Minggu, 16 November 2014

Kelas Inspirasi, Euforia atau Panggilan Hati?

"Langkah menjadi panutan, ujar menjadi pengetahuan, pengalaman menjadi inspirasi"

Sebuah tagline yang membuat hatiku mencelos. Benarkah pengalaman yang akan aku bagikan nanti bisa menginspirasi? Sedangkan aku sendiri merasa belum mempunyai peran di masyarakat. Belum bisa menjadi seperti mereka, orang-orang yang berada di balik mimpiku. Emang apa mimpiku? Rahasia dong, ah, masak mau aku bocorin di sini :D

Menjadi bagian dari Kelas Inspirasi Semarang 1 membawaku ke dunia lain sampai sekarang. Eh, bukan dunia lain kek di tipi itu loh ya. Ini dunia lain, dunia lain tentang pendidikan maksudnya. Hehehe. Masih sering terbayang-bayang pengalaman berharga 25 September lalu. Masih ada rasa penyesalan, ketika merasa belum maksimal mengajar. Masih ada rasa sedih, kala ada seorang siswa tak mendapat pin karena kehabisan. Duh, guru macam apa aku? Masih teringat betul bagaimana hebohnya kelompok IV menjelang hari H. Menghabiskan waktu berjam-jam di resto, rapat marathon dengan orang yang minim. Itu itu saja. Hihi. Whatsapp tiada berhenti centang centung, yang terkadang bikin desperate saja. Hahaha. Ini mah yang persiapan belum maksimal *tunjuk hidung sendiri :p

Biarkan semua itu menjadi kenangan indah, antara aku, kelompok IV dan SD Kusuma Bhakti. Akan kuukir ini di lubuk hati terdalam, bahwa aku pernah menjadi bagian dari mereka. Walaupun sekelumit dan secuil, setidaknya aku telah belajar dan mendapat banyak hal. Membuka wawasan, mengajakku menerawang dan melangkah lebih jauh.

***
Dulu, saat sahabatku mencolek untuk daftar Kelas Inspirasi, aku masih maju mundur. Bukan maju mundur cantik loh ya :) Aku tak mengiyakan, bukan juga menolak. Aku hanya ragu. Aku bingung apa yang harus aku bagikan nanti. Aku merasa belum ada "sesuatu" yang pantas untuk dibagikan. Padahal aku sepenuhnya sadar, lima tahun berkecimpung di sebuah perusahaan, tentu banyak pengalaman untuk dibagi. Picik sekali bukan pemikiranku? Punya pengalaman dan ilmu tapi masih ragu untuk berbagi. Huh.

Berkat dorongan para sahabat, semedi berhari-hari, minta pendapat sana sini, berdiskusi dengan hati, akhirnya aku memutuskan untuk daftar Kelas Inspirasi Semarang 1. Bismillah. Lolos atau tidak urusan belakang. Dan akhirnya aku lolos! Keren nggak? *biasa aja tuh :p

Bukan tanpa alasan aku maju mundur mendaftar Kelas Inspirasi. Aku takut nggak bisa mengajar. Walaupun aku menyukai anak kecil tapi mengajar sama sekali belum pernah. Aku takut cuma bisa cengok di depan kelas. Aku takut apa yang aku bagikan tak bisa menginspirasi. Ini adalah ketakutan terbesarku!


***
Saat kopdar pertama dengan beberapa relawan dan panitia KIS 1 beberapa waktu yang lalu, seseorang berkata padaku, "Kami nggak mau KIS 1 ini hanya sebuah euforia, Mbak. Kami ingin acara ini membekas antara relawan dan sekolah. Itulah kenapa kami belum ada rencana membuat KIS 2 dalam waktu dekat"

Glek! Aku seketika tersedak. Sejuta pertanyaan memenuhi kepala yang-kapasitasnya-mepet-ini. Apakah? Apakah? Apakah? ..... dan apakah?

EUFORIA!

Omaigat mengapa selama ini aku nggak kepikiran sampai di sana. Jangan-jangan keikutsertaanku dalam KIS 1 ini hanya sebuah euforia belaka? Mengikuti teman-teman, biar sok eksis, sok seleb, biar istimewa??? Aku tak ingin seperti piala dunia, hanya heboh saat berlangsung acara akbar tersebut. Hampir semua orang setiap hari bercakap tentang bola, bola dan bola. Dan akan hilang dengan sendirinya tergerus waktu. Sampai piala dunia berlangsung kembali. Sebuah perkataan sederhana tapi sarat makna. Menyadarkanku akan banyak hal. Terima kasih ya!

Seketika ingatanku melayang pada anak-anak SD Kusuma Bhakti. Aku sering rindu pada kala menyimak foto-foto mereka. Wajah polos, senyum lebar, mata berbinar, antusias serta semangatnya bikin geleng-geleng. Lalu pikiranku mengembara pada sebuah lembar keputusan sebuah perusahaan. Yang membuatku tersenyum getir menerima kenyataan. Belajar dan terus bersyukur. Mengikhlaskan sebuah kesempatan. Mengingatkan diri bahwa jalanku bukan di sana. Masih ada jalan-jalan lain yang siap aku lalui.

Aku angkat topi untuk mereka yang menjadi penggerak Kelas Inspirasi ini. Mereka terikat dengan perusahaan, mengandalkan 12 hari cuti dalam setahun, merogoh kocek sendiri untuk ke sana ke mari, meluangkan waktu untuk memberi suntikan semangat dari tempat satu ke tempat lain. Aku salut dan kagum pada para pengajar muda. Meluangkan waktu setahun untuk hidup di daerah yang jauh dari segala hiruk pikuk perkotaan, jauh dari orang tua juga sanak saudara. Bagiku mereka adalah orang-orang paling survive. Sejatinya mereka adalah orang-orang yang terketuk hatinya, orang-orang yang terpanggil. Para penggerak Kelas Inspirasi dan pengajar muda, kalianlah yang membuatku ingin melangkah lagi.

Aku tidak ingin menjadi mereka. Tapi aku ingin memiliki semangat seperti mereka. Semangat berbagi yang tak pernah padam walau diterjang hiruk pikuk kehidupan. Aku ingin meluruskan niat lagi, bahwa keikutsertaanku dalam Kelas Inspirasi adalah sebuah panggilan hati. Biarlah KIS 1 ini menjadi pengalaman dan pelajaran berharga. Kelak jika nanti diberi kesempatan mengikuti Kelas Inspirasi, aku ingin mengisi form pendaftaran karena terpanggil. Bukan paksaan, bukan karena ingin eksis, bukan juga sebuah euforia belaka. Semoga! Doakan aku ya! :)


***
Kelas Inspirasi Semarang 1 menyeretku menemukan keluarga baru. Keluarga rempong yang super heboh di jagad whatsapp. Tiada hari tanpa obrolan random dan gojekan ala kami. Entah apa yang diobrolkan. Tanya saja pada anggotanya, mereka pasti bingung tiap hari kami ngobrol apa. Hahaha saking randomnya.

Hangatnya persaudaraan, randomnya obrolan, membuatku merasa memiliki utuh keluarga ini. Mbak Fajar pernah bilang bahwa di Kelas Inspirasi kita akan menemukan sebuah persaudaraan yang indah. Seperti kelompok IV ini bukan, Mbak? :)

Aku ingat betul, kala pagi sebelum mengajar Mbak Fajar berucap bahwa Kelas Inspirasi ini bisa menjadi ladang amal jika membekas di hati relawan, sekolah dan anak-anak. Bagaimana keluargaku, apakah sudah membekas di hati? Apakah masih rindu pada hebohnya 25 September?

Tuhan mempertemukan kita bukan tanpa suatu alasan. Sebuah rencana indah telah disusun-Nya. Rencana indah yang akan terjawab kelak, seiring kita menempuh hidup masing-masing. Kita ada, kita terpotong jarak, tapi semoga hati kita selalu tertaut satu sama lain. Aku bahagia dan bangga bisa bertemu kalian. Karena kalianlah orang-orang terpanggil. Orang-orang yang ingin membagikan ilmu dan pengalamannya untuk sesama. Bagaimana aku tak bersyukur bisa mengenal dan memiliki keluarga seperti kalian? Walaupun rempong tapi menyenangkan! Hahaha. Semoga kita masih bisa berbagi tak hanya di Kelas Inspirasi. Karena ada banyak jalan untuk berbagi. Semoga juga kita bisa menjadi bagian dari Kelas Inspirasi di daerah lain. Lalu kita membuat kehebohan kelompok masing-masing. Bukan begitu?

Aku ingin silaturahmi kita tak pernah terputus. Aku ingin grup whatsapp kita ramai setiap hari walau hanya sekedar say hello. Aku ingin kekeluargaan ini langgeng hingga akhir hayat. Semoga kita sama-sama bisa berkunjung ke SD Kusuma Bhakti, bertemu anak-anak yang ngangeni. Bercerita, membaca bersama, juga menikmati jajanan murah meriah ala anak SD. Ah, rindu!

Sekali lagi aku ingin berkata, bahwa kalian adalah orang-orang terpanggil, keluargaku!


Salam,

@tarie_tar

8 komentar:

  1. Tulisannya inspiratif, Taro. Aku suka. ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak. Berkat dirimu aku makin terpacu buat nulis :*

      Hapus
  2. trnyata aku msih di euforia *sadar diri, ehmm -_- , **merenungkan diri..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu bantal guling buat merenung nggak, mas? :p

      Hapus
  3. Ceritanya seruu. Ijin share ya, Mbak :)

    -Admin Kelas Inspirasi Semarang

    BalasHapus
  4. kayaknya aq ya sekedar euforia deh.. ga pa2 kan? :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak apa-apa kok. Sejak jadi pengagum si .....*isi dewe* aku jadi sadar sesadar sadarnya. Hahaha *halah :p

      Hapus