Minggu, 25 Mei 2014

Berlebihan Itu Tak Baik



Judul Buku      : Terobsesi Padamu
Penulis           : Widya Ross
Penerbit         : Bhuana Sastra
Tahun Terbit   : 2014
Tebal Buku      : 176 Halaman
ISBN 10           : 602-249-559-8
ISBN 13           : 978-602-249-559-8

Pernah terobsesi pada seseorang sampai semua waktu tersita untuknya? Pernah mengagumi seseorang sampai semua khayalanmu hanya tentang dia? Rela ngabisin pulsa demi sms atau telpon. Ngajakin ngobrol di whatsapp atau BBM sampai jari keriting demi menarik perhatian doi doang. Pernah berkhayal kelak kamu akan bersanding di pelaminan bareng doi, hidup bahagia di rumah mungil bersama anak-anak nun lucu? Come on, Dab! Ini dunia nyata, bukan dunia dongeng.

“Terobsesi Padamu” novel ringan yang secara gamblang membahas penyakit anak muda masa kini. Bukan sekadar penyakit gadget semata loh. Mengagumi seseorang terlalu berlebihan itu juga termasuk penyakit. Bukankah jelas sudah kalau sesuatu yang terlalu berlebihan itu tak baik? 

Penulis mengisahkan sesosok Selina, gadis kuliahan di kota Malang. Entah kesambet dari mana dia begitu mengagumi Ezra. Mahasiswa kedokteran yang banyak diincar cewek-cewek kampus. Hingga Selina resmi menyandang gelar “pacar” Ezra. Selina tak peduli walau status “playboy” yang nempel pada Ezra. Selina hanya berkhayal bahwa kelak dia akan hidup bahagia, kaya raya bersama Ezra yang notabene seorang dokter.

Entah berapa duit yang telah Selina keluarkan demi sesosok Ezra. Perawatan, kado-kado kecil, ngutang sana sini, sampai bohongpun dia lalukan demi pacar tercinta. Apakah Selina kapok? Nggak!

Pernah mendengar nasehat “sahabat selalu ada di saat suka maupun duka”. Di novel ini penulis juga menceritakan dua sahabat Selina, Karen dan Ruri. Bertengkar hingga saling mencurigai pernah terjadi dalam persahabatan mereka. Tapi yang namanya sahabat tak akan pernah bisa terganti oleh pacar sekalipun.

Orang tua yang menaruh kepercayaan besar kepada Selina harus menelan ludah ketika tahu anaknya berpacaran. Tapi yang paling penting bagaimana kedua orang tua Selina meyakinkan anaknya bahwa keluarga adalah tempat terbaik untuk berbagi cerita. Selain sahabat tentunya.

Novel ini ringan. Nggak perlu sampai mengerutkan dahi untuk membacanya. Bahasanya lugas dan nggak bertele-tele. Penggambaran sesosok Ezra begitu menyebalkan, ngebayangin aja udah gemes duluan. Kombinasi antara sahabat, pacar dan keluarga diolah apik oleh penulis. Ending rumit ditebak. Cara penyampaian penulis menggiring pembaca untuk menuntaskan novel ini.

Tak pernah ada sesuatu yang sempurna. Cukup 3 typo yang ada di novel ini.
Penulisan kata “yang” seharusnya “Y” besar karena merupakan kalimat baru (halaman 102). 

Tatapan Ezra menghujamku. Bayangan naik pesawat terlepas dari benakku. yang ada saat ini, aku merasakan gemetar aneh. Seperti waktu pertama kali ngobrol dengan Ezra.

Nama “Ezra” tertulis “Vino” (halaman 133)

Vino memang nggak ke India.” Vino tidak berani memandangku. Dia menunduk.

Penulisan “ber_bahan” (halaman 152) 

Dia mengepaskan hanger atasan biru ber_bahan chiffon.

Penasaran sama gimana ending kisah Selina dan Ezra? Yuk, cekidot mlipir ke toko buku terdekat. Grab is fast, Dab!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar