Rabu, 01 Oktober 2014

Resep Bernas dari Seorang Momwriter

Judul Buku      :  Momwriter’s Diary
Penulis             :  Dian Kristiani
Penerbit           :  PT Bhuana Ilmu Populer
Tahun Terbit    :  2014
Tebal Buku      :  vi+142 Halaman
ISBN 10          : 10-602-249-618-7
ISBN 13          : 978-602-249-618-2

“Seorang ibu, apapun pekerjaan dan jabatannya di luaran, tetaplah seorang ibu”

Foto milik Octaviani
Sebuah kalimat pamungkas di bagian pembukaan buku ini yang makjleb banget. Pada setuju dengan kalimat pamungkas itu, kan? Sosok Dian Kristiani, yang dengan tegas menetapkan dirinya menjadi seorang penulis. Bukan penulis amatiran kek saya, tapi bagi beliau penulis adalah profesinya. Ibu dua anak ini menyebut dirinya momwriter setelah resign dan memantapkan hati menjadi penulis. Sebuah profesi yang bagi orang awam bertanya-tanya, apa itu penulis?


Pengalaman menjadi orang kantoran selama bertahun-tahun, sekarang menjadi ibu rumah tangga, sering ditanya macem-macem bagaimana bisa menjadi seorang penulis, membuat ibu dua anak ini gerah. Momwriter’s diary inilah yang menjadi jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan para fans. Termasuk pertanyaan saya di dalamnya. Hihihi.

Buku ini mengupas tuntas bagaimana suka dukanya menjadi seorang penulis. Jangan dikira penulis itu enak, tinggal nulis, dimuat atau diterbitkan, dapat honor. Dibalik itu semua, ada proses panjang yang terkadang membuat penulis atau calon penulis down. Yap, karena hidup itu sawang sinawang. Terkadang kalau lihat deretan buku Dian Kristiani, mbatin gini “Keren banget sih, lahiran mulu”. Tapi dibalik deretan buku itu, ada perjuangan dan sikap pantang menyerah penulis kondang ini.
“Jalan sebagai penulis, selalu terbuka lebar untuk kita semua. Syaratnya cuma satu, naskah yang bagus! (halaman 3)

Yup! Tak ada penerbit atau editor yang mau menerima naskah acakadut. Lalu gimana biar naskah kita cakep? Menurut para sesepuh, kita harus banyak latihan! Seperti pesan penulis buku ini, “Menulis, menulis dan menulis tapi ada hal tertentu yang harus dipelajari dan tidak bisa mengandalkan bakat alam”

Selain kita mengasah kemampuan menulis dengan terus berlatih, kita harus tahu teknik-teknik kepenulisan. Ada hal-hal yang memang harus dipelajari. Bukan hanya otodidak atau sekadar dari latihan semata.

Saya pernah bilang bahwa menulis itu untuk bersenang-senang, menyalurkan bakat, mengeluarkan uneg-uneg. Tapi dari buku ini saya sadar bahwa dari menulis bisa menghasilkan uang. Bahkan bisa menjadi pegangan hidup. Matre? Ah, enggak! Siapa sih yang nggak pengen punya penghasilan di luar gaji bulanan? Kalau saya sih mau banget! Selain duitnya buat tabungan masa depan, kelak bisa jadi cerita anak cucu bahwa kita seorang penulis. Dari buku ini pula membuka mata hati saya untuk terus berlatih, belajar tentang manajemen waktu, mengenal editor, penerbit, kursus nulis, plagiasi, deadline, royalti dan tetek bengeknya dunia kepenulisan.

Saya orang kantoran yang belum bisa membagi waktu dengan baik. Terkadang lelah dan deadline kantor yang ketat menjadi alasan tersendiri. Sebenarnya bukan nggak sempat tapi belum memperbaiki niat. Padahal banyak penulis kondang yang notabene mereka orang kantoran. Tentu kerjaan mereka sebelas dua belas dengan saya. Lha, sekarang kalau mereka bisa mengapa saya enggak? Sekali lagi buku ini berhasil menyentil saya!

Dilengkapi dengan 21 komik tentang cerita keseharian Dian Kristiani sekeluarga, membuat buku ini makin keren dan rugi kalau sampai nggak punya. Komiknya  bikin ngakak guling-guling. Nggak rela rasanya kalau cuma 21 komik, harusnya banyak lagi biar makin betah baca ini buku. Cover dengan tekstur timbul dan perpaduan warna yang “pas” membuat buku ini makin ciamik. Dari covernya sudah bisa ditebak gimana kerempongan khas emak-emak. Setiap hari selalu seperti itu, mengerjakan urusan domestik yang nggak ada kata "selesai". Namun Dian Kristiani bisa membuktikan bahwa ibu rumah tangga juga bisa menjadi penulis produktif. Seperti dikutip di halaman pembuka dan topik terakhir dari buku ini bahwa “Every mom can be a writer”

Sebelum memantapkan hati menjadi penulis atau menekuni sebua bidang, ada baiknya merenungi dua kalimat keramat di bawah ini. Dua pertanyaan yang wajib diprint dan ditempel di tembok dan direnungkan :

“Sudahkah kamu punya niat dan tekad yang kuat?”

“Apakah kamu punya rasa cinta yang mendalam di bidang ini?”

Selain tips dan tetek bengek mengenai dunia penulisan, di buku ini juga ada rangkuman khusus mengenai pertanyaan yang sering ditanyakan kepada penulis. Mulai dari urusan “niat” pengen nulis sampai surat cinta penolakan naskah. Nggak cuma sampai segitu, penulis masih memberikan bonus berupa alamat email beberapa majalah dan koran serta jenis naskah yang biasanya dibutuhkan di majalah tersebut. Penasaran? Masih nggak pengen punya buku keren ini? Ah, pelit kebangetan!

Tak ada sesuatu di dunia ini yang sempurna walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin. Begitu pula dengan buku apik ini. Walaupun sudah dikemas dengan cover dan isi yang bernas, masih ada beberapa yang mengganjal, diantaranya : 

1. Kurang konsisten untuk kata “aku”. Ada paragraf yang awalnya menggunakan kata “aku” tetapi ditengah-tengah atau akhir paragraf berubah menjadi “saya” (halaman 29-30)

2. Tambahan bonus alamat email majalah dan koran terasa janggal karena penjelasan mengenai bonus tersebut berada di halaman terakhir, sedangkan di halaman sebelumnya ada tabel lanjutan dari daftar email majalah dan koran.
3. Tidak ada daftar isi. Membuat buku ini terkesan ujug-ujug, langsung masuk ke inti buku setelah pembukaan. 

Secara keseluruhan buku ini apik dan bernas sekali. Wajib dimiliki para emak, embak yang ingin jadi penulis! So, yakinkah kamu menjadi seorang penulis? Pertanyaan yang sama juga saya tujukan kepada diri sendiri. Dibalik bayang-bayang sebagai orang kantoran, tersimpan niat menjadi seorang momwriter. Atau kelak walaupun masih berstatus "orang kantoran" saya bisa jadi penulis sekondang Dian Kristiani. Siapa tahu? Aamiin! Apalagi penulis favoritku ini telah menuliskan kalimat keramat yang bikin semangat terus membara. Terima kasih sekali, Cece :) Bismillah! Yes! I'm ready to be a writer! ^___^

Mau tahu kalimat keramat apa yang dituliskan buatku? R-A-H-A-S-I-A!



Sahabat ke kantor. Uhuy! Kalau nggak bersemangat, tinggal buka tuh buku resep :)


7 komentar:

  1. Bener banget, 21 komik masih kurang. Harus bikin lagi nih Ce Dian hihihiii...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah kepikiran mengko ndadak ujug-ujug, gak ono angin, gak ono udan, kuwi komik wis terbit. hihihi

      Hapus
  2. Sip.... ditunggu karya2 tulisnya, ya. ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, malu sama Mbak Ira :(

      Sering colak colek tapi belum juga bisa ngikutin jejaknya. Huhuhu. Makasih ya, Mbak, buat supportnya :*

      Hapus
  3. Mantab!
    Jadi ingin memulai kembali hobi lama yang hampir punah dari diri ini.
    Taro keren ulasan kamu. Salut deh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat! Bismillah mari kita kembangkan hobi yang telah ada. Syukur-syukur ditekuni dan jadi profesi :)

      Ah, ulasannya mah abal-abal. Makasih ya udah mampir :)

      Hapus
  4. Aku blom bacaaa, kudeeet...yup, nulis bisa jadi profesi...bisa bangeet :) penasaran dgn buku ini, mau beliii..

    BalasHapus