Minggu, 25 Mei 2014

Cinta Berhak Memilih



Judul Buku      :  Dandelion
Penulis             :  Iwok Abqary
Penerbit           :  PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    :  2014
Tebal Buku      :  200 Halaman
ISBN               : 978-602-03-0431-1 

Gambar by Iwok Abqary
Kalau sebelumnya penulis membuat novel romance yang bikin termehek-mehek. Kali ini penulis kembali lagi membuat pembaca menahan napas. Dengan cover unyu seger  yang bikin gemes dan penasaran. Tatanan kata yang apik dan runut sungguh menggiring pembaca untuk menuntaskan novel ini hingga akhir.

Penulis menuliskan kisah cinta anak SMA. Mungkin klasik terdengarnya. Paling kisah cinta anak SMA gitu-gitu aja. Banyak yang bilang cuma cinta monyet. Eits jangan berprasangka dulu donk sebelum baca bukunya. 
Sosok Ganesh dan Yara dikisahkan harus berpisah sesaat setelah pesta kelulusan tiba. Yara harus mengikuti ego orang tuanya untuk kuliah di Singapura, sedangkan Ganesh harus melanjutkan hidup bersama sang ibu di Bandung. Mereka memang berasal dari latar belakang yang berbeda. Itulah yang membuat Ganesh melepas ikhlas saat Yara harus kuliah di luar negeri.

“Terkadang senja mengingatkan pada rumah, pada orang-orang yang membuat hati kita rindu untuk pulang”

Sosok Bryan hadir saat Yara sedang patah hati. Dengan sabar Bryan berhasil membuat Yara membuka lembaran baru bersamanya. Sedangkan di tanah air, sosok Laras hadir menemani hari-hari Ganesh. Dialah orang yang terus mendorong Ganesh untuk menerbitkan novel. Di dua tempat berbeda, luka yang sama, dengan lembaran kisah yang berbeda pula.

Ending novel ini bisa ditebak saat dikisahkan Yara bertemu dengan Bryan. Sedangkan Ganesh dengan Laras. Hanya saja penulis mampu mengecoh pembaca untuk menuntaskan novel ini. Dengan menyuguhkan kisah Ganesh yang sukses dengan novel perdananya yang bikin ngiri setengah mati. Bagaimana jungkir baliknya Yara setelah membaca novel Dandelion. Mencari kejelasan bagaimana hubungan mereka.

Novel ini juga menyiratkan pesan bahwa “menulis itu harus dengan hati dan cinta”. Tertulis jelas di percakapan antara Ganesh dan sang editornya. Bukan semata kisah cinta monyet anak SMA tapi bagaimana cara Yara dan Ganesh berpikir memang bikin melongo. Kalau kita mungkin hanya bisa nangis bombay sampai mata bengkak.

Suka banget sama setting novel ini. Penggambaran suasana kota Singapura sungguh jelas. Jadi makin penasaran ingin berkunjung ke negeri singa tersebut. Sebanding dengan itu, penggambaran kampong Ganesh juga gamblang. Kehidupan desa yang sekarang dirindu oleh banyak orang. Masalah penulisan, novel ini sama sekali nggak ada typo. Hebat! Sepuluh jempol buat penulis. Masih berharap ada kelanjutan novel ini. Pertemuan Yara dan Ganesh masih menyisakan rasa penasaran.

2 komentar:

  1. yiaay ... makasi Tary atas resensinyaaa ... ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Kang. Semoga berkenan yaa. Utangku tinggal satu yang Laguna. Wait :)

      Hapus