Rabu, 19 Maret 2014

Kompromi? Harus!

Judul Buku      :  Lupita : Lu Pikir Gua Pengemis Cinta!
Penulis             :  Dian Kristiani
Penerbit           :  Bhuana Sastra
Tahun Terbit    :  2013
Tebal Buku      :  ix + 282 halaman
ISBN 10          :  602-249-393-5
ISBN 12          : 978 -602-249-393-8



Membaca novel ini seperti melihat gambaran diri sendiri. Dikejar-kejar buat nikah tapi pasangan belum ada. Gimana rasanya? Nggak cukup kalau diungkapkan dalam satu dua halaman aja deh! Hihihi.

Lupita : Lu Pikir Gua Pengemis Cinta! Novel romance kocak yang pertama kali saya baca. Sosok Lupita digambarkan sebagai seorang gadis “pemilih” dalam hal urusan jodoh. Hmm..padahal jodoh kan udah disediakan ya, nggak bisa milih bak belanja di supermarket. Tipe pemilih dan tiap hari dijejali pertanyaan “kapan menikah” dari sang Mama, membuat Lupita risi dan gerah. Secara umur baru 22 tahun gitu loh. Masih muda buat berkarya dan membahagiakan orang tua.

Belum lagi jika mengenang masa lalu kelam yang membuat Lupita meradang. Ya, Lupita lahir tanpa sang Papa di sisinya. Konon namanya pun tercetus saat mama melahirkan. Unik, bukan? Hal itu juga yang membuat Lupita bersikeras ingin punya suami bule. Baginya cowok lokal itu nggak setia! Saking kuat tekat Lupita dapat cowok bule, dia rela pacaran di dunia maya dengan Phil. Gila nggak tuh? Padahal ketemu aja belum, ngobrol cuma via skype doank. Hebat! Bahkan Lupita rela menabung dollar demi bertemu Phil. Eeehh…hendak berangkat tuh bule malah ngumpet, nggak bisa dihubungin sama sekali. Lupita patah hati!

Ternyata supplier karton di kantor Lupita itu (mantan) cowok yang naksir dia zaman SMP. Bisa dibayangin gimana bahagianya Kian bertemu cinta pertamanya? Hampir tiap hari sosok Kian menyambangi kantor Lupita, entah urusan pekerjaan atau sekadar say hello semata. Bukan bermaksud tepe-tepe loh, wong Kian juga udah punya istri yang luar biasa cantik. Bagi Lupita sosok Kian tak lebih partner kerja dan sahabat. Kuping Kian selalu siap mendengar suka duka Lupita.

Tekat Lupita mendapatkan cowok bule belum juga padam. Hingga akhirnya dia bertemu sesosok Corey, buyer baru dari Australia. Sejak meeting pertama pikiran Lupita menggembara entah ke mana. Corey adalah prince charming bagi Lupita. Hingga terjadilah insiden “kopi dingin”. Hihihi. Gagal fokus gara-gara terpesona ketampanan Corey.

Penasaran gimana kelanjutan kisah Lupita, Corey dan Kian? Wajib intip bukunya!

Sepuluh jempol buat penulis buat novelnya. Novel romance komedi yang sukses menyita waktu tidur saya. Penasaran banget gimana endingnya. Sebenarnya bisa ditebak saat muncul Kian.  Sesosok cowok yang didaulat sebagai mantan pacar Lupita sewaktu SMP. Hanya saja cerita yang apik ini bikin saya lupa bahwa endingnya bisa ditebak. Yakin! Bahasa yang renyah dan mengalir mengajak saya mengikuti novel ini hingga akhir. Seperti biasa ciri khas sang penulis, di novel ini juga terselip hal-hal kocak yang bikin ngikik-ngikik.

Setting kota Surabaya membuat novel ini berbeda ditengah maraknya novel bersetting luar negeri. Perusahaan kayu sebagai tempat Lupita bekerja sejenak mengingatkankan saya pada buku BOG. Wah, jangan-jangan  novel ini terinspirasi kisah nyata. Di mana penulis dulu pernah menyandang gelar “orang kantoran”. Penonjolan makanan lokal, walau tak banyak juga terselip di novel ini. Ah, cerdik sekali! Banyak hal-hal yang tidak bisa ditebak. Seperti kisah tentang panti jompo. Hal yang akhir-akhir ini tak pernah muncul di permukaan. Saya juga mendapat pelajaran baru mengenai budaya Tionghoa. Selama ini belum pernah menemukan novel dengan pembahasan proses kematian (kremasi) secara detil.

Ada beberapa kalimat di novel yang memang pantas dijadikan sebuah quote. Bikin saya klepek-klepek tiap kali membacanya. Suka banget! Diantaranya nih :

"Dalam kehidupan ini, ada yang namanya kompromi" (Hal 159)

“Makbo rasa, cinta bukan lagi ukuran muttlak. Rasa gembira dan saling memiliki, itu yang lebih penting” (Hal 234)

“Perkawinan itu sebuah kompromi. Kita tidak bisa mengubah pasangan kita, yang bisa kita lakukan hanyalah berkompromi dengan semua sifat dan kebiasaannya” (Hal 237)

Novel ini nyaris tanpa typo. Tapi, ada beberapa yang ingin saya beri sedikit komen.

“Jelas urusanku dong,  kita kan teman? Kita udah berteman sejak SMP, dan jangan lupa. Kita dulu pacaran, kan?” sahut Kian sambil sibuk mencongkeli isi hidungnya. (Hal 11)

Siang ini, cuaca Kota Surabaya panas sekali. Tiga puluh delapan derajat celcius, itu angka yang tercantum di thermometer berbentuk Merlion berwarna perak yang kutempel di dinding ruang tengah kantorku yang tak dipasangi AC. (Hal 49)

Untuk kalimat di halaman 11 menurut saya salah peletakan tanda baca koma dan titik. Saya mencoba mengubah peletakan tanda baca seperti di bawah ini :
“Jelas urusanku dong, kita kan teman? Kita udah berteman sejak SMP. Dan jangan lupa, kita dulu pacaran, kan?” sahut Kian sambil sibuk mencongkeli isi hidungnya.

Sedangkan kalimat di halaman 49 menurut saya terlalu panjang sehingga agak ngos-ngosan saat membaca. Ada kalimat yang saya hilangkan, hasilnya seperti ini :
Siang ini, cuaca Kota Surabaya panas sekali. Tiga puluh delapan derajat celcius! Itu angka di thermometer berbentuk Merlion berwarna perak di dinding ruang tengah kantorku yang tak dipasangi AC.

Nothing’s perfect. Manusia tak pernah luput dari kesalahan. Yang terpenting bagaimana belajar menyikapi kesalahan tersebut. But, novel ini memaksa dan mengajarkan saya untuk belajar “kompromi”. Menyadarkan saya bahwa apapun niat dan tujuan kita akan berdampak ke orang lain. Yap, jangan egois dan wajib kompromi!


3 komentar:

  1. Lupita emang emejing, cintanya pada sang Mama luar biasa :)

    BalasHapus
  2. Jadi... sama dong, membayangkan mb Dian main comot karakter teman kantor dan klien perusahaan xixixi

    BalasHapus