Senin, 05 Mei 2014

Biang Macet di Patung Kuda

Nggak terasa udah setahun tinggal di ibukota Jawa Tengah ini. Hmm...time so flies kalau kata si mbah. Hahaha. Mau nggak mau udah hampir bisa adaptasi sih. Yah mungkin karena terpaksa juga *eh. Menikmati apa yang ada saat ini :) *halah

Namanya ibukota emang selalu identik dengan kemacetan. Emang sih kota ini nggak separah Jakarta, Bandung, tapi akhir-akhir ini macetnya bikin nangis bombay *lebay. Ngekos di daerah kampus emang plus minus. Termasuk masalah kemacetan. Dulu, jamanku kuliah mobil nggak secrowded sekarang. Jalan kaki ke kampus masih enjoy. Lari-lari, kejar-kejaran sama jam kuliah, eh tau-tau udah sampe kampus. Sekarang? Boro-boro lari, lagi jalan aja sering diklaksonin. Padahal jalan di pinggir lho. Karena banyak kendaraan atau yang jalan ngawur? Entahlah! :(


Dulu aku pernah bahas kemacetan kota ini juga. Gapapa kan kalau pengen dibahas lagi? Semoga nggak eneg *siapin permen sekarung. Cuma bahas titik kemacetan di patung kuda kok. Tau kan TKPnya? Kalau nggak tau gugling aja dulu.

Jaman sekarang anak kuliahan bawaannya udah roda empat aja. Nggak dalam rangka iri, ini murni bentuk keprihatinan. Emang nggak semua sih tapi tiap kosan elite pasti ngejongkrok sebiji dua biji mobil. Jamanku dulu ke mana-mana masih angkot ria dan jalan kaki. Kami pernah lho jalan kaki dari kampus sampe patung kuda. Jangan ditanya rasanya, yang jelas kaki udah gempor.

Tata lalu lintas yang semrawut di perempatan patung kuda bikin eneg mata. Kesiangan dikit pasti udah kejebak macet cukup lama. Salah berkendara klakson belakang berbunyi nyaring. Lampu lalu lintas yang nggak berfungsi dengan baik semakin menambah kemacetan. Pak polisi yang notabene punya kewajiban membantu juga tak berfungsi banyak. Malah kebanyakan mejeng di depan pos. Hehehe mau ngapain, Pak? Aku jadi mikir, yang salah itu pengendara, pak polisi atau si traffic light?

Akan ada 2 jalur yang akan berbunyi "belok kiri jalan terus", yang pertama dari arah Undip dan yang kedua dari arah Jatingaleh. Kesadaran berkendara yang kurang sering berakibat klakson berbunyi nyaring. Terutama dari arah Undip banyak pengendara mobil dan motor yang seenak udel nyalip tanpa paham arti rambu-rambu. Jalanan yang sempit harus dibagi menjadi dua jalur, akibatnya sering macet panjang. Belum lagi ditambah angkot-angkot yang ngetem, penjual-penjual di kanan kiri jalan, jalanan sempit berlubang dan para pejalan kaki.

Jujur aku sebel sama pengendara mobil yang menurutku tak tau sopan santun berkendara. Sering aku jumpai mobil dari belakang mengklakson ria dan dia mengambil jalur ke arah rambu "belok kiri jalan terus". Sebagai orang waras, para pengendara di sebelah kanan tentu ngasih jalan. Eh, sampe di ujung jalan dan kebetulan lampu ijo tuh mobil belok kanan. Mendadak lampu sein mobilnya juga nyala dan pake acara ngebut segala. Huah pie perasaanmu?

Baiklah, aku memang juga bukan pengendara yang baik. Masih sering nyalip sana sini. Tapi tak tauhkah wahai pengendara mobil, hormati antrean panjang yang ada di depanmu. Jangan asal main salip dan klakson seenak jalan nenek moyangmu. Sama-sama pengguna jalan umum, alangkah baiknya jika saling menghormati. Bukan menghormati dink tapi jaga diri lebih tepatnya. Juga kalau nggak mau kena sumpah serapah para penggendara lain. Kalau aku sih paling doain macem-macem. Hahaha *ups.

Lalu lintas di perempatan patung kuda emang kudu segera di benahi. Kalau toh jalanan nggak ada kemungkinan diperlebar, masih bisa kan dengan benerin si traffic light? Atau jasa pak polisi diperbaharui kembali, mungkin saat itu dia lupa tugasnya apa. So, nggak ada lagi ada acara ketemuan di tengah-tengah jalan dan klakson-klaksonan.

UNDIP semakin berkembang. Geliat kehidupan sungguh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau infrastruktur nggak diperbaiki semakin kacaulah tata lalu lintasnya. Sudah saatnya belajar menjadi pengendara yang baik. Tak perlu bunyiin klakson panjang-panjang, mungkin kita sendiri yang salah dalam berkendara. Belajar jadi pengendara yang baik dari sekarang, yuk!


Salam Sayang,


@tarmoth

Tidak ada komentar:

Posting Komentar