Minggu, 18 Januari 2015

Menjadi Agen Cinta Buku

“Tar, buku segini banyak mau diapain?”

“Ini semuanya udah dibaca, Tar? Buseeetttt dah berapa lama tuh bacanya. Aku sebiji aja kelarnya lama”

“Tari kalau diajakin nongkrong di cafe pasti butuh rayuan ekstra. Beda kalau ke toko buku, pasti langsung semangat ngibrit”

Mempunyai koleksi buku yang lumayan seperti sekarang sungguh di luar ekspetasi. Untuk urusan buku aku memang nggak tanggung-tanggung, bahkan bisa dibilang suka khilaf bin kalap. Entah itu buku diskonan atau harga normal, selama masih dalam koridor “aman” di kantong tetep diangkut. Hihihi. Saking hobinya beli buku beberapa teman sudah maklum kalau di tas selalu tersedia satu buku bacaan. Kala bepergian buku adalah barang yang wajib dibawa. Ya, inilah caraku untuk menikmati hobi. Walau menambah beban di tas tapi ada kepuasan tersendiri.

 Hingga suatu kali sempat tercetus ide dan mimpi absurd. Kelak aku ingin mempunyai sebuah perpustakaan atau taman baca. Woha! Keren sekali kedengarannya, ya? Apalagi beberapa teman sudah membuka perpustakaan atau taman baca. Doh, jadi ngiler deh. Terbayang-bayang bagaimana serunya acara membaca bersama, mendongeng, menggambar dan berbagai kegiatan lain. Aha! Waktu bersama anak-anak itu memang menyenangkan :D



Ini bukan pencitraan tapi mau dibaca tante malah direbut. Keren kan bocah 2th udah minat ke buku :)
Mimpi akan terus menjadi sebuah mimpi jika kita tak berusaha menggapainya. Aku tahu untuk mewujudkan taman baca atau perpustakaan butuh kerja keras. Apalagi pangsa pasarku adalah anak-anak. Bukan hal mudah. Terkadang aku cuma bisa tersenyum maklum kala tumpukan buku di rumah berdebu. Hanya tersentuh saat aku mudik. Itupun oleh ponakan dan  beberapa anak tetangga.

Beberapa buku koleksiku memang sengaja aku taruh di rumah. Aku ingin anak-anak di lingkungan melek tentang buku. Siapa tahu kelak aku bisa mendirikan perpustakaan atau taman baca di sana. Siapa tahu? Bukankah mimpi yang diramu dengan doa, usaha dan niat tulus serta ikhlas akan lebih banyak terwujud? Di bawah alam sadarku, mimpi ini selalu tersemat rapi. Setiap hari kuyakinkan diri bahwa kelak aku bisa mewujudkan mimpi ini. Aamiin. Dan sekarang aku baru memulainya dengan menyediakan buku-buku di rumah.

Usahaku mengenalkan buku di kampung belum berbuah manis. Bahkan bisa dibilang masih terseok-seok. Apalagi  aku hanya sebulan sekali mudik dan bapak ibu juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Belum ada orang yang bisa full mengurus buku-buku ini. Aku nggak sedih dengan kondisi seperti ini. Aku sepenuhnya maklum, bahwa jika ingin mencapai sesuatu wajib hukumnya untuk fokus pada bidang itu. Sedangkan aku baru sebatas menyediakan, belum mengurus hal ini secara serius.

Seringkali aku termenung memikirkan beberapa hal. Benarkah dengan tersedianya perpustakaan atau taman baca akan menarik anak-anak? Bagaimana respon orang tua mereka? Dan hal yang masih dan paling mengganjal adalah bagaimana cara mengembangkan minat baca pada anak. Kita sendiri sadar bahwa gadget semakin canggih, semua hal bisa dilakukan dengan mudah. Bahkan semakin ke sini tanpa disadari kita telah dikuasai oleh gadget. Saya salah satu diantaranya. Lalu bisakah kita mendampingkan keduanya tanpa ada perlakuan berbeda?

Aku sadar harus merubah pangsa pasar. Walau tujuannya tetap pada anak-anak. Tapi aku harus merubah medianya. Orang tua. Ya, orang tualah yang akan menjadi perantara. Bersyukur sekali lingkungan tempat domisili sementara saat ini sangat kondusif. Rata-rata orang tua mempunyai respon positif saat aku iseng survey kecil-kecilan. Tapiiiiii....pikiranku langsung melayang pada kampung halaman dan beberapa tempat yang maaf dibawah marginal. Akankah respon mereka sama? L

Apa yang aku mulai harus aku selesaikan. Walau aku tahu entah kapan selesainya perjuangan ini. Sekarang aku baru bisa merambah di kalangan teman-teman komunitas. Biarlah buku-buku di kampung dibaca dan digunakan tepat seiring berjalan waktu. Bergabung di berbagai komunitas terutama IIDN Semarang membuat kecintaan terhadap buku bertambah. Kala kopdar agenda wajib adalah saling pinjam buku. Alhamdulillah buku aku termasuk laris. Hihi. Yeay! Walau kini pangsa pasar berubah ke emak-emak. Tak mengapa. Hal terpenting adalah aku berhasil mendekati emak-emak pecinta buku ini. Setidaknya koleksi bukuku nggak cuma ngendon di rak. Buku-buku itu terlebih dulu bersilaturahmi ke rumah teman-teman.

Aku sadar langkah kecil ini belum mempunyai andil besar. Apalagi sebagian besar peminjam adalah para pecinta buku. Sedangkan mengenalkan budaya membaca pada mereka-mereka yang notabene bukan pecinta buku adalah sebuah PR. Alhamdulillah kini ada peminjam baru. Tak hanya teman komunitas tetapi juga rekan kantor dan beberapa teman baru. Senangnya nggak karuan. Aksi ngocehku tentang koleksi buku mulai membuahkan hasil. Perlahan tapi pasti sudah ada peminjam tetap.

Ibu cantik dan baik yang suka pinjem buku
Teman kantor yang menjadi peminjam setia adalah Bu Syelvi dan Bu Endah. Beliau berdualah yang setia aku recokin. Mempromosikan secara berbusa-busa tentang beberapa koleksi buku yang ada. Aha! Kena deh jebakannya. Aku kagum dan jingkrak-jingkrak loh koleksiku ada yang diminati beliau berdua. Hehe piiss :D

Lekas sehat ya, Bu. Semoga bukunya menghibur :*
Bu Dokter nun ramah dan baik hati :)

Usahaku menularkan minat baca disambut baik oleh Mbak Lulu. Sesama relawan di Kelas Inspirasi Semarang 1. Awalnya aku mengira Mbak Lulu meminjam buku untuk konsumsi pribadi. Eh, ternyata malah dibawa ke rumah sakit tempatnya bekerja. Alhasil buku-buku itu dibaca juga oleh para perawat! Rasanya mak ceessss. Ada haru dan bahagia bercampur jadi satu. Semoga buku-buku itu memberi manfaat untuk Mbak Lulu dan rekan kerjanya. Sudah tiga kali loh kami melakukan transaksi tukar menukar buku. Mbak Lulu mengembalikan dan aku menggantinya dengan buku baru. Horeeee!

Wohaaaa...pada asyik sekali. Kagak ada pasien ya? :D

Relawan lain yang menjadi korban adalah Mbak Putri. Saat kopdar aku menghasutnya dengan sebuah buku. Tau gimana hasilnya? Yes! Berhasil! Hihihi. Ditunggu kelanjutan transaksi pinjam meminjamnya, ya, Mbak. Aku rela deh nganterin ke kosmu asal ada sesajennya :p

My partner in Kelas Inspirasi Semarang 1, Mbak Putri :)

Lalu apakah niatku untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak berhenti? Jawabannya tidak! Seperti yang telah aku sampaikan sebelumnya bahwa aku mencari perantara yang tepat. Mendekati orang tua atau para calon orang tua.

Si Emak pecinta buku. Tingkiyu udah jadi peminjam setia, Mak :)
Aku punya alasan tersendiri mengapa merubah pangsa pasar anak-anak menjadi orang dewasa. Sejauh mengamati, orang tua yang gemar membaca akan menurun pada anaknya. Sebut saja Alde dan Nai, dua krucils Mak Dewi Rieka yang hobi membaca. Beberapa kali traveling bareng, buku bacaan adalah bawaan wajib. Kedua bocah itu akan mengeluarkan bukunya kala senggang. Entah itu di mobil atau saat istirahat. Ada juga Vivi dan Faris, buah hati Mak Uniek Kaswarganti. Kedua bocah ini juga doyan membaca. Nggak usah ditanya lagi. Bahkan Faris enggak mau bangun kalau belum dibacakan buku. Woho! Keren! Belum lagi dua gantengnya Mak Atiek Puji Astuti yang gemar banget diajakin nongkrong di perpustakaan daerah. Masih banyak anak-anak yang aku kenal dan mereka semua doyan baca. Dari kesemuanya aku kenal betul, emak bapak mereka nggak bisa hidup jauh dari buku. 

Anak adalah peniru ulung. Mereka akan melihat, mengamati dan meniru apa yang menjadi kebiasaan orang tuanya. Dari orang tualah kebiasaan membaca itu dipupuk. Selain itu lingkungan juga mempunyai pengaruh dan andil besar terhadap minat baca. Jaman gadget begini anak akan lebih mencintai games daripada buku bacaan. Belum lagi jika teman bermain mereka nggak suka buku. Akan lebih gampang terpengaruh untuk bermain internet dibanding baca buku. Lingkungan memang mempunyai peran penting tapi orang tua tetap jadi tonggak utama.

Si Ganteng Faris bangun tidur udah asyik baca buku :*
Kala anak teman ulang tahun aku lebih suka memberi kado buku. Selain simple dan praktis, ini adalah usaha lain mengenalkan buku dan menumbuhkan minat baca. Memang aku masih ragu, akankah buku ini hanya menjadi pajangan atau memang dibaca. Tak mengapa. Hal terpenting adalah ada kado berbeda. Semoga mendapat perhatian berbeda pula untuk penerimanya.


Saat berkunjung ke rumah teman, beberapa kali aku diminta anaknya membacakan buku. Wohaaaa senengnya nggak karuan. Tanpa babibu aku langsung menyambut tawaran itu. Itung-itung melatih kemampuanku mendongeng dan bercerita donk ya. Selalu ada modus di dalamnya. Hahaha. Selain itu aku ingin mendapatkan tempat di hati mereka. Suatu saat jika aku berkunjung akan ada sambutan dan rengekan hangat, “Tante, aku pengen dibacain buku”

Usahaku memang baru sebatas ini. Belum mampu seperti kiprah orang-orang yang mengagumkan itu. Aku tahu dan sadar apalah arti semua kiprah ini. Aku hanya ingin menjadi perantara, biar kerenan dikit bolehlah disebut agen. Agen Cinta Buku. Walau aku juga masih berjalan  dan bergandengan bersama perantara lain yaitu orang tua dan para calon orang tua. Aku, seorang perantara yang ingin menularkan kebiasaan dan semangat membaca. Bahwa membaca itu menyenangkan, ada banyak ilmu dan hal baru yang bisa ditemui. Menjadi agen tak harus saat kita telah mampu tetapi memulai dengan apa yang ada saat ini jauh lebih tepat. Tak perlu ragu dan malu, selama berada di koridor kebaikan hayuklah dijabanin.






Salam,

@tarie_tar

20 komentar:

  1. Aku.... aku salah satu peminjam setia bukumu, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur tengkyu udah jadi peminjam setia, Mak. Kali aja ntar aku bisa bikin award. hihihi :D

      Hapus
  2. Wah keren mbak! Saya juga berharap perpustakaan kita makin banyak dan anak-anak kita dari kecil sudah dibiasakan membaca jadi sampai gede mereka akan terus hobi baca buku :D Salut banget buat usahanya Mak! Sukses ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin aamiin. Makasih supportnya, Mak. Mohon doanya yaaa. Takutnya ndak bisa konsisten alias mandek ditengah jalan. Inilah tantangan terbesar.

      Yup. Sekarang kayaknya perpus ndak begitu banyak peminat. Enakan gugling pake gadget aja. Huhu :(

      Hapus
  3. Terimakasih atas partisipasinya. Telah dicatat sebagai peserta :)

    BalasHapus
  4. Masha Allah. Semoga jadi ladang pahala buat Taro. In shaa Allah.

    ira
    www.keluargapelancong.net

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin aamiin. Doakan istiqomah ya, Mbak. Akan kugunakan pesan dari Mbak baik-baik :)

      Hapus
  5. Hihiiii...lupa belum ngembaliin bukumu ya Tarooo <3
    Eh Milzam jugak suka banget baca buku, sayang Naufal baru baca sebatas komik, yess

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku yang mana toh, Mbak? Ntar bulan depan yow pas kopdar. Kalau ndak lupa. Hihi. Ndak apa-apa baru sebatas komik, yang penting kan udah suka dulu. Mau aku tulis nama anaknya semua emak udah lieur eeeyyy :)))

      Hapus
  6. Semangat terus jadi agen cinta bukunya... Keren lho, perjuangannya. Aku juga punya background yg relatif mirip di kampung halamanku, & jarang pulang. Jadi mimpi untuk menularkan virus baca disana masih tertahan dulu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mak atas semangatnya. Doakan bisa istiqomah yaa :)
      Ayokk semangat juga. Selagi niat terpatri kuat In shaa Allah bisa. Ndak ada yang ndak mungkin kok :)

      Hapus
  7. Jadi inget bukumu yang kupinjam belum kubalikin hihihi, pengen pinjem buku lagi ahhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho emang bukuku masih ada di Makmi? Kita jarang jumpa eeuuyyy. Kangen sama duo krucilsmu :*

      Colek aja kalau mau pinjem buku. siap bawain daaah

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. waaah... ini sih benar2 menularkan minat membaca pada semua org nih... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin aamiin. Doakan tetep istiqomah ya, Mak. Suwun udah mampir :)

      Hapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. tulisan yang bagus! suka sekali bacanya, Taro!
    terus semangat jadi agen buku yaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak, Kakak. Doakan tetep istiqomah yaaa :*

      Hapus