Jumat, 07 November 2014

Investasi, Sekarang Atau Nanti?

“Duh, biaya sekolah sekarang kok mahal banget. Beda sama jamanku dulu”

“Harga rumah sekarang gilaaaa! Diluar nalar manusia! Rumah imut kek rumah kurcaci gitu seharga 400 juta?”

“Pengen beli tanah tapi harganya mencekik leher. Masak 5 juta semeter?”

“Fyuh, nikahan orang sekarang ngabisin duit ya. Sewa gedung sekian puluh juta, belum dekorasi, catering, souvenir, dan tetek bengek printilan lainnya. Kamu tuh, Tar, jangan belanja mulu. Nabung buat nikah sana!”

Begitulah kira-kira curhat colongan para emak-emak, pengantin baru dan calon pengantin kepada saya beberapa waktu terakhir ini. Hmmm…curhatan mereka justru membuatku bertanya-tanya pada diri sendiri, berapa biaya sekolah anak saya kelak ya? Kuat nggak ya kalau besok-besok beli rumah? Sekarang masih bisa liburan, kalau besok udah nikah ada dana buat  liburan nggak ya?


Dalam kondisi “sadar” tanpa paksaan dan berbekal keteguhan hati, saya langsung  ngintip celengan. Sudah seberapa banyak tabungan saya? Benarkah saya sudah mempersiapkan masa pensiun dengan baik? Yah, walaupun kelak saya dapat jatah uang pensiun tapi ngga ada salahnya kan kalau punya tabungan buat plesiran?

Berkesempatan mengikuti talkshow tentang investasi dari Reksa Dana Manulife di Citraland tanggal 02 November lalu, membuat mata saya melek seketika. Penjelasan demi penjelasan dari Head of Investment Specialist, Bapak Freddy Tedja, memberikan pencerahan pada diriku yang masih-sering-kepincut-barang-barang-imut ini. Hati saya bertekad, selesai talkshow enggak ada kata belanja lagi. Stop! Sudah saatnya mikirin masa depan *halah.

Pertama kali Pak Freddy membuka sesi talkshow langsung mengajukan pertanyaan mematikan bagi saya, entah kalau bagi yang lain sih. Skakmat! “Bapak Ibu di sini milih nabung dulu apa belanja dulu?”

Glek!

Sebagai orang yang terima duit gaji akhir bulan, jelas sejak 4 tahun lalu saya lebih sering belanja dulu baru sisanya ditabung. Kecuali sedang ikut tabungan berjangka yang dengan system auto debet. Kalau enggak, sering belanja memenuhi kebutuhan bulanan dulu baru ditabung sisanya. Dan sekarang baru tersadar bahwa kebiasaan itu telah kelewat batas. Huhu. Banyak barang numpuk yang enggak kepake.

Dulu saya pernah beranggapan bahwa menabung itu sudah lebih dari cukup buat masa depan. Misal kalau butuh apa-apa bisa langsung nebok tabungan. Bagiku menabung sudah sama dengan investasi. Toh sama-sama dipakai untuk jangka panjang. Eh, ternyata saya salah besar sodara-sodara! Kita juga harus berinvestasi loh. Menabung dan berinvestasi itu dua hal yang berbeda. Menabung adalah di mana kita menyisihkan uang sementara untuk kegiatan transaksional. Sedangkan investasi adalah menyisihkan uang untuk berpuluh tahun ke depan atau sering disebut jangka panjang.

Pertanyaan selanjutnya, setelah tahu perbedaan antara menabung dan investasi, apakah kita sudah sadar tentang pentingnya investasi?

Menurut ilmu yang didapat, ada tiga langkah untuk sadar investasi :

1.       Insyaf.
Sebagai orang kantoran yang masih mengandalkan uang pensiun untuk kebutuhan hari tua, belum terbersit sedikitpun untuk mengurangi pola hidup yang sering kebablasan. Padahal semakin hari kebutuhan hidup semakin mahal.

2.       Irit
Irit bukan berarti pelit. Irit juga bukan berarti mengeluarkan dana minimal untuk hasil maksimal. Irit di sini lebih cenderung kepada bagaimana memangkas antara keinginan dan kebutuhan. Jangan sampai keinginan bikin besar pasak daripada tiang. Huaaaaa! Tingkat pergaulan, lingkungan dan gaya hidup berpengaruh pada keiritan seseorang. Nggak enak menolak ajakan nongkrong dari cafe ke cafe sering membuat tongpes sebelum sms banking berbunyi lagi. Huhuhu. So, pastikan mana yang butuh dan mana yang hanya sekedar “ingin”.

3.       Invest
Nah, setelah bisa insyaf dan irit, tentunya ada dana nganggur yang bisa dimanfaatkan. Daripada hanya disimpan dibawah bantal, lebih baik mulai belajar diinvestasikan. Investasi fisik bisa berupa rumah, tanah, emas. Sedangkan saham, obligasi, reksa dana termasuk investasi pasar modal.  Setiap orang mempunyai tujuan berbeda dalam hal berinvestasi, ada yang untuk menikah, liburan, pendidikan, dll. Sehingga ketika berinvestasi harus disesuaikan dengan jenis kebutuhan dan waktu yang diinginkan. Sekarang investasi pasar modal sudah menjadi trend di Indonesia. Berbagai macam jenis investasi ditawarkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Apa yang diperlukan untuk berinvestasi di pasar modal?

-          Dana
Tanpa dana seseorang tidak bisa melakukan investasi. Besar kecilnya dana yang disetor tergantung pada jenis investasi apa yang diambil.

-          Informasi dan pengetahuan pasar modal
Hal ini sangat penting untuk membantu seseorang jika menanamkan dana di pasar modal. Kondisi politik dan ekonomi yang mempunyai andil besar terhadap fluktuasi investasi seseorang. Update informasi .

-          Waktu
Di dalam pasar modal, setiap instrumennya berfluktuasi setiap saat, sehingga harus meluangkan waktu untuk memantaunya. Jika tidak ingin lemes jika kondisi politik ekonomi memburuk.

Banyaknya jenis investasi yang ditawarkan, seringkali membuat bingung. Harus investasi ke mana ya? Investasinya dalam bentuk apa, ya? Bisakah berinvestasi dengan harga murah dengan jaminan terbaik?

Manulife Asset Management menawarkan sebuah produk berupa Reksa Dana Manulife. Salah satu produk yang mendukung betapa pentingnya investasi. Mengapa disebut mendukung?

  1. Terjangkau
Reksa dana bisa dimulai dengan angka terendah yaitu 100 ribu rupiah. Murah, kan? Kalau di mall uang segitu hanya dapat sendal diskon 70%. Nah, lho, milih sendal apa reksa dana?

  1. Dikelola Ahli
Reksa dana dikelola oleh manajar investasi profesional dan berpengalaman sebagai pemegang portofolio, serta bank Kustodian sebagai pemegang dana. Keduanya berada pada pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Investor hanya setor tanpa perlu memantau dan mengelola ivestasinya sendiri.
Bagaimana jika manajer investasi dan bank kustodian bangkrut? Tentu kita nggak ingin dana investasi kita hangus begitu saja, bukan? Sebagaai pengawas, OJK berhak mengganti manajer investasi dan menunjuk Bank Kustodian yang baru untuk mengelola kembali/melanjutkan investasi yang telah dikelola. Sehingga tidak akan ada kekhawatiran hilangnya dana yang telah disetor.

  1. Transparan
Mudahnya mengakses informasi akan memperccepat kita dalam melihat laporan kinerja reksa dana dan nilai aktiva bersihnya. Laporan tersebut dibuat dengan pengawasan OJK dan UU Pasar Modal.

Investasi adalah hal penting yang harus diprioritaskan. Jika menunggu dan menunggu harga investasi akan semakin mahal. Semua akan sebanding dengan harga kebutuhan hidup yang semakin membumbung. Begitu juga jika tidak dipaksakan, kesadaran investasi juga tidak akan berjalan.  So?

  1. Pay yourself first
Tentukan skala prioritas, mana yang kebutuhan dan keinginan. Balik kebiasaan belanja baru nabung menjadi nabung baru belanja. Saat pertama kali memang terasa sulit dan berat. Tapi jika konsisten dan teguh, hal tersebut akan menjadi kebiasaan yang menyenangkan.

  1. Reguler
Investasi secara reguler, akan berdampak pada bedanya dana yang disetor tiap bulan. Hanya saja portofolio investor tidak akan tereksposes dengan naik turunnya pergerakan harga pasar. Investasi reguler sangat cocok untuk mengembangkan aset dalam jangka panjang.

  1. Act Now!
Semakin lama menunda untuk berinvestasi, semakin besar pula dana yag harus dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Fluktuasi ekonomi semakin menuntut untuk mengeluarkan dana dalam jumlah besar dengan barang/kepuasan yang diperoleh lebih sedikit.

  1. Disiplin
Terkadang banyak orang yang malas mengikuti program-program dengan berbagai macam alasan. Salah satunya masalah waktu dan tingkat kesibukan. Padahal sekarang sudah canggih, loh. Fasilitas auto debet menjadi pilihan favorit. Tanpa kelupaan dan kerepotan, secara otomatis saldo kita akan berkurang. Praktis dan nggak memakan waktu. Simpel kan?

Mendengar penuturan Pak Freddy, otak saya bekerja dengan cepat. Usia hampir seperempat abad tapi persiapan masa pensiun belum maksimal. Tanpa pernah tahu bagaimana kondisi perekonomian ke depan, sudah seharusnya saya merubah pola pikir dan menerapkan 3i diatas. Hidup kita tergantung pada kemauan diri kita sendiri, bukan pada orang lain. Masih nggak yakin untuk berinvestasi? J

4 komentar:

  1. hihihi dari dulu ta ajaaak reksadanaa :p ayo buruan bukaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha kompornya kurang mleduk nih. Aku juga agak heran kenapa dikau tak nowel dakuw sekarang tentang inpestasi. Biasanya kan paling bawel sedunia jagat raya :D

      Hapus
  2. investasi memang susah sekali dilakukan, keburu buat bayar utang,, hehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi. Nah berarti betul kata narasumbernya, investasi harus dipaksa.

      Hapus