Rabu, 03 Desember 2014

Lentog, Sarapan Murah Meriah Khas Kudus

Empat tahun belum puas rasanya untuk menikmati kuliner khas Kudus. Sekarang saya sering gigit jari alias ngiler kala mendadak pengen menikmati berbagai macam kulinernya. Semarang, tempat tinggal sementara saya saat ini juga mempunyai berbagai penganan khas. Tapi entah mengapa, saya belum bisa "klik" dengan citarasa makanan di sini. Mungkin karena jarak antar satu tempat dan tempat lain relatif jauh dan juga harga lumayan mahal *intip celengan*. Seharusnya bagi penggemar kuliner, harga bukanlah masalah yang serius. Tapi bagi saya, harga makanan di Kudus memang belum tertandingi. Murah meriah dan enak-enak, begitu saya menyebutnya.

Salah satu makanan yang saya gandrungi bernama "lentog". Makanan ini katanya mirip di daerah lain tapi penamaan dan campurannya berbeda. Ada yang bilang kaya lontong sayur, tapi bagi saya lentog ya tetep lentog *ngotot. Hahaha. Seporsi lentog terdiri dari beberapa potongan lontong (bukan lontong utuh :p), sayur nangka tempe dan tahu, kuah sambel, bawang goreng dan cabe rawit rebus. Kalau mau nambah protein bisa ada telur bebek, telur ayam atau sate telur puyuh. Sebagai lauk lain ada gorengan seperti bala-bala dan kerupuk. Mau tau gimana rasanya? Syedaaap! Dijamin ketagihan dan nambah lagi. Mau tau kenapa? Atau mungkin ini resep penjual lentog, piring mereka itu mungil, Bo'. Jadi bagi yang makannya banyak enggak cukup kalau cuma seporsi. Harus dua atau tiga sekalian :p Nggak heran kok kalau lagi asyik sarapan tiba-tiba sebelah nyletuk "nambah separo ya, Bu". 

Lentog

Ada dua jenis lentog di sini, ada yang kuah putih kental dan kuah merah. Merah ini ditimbulkan oleh sambal cair yang lezat. Lentog kuah putih kental disajikan dengan sambal yang padat, kaya sambal yang biasa kita makan tapi agak berminyak dan digoreng lebih gosong. Dan masih ditambah dengan cabe rawit rebus. Sedangkan lentog kuah merah, sambalnya berbentuk cair yang disiramkan langsung dan ditambah cabe rawit rebus. Jika kurang pedas bisa minta tambah kuah sambal atau cabe rawit. Gratis kok walau cabe mahal. Hihi. Untuk minumannya mayoritas penjual menyediakan teh botol. Ada sih yang menyediakan aqua gelas atau teh hangat. Tapi itu sangat jarang. Kalau memang tidak terbiasa, mending bawa galon, eh minum dari rumah. Lentog disajikan di piring beralaskan daun pisang. Kita bisa memilih ingin pakai sendok daun pisang atau sendok biasa. Tapi ada juga yang tanpa alas daun pisang alias langsung pakai piring.

Dibalik kemungilan piring dan rasanya yang khas, lentog juga menyimpan cara tersendiri untuk memikat para pelanggan. Yup! Lentog itu murah meriah, Sodara-sodara! Seporsi dihargai 2.500 saja (ini harga sebelum BBM naik kemarin loh ya)! Gimana? Murah kan? Coba bayangkan kalau makan di resto duit segitu dapat apa? Paling juga kerupuk sebiji. Hihi. Jadi jangan kaget ketika sarapan ngerasa sudah makan macem-macem tapi cuma habis 10.000 berdua. Hemat banget kan?

Lentog ini memang ada hanya di saat jam-jam sarapan saja. Jangan harap siang bolong atau malam buta bisa nemui lentog. Ada sih tapi nggak tahu tempatnya di mana. Selama di Kudus saya belum pernah merasakan makan lentog malam hari. Hehehe. Penjual lentog mulai buka dari jam 05.30 tapi mulai rame menjelang jam 7 pagi. Jangan ditanya deh, kalau lentognya udah terkenal itu bisa antre panjang kaya antri sembako deh.

Selama di Kudus, saya mempunyai beberapa langganan penjual lentog. Hahaha tuh keren kan ada langganan segala? :p Langganan pertama saya adalah penjual lentog di depan Pasar Wergu. Penjual ini juga buka jam setengah 6 pagi tapi jam 9 sudah abis. So, jangan harap jam 10 bakal nemu lentog di sini. Yang ada si penjual udah kukut. Bahkan kadang jam 8 diniatin ke situ tinggal gigit jari. Laris banget! Lentog di sini kuahnya putih kental.

Langganan kedua saya berada di Jalan Agil Kusumadya. Tepatnya berada di depan Bank Lippo. Orang-orang sering menyebutnya "lentog lippo". Ini adalah salah satu lentog terlaris yang pernah saya tahu. Tiap pagi para pelanggannya setia mengantri. Lentog yang dijual di sini adalah lentog jenis kuah merah. Rasanya yahud! Enaaaakkk! Penjual di sini mulai buka relatif siang. Jadi kalau lentog yang lain tutup atau abis, lentog ini bisa jadi alternatif.

Berhubung saya anak kosan yang-sudah-tentu-suka-gratisan, saya suka makan gratis lentog "Pak Mitro" di kantor. Hehehe. Kantor saya selalu berlangganan lentog ini saat ada acara perpisahan, upacara atau acara lain. Jadi saya jatuh cinta pada lentog Pak Mitro gara-gara kantor. Lentog yang ditawarkan oleh Pak Mitro adalah lentog kuah merah. 

Pak Mitro dan perlengkapan perang, eh jualannya :)                  
Owh iya, di Kudus ada pusat lentognya loh. Pak Mitro mempunyai sebuah lapak di pusat lentog ini. Lebih terkenalnya pusat lentog Tanjung. Dinamai demikian karena pusat lentog ini terletak di desa Tanjung. Hanya sekitar 3km dari jalur lingkar Kudus-Pati. Setiap pagi bisa ditemukan deretan penjual lentog berjajar. Tinggal pilih mana yang disuka dan dijamin bingung. Hihi. Sekarang pusat lentog ini dikelola lebih serius oleh pemerintah Kudus. Ada bangunan permanen yang disewakan untuk para penjual lentog. Harga sewa dipatok 1,7 juta dengan 3x angsuran. Tempatnya berbentuk ruko-ruko, parkir luas, bersih, nyaman dan penjual saling berhadap-hadapan. Kita bisa makan sambil menikmati kicau burung dan beberapa lahan yang masih kosong atau deru mobil yang lewat.

Pusat Lentog Tanjung



Baliho besar menuju ke Pusat Lentog Tanjung
Kudus adalah kota kecil yang asik. Kota industri yang sedang berkembang ini memang menawarkan kuliner khas tersendiri. Berbagai makanan berat sampai ringan tersaji dengan harga yang cukup terjangkau. Saya tiap kali berkunjung ke Kudus akan bingung menentukan makanan apa. Perut tidak muat tapi mulut pengen ngunyah. Gimana donk? Weekend saja tak cukup jika ingin menjajal aneka macam kuliner Kudus. Ingin menjajal kuliner Kudus? Ayuk dengan saya!

Salam,

@tarie_tar

8 komentar:

  1. Ajak aku mbaaak :D
    aku seringnya lewat doang kalo di kudus,belum pernah icip2 makanan khasnya T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah rugi loh kalau nggak nyicip makanannyaa :)))
      Hihihi ayuukk kapaaan ?

      Hapus
  2. Wuih, murah banget... Di Semarang gak ada yg jual, Taro?

    ira
    www.keluargapelancong.net

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kagak ada, Mbak. Etapi aku kurang tau juga sih. Belom nemu. Kalau di kudus buanyaaakk. Yok kalau ke Indonesia kita ke sini :)))

      Hapus
  3. yang enak dan ramai dikunjungi pelancong dari luar kota yang di Jl. A, Yani, mak.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ntar kalau ke sana aku coba deh, Mak :)

      Nuhun infonya yaa :)

      Hapus
  4. Wah, jadi lapar malam-malam... :(
    Kudus di bagian jawa mana ya mbak? Soalnya saya di makasaar
    Salam kenal mbak. Mampir ke blogku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf baru bisa berkunjung di blognya, Mbak :)

      Kudus itu ada di jawa tengah. Daerah pantura.

      Wah di makassar ya. Pengeeen ke sana. Salam kenal juga yaa :*

      Hapus