Kamis, 30 Oktober 2014

Ronald McDonald Library

“Buku adalah jendela dunia. Bersahabatlah dengan buku, dunia akan jadi milikmu”

Aku sering mendengar kalimat itu. Kalimat yang membuatku tergila-gila dengan satu benda bernama “buku”. Masih terekam jelas, dulu, sewaktu kecil ibu sering memberikan koran bekas pembungkus belanjaan kepadaku. Beliau mengenalkan huruf dan angka sejak aku masih berumur 5 tahun. Nggak heran sewaktu kelas 1 SD aku sudah mahir membaca.

Aku terkenal sebagai anak yang hobi nongkrong di perpustakaan sekolah. Entah itu untuk sekedar numpang baca, mengembalikan buku atau pinjam buku. Kecintaan aku pada buku terus tumbuh hingga aku mampu membeli buku-buku idamanku sendiri. Sekarang aku paham, mengapa ibu membiasakan membaca apapun sejak kecil. Menumbuhkan minat baca sejak kecil itu memang nggak mudah.


Keberuntunganku bisa mengenal buku bacaan mungkin memang biasa. Tapi tak seperti anak-anak SD Kusuma Bakti, sebuah SD swasta di pesisir Tanjung Mas, Semarang. Berkesempatan menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi, membuatku mengenal lebih jauh tentang dunia pendidikan.  Selama ini aku beranggapan, semua sekolah telah mempunyai perpustakaan. Tapi ternyata aku salah! Sekolah tempat aku mengajar ini tak ada perpustakaan. Katanya sih dulu ada tapi petugasnya nggak pernah masuk. Jadi perpustakaan tutup dengan sendirinya. Huks.
 
Tumpek blek di sini

“Yah, begini kondisi perpustakaannya, Mbak. Masih campur aduk sama barang lain. Maklum nggak ada tempat lagi,” jelas penjaga sekolah saat menemani aku survey.

Semua barang masuk di sini
Aku mengamati sekeliling. Ini bukan perpustakaan, lebih tepatnya ini sebuah GUDANG! Berbagai macam barang tumplek blek di sana. Ada beberapa rak buku yang telah usang termakan usia berdiri di kanan kiri ruangan.  Barang-barang alat pertukangan, meja dan kursi bekas, globe serta beberapa alat peraga lain menyebar di penjuru ruangan. Debu tebal menempel mesra di lantai dan setiap sudut tanpa terkecuali. Membuat ruangan berukuran 4x3 meter ini terasa pengab dan kotor.

“Ini bukunya, Pak?” tanyaku sangsi sembari mengelus onggokan buku di meja.

“Iya, Mbak. Ini buku yang kami punya.  Semuanya buku-buku lawas”

Aku tertegun. Macam-macam buku ada di sini, ada buku tugas, buku bacaan, buku pelajaran, bahkan tumpukan soal. Belum aku temukan sebiji bukupun yang minimal setahun terbit.
Beginilah koleksi "buku" mereka :(

“Pak, katanya tadi ada ruang serbaguna. Di sebelah mana, ya?”

Ruang serbaguna, ya, ini, Mbak. Di sini anak-anak kalau sore belajar nari. Terkadang juga dipakai kegiatan lain,” penjaga sekolah menjawab rasa penasaranku. Jawaban yang sukses membuatku tertohok. Ruangan ini lebih tepatnya disebut ruang serbaguna atau gudang, bukan perpustakaan lagi. Mataku menerawang, berandai-andai jika sekolah ini punya perpustakaan. Tak usah mewah dan bagus, yang penting nyaman untuk sekadar membaca anak-anak.

Pintu masuk ruang serbaguna
Perpustakaan merupakan fasilitas penunjang sebuah sekolah. Dengan adanya perpustakaan, sekolah telah memberi ruang bagi anak untuk berekspresi. Merangsang daya imajinasi mereka lewat buku bacaan. Selain itu juga melatih anak untuk mengenal dunia luar dan membiasakan mengenal buku sejak dini. Sayangnya, belum semua sekolah memiliki fasilitas perpustakaan, salah satunya SD Kusuma Bakti. Mungkin masih banyak SD-SD lain yang juga mengalami nasib sama. Padahal jika diperhatikan lebih seksama, daya tangkap dan rasa ingin tahu anak SD jauh lebih besar.

Mendengar nama RMHC (Ronald McDonald House Charities), kupingku tergerak untuk kepo. Sebenarnya apa RMHC itu? Setelah masuk ke webnya, aku langsung mendadak ide. Aha! Tring tring tring! *ala jin. Tenyata RMHC adalah organisasi non-profit yang mempunyai misi untuk menciptakan, menemukan dan mendukung program-program yang secara langsung meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak di seluruh dunia.

Yang paling menarik perhatian, RMHC mempunyai misi untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak. Dalam benakku langsung terpikir, kesejahteraan dunia anak salah satunya bisa berarti adanya perpustakaan. Bukan begitu?

RMHC di seluruh dunia mempunyai 3 program utama, Ronald McDonald House, Ronald McDonald Family Room dan Ronald McDonald Care Mobile. Sedangkan di Indonesia baru dua program yang berjalan yaitu, Ronald McDonald Family Room dan Ronald McDonald Care Mobile.  Semua program itu bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak-anak Indonesia.

Apalagi tertulis jelas bahwa RMHC masing-masing negara dapat menjalankan program tambahan bagi peningkatan kesejahteraan dan dampak positif bagi anak-anak negara tersebut. Alangkah bahagianya jika di Indonesia bisa dirintis Ronald McDonald Library. Perpustakaan ini bisa berbentuk keliling dari rumah sakit ke rumah sakit lain atau permanen berdiri di SD menengah ke bawah. Anak-anak yang bosan dengan suasana rumah sakit bisa terhibur dengan berbagai macam bacaan. Mereka bisa membaca sendiri, dibacakan orang tua atau ada petugas khusus yang mendongeng. Sedangkan untuk di sekolah dasar menengah ke bawah, sesekali bisa diadakan kunjungan rutin dengan agenda membaca bersama, mendongeng dan kegiatan seru lainnya.

RMHC juga mempunyai program bernama stripes for love. sebuah program untuk memberikan cinta (love), kebahagiaan (joy), harapan (hope) dan senyum (smile). Program ini bisa didukung dalam bentuk membeli kaos seharga 50 ribu rupiah (belum termasuk PPN). Kaos dengan pola garis ini digambar sendiri oleh anak-anak Yayasan RMHC loh. Gimana nggak tertarik? Kebangetan! Atau kalau kurang ngreget, beli saja boneka unyu seharga 68.182 ribu (belum termasuk PPN). Hias sesuka hati dan tuliskan semangat untuk anak-anak. Mereka pasti jauh lebih bahagia mendapat tulisan itu. Sepertinya program ini bisa juga diterapkan untuk program Ronald McDonald Library, ya? Mendukung minat baca anak dengan menggalang dana dari setiap pembeli di geray McD. Setiap pembeli boleh menyumbang dalam bentuk buku ataupun uang. Gimana, menarik bukan? Hehehe.


Sekali lagi, membaca adalah jendela dunia. Dengan membaca kita dapat melihat apapun yang kita inginkan. Membantu mengeja asa, juga merenda mimpi-mimpi anak Indonesia. Anak-anak adalah harapan bagi bangsa, merekalah yang akan berdiri di garda depan memimpin negeri. Mari budayakan anak Indonesia membaca sejak dini. Kenalkan mereka tentang indah dan asyiknya buku. Tumbuhkan minat baca anak Indonesia. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?

4 komentar:

  1. Balasan
    1. Makasih, Mak. Hiks. Sayang kurang polesan. Aku kurang puas. Huhuhu. Tapi alhamdulillah :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Terima kasih sekali, Mbak. Bagaimana kabarmu? Semoga selalu sehat yaaa :)

      Hapus