Senin, 30 Juni 2014

Menyisir Semarang Bareng GRI

"Hey, ada acara Goodreads nih. Gabung yuk sekalian kopdar," ajakku pada Genk Rempong. Kami memang hobi numpang kopdar di setiap acara. Hahaha.

Akhirnya cuma aku dan Mbak Inung yang bisa dateng. Yang lain pada nitip foto dan gigit jari gegara nggak bisa ikutan. Maap ye :p

Aku dan Mbak Inung punya misi sama saat kopdar : hunting foto! Yep, aku memang lagi gandrung sama dunia fotografi. Sebuah kepuasan tersendiri ketika dapat foto yang enak dilihat. Puas dan nagih pengen hunting lagi. Hahaha. 

Kebetulan Pecinan menjadi salah satu destinasi yang akan dikunjungi. Makin jingkrak-jingkraklah aku. Pecinan, salah satu tempat yang bikin aku penasaran. Hampir setahun tinggal di sini, selalu gagal tiap kali berniat ke sini. Banyak halangan gitu *alasan :p

Aku memang nggak aktif di Goodreads sejak jadi member tahun 2010. Jadi emang misiku murni ingin hunting foto. Tanpa embel-embel lain. Misal dapat kenalan cowok ganteng gitu *eh*

Tapi ternyata misiku berbelok ke arah lain. Selain dapat foto yang ciamik, aku juga dapat temen baru. Belum lagi bisa ngobrol dan foto bareng Mbak Indri Juwono, salah satu penulis buku "Rumah adalah Di Manapun" dan juga travel blogger. Aku yang emang hobi ngepoin blog para traveler langsung jejingkrakan. Iya, aku suka blogwalking buat nimba ilmu penulisan para suhu traveler. Setidaknya obsesi jadi travel blogger dan travel writer yang nggak mungkin terwujud, bisa terobati kala kluyuran di blog mereka.

***
Balaikota menjadi meeting point acara Kopdar Akbar GRI kali ini. Aku dan Mbak Inung datang telat. Selama di jalan udah ketar ketir. Sampai di sana udah rame banget. Duh, orang baru dateng telat, salah kostum pulak. Yang lain pake kaos seragam dari wilayah masing-masing, kami berdua baju bebas. Haha. Alamaaakkk! Berasa penyusup beneran deh. Mana nggak ada yang kenal pulak. Eh, tau-tau ada Asmari si artis kopdar Semarang dan Mbak Esti yang kebetulan satu komunitas. Lumayan nggak cengok-cengok amat nih, batinku.
Brieffing dulu yak :)
Kami dibrieffing dulu oleh Kak Harun. Mau tau siapa dia? Nggak seru kalau aku ceritain di sini. Pokoknya dia ngetop deh di Goodreads. Nama lengkapnya Harun Harahap. Udah sana gugling aja daripada penasaran :D

Menggunakan bis dan dua mobil sewaan, kami menuju destinasi pertama, Pecinan. Aku dan Mbak Inung memilih duduk di bangku paling depan dekat pintu masuk. Tetap pada misi pertama, kami akan lebih bebas motret. Modus banget, ya? 

Klenteng Tay Kak Sie

Klenteng Tay Kak Sie

 Kami sampai di klenteng ini saat matahari sudah beranjak naik. Cuaca siang itu memang terik dan gerah. Membuat siapapun ingin cari tempat berteduh. Atau setidaknya menegak minuman dingin *glek*

Klenteng  Tay Kak Sie berada di Jalan Gang Lombok. Tepat di sebrang klenteng terongok sebuah kapal. Konon katanya kapal ini bernama "Cheng Ho". Menurut Mas Pra, koordinator sekaligus guide kami, kapal ini akan dibongkar. Nggak mau kehilangan kesempatan, kami segera berpose di atas kapal. Hihi. Sebagai kenangan dan bukti bahwa kami pernah mampir di kapal itu.
Salah satu sudut Kapal Cheng Ho
Patung memancing

Ini adalah pengalaman pertamaku masuk klenteng. Apalagi bisa sampai melihat aktivitas warga yang sedang beribadah. Belum lagi sesekali menyapa warga yang sedang duduk-duduk di dalam klenteng. Sebelumnya paling mentok aku hanya bisa melihat dari jauh. Hehehe enggak berani mendekat. Aku jadi norak pengen jepretin semua :D
Salah satu tempat sembahyang

Klenteng Tay Kak Sie cukup besar dan luas. Pernak pernik khas klenteng sangat menarik sebagai objek foto. Walaupun setelah jeprat jepret aku merasa berdosa. Ada sesuatu yang menohok. Yang seketika mengingatkanku pada kejadian upacara peringatan keagamaan. Cukup kali ini dan aku berjanji nggak akan mengulangi kebodohan yang sama.
Cheers! ^^
Di depan Klenteng Tay Kak Sie

Hari semakin siang, memaksa kami harus melanjutkan destinasi selanjutnya.

Pembuat Rumah Arwah

Tempat ini cukup terkenal di Semarang. Sebuah rumah kecil tak jauh dari pasar Gang Baru. Saat kami tiba di sana, seorang pekerja sedang menyelesaikan pesanan. Rumah Arwah, adalah sebuah miniatur rumah-rumahan khas Tionghoa. Bahan dasar rumah arwah ini adalah bambu dan kertas. Di dalam rumah tersebut terdapat berbagai perabot rumah, pembantu dan pernak pernik rumah tangga lainnya. Sedangkan pemilik rumah dibuat terpisah. Pengerjaan rumah arwah ini kurang lebih 2 minggu dengan harga jualnya berkisar 1,5 juta setiap rumahnya. Tergantung tingkat kerumitan dari rumah arwah itu sendiri.

Rumah ini biasanya akan digunakan saat mayat akan diperabukan. Menurut informasi belum tentu setiap orang ketika meninggal langsung dibikinkan rumah arwah ini. Tergantung keluarga masing-masing, karena ada acara adat Tionghoa yang tentu memakan dana tak sedikit.
Lagi ngerjain pesenan

Pembuat rumah arwah ini diteruskan secara turun temurun. Ong Bing Hok mewarisi keahlian ini dari ayahnya. Aku tanya, siapa penerus pembuat rumah arwah selanjutnya. Si bapak hanya tersenyum.
Rumah Arwah

Kami melangkah meninggalkan kios Ong Bing Hok. Nggak sempet mampir ke pasar Gang Baru. Hiks. Padahal tinggal seperempat lemparan batu. Huhu. Next time pokoknya harus balik ke sana.

Rumah Kopi

Ini adalah destinasi ketiga kami, setelah ditolak mengunjungi pabrik kecap Mirama. Hiks. Gagal deh ngicip kecapnya *eh.

Rumah kopi, rumah legendaris dengan pemilik rumah yang cukup ramah. Seminggu sebelumnya aku sudah bertemu dengan kakak adik pemilik rumah ini, Bu Widjajanti dan Pak Basuki, dalam diskusi buku "Pecinan Semarang". Dari diskusi inilah yang membuatku penasaran tentang "Rumah Kopi". Aku bahkan sepakat mau keliling Pecinan bareng my partner in crime, Mbak Dedew. Hihihi. Niat bangettt :D

Rumah khas jaman Belanda ini menyimpan banyak cerita. Sayang seribu sayang aku bukan pengingat yang baik. Fotopun tak mampu mengulang kembali bagaimana sejarah rumah ini. Aku cuma ingat, di dalam rumah Pak Basuki terdapat radio jadul, piano klasik, kendi atau tempat minum dari tanah, 2 set meja kursi tamu, juga beberapa barang khas Tionghoa.
Ruang tamu yang nyaman :)

Permen Kopi Mirama. Rasayaaaa....yahuudd!
Bu Widjajanti berbaik hati membagikan permen Mirama. Kata beliau permen ini dari biji kopi asli. Wah, teman-teman langsung semangat ngicip. Aku heboh motret dengan segala pose biar dapat hasil yang ciamik. Dan ternyata angeeellll :(



Mbak yang mengabdi sejak 14 tahun lalu

Kami dipersilahkan mengintip proses pengolahan kopi. Hore! Komplit deh! Beberapa diantara kami sibuk motret perkakas jadul. Bahkan ada yang praktek menggoreng kopi segala. Hahaha. Aku seperti biasa ngobrol dan motret. Ternyata si mbak -yang tak kuingat namanya- telah bekerja di Rumah Kopi selama 14 tahun. Wow! Pengabdian yang luar biasa. Terbersit tanya dalam benakku, apa yang membuat si mbak betah bekerja di sana. Pasti ada rahasianya. Yang sayang nggak sempet aku tanyakan. Karena si mbak sibuk melayani teman-teman yang beli bubuk kopi.

Pengetahuan mbak tentang berbagai jenis kopi cukup yahud juga loh. Mulai dari jenis kopi, cara pengolahan, daya simpan, dan lain sebagainya. Sepertinya si mbak cukup menjiwai pekerjaannya. Hihi. Ngiri :D
Lupa nama kopi ini, yang jelas ada Robusta dan Luwak :p

Puas ngeborong kopi dan ngobrol, kami berpamitan untuk lanjut ke destinasi selanjutnya. Nggak lupa juga foto kece dengan pemilik rumah. Aku masih berharap, bisa berkunjung ke sana lagi. Masih banyak hal yang ingin aku tanyakan. Hihi.
Narsis di Rumah Kopi
Bubuk kopi legendaris ala Rumah Kopi
Cieh, Mbak Lutfi sok sibuk bantuin jualan :p

Taman Sri Gunting

Destinasi terakhir kami untuk acara kopdar kali ini. Cuaca Semarang yang cukup panas sukses membuat kami meleleh. Hanya saja rasa lelah itu terkikis saat acara pembagian buku gratis. Uhuy! Kapan lagi coba buku dibagi gretongan gitu. Emang harus tebak kuis, tapi setidaknya lebih normal dibanding kuis-kuis di FB :p *misskuis*

Walaupun selalu gagal, eh tepatnya kurang cepet, aku dapat kaos GRI Semarang. Yes! Padahal rencananya aku mau ikut pesen kaos itu. Alhamdulillah rejeki tak lari ke mana. Lumayan dana buat beli kaos bisa dialihkan ke buku *irit.com*

Belum lagi aku masih dapat jatah buku saat kenalan. Langsung deh nyomot buku seorang kawan. Lama juga udah diincer. Alhamdulillah kocek aman! Setidaknya untuk sebulan ke depan :D

Sempat juga ngobrol dan foto dengan Mbak Indri, dapat ilmu nulis dan traveling gratis lagi. Setelah sebelumnya sempat ketemu Mas Ariy dan Trinity. Huray!
Me and Mbak Indri

***

Kami bertolak ke balaikota agak lebih awal dari itinerary. Beberapa anak gelandangan mengganggu kami. Entah apa yang mereka inginkan.

Aku menyempatkan diri mengobrol dengan member GRI dari Jakarta dan Semarang saat sampai di balaikota. Sebagai anak bawang, sudah sepantasnya setor muka biar nggak ketinggalan. Hihi. Diluar prediksi, semuanya ramah dan menyenangkan diajak ngobrol. Aku yang sebelumnya sempet minder dan keder langsung membaur begitu saja.

Rasanya sayang kalau harus berpisah sore itu juga. Entah kenapa aku merasa menemukan keluarga baru. Sambutan dan pelukan hangat membuatku nyaman dan happy bersama mereka. Padahal nggak sampai sepuluh jam kami berinteraksi. Hanya saja kebersamaan itu sangat terasa :)
Foto terakhir sebelum pulang. Kapan lagi bisa narsis bareng? hihi

"Taro, yang aktif di Goodreads Semarang, ya" pesan Kak Mia saat aku berpamitan.

Aku tersenyum dan mengangguk. Mengiyakan pesan Kak Mia. Semoga aku bisa aktif nggak hanya di Goodreads Semarang. Semoga! :)

5 komentar:

  1. Huehehehe gak nyangka ya, komunitas kutu buku seramah itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener bangeeettt. Awalnya minder sekali, tau2 nyaman aja :)

      Hapus
  2. ahh sayang ngga ikuut...kebanyakan jadwal jalan kemarin itu hihihi ntar disemprot pak bagus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi ntar sebulan dikurung di rumah lho kalau kebanyakan jalan. tapi pas jalan ngasilin duit mah gapapa, Mak :D

      Hapus
  3. Pecinan itu tempat masa kecilku keluyuran hihiii...lah cuman tiga lemparan batu dari rumah kelahiran :)

    BalasHapus