Kamis, 26 Desember 2013

Teruntuk Emakku Tercinta

Kali ini mau posting tentang sosok Emak. Dalam rangka hari ibu, sih. Telat emang, tapi katanya lebih baik telat daripada enggak sama sekali. Toh ini juga masih di bulan yang sama, baru kelewat empat hari *pembelaan.
 
Beberapa kali pernah ngobrol sama temen kantor tentang pendidikan anak. Yup. Walaupun masih unyu tapi udah kepikiran lho besok anakku gimana. Misal, sekolah di mana, minatnya apa, gimana mendidiknya, de el el. Kalau kata sahabatku, mulai TK sampai SMA adalah waktu mencari ilmu. Kuliah mencari jati diri dan pengalaman. Setelah bekerja berkecimpung di kehidupan nyata. Yah, yah, walaupun sejak lahir sampai gede juga kehidupan nyata, lho. 
 
Dari sekian banyak temen kantor, sekian list nama sekolah terkenal ikut nongol. Ada yang di sekolah Islam terpadu, masuk pesantren atau "mondok", boarding school yang harganya berlipat-lipat, kuliah di universitas ternama, sampai di sekolah biasa. Semua itu intinya orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Terutama seorang ibu. Hal apapun akan dilakukan untuk anaknya, apalagi masalah pendidikan.
 
Masih jelas dalam ingatan, lima tahun lalu, saat aku baru lulus dari SMK. Emak menangis karena aku ngotot ingin kuliah. Saat itu aku ingin kuliah di STAN. Berbagai persiapan sudah aku lakukan, belum lagi dari kotaku banyak alumni sana. Tapi saat restu belum didapat, mau berkata apa? Alasan beliau cuma satu, Jakarta jauh, padat, dan cukup berbahaya bagi seorang cewek. Rupanya rejeki memang tak ke mana, ada tawaran beasiswa yang sekolahnya cukup di Semarang saja. Ah, alhamdulillah, semua ini berkat doamu, Emak. Dan aku baru tau, pertama kali meninggalkan rumah, Emak tak pernah tidur beberapa malam. Kata bapak hampir tiap malam beliau menangis. Yah, putri kecilnya sekarang sudah tak lagi tidur dengannya. Aku cukup membayangkan gimana jadinya kalau jadi kuliah di Jakarta. Entah, tak pernah terbayang sama sekali gimana kondisi Emak.
 
Salah satu kebiasaanku sejak kecil adalah sarapan pagi. Emak selalu membiasakan hal itu. Nasi panas, sambal dan telur ceplok makanan favorit setiap pagi. Kebiasaan itu berlanjut hingga sekarang. Aku nggak bisa sarapan kalau nasinya adem. Rasanya aneh, lembek dan terasa hambar. Teman-teman kantor suka tertawa melihat keanehanku. Tapi, yasutralah, lha mau gimana lagi? Tiap kali dicoba cuma bisa masuk beberapa sendok. Aku percaya Emak memasaknya dengan cinta dan kasih sayang. Semua dilakukannya dari hati untuk sang putri tercinta. Sekali lagi, terima kasih untukmu, Emak. Entah dengan apa aku harus membalasnya. Maaf kalau sekarang aku belum bisa membalas semua jasa-jasamu. Doakan anakmu ini bisa menjadi manusia terbaik :)
 
Satu lagi yang bikin aku sedih dan selalu rindu rumah. Emak pernah sakit beberapa hari dan enggak mau periksa. Padahal di rumah ada bapak, banyak saudara juga. Emak hanya mau periksa kalau sama aku. Nunggu aku pulang. Duhai, Emak, cukup itu yang engkau minta dariku. Menemani dan mengantarmu periksa ke dokter langganan. Ternyata sudah lebih dari cukup. Sungguh aku tak bisa membayangkan kalau penyakitnya parah. Ah, doaku selalu untukmu, Emak. Panjang umur dan sehatlah selalu. Hingga aku bisa memenuhi mimpimu.
 
Kemarin saat pulang Emak cerita sama budhe. Katanya dulu beliau belum bisa membahagiakanku. Belum bisa menuruti semua keinginanku. Sekarang beliau membiarkanku memiliki apa yang aku inginkan. Ah, Emak, aku sungguh bahagia menjadi putrimu. Apa yang kau  ajarkan sungguh bermanfaat bagiku di sini. 
 
Emak, 
Jutaan terima kasih tak lagi mampu membalas pengabdianmu
Seluruh jagat raya harus tau
Bahwa aku sangat mencintaimu
Aku sungguh bangga memiliki ibu sepertimu 
 
Emak,
Belum sepenuhnya aku membahagiakanmu
Belum ada seujung kuku aku bisa mewujudkan keinginanmu
Tapi,
Ijinkan aku selalu bersamamu
Membelai wajah dan tangan halusmu

Emak,
Doaku untukmu selalu
Semoga panjang umur, sehat, dan selalu bahagia
Tuhan selalu bersamamu
Seperti doaku yang selalu tercurah untukmu

Salam sayang dan rinduku selalu...
I love you, Emak! 

6 komentar:

  1. aku bacanya sekilas thok, wes kadung prembik2 je, asliii...bukan pencitraan. good job Taro :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur nuwun rawuhipun, Mak Uniek :)
      Aku juga mewek mulu tiap baca postingan ini. Huhuhu :(

      Hapus
  2. I love you, Emak!
    tak bisa berkata-kata lagi... :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhuhu...yuk mudik, Mbak :)
      *ngelap ingus

      Hapus
  3. Salut deh buat Bunda tercinta, Bunda is the best ;)

    BalasHapus