Jumat, 18 Juli 2014

Supervisorku, Tak Ada Kata Tidak Untuk Berbagi

Aku mengenal beliau sejak pertama kali menginjakkan kaki di Kudus. Tempat pertama kali aku resmi berstatus sebagai "karyawan tetap" di sebuah perusahaan pemerintah. Hampir 5 tahun yang lalu. Dan sekarang beliau menjadi supervisorku kurang lebih setahun. Dari dulu hingga sekarang, aku selalu mengidolakan beliau. Semua orang di sekitarku juga sama. Mereka selalu bilang, beliau baik, cantik, murah senyum dan nggak pelit.

Mengenal secara lahir batin, membuatku dekat bukan sebagai atasan dan bawahan, tapi lebih kepada adik kakak. Banyak orang bilang, kami mirip. Hahaha. Walau nggak ada miripnya sama sekali loh menurutku :D

Selama berinteraksi dengan beliau, aku menjadi saksi bagaimana beliau lebih sering memberi. Entah itu apa. Nggak hanya dalam bentuk uang, barang  tapi juga ilmu. Baginya berbagi tak harus besar dan kelihatan tapi bagaimana esensi berbagi itu sendiri.
Supervisor paling baik sedunia :)



Salut dan kagum! Cukup itu yang bisa aku ungkapkan. Beliau tak pernah menceramahiku untuk "berbagi" tapi memberiku contoh langsung bagaimana cara berbagi.
"Kalau ada rejeki jangan lupa sama mbak mas yang ada di belakang, ya. Mereka kan juga ngebantu kita. Atau ya dibagiin ke tukang sapu atau tukang sampah"

Aku jadi sering memergoki kala beliau menyisihkan amplop untuk tiga cleaning service kantor kami tiap bulan. Padahal aku tahu kebutuhan tiap bulannya nggak sedikit. Dua anaknya masih sekolah di SD dan TK. Belum lagi tetek bengek kebutuhan bulanan. Juga biaya tak terduga lainnya. Yah, walaupun suami istri sama-sama bekerja tapi tetap saja biaya hidup di kota ini juga tak murah.

"Rejeki itu berputar terus seperti roda. Apa yang kita kasih ke orang sekarang, suatu saat akan diganti Allah di jalan lain. Nggak pernah putus begitu saja. Jangan pernah kuatir," nasehatnya kala kami hangout bareng.

Aku bahkan sering ditraktir untuk urusan makan. Yah, walaupun bilangnya "gantian" tapi lebih sering beliau yang bayarin. Sudah tak bisa terhitung lagi berapa kali aku makan ditraktir. Bahkan sering banget memberi kejutan untuk staffnya. Barangnya pun selalu berkualitas dan bagus. Ah...nggak nanggung kan kalau memberi?

Selama ini aku belum pernah mendengar beliau mengeluh kurang. Ini yang aku tiru hingga sekarang. Seminim apapun, aku berusaha nggak ngomong "nggak punya uang". Aku takut omonganku didengar Allah. Bukankah omongan itu juga doa? Paling banter beliau cuma bilang biaya buat les atau kebutuhan sekolah anaknya mahal. Harus bayar ini itu. Sudah itu saja. Nggak pernah bilang "aku nggak punya uang"

Kala ramadhan tiba, aku sudah hapal kebiasaan beliau. Pasti ada hari di mana beliau akan membagikan "takjil" bagi staff dan atasannya. Yup. Selalu tiap tahun begitu. Tak perlu koar-koar menyumbang panti asuhan sana sini, memberi makanan bagi orang berpuasa pahalanya juga tak kalah banyak.

"Aku udah pesen 3 opor ayam nih," cerita beliau di mejaku suatu pagi.

"Hah? 3 ekor? Kok banyak banget? Emang abis gitu?" jawabku mlongo. Secara beliau hanya tinggal bersama suami dan kedua anaknya. Keluarga besarnya ada di Makassar dan Padang.

"Enggak. Buat aku satu, terus tetangga depan dan samping kan Non Islam, sama satpam. Dibagi dikit-dikitlah. Lagipula cuma aku yang lebaran di sini, tetangga yang lain pada mudik"

Aku kembali mlongo. Saat orang lain heboh persiapan lebaran untuk keluarganya, beliau masih tetap memikirkan orang lain. Walau hanya seporsi lontong opor. Tentu sudah membuat tetangga dan satpam tersenyum bahagia.

Hari ini, tepat hari ke-20 ramadhan, aku menjadi saksi bagaimana rekan kerjaku bagian lain memujinya. "Alhamdulillah jilbabku dibayarin sama Dede. Supervisormu tuh apikan, nggak pelit. Kalau aku lagi nggak punya duit, terus pinjem pasti dikasih"

Aku tersenyum mengangguk. Menyetujui omongan rekanku. Supervisorku memang sosok yang boleh kusebut dermawan. Kecantikannya tercermin dari wajah dan tindak tanduknya selama ini. Beliau tak hanya cantik wajah tapi juga hati. Aku tak pernah ragu menyebutnya sebagai orang terbaik yang pernah aku kenal.

Selembar jilbab seharga 71 ribu sungguh sangat berarti bagi rekan kerjaku. Jilbab itu akan selalu dikenang. Jilbab itu dibelikan supervisorku. Aku bisa merasakan bagaimana aura bahagia dan bangga rekanku itu. Sesederhana itu.

Supervisorku dan Aku :)
Dede, begitu panggilan akrabnya. Wanita kelahiran Padang berparas ayu ini tak pernah ragu untuk berbagi. Baginya berbagi tak harus menunggu ramadhan tiba. Kala ada rejeki, saat itulah kita harus berbagi. Berbagi juga tak harus banyak. Berapapun itu pasti akan bermanfaat bagi orang lain.

Supervisorku, sosok yang tak pernah mengeluh seberat apapun kondisinya. Baginya semua pasti ada jalan. Supervisorku juga yang memberiku "ruang" untuk cuti kala aku berada di titik tersuntuk. Bercengkrama dengannya selalu menghabiskan waktu berjam-jam. Selalu ada waktu untuk berbagi. Beliau tak hanya dermawan masalah harta tapi juga ilmu. Sepak terjangnya di tempat kerjaku sekarang memang sudah diakui. Bertahun-tahun hidup di kota orang, membuat beliau mengajariku akan arti "berbagi" dan "survive". Aku menyaksikan sendiri, bagaimana tangis pecah saat beliau menerima surat pindah dari kantor lama. Ya, beliau sosok yang begitu disayangi, dicintai dan dikagumi. Beliaulah yang membuatku bisa terus survive di tempat kerjaku sekarang.

Terima kasih supervisorku, tulisan ini aku persembahkan untukmu. Tetaplah menjadi sumber inspirasiku. Mungkin aku tak akan pernah bisa membalas semua kebaikanmu selama ini. Semoga Allah selalu memberi kesehatan, rejeki untukmu sekeluarga. I love you!


Bersama Kita Sebarkan Kebaikandengan #SemangatBerbagi. Ikuti acara puncak Smarfren #SemangatBerbagi tanggal19 Juli 2014 di Cilandak Town Square Jakarta.
 
http://emakgaoel.blogspot.com/2014/07/kontes-semangat-berbagi-blog-emak-gaoel.html
 

Salam,

@tarmoth

4 komentar:

  1. Baik banget ya supervisormu itu Taro :)

    BalasHapus
  2. Assalamu'alaikum...
    Terima kasih sudah berbagi cerita inspiratif ini, ya!
    Good luck! ^_^
    Emak Gaoel

    BalasHapus
  3. senangnyaaa punya supervisor yang baik ...semangat terus jadinya yaa...salam kenaaal :)

    BalasHapus