Senin, 14 April 2014

Unforgettable Journey : Cerita Ibukota

Aku tak pernah menyukai kota yang bernama "Jakarta". Well, dulu aku mimpi-mimpi pengen banget ke sono. Tapi sekarang kalau nggak ada acara penting ogah banget menginjakkan kaki ke kota itu. Macet, panas, crowded dan segala keruwetannya tumplek blek di ibukota negara tercinta ini. Mall-mall yang katanya super megah dan komplit nggak bikin aku ngiler juga. Apalagi aku tipe orang mudah capek jika berada di tempat rame. Otomatis Jakarta udah didelete duluan kalau sekadar buat jalan-jalan. Yah, walau aku masih penasaran sama Kota Tua dan Tanah Abang sih. Hehehe.

Minggu ke-3 Maret kemarin my beloved friend merit. Alhamdulillah! Yeay! Akhirnya genk kita lama-lama menempuh jenjang lebih tinggi lagi. Hihihi. Sesuai perjanjian, walau tak tertulis kami berempat harus ngumpul. Apalagi sahabat kami udah bilang jauh-jauh bulan, nggak hari lagi loh. Sesibuk apapun, sebisa mungkin kami harus datang. Yeah, aku harus rela membumi hanguskan tiket PP Jogja-Bali demi dia seorang. Padahal tiket itu udah aku beli tahun lalu. Kurang sayang apa aku padamu, Vadong? :p

Setelah perundingan alot, aku, Tita, Mbak Neri berangkat juga ke Jakarta. Itung-itung silaturahmi ke rumah Tita. Memang kami berempat dari kota yang berbeda tapi tujuan sama : cari duit dan jodoh *eh. Perjalanan berangkat kami tempuh hampir 12 jam. Alamaaakkkk boyokku!!! Huhuhu. Senyaman apapun bisnya, 12 jam adalah perjalanan panjang. Poseku udah nggak karu-karuan. Kaki naik, diselempitin di kursi depan, sampe jongkok segala. Tidur sama sekali nggak nyenyak. Iri banget aku liat Mbak Neri bisa pules tanpa beban gitu. Hahaha. Usut punya usut tuh orang negak obat anti mabok. Woalah pantesan pules :D

Undangan pernikahan jam 7 malam tapi kado belum ada di tangan. Masih adu pendapat. Satu A, satu B dan satu lagi C! Bagus! Alhasil kami eyel-eyelan nggak karuan selama di perjalanan menuju Gandaria City. Yup, tau kan tempat apa itu? Itu sebuah mall gede en beken di Jakarte, Sodara-sodara *pake toa. Belum puas adu mulut di mobil, kami masih kekeuh dengan pendapat masing-masing. Dasar ngga ada yang mau ngalah. Hihihi. Gempor kaki dan mulut, akhirnya kado di tangan kami. Belum lagi selama berkeliling mall kami harus ngegendong ransel gede. Nggak ada tempat penitipan barang. Encooookkkkk!!!

Akhirnya sampai finish juga! Gempoorrrr :p


Waktu terus merambat. Capek mider dari outlet ke outlet, kami memutuskan ke hotel. Lumayan istirahat barang sejam dua jam. Apalagi ini malam minggu, macet pasti menjarah di mana-mana. Kami berpisah. Tita pulang ke rumah, aku dan Mbak Neri menuju Pop Hotel di daerah Tebet. Berhubung kami berdua agak buta Jakarta, dari Gandaria ke Tebet kami percayakan pada yayang taksi. Toh, taksi ini udah terkenal bonafit.

Selama perjalanan menuju hotel memang ada yang terasa aneh. Jauh dan muter-muter. Tita bilang andalkan saja GPS, jangan percaya begitu saja sama sopir taksi. Tapi kami berdua cuek saja, toh taksi ini sekali lagi udah "bonafit". Aku yang orangnya pengen tau ngajakin tuh sopir ngobrol. Yah, sapa tau bisa ngasih info apa gitu kek. Hanya gumaman nggak jelas yang terdengar. Hiks. Sopir iki ngomong opo toh? :(

Kebonafitan nama armada taksi ini rupanya tak menjamin kualitas pelayanannya. Di kota tempatku bekerja, emang taksi ini paling baik dan paling mahal argonya. Pernah sih sekali dicuekin gara-gara si sopir nunggu kelamaan. Hihi. Maap, Pak! Rupanya bukan hanya nggak enak diajak ngobrol, si sopir nggak tau alamat hotelnya, Sodara-sodara! Alamaaakkkjrooottt! Aku udah pengen nelen tuh sopir, apalagi hari semakin sore. Kami sampai googling dan tengok kanan kiri bak "ketek ketulup". Huhuhu.

Wajahku udah  tak tekuk-tekuk nggak karuan. Antara capek dan sebel sama si sopir bikin mood berantakan. Aksi "ketek ketulup" akhirnya berakhir setelah kami menemukan hotelnya. Horeee horeee! Alhamdulillah. 

"Pak minta tolong bagasinya," ujarku agak ketus.

Sayup-sayup terdengar si sopir menjawab tapi kami terlanjur turun. Dan kami baru sadar ternyata si sopir nggak bantu nurunin barang. Dia cuma buka kuncinya doank! Semakin kesal, gembolan segera kami turunkan. Semakin emosi saja ngeliat tingkah si sopir. Jedhar! Brak! Kami berdua membanting pintu bagasi dengan kekuatan supernatural. Bodo amat mau ngomel-ngomel, yang jelas kami kecewa dengan pelayanan dia. Dan sayangnya kami lupa nggak nyatet atau moto identitas tuh sopir :(

Mengurus administrasi dan istirahat, setelah maghrib kami harus segera menuju TKP. Kami jaga-jaga kalau kejebak macet. Ini malam minggu, Bo'! Berhubung nggak tau nomer taksi, kami pasrahkan masalah itu sama resepsionis hotel. Kaget juga saat melongok taksinya. Tuh taksi terkenal nggak bonafit. Bismillah aja wis. Daripada telat dateng ke kondangan bisa berabe.

"Don't judge something from this cover". Ungkapan itu sangat cocok mengambarkan kondisi taksi di ibukota. Yap, di kotaku kedua taksi itu berbanding terbalik. Bak raja dan babu. Baik secara armada maupun pelayanan. Tapi di ibukota justru sangat mencengangkan. Nggak bisa percaya begitu saja walaupun sudah berembel-embel "bonafit".

Ibukota, dengan segala keunikan dan keruwetannya menyimpan berjuta-juta cerita. Setidaknya bisa mawas diri saat berada di kota orang lain. Katanya sih jangan sampai kita bersikap bak turis. Walaupun sebenarnya kita ngga paham kota tersebut. Hal itu sering kali dimanfaatkan oknum-oknum tak punya perasaan. Malu bertanya sesat di jalan. Ada baiknya sebelum menginjakkan kaki di suatu tempat mencari informasi sebanyak mungkin. Jaga-jaga dari kemungkinan terburuk. Waspadalah. Waspadalah :D

“Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Unforgettable Journey Momtraveler’s Tale”


1 komentar:

  1. aku juga paling males kalo suruh ke Jakarta mak, sumpek bawaannya ;)
    makasih ya, sudah terdaftar sebagai peserta :)

    BalasHapus