena aku merasa memiliki perusahaan ini? Bisa saja. Apakah aku mencintai perusahaan ini? Mungkin.

Beruntung. Sejuta syukur yang hanya bisa aku panjatkan. Memiliki orang tua yang tak pernah protes anaknya pulang kampung sebulan sekali. Bahkan kalau kondisi kantor gawat bisa hampir dua bulan. Love you so much, bapak ibu. Semoga tangan Tuhan selalu memelukmu.

Aku memiliki sahabat-sahabat tangguh dan luar biasa baik. Selalu rela aku rusuh tengah malam hingga ketiduran. Selalu sabar mendengar keluhanku tanpa interupsi sedikitpun. Mengajariku untuk bersabar dan tersenyum di setiap keadaan. Mendidik hingga aku mampu berdiri  sampai sekarang. Walau sebenarnya aku sudah hampir jatuh terguling. Menyandarkan bahunya kala aku lelah. I love you more and more :*

Dan untuk keluargaku IIDN Semarang. Thanks for everything. Setiap pertemuan kita selalu menghadirkan tawa. Membuatku semakin sayang dan cinta pada grup ini. Semoga aku bisa seproduktif kalian. Menghasilkan karya. Terkadang aku iri pada emaks dan embaks yang udah eksis, baik di blog maupun di toko buku. Kata Mak Dew, ini bibit iri yang baik, ihihihi bukan begitu, Mak? Special for Mak Ketu yang selalu aku rusuhi setiap saat, thanks emak! Rela dengan ikhlas aku wasap cuma minta foto Alde Nai. Atau curcol nggak jelas jluntrungnya ke mana. Kekekeek. Love you, Emak! Juga buat mba Wuri, mak Uniek, mak Fenty, dan emaks embaks semuanya, terima kasih untuk selama ini. Mwah mwah mwah...

Halah halah halah kok malah kaya ucapan terima kasih di buku sih. Puanjang buanget. Kekekeke. Aamiin deh, semoga :) Cukup sekian oret-oretan saya, sekian dan terima kasih. Enjoy everyday!






1 komentar:

  1. Iya, derajat keunyuan terminimalisir faktor "U". wakakaka

    BalasHapus