Sabtu, 05 Juli 2014

Mulutmu Harimaumu

Ngomongin masalah pengalaman wawancara, jadi berasa flash back 5 tahun yang lalu. Setelah pengumuman kelulusan SMK, aku udah bersiap melaju ke dunia kerja *ceile. Jangan ditanya lagi deh gimana perasaanku saat itu. Baru lulus udah dapat kerja itu rasanya seneng luar biasa. Belum kepikiran tentang karir. Hihi. Nggak semua orang punya kesempatan yang sama, kan? Ngebayangin dompet bakal selalu tebel tiap habis gajian udah bikin mata merem melek. Hahaha.

Berbekal transferan ilmu dari saudara yang udah kerja, aku sok pede aja pas mau wawancara. Beli buku tentang panduan wawancara juga. Juga pakaian. Duile, komplit sekali bekal pertempuranku, yak?

Ilmu dari saudara en buku aku inget-inget bener. Udah sampe tahap akhir gitu loh, sedih banget kalau sampai nggak lolos. Satu hal yang paling aku inget-inget bahwa "kesan pertama itu menentukan". Oke, aku akan berusaha maksimal dan berdoa. Berbagai kemungkinan pertanyaan siap aku libas *halah*

Sumber gambar dari google

Namanya wawancara jadi pakaian tuh harus rapi jali. Kalau perlu lalat lewat aja meleset. Ini penting, pewawancara pasti malas kan kalau liat calon karyawan kucel? Kan dari pakaianpun dinilai. Jadi akupun udah siap-siap dengan seragam perang "baju hitam putih"! Yup, jangan dikira aku bakal pakai blazer, jilbab, celana atau rok dan jilbab kece. Pakaian saat wawancara emang disuruh hitam putih. Bayangin donk betapa culunnya aku, rok item, baju putih, jilbab putih. Udah berasa emak-emak mau pengajian. Belum lagi wajahku jaman dulu kan masih polos. Hahaha.

Hari wawancara tiba. Pagi-pagi buta aku udah siap menuju TKP. Bismillah.

Menunggu beberapa saat, tiba giliranku menuju meja eksekusi. Duh, semaksimal apapun persiapannya, tetep aja gugup luar biasa. Apalagi wawancara ini menetukan masa depanku *tsah. Bedak lipstik yang aku pake udah luntur gara-gara kebanyakan minum dan ngelap keringet. Duh. Makin keliatan culunlah aku.

Pewawancara kali ini terdiri dari 3 orang. Dosen calon universitasku, pegawai dari perusahaan pemberi beasiswa dan pegawai dari badan diklat perusahaanku. Oke, mari kita berjuang!!

Pertanyaan awal masih seputar tentang keluarga, info beasiswa dari mana, apa keluarga juga bagian dari perusahaan ini, dll. Cincay lah yooo...

Tibalah pertanyaan akhir.

Pewawancara : Mbak, kalau misal nanti lolos mau penempatan di mana? Lingkup penempatan kali ini Jateng dan DIY

Aku               : Semarang, Pak

Pewawancara  : Kenapa milih Semarang? Nggak kota lain saja?

Aku               : Di Semarang ada keluarga, Pak. Jadi ada yang ngawasin saya.

Pewawancara  : Gimana kalau nanti penempatannya nggak di Semarang? Apakah Mbak tetap mau menerima?

Aku               : Saya tetap mau, Pak!

Pewawancara  : Baik, Mbak. Semoga berhasil, ya.

Aku               : Terima kasih, Pak.

Fyuh kelar juga sesi wawancara kali ini. Tinggal nunggu pengumuman aja. Ternyata nggak nakutin loh. Bersahabat gitu.

Tibalah pengumuman hasil wawancara. Aku lolos! 

Alhamdulillah.

Satu sesi terakhir di seleksi kali ini, tes kesehatan akhir. Banyak yang gugur di tahap ini. Dan sekali lagi alhamdulillah aku lolos.

Tibalah saat pembagian SK (Surat Keputusan), kami yang lolos sudah ditentukan ditempatkan di mana. Aku sih udah pede buanget bakal penempatan Semarang. Tapi ternyata....eng...ing...eng....

Saat maju ke depan dan disuruh baca satu-satu, mataku membulat lihat nama kota yang tertera di kertas SK itu. KUDUS! Waduh kotanya ada di sebelah mana itu? Hiks. Cuma pernah denger tapi nggak pernah ke sana.

Aku enggak diterima di Semarang, pikirku. Huhu. Ingatanku langsung melayang pas sesi wawancara dulu. Ternyata aku pernah ngomong "setuju ditempatkan di mana saja". Sebenarnya sih jawaban itu klasik ya, kalau bilang nggak mau ntar langsung dicoret donk. Ah, emang benar pepatah "mulutmu harimaumu". Sekarang dengan berbesar hati aku harus menerima keputusan itu. Kecuali aku mau lengser dari calon kerjaan ini.

Eh, ternyata aku bertahan 4 tahun loh di Kudus. Meniti karir di kota yang dulu aku takutin luar biasa. Dan setahun terakhir lagi menikmati kota pilihan saat wawancara dulu. Semarang! Yes, sekarang aku berada di kota impian. Nggak ada kata telat, setidaknya pilihan saat wawancara tertebus sudah. Walaupun nggak seindah yang dibayangkan.

Huray! Alhamdulillah!

"There's no shortcut to success". Semua hanya menunggu perlu waktu dan kesempatan yang tepat.

Salam,

@tarmoth

Tidak ada komentar:

Posting Komentar