Sabtu, 08 Februari 2014

Dilema Parkir Motor vs Mobil

Kali ini lagi pengen posting yang ringan-ringan deh. Tadi sepanjang perjalanan beli makan kok menemukan beberapa ide gitu. Nah, katanya kan harus dituliskan. Mau berhenti lagi bawa barang segambreng. Mumpung inget dan mumpung nggak malas. Hihihi. Keliatan banget deh pemalasnya.

Hari ini tumben pengen makan roti. Emang sih, aku agak mengurangi makanan instant gitu. Roti termasuk, kan? Lha tinggal lhep, tinggal lhep, kenyang! *berasa iklan sosis. Berhubung wiken, boleh donk agak bandel masalah makan. Kalau sedia roti kan bangun tidur tinggal lhep gitu *ngiklan lagi.

Aku punya toko roti favorit. Menurutku rasanya enak dan variasinya banyak. Kata orang-orang sih sehari langsung abis. Jadi tiap hari rotinya selalu baru. Nggak bisa beli banyak juga, lha mulutnya cuma satu. Takut nggak abis dan mubazir. Sayang lho roti dibuang-buang. Di sana masih banyak orang kurang makan. Alasan lain sih harganya cukup mihil. Kikikiki.

Toko ini udah terkenal di seantero kota domisiliku sementara. Cabangnya pun udah banyak. Gampang dicari karena hampir semua tokonya strategis. Tanya orang-orang juga nggak bakalan bingung. Sebutin saja, nanti juga dikasih tau :p

Salah satu cabangnya tiap hari aku lewatin pulang pergi kantor. Beberapa kali mampir dan kadang cuma ngelirik, cabang ini relatif rame. Strategis banget sih emang. Letaknya di pinggir jalan besar menuju luar kota. Hanya saja aku masih nggondok sama tukang parkirnya. Iya, sama tukang parkirnya! Nah, aku itu sebenernya mau cerita tentang tukang parkir. Bukan tentang toko rotinya. Kepanjangan yak pembukaannya? Yowis anggap aja aku lagi ngelantur :p

Beberapa kali mampir, beberapa kali pula dibikin sebel sama tukang parkir. Awalnya sih nggak terlalu merhatiin. Tapi lama-lama kok nyebelin. Tukang parkirnya cuma sigap pas ada pembeli datang. Pas mau balik nggak ada peduli sama sekali. Abis terima ongkos parkir langsung ngeloyor pergi. Hrrrrggghhh...! Padahal tukang parkirnya dua loh. Mereka cuma bersandar di pagar atau duduk manis doank. Walau berdiri tapi asyik entah ngapain. 

Pernah liat mobil keluar dari parkiran toko itu juga. Disebrangin! Padahal juga searah sama aku. Apa nggak makin gondok? Emang parkir mobil dan motor beda tarif. Cuma apa susahnya nyebrangin motor juga. Kalau cuma mau nyebrangin mobil, sepeda motor nggak ditarik ongkos parkir donk. Adil kan?

Banyak tukang parkir yang memang nyebelin. Nggak cuma di toko itu juga. Pas markir motor nggak ada tukang parkir, eh, pas mau keluar udah nongol duluan. Mau nggak dibayar kasihan. Mau dibayar kok antara ikhlas dan enggak.

"Aku paling sebel kalau tukang parkirnya nggak bantuin. Coba kalau dia peduli dikit, aku respek sama dia deh,"cerocosku. Temenku cuma manyun sambil mengangguk setuju. Saat itu kami sedang berusaha nyebrang diantara mobil motor melaju kencang.

Nggak semua tukang parkir seperti itu sih. Masih banyak yang peduli. Tersenyum bahkan nggak lupa bilang terima kasih. Rasane yang ngasih itu seneng. Nggak gondok gitu. Dulu waktu di kota perantauan sebelumnya, sama-sama di toko roti juga, aku pernah dibebaskan dari ongkos parkir. Nggak tau kenapa. Aku paksa-paksa bayar, si bapak malah tersenyum dan menggeleng. Aaaahhh...mulia sekali hatimu, Pak! Berapa banyak uang yang kau kumpulkan, hingga aku kau bebaskan dari ongkos parkir. Kalau kuinget-inget, mungkin karena aku sering menolak kembalian parkir. Nggak banyak sih memang tapi mungkin itu berharga baginya. Mungkin juga dengan menggratiskan sebagai bentuk terima kasihnya. Wah semua serba mungkin! Terima kasih, Bapak. Kau memberiku banyak pelajaran. Sekarang apa kabarmu? Masih lariskah toko roti itu? :)

Eeemm...kok jadi mellow? Udah balik ke tukang parkir di kota ini. Aku jadi mikir-mikir ulang kalau mau ngasih lebih ke tukang parkir di sini. Abisnya beberapa kali dikecewain sih. Jadi malas deh. Apa perlu aku punya mobil dulu biar ngerasain dibantuin parkir, ya? Hahaha. Yasudah ini curcol nggak penting semata :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar