Jumat, 20 Juni 2014

Hidup Harus Memilih, Bukan Dipilih



Judul Buku      : Pre Wedding Rush
Penulis           : Okke “Sepatumerah”
Penerbit         : Stiletto Book
Tahun Terbit   : 2013
Tebal Buku      : 210 Halaman
ISBN 13           : 978-602-7572-21-8

Pertama kali melihat novel ini hanya satu yang menjadi pertanyaan? “Ada apa dengan pre wedding? Kenapa harus ada “rush”nya segala?” Eh, ternyata novel ini menyimpan banyak nasehat dengan penyampaian yang “sok nasehatin”. Ada beberapa yang saya kutip. Yuk, simak review dari saya!

 *****

Lanang. Ia adalah laki-laki yang terlihat tidak pedulian, tapi selalu penuh kejutan. Orang yang pernah membuat kehidupanku begitu berwarna. 

Tapi itu dulu. Aku tidak tahu apakah ia masih orang yang sama atau tidak. Orang kan bisa berubah? (Halaman 17)

Di sinilah cerita berawal, tentang perjalanan cinta Lanang dan Menina. Kisah mereka harus kandas karena keegoisan Lanang menuruti jiwa bebasnya yang tak pernah padam. Pergi tanpa kabar, meninggalkan Menina hingga bertahun-tahun. Membuat kepercayaan orang tua Menina dan para sahabatnya hilang tak berbekas. Mereka selalu mengganggap Lanang adalah sesosok laki-laki tak berperasaan. Tapi bagi Menina, Lanang adalah tetap sosok istimewa.

Usia Menina tak lagi muda tapi hatinya juga tak kunjung terbuka. Beberapa kali mencoba menanggapi cowok lain tapi mental. Hingga saat ulang tahunnya, Dewo, cowok yang baru 10 bulan dekat melamarnya. Menina menerima tapi setelah itu dia bingung. Hingga akhirnya Menina memutuskan curhat kepada Lanang, mantan kekasihnya.

Berawal dari curhat, mereka melakukan perjalanan bareng ke Jogja. Menina yang awalnya berniat ke Surabaya, akhirnya tunduk mengikuti ajakan Lanang. Bernostalgia seperti saat mereka masih muda dulu. Bercerita ini itu, hingga menikmati kepulan asap rokok di bordes.

Keberadaan Lanang membuat perjalanan panjang tidak terasa menyebalkan. Memang benar, jika melakukan perjalanan, tidak penting tujuannya, tidak pula terlalu penting menggunakan apa dan tinggal di mana, selama kita bersama dengan rekan perjalanan yang menyenangkan, semuanya akan sempurna. (Halaman 60)

Bukan tanpa alasan Menina memutuskan ikut Lanang. Menina ingin mencari jawaban, apakah dia benar-benar bisa menerima Dewo ataukah karena desakan lingkungan dan keluarga. Ataukah dia masih mengharapkan Lanang menjadi pendamping hidupnya.

Jogja menyimpan sejuta kenangan untuk Menina dan Lanang. Kali ini Jogja juga memberi kejutan tak terduga untuk Menina. Sigit dan Ayako partner Lanang menggarap sebuah buku dan juga gempa 5.9 SR yang mengguncang Jogja. Berdasar rasa kemanusiaan, Menina memutuskan untuk tinggal lebih lama di Jogja. Mengabaikan perasaan Dewo, keluarga Dewo dan juga keluarganya sendiri.

“Kita sering nggak menganggap orang-orang terdekat sebagai anugerah. Seberapa sering kita nggak memedulikan mereka? Kita anggap memang mereka seharusnya ada di sana. We take them for granted. Orang-orang tersebut baru akan terasa istimewa setelah kita kehilangan mereka. Bener banget kalau disebut you don’t know what you’ve got till gone” (halaman 151)

Pengakuan Lanang, kehamilan Ayako, penundaan pernikahan dengan Dewo mengharuskan Menina buka mata. Hingga akhirnya memutuskan ke mana Menina harus melangkah.

Masa lalu adalah masa lalu, sesekali melihat mungkin perlu, tapi tidak perlu mencoba untuk mengulang lagi apa yang pernah terjadi.

Karena waktu terus berjalan, membangun banyak cerita, mengubah seseorang, mengubah keadaan. Tidak akan mungkin ketika kita mencoba untuk mengulang semuanya akan menjadi sama seperti dulu. (Halaman 188-189)

Pre Wedding Rush berhasil membuat saya menuntaskannya dalam satu waktu. Kelincahan penulis dalam menuturkan cerita membuat setiap pembaca penasaran bagaimana endingnya. Alur cerita mundur, pembukaan cerita tentang pertemuan Lanang dan Menina setelah mereka berkeluarga. Itupun baru bisa terjawab setelah membaca cerita terakhir di novel ini. 

Penokohan sering dijumpai di sekitar kita. Wanita karir, siap nikah, mandiri, mapan tapi belum berjumpa pasangan. Digambarkan penulis melalui sosok Menina yang tinggal jauh dari orang tua. Hanya saja penggambaran sosok Lanang sebagai fotografer cuma diulas secara sekilas. Begitu juga dengan sosok Ayako, wanita yang menjadi selingkuhan Lanang hingga menjadi istrinya. Perannya di cerita hanya sedikit tetapi mampu mengubah jalan cerita menjadi berbeda. Sama halnya dengan tokoh Dewo. Sigit hanya digambarkan dengan sedikit, tak ada cerita khusus tentang dia. Padahal saya masih penasaran bagaimana Sigit dan Ayako berpisah, juga kemesraan mereka sebagai sepasang suami istri sempat membuat Menina iri.

Settingnya cukup detil. Penggambaran kota Jogja dengan segala pernak-perniknya sungguh terasa. Kita diajak menyusuri kota Jogja yang memang fenomenal itu. Belum lagi ketika gempa melanda, deskripsi suasana sungguh membuat begidik ngeri. Kita bisa merasakan langsung bagaimana kehidupan para korban gempa.

*****

Pre Wedding Rush, novel dengan cover merah bermotif ini sukses membuat saya mengangguk-angguk bak burung perkutut. Secara keseluruhan saya setuju dengan ide ceritanya. Untuk cover terlalu bermotif ramai sehingga gambar orang menjadi kurang menonjol.
Blurb novel ini bikin penasaran. Nggak sabar untuk segera membacanya. “Life goes on” menjadi icon tersendiri. Karena setiap orang pasti mempunyai cerita. Tapi apakah cerita mereka sama dengan cerita di novel ini? 

www.FlashyShop.com

4 komentar:

  1. pengen ikut lomba ini sebenernya mbak :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi udah kelar detlennya kok. eike kalah :p

      Hapus
  2. Aku gemes banget sama Lanang :) Dewo itu yg keren abeeezzz.... semacam Dude Herlino gitu lah ya xixixiii....

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku pas baca ngebayangin Dewo tuh sabar dan pastinya guanteng wkwk :p

      Hapus