Minggu, 23 November 2014

Sehari Seru-seruan Jadi Guru

Sejak mendaftar Kelas Inspirasi Semarang, aku udah booking cuti. Pede banget deh, padahal baru daftar, tau lolos atau enggak aja belom. Antara ngarep dan enggak sih, soalnya daftar aja di injury time. Detik-detik penutupan kek biasa kalau ngikutin lomba. Kalau mau tanya kenapa kan kusodorkan list seribu satu alasan *Roro Jonggrang 2014.

Alhamdulillah akhirnya lolos jugah! Huray! Nunggu pengumumannya udah kek calon penganten aja *duile. Deg-degan luar biasa, Bo'! Apalagi malam tuh ya baru terima email. Pas beberapa teman udah ada yang terima email duluan, kami yang belum sok berbesar hati kompak bilang, "Kita belom terima email, berarti kita nggak lolos. Semangat menginspirasi, ya!" :D *nangis sesenggukan sambil cek email bolak balik.

Dibilang deg-degan sih iya, secara ini pengalaman pertamaku ngajar. Kalau ngomong di depan kaca toilet, eh, ngemsi di kantor sih biasa. Tapi ngomong di depan anak SD? Eeeemmm...huaaa! *pingsan* 

Sehari sebelum hari H, atasanku berpesan kek gini "Yang penting pede aja. Nggak usah grogi. Tapi bahan ajar pasti ntar ngikutin kondisi kelas deh"

Glek! Duh, antara seneng diperhatiin dan gemes nerpes jadi mules *halah.


Dan hari H pun tiba..... (backsound suara gamelan)

Rupanya Tuhan menguji kesabaran dan tingkat ndredegku dengan hal lain. Yak, banku bocor! Padahal belum ada separo perjalanan. Tukang tambal ban juga masih tutup. Deretan toko sepanjang jalan juga belum ada yang buka satupun. Hiks. Sempet bingung mau ditaruh mana motor ini, kalau nunggu tambal ban buka nggak mungkin. Waktu mepet dan jarak sekolah masih jauh. 

Tanya sana sini, akhirnya memberanikan diri ngomong ke satpam sebuah sekolah di deretan jalan itu. Awalnya ragu nggak diijinkan nitip, tapi namanya juga kepepet, nggak ada opsi lain. Mungkin para satpam itu iba melihat wajah melasku dan Mbak Indri. Mereka ngerti kalau kami berdua diburu-buru waktu. Pagi itu pak satpam jadi pahlawan kepagian. Terima kasih, Pak :) *sungkem terharu sambil meres kanebo.

***

Menurut jadwal, aku dapat 5 kelas dan tandem 1 kelas. Waktu yang telah disepakati 35 menit per sesi. Wow superrr nggak tuh, ngajar perdana langsung 6 kelas sekaligus! *negak air kran. Tapi berhubung ada relawan yang nggak dateng pas hari H, jadwal pun berubah lagi. Kebagian 5 kelas dan tandem 2 kelas. Okelah, let's go! *buru-buru intip contekan ice breaking.

Kelas-kelas penentu "nyawaku" di Kelas Inspirasi.

Kelas 6A

Ini adalah kelas pertama yang akan menjadi mood boosterku. Kelas penentu kemampuanku buat ngajar perdana. Ada yang bilang kelas 6 itu enak, udah bisa diajak diskusi. Ada juga yang bilang kelas 6 itu udah kritis. Okelah, apapun itu aku terima. Toh, aku juga udah siap dengan alat peraga, bahan diskusi dan tampil kece kek orang kantoran. Yep, katanya kan harus tampil seprofesional mungkin jadi aku tampil maksimal donk :) *kedip-kedip ke kamera :p

Alhamdulillah kelas ini asyik diajak diskusi. Murid-murid relatif aktif dan mudeng aku ajak ngomong *ya iyalah mereka orang, bukan patung. Enggak krik-krik-krik kek bayanganku. Mereka antusias sekali pas aku nunjukin layang-layang. Saat aku minta 3 anak maju ke depan tiba-tiba...

"Bu, tuh benang layang-layangnya kebalik," seru seorang anak.

Hah? Omaigat! Rasanya pengen nyebur ke Tanjung Mas aja deh. Masak iya sampe kebalik masang benangnya? Padahal udah semalam suntuk nyiapin alat peraga *pura-pura amnesia.

Akhirnya mereka nggak mempermasalahkan tentang benang itu. Fyuh. Mereka asyik main layang-layang. Huray! Nggak terasa 35 menit berlalu. Rencana 1 permainan lagi gagal sudah. Huhu. Ternyata 35 menit itu bentar yah *sok-sokan. Yang bikin nervous tuh kelas 6A ini tepat di sebelah ruang guru. Eeerrrr...nggak bisa diungkapin deh *duile.

Kelas selanjutnya telah menanti. Dengan sigap beberapa murid membantu membereskan gembolanku yang kek mau minggat. Aku merapal doa sepanjang perjalanan menuju kelas 4A.

Kelas 4A

Kalau ada yang bilang, kelas 4 SD itu adalah masa nakal-nakalnya anak mungkin benar. Aku nggak mau bilang mereka nakal. Aku cuma mau bilang bahwa mereka luar biasa aktif. Suaraku habis terkuras di kelas ini. Baru selesai diajakin nyanyi, eh tau-tau mereka udah ngacir lari sana sini. Udah deh, ibu guru (amatiran) ini pulang saja, Nak.*gelesotan Beruntung alat peraga masih bisa membantu. Tapi....

"Bu, layang-layangnya buat aku, ya?"

Duh, Nak. Perjalanan mengajar ibu guru (amatiran) ini masih 3 sesi lagi. Kalau diminta ibu pake apa donk? *gigit-gigit rol kabel.

Aku mengajak mereka bermain tentang alat-alat yang pake listrik dan tidak plus cara berhemat listrik. Beberapa fasilitas kelas sengaja aku manfaatkan. Saat aku nunjukin hair drayer...

"Bu, hair drayernya buat aku aja deh. Nih, buat ngeringin rambutku," seru siswi di bangku depan. 

Dari awal masuk emang ini bocah keliatan mencari perhatian. Tanpa basa-basi dan hasil nyuri ilmu dari briefing, kucomot dia dan 3 teman dari bangku lain menjadi ketua regu. Belum sempat aku bikin permainan, fasilku sudah memberi tanda pergantian jam. Oke, kedua kalinya 35 menit ini terasa kurang!

Kakiku belum sempat melangkah keluar pintu ketika terdengar si-siswi-centil bersuara lagi, "Bu, pinjam hair drayernya, donk!"

"Nak, ini hair drayer juga pinjeman," batinku sambil nyengir.

Aku keluar kelas sambil melempar senyum pada siswi-centil-pengincar-hair-drayer. Bisa repot ntar urusan di rumah, itu hair drayer milik temen kontrakan!

Kelas 1A

Pas tau ada jadwal ngajar kelas 1 tuh rasanya nona nano. Saking galaunya langsung nyolek suhu KI Depok Om Nher, Kang Iwok dan Mbak Indri. Curhat plus minta saran en doa restu. Kang Iwok, bilang kalau kelas 1 dan 2 adalah kelas disaster di dunia Kelas Inspirasi. Pantes beberapa temen juga keder duluan saat tau dapat kelas 1. Terus aku piye?

Ibarat terlanjur basah, mending mandi sekalian. Toh, ini juga ngajar perdana. Wajar saja kalau ada-sedikit-kericuhan-alias-keributan-dan-kehebohan-si-ibu-guru-amatir-ini.

Awalnya pengajar yang dapat kelas 1 & 2 akan tandem dengan pengajar lain. Tapi karena jadwal berubah, otomatis tandeman berubah total. Oke, kelas 1A aku hendel sendiri. Ragu memang. Secara kelas 1 tuh momok banget. Hahaha. Groginya udah melebihi kalau mau ngedate sama cowok idaman *halah. Setidaknya kalau tandem, ada satu pengajar akan membantu mengurangi keributan yang datang tak diduga dan berhenti suka-suka *mantra baru ala jelangkung. Dari awal aku memang nggak berharap banyak sama kelas 1 dan 2. Kalau toh aku bisa menyampaikan apa profesiku berarti "beruntung". Rupanya dewi fortuna lagi berpihak padaku. Anak-anak bisa dihendel. Huray! *jingkrak-jingkrak ala indiahe

Tapi kegembiraanku nggak berlangsung lama. Baru sebentar aku bercuap-cuap kek guru beneran udah ada beberapa murid yang bisik-bisik. Sebagian udah berantem sambil geser-geser meja. Sebagian lagi minta segera istirahat. Nak, jam istirahat kan masih lama. Ihiks.

Akhirnya jurusku keluar. Jurus ini kucomot dari Kang Iwok dan Om Nher. Beliau berdualah yang memberikan ide ini. Kukeluarkan 3 boneka tangan, "Ada yang mau didongengin?" seruku lantang sambil muter keliling kelas.

"Mauuuuuu....Buuuuu!" suara mereka nggak lantang kalah sama suara ibu-guru-amatiran-ini. Si ibu guru biasa jadi kenek sih :)

"Yang mau didongengin sekarang maju, yuk!!"

Mereka berebutan maju mengelilingiku. Kukeluarkan dongeng tentang profesiku dengan dua boneka tangan. Mereka antusias sekali, membuatku bersemangat kembali. Tapi satu boneka jadi masalah baru, dipake rebutan! Beberapa anak cowok berseru-seru heboh mengambil alih boneka. Dilempar sana sini sambil berlari keliling kelas. Aku cuma memandang bisa melas, "Gusti, mungkin aku dulu juga begini. Pantes dulu guruku cerewet banget dan suka bersuara keras. Sembah sungkem buat guru kelas satu"


Suasana pas mendongeng. Lucu ya wajah mereka? Bikin kangen <3
Lonceng istirahat berdentang! Dan anak-anakpun bubar jalan. Sebenernya mereka udah tergoda sama kakak-kakak yang ngintip lewat jendela sambil makan es. Apakah mereka mudeng sama penjelasan ibu-guru-amatiran ini? Mari kita tanyakan pada lalat yang lagi ngelamun di jendela :D

Kelas 1B

Entah mengapa aku harus berjumpa lagi dengan kelas 1. Mungkin inilah yang dinamakan jodoh, tak terduga, tak bisa ditebak kapan datang, dan tak tahu siapa *uhuk. Kali ini partner tandemku Mas Imam, dia mah udah ahli menghendel anak-anak. Walau cuma sebentar gegara harus ngacir ke kelas lain, setidaknya berjasa di pembukaan kelas. Makasih yoo, Pak Penyiar.

Khusus kelas 1 dan 2 memang dibagi menjadi dua bagian, pagi dan siang. Saking banyaknya murid tapi ruang kelas tak mampu menampung sekaligus. Coba bayangin ngajar 56 anak kelas satu? Sanggup? Aku mlipir aja deh nyari cemilan di kantin *eh.

Nah, kelas 1B ini adalah kelas siang. Saat aku masuk kelas, beberapa murid belum datang. Jadilah dengan sok cool dan sok yes, aku meminta mereka duduk di depan. Logikaku sederhana saja, biar keliatan rapi dan enak di pandang. Anak-anak yang belum datang bisa duduk di kursi yang kosong alias belakang. Tapi emang niat belum tentu tercapai dengan baik. Terjadilah prahara saat ada murid baru masuk...

"Kamu kenapa duduk di sini. Kan kursimu situ"

"Ibu guru yang nyuruh"

"Kamu pindah. Aku mau duduk sini"

Hadeh! Padahal saat siswa yang telat itu mau duduk, aku udah pesen duduk aja di kursi yang kosong. Ternyata ya, kelas satu memang ajaib :)

Kelas belum efektif saat seorang wali murid mengantarkan anaknya masuk. Tiba-tiba beliau mendatangiku dan berkata, "Bu, maaf si A kemarin nggak masuk. Sakit. Ini baru sembuh. Maaf ya, Bu"

Aku? Aku mengiyakan dan mengangguk-angguk kek burung beo. Bingung kudu gimana. Emang wajahku kaya guru aslinya ya? *ambil kaca spion.

Berkaca pengalaman di kelas 1A, aku sudah diri buat mendongeng. Tapi masak iya 35 menit cuma mendongeng bareng guru amatir ini? Yang ada malah krik-krik-krik bukan serunya mendongeng. Apalagi ini beneran dongeng perdana loh. Sebelumnya aku nggak pernah mendongeng sama sekali :D

Eh ternyata aku salah! Kelas ini tertib dan rapi pakek banget. Aku ajakin cerita, main-main sama berbagai alat mudeng. Emang sih aku pake barang-barang di kelas. Tapi seneng nggak sih liat mereka antusias tapi nggak rame? Aku seneng! Diajarin ice breaking juga asik, diajakin cerita enak, dikasih pin mereka bahagia ketawa-tawa. Duh, senangnyaaaaaa! Yeayah! Ternyata aku nggak perlu mengeluarkan 3 sohibku. Istirahat dulu, ya, Prend :)

Kelas 3B

Nah ini dia menurutku disaster selama jam mengajarku. Kondisiku yang sudah setengah capai membuat pengajaran nggak efektif. Ditambah lagi anak-anak di kelas ini sungguh-sangat-hiperaktif-dan-jail-sekali *kalimat nggak efektif. Mungkin karena sudah siang dan cuaca juga panas. Mungkin juga mereka antusias. Yang jelas di kelas ini aku benar-benar kepayahan. Nggak ada murid yang diem. Ngomong dan terus lari-larian. Yang ijin ke belakanglah, yang mau bantuin akulah, yang inilah itulah. Huhu. Saat itu pula kedua kakiku kram. Tau sendiri kan gimana rasanya kaki kram? :(

Kalau nggak inget misiku ikut Kelas Inspirasi, rasanya aku udah pengen melambaikan tangan pada fasil. Menyerah! Aku benar-benar capai. Suara dan tenagaku sudah tersedot di 4 kelas sebelumnya. Di kelas ini pula aku mengalami yang namanya "krik-krik-krik"! Merasakan bahwa 35 menit itu panjang dan lama. Huhu. Padahal aku udah bikin polisi ketertiban kelas segala loh. Mental! Polisinya malah ngacir sana sini. Emang maksud hati sih nyuruh temennya diem. Haha. Ice breaking tak mempan membuat mereka fokus padaku. Apakah ibu guru amatirmu ini nggak menarik ngajarnya, Nak?

Tiada jalan lain. Aku mengeluarkan jurus terakhir. Mendongeng! Walaupun dongeng emang aku fokuskan di kelas 1 tapi apa daya. Kelas ini butuh pencerahan di siang yang begitu terik itu. Sayang ada beberapa anak yang memilih diem di kursi saat aku ajak lesehan di depan kelas. Kurayu-rayu sampai busanya bisa buat nyuci juga nggak berhasil. Baiklah. 

"Bu, pinjem bonekanya"

"Ayo sini lempar bonekanya. Aku pinjem"

"Ih, ibu pelit ah nggak mau minjemin"

"Aku mau yang itu, Bu"

"Bu, dongengnya diterusin!"

Kurang lebih begitulah teriakan selama aku mendongeng. Entah masuk apa enggak aku pasrah. Saat itu pula aku melihat ada panitia yang datang -yang aku baru tahu bernama Mbak Putri- berkunjung. Busyet! ternyata ada sidak segala euy. Duh, padahal aku ngajarnya lagi bener-bener kepayahan. Kenapa enggak pas di kelas sebelumnya aja gitu *maunya :p

Akhirnya jamku selesai. Masih ada tandeman yang harus aku bantu.

Tandeman kelas 1B dan 2B

Untung dua kelas ini berdampingan, jadi aku enggak kepayahan nemenin dua rekan relawan sekaligus. Saat nemenin Mbak Lulu di kelas 1B aku melongo maksimal melihat ulah anak-anaknya. Persis kayak yang dibilang Kang Iwok, disaster! Aku sampai kehabisan suara buat mereka bisa duduk barang 10 menit! Cakep nggak tuh? :D

"Mbak, kelasmu kok ajaib banget toh. Tadi pas aku ngajar anteng ik. Asik diajakin cerita," bisikku pada Mbak Lulu. Dan beliaupun cuma geleng-geleng sambil nyengir.

Hihi.

Lain halnya dengan kelas Mbak Putri. Hebohnya nggak ketulungan. Buka pintu, keluar, lari-lari, lempar-lemparan, geser sana, geser sini. Hadeh! Inilah disaster kedua. Haha. Aku yang duduk anteng di belakang cuma bisa nyengir.


***

Pengalaman mengajar perdana yang penuh drama. Setelah perjuangan panjang menyiapkan kelengkapan disela-sela deadline kerjaan, ada sebuah rasa "plong". Bukan rasa puas. Karena aku merasa belum bisa mencuri hati anak-anak. Aku hanya merasa "plong" bahwa rasa penasaran dan deg-degan terbayar lunas. Setidaknya pengalaman hari itu bisa menjadi bekal untuk kelak jika ikut Kelas Inspirasi lagi. Hihi. Ceritanya ketagihan gitu? Eeemm kurang lebih begitu :)

Eits, sebelum tulisan random ini ditutup, aku pengen berbagi tips. Yah, tipsnya sih nggak kalah random. Tapi semoga bisa membantu menjawab rasa penasaran yang belum ikut Kelas Inspirasi *halah sok mulia :p

1. Konsultasi atau colek para sesepuh relawan pengajar
Mengapa aku menempatkan ini di poin satu? Yak, karena sebagai pengajar pemula, diskusi dan sharing pengalaman itu sangat perlu. Setidaknya pengalaman para sesepuh membantu kita memberi "jalan" apa yang harus kita sampaikan nanti. Walau terkadang bikin deg-degan luar biasa juga. Hahaha.

2. Atur jadwal mengajar 
Diskusikan jadwal mengajar dengan pihak sekolah dan relawan degan serius. Suwer bisa nangis gerung-gerung pas ketemu "miss krik krik" di kelas. Hihi *tunjuk hidung sendiri.

3. Persiapkan mental 
Pening, eh penting nih, kita kudu siap dulu mentalnya. Ketemu anak SD itu nggak kayak ketemu rekan kerja di ruang rapat loh. Harus punya trik-trik khusus buat mereka.

4. Persiapkan materi 
Nah, sebagai profesional di bidang tertentu, harus bisa mendefinisikan secara spesifik apa profesimu. Penjelasan bisa dbuat dalam bentuk gambar loh, biar gampang jelasinnya. Ngga pake hapalan deh. Tentu penjelasannya pake bahasa yang "menganak" loh, bukan bahasa profesional sehari-hari. Jangan harap anak SD akan mudeng begitu saja. Beda donk ya kalau lagi ngomong sesama profesional :)

5. Bawa alat peraga
Ini juga penting. Dengan alat peraga kita bisa menunjukkan bahwa inilah profesi kita. Tapi kalau mereka masih nggak fokus ke kita, ada baiknya si guru nyebur empang atau selokan terdekat. Berendam biar nggak panik :p

6. Tunjukkan bahwa kamu seorang profesional
Selain alat peraga, kostum juga menentukan menarik tidaknya kamu sebagai pengajar. Serius! Semakin kamu berpakaian profesional, akan semakin mudah menjelaskan tentang profesimu. Walau terkadang banyak ngaco menjawabnya sih. Hahaha.

7. Masukkan peraturan di awal jam mengajar
Ini sih tips dari para pengajar muda dan sesepuh relawan. Emang sih ada yang kena alias bisa diajakin sampai di sana. Kalau nggak bisa yaudah ajak mereka makan di kantin sekolah *lho

8. Lambaikan tangan pada grogi
Saat kita akan menghadapi hal baru pasti penyakit "grogi" melanda. Entah itu karena perasaan kita sendiri, kurang persiapan atau memang punya penyakit bawaan "grogi" *emang ada? Kalau udah grogi duluan, ujung-ujungnya ngeblank di depan kelas. Alhasil ketemu deh sama "miss krik krik" :D

9. Percaya diri
Sebelas dua belas dengan grogi. Atau mungkin keduanya ini bersaudaraan. Kepercayaan diri akan membawa kita enjoy dan fun di depan kelas. Nggak percaya? Coba buktiin ngomong dulu di depan bebek :D

10. Masuk ke dunia anak-anak
Menurutku ini adalah hal tersulit. Enggak gampang bisa menyelami dan membuat diri kita seperti mereka. Kayane perlu ada kursus deh untuk yang satu ini. Hihi.
Kami sudah tampil maksimal, eh profesional belum? :)
Emmm...sepertinya ini saja yang dapat aku bagi. Kalau ntar ada ide nyelonong aku tambahin deh. Dengan catatan juga akunya enggak lupa.

Yuk, kita seru-seruan menjadi guru sehari. Sumpeh akan jadi pengalaman berharga banget! Tertarik? Pantengin aja web Kelas Inspirasi!

Selamat menginspirasi para inspirator keren! Kamulah yang akan terinspirasi berikutnya!

Salam,

@tarie_tar

Photo by Mas Arkham dan Pak Ady

20 komentar:

  1. Balasan
    1. Bangeeetttt! Ketagihan deh pokoknya kalau udah ngerasain serunya :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Alhamdulilah kalau menginspirasi, Mbak. Ini cuma sedikit pengalaman menjadi bagian KI :)

      Hapus
  3. Seruya Moth jad Bu guru. Aku juga mau dong didongengin pakai boneka.:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha malu lah sama emaknya Lantip ini. Ntar yang ada aku malah ngakak sendiri. Hahaha. Kapan kita bisa berjumpa lagi ya, Mbak? Kangen :*

      Hapus
  4. Seru banget ya Mbak jadi bu guru sehari.
    Aku pun kalau ngajar SD belum tentu bisa ngajar kelas 1, 2, atau 3, hehehe karena ya begitulah, sayanya nggak sabaran,Makanya salut dengan guru-guru SD yang betul-betul cetar membahana badai perjuangan mereka transfer ilmu ke anak-anak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaaa aku salut banget sama bapak ibu guru SD. Ngerasain sehari aja luar biasa, gimana bertahun-tahun ya? Jadi sering ngerasa bersalah dulu jail banget sama guru. Hihi. Ikut KI yuk, Mbak. Seruuu :)

      Hapus
  5. Huaaaa mupeng, kangen ngajar lagi, dulu saya ngajar di Tk dan SD, hemmm baca blog Om Nh juga tentang kelas inspirasi ini, bikin cetar naluriku sebagai mantan ibu gru kembali menyala, siip mba blognya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoooo ayoooo gabung di Kelas Inspirasi. Beneran deh bikin nagih :)
      Kita jangan sampai kalah semangat sama Om Nh :)

      Hapus
  6. Saya salut deh buat temen-temen KI ini ^^
    Biarpun saya punya ibu yang guru dan spesialis ngajar kelas 1, saya aja ngajarin anak sendiri kelas 1 nyerah bookk hahaha
    Inspiratif bangett mak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ayoo maaak ikutaaan. Rasakan sensasinyaaa :)

      Eeeemmmm anak sendiri beda ya, Mak. Serahkan saja pada eyangnya, Mak *lhooo

      Hapus
  7. seru ya, aku sekarang juga suka banget ngajar anak kecil setelah menajdi pengajar di rumah belajar untuk anak-anak kecil. Nanti aku juga ingin ikutan kelas inspirasi deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga doanya terkabul ya, Mak. Iyaa harus ikut, Mak! Mari rasakan sensasinya. Dijamin ketagihan deh :)

      Hapus
  8. Suara Taro langsung abis, serak2 sekseeh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benuuullllll! Seksehnya ngelebihin suara artis terkenal deh :v

      Hapus
  9. Asyiknyaaa... dakuw keder gak ya jadi ibu guru di KI? Trus cerita tentang profesiku piye, hihi.... *sangu kalkulator

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisaaaaaa! Taun depan harus dan wajib nyoba ya, Mbak :) hihi mekso sitik gpp toh?

      Hapus
  10. Waaaa..... aku jadi pengin ikutan dong jadi relawan di Kelas Inspirasi.
    #kangen maen sama anak SD ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoooo, Maakkk! Pantengin terus webnya Kelas Inspirasi, ya! Hihihi dijamin deeeh asiknyaaa :)

      Hapus