Minggu, 08 Februari 2015

Belajar Bersama Sahabat Baru

“Operasi aja, ya? Siap kapan? Nanti segera saya jadwalkan,” ujar seorang bapak berbaju putih tanpa tedeng aling-aling.

Deg!

Tubuhku lemas seketika. Ruhku serasa melayang menjauhi jasad. Apa yang selama ini aku takutkan ternyata harus aku hadapi.

“Operasi?” sahutku antara percaya dan enggak.

Bapak berbaju putih itu mengangguk. Memperjelas perintahnya tanpa senyum sedikitpun. “Nggak ada jalan lain?” tanyaku pelan. Berusaha menutupi perasaanku yang tiba-tiba luruh. Ruangan 2x3 meter ini terasa semakin dingin. Bulir bening mulai menggenang perlahan.

“Mau sembuh nggak?”

Sebuah pertanyaan pamungkas. Pertanyaan yang mungkin seharusnya tak usah dilemparkan. Pertanyaan yang beliau tahu bahwa aku hanya mampu menjawab dengan sebuah anggukan.

“Saya ngomong sama keluarga dulu. Nanti setelah siap saya ke sini”

Beliau mengangguk.

***
Awal Maret 2014 menjadi sebuah sejarah. Vonis yang dijatuhkan sore itu membuatku melayang tak bernyawa. Semangatku luruh begitu saja. Ketakutan demi ketakutan selalu saja menghantui. Aku berharap ini hanya sebuah mimpi. Tapi ternyata ini adalah sebuah kenyataan. Tuhan, andaikan bisa aku tak ingin melalui jalan ini.

Operasi menjadi pilihan terbaik dari keluarga besar. Padahal jujur aku paling takut dengan rumah sakit. Aku takut jarum suntik. Aku seringkali pusing kala membesuk teman di rumah sakit. Pada kenyataannya semua ketakutan itu sirna. Entah kekuatan dari mana.

Aku memantapkan hati dan mental. Aku ingin sembuh. Aku masih ingin meraih cita-cita. Aku, aku masih punya serangkaian mimpi. Seperti yang pernah aku ceritakan pada sahabat baikku kala mudik ke Indonesia. Aku ingin menjejakkan kaki ke sana.

Tak pernah sedikitpun terbayang, bahwa aku mampu menjalani serangkaian tes yang melelahkan pra operasi. Tak terbersit bahwa aku pernah masuk ruang operasi. Merasakan tidur panjang. Mendengar tangisan keluarga. Tuhan, inilah kenyataan yang Kau berikan. Ini bukan lagi sebuah mimpi.

“Dijaga kesehatannya, ya. Nanti kalau ada yang tanya sakit apa dijawab ini aja,” ujar beliau

Aku mengangguk. Menerima sebuah amplop putih berisi hasil operasi. Tumor mamae dextra. Jenis jinak. Begitulah tulisan yang tertera di bagian kesimpulan. Aku menelan ludah. Ternyata aku seorang penderita tumor. Dulu aku hanya melihat dan mendengar penyakit itu dari televisi atau koran. Pada akhirnya aku mengalami sendiri penyakit ini. Tuhan, kuatkan aku menjalani hari-hari selanjutnya.

Pasca operasi menjadi hari-hari terberat. Belajar menyesuaikan diri dengan pola makan dan lingkungan menjadi sebuah PR besar. Apalagi aku anak kosan. Lebih sering mengandalkan beli makan di luar. Praktis. Sekarang aku harus lebih selektif memilih makanan. Ini nggak mau. Itu nggak mau. Sampai rekan kantor menjulukiku orang paling rempong soal makan. Hahaha. Aku lebih sering mengandalkan kantin. Masakan merekalah yang lebih aku percaya dibanding makan di luar.

Suatu kali ada yang nyletuk dan membuatku sedih berkepanjangan. Dia bilang aku nggak boleh terlalu ketat soal makan. Sesekali ikutlah makan makanan yang enak-enak. Jangan apa-apa nggak mau. Bagaimana perasaanmu berada di posisiku? Saat itu aku hanya membatin “Kamu nggak ada di posisiku. Kamu tahu apa?”

Aku, orang yang perasa langsung luruh seketika. Usai pulang kantor aku menangis tanpa henti. Menyalahkan diri sendiri. Menghujat penyakit yang nangkring di tubuh ini. Kenapa harus aku? Kenapa aku tak diberi kesempatan menikmati hidup layaknya orang lain? Kenapa kenapa dan kenapa?

Harusnya aku tak perlu sedih. Harusnya aku bisa menerima saran itu. Harusnya sesekali aku mencicipi makanan enak. Asal aku mengimbangi dengan benar, tentu tak perlu ada yang ditakutkan. Bukan teman yang harus mengerti diriku. Harusnya akulah yang melakukan semua itu. Aku yang harusnya bisa menyesuaikan dengan diriku sendiri. Aku yang tahu apa yang dibutuhkan oleh tubuhku. Bukan orang lain. Bukan siapapun. Kala sakit mendera aku sendiri yang merasakannya.

***
Awal Februari 2015 ...

“Eemm...ini kok ada benjolan lagi, ya?”

Aku tersedak. “Benjolan?”

“Coba rasakan. Ini ada dua benjolan lagi. Ada baiknya selesai usg ke doktermu lagi. Biar ada kejelasan tindakan selanjutnya”

Glek!

Ke dokter onkologi lagi?

Tuhan...cobaan apalagi ini? Mengapa tepat setahun usai operasi aku harus mengalami hal yang sama? Dan mengapa lagi lagi harus aku?

Tubuhku melemas. Senyum sahabatku sore itu hanya kubalas sekilas. Aku bener-bener shock! Ketakutan demi ketakutan lagi-lagi membayang. Selasar rumah sakit, jarum suntik, selang dan tabung infus, ruang operasi, satu per satu berkelebat. Aku nggak mau berada di sana lagi! Tidak! Sebenarnya aku dan dokterku tau sejak pertama tentang benjolan ini. Hanya saja beliau sepakat tidak mengangkatnya dengan berbagai pertimbangan. Tapi kali ini....entahlah

Dua hari aku mengalami down mental hebat. Setiap ada kesempatan melamun, saat itulah air mataku meleleh. Aku menangis dan menangis. Membayangkan vonis yang akan aku terima nanti. Dua hari pula aku tak bisa melakukan apapun. Aku memang berangkat ke kantor seperti biasa tapi jiwaku melayang entah ke mana. Aku menjadi pendiam. Malas bercanda dan berkata-kata banyak. Aku merasakan tubuhku kuyu.

“Bebaskan hatimu. Kalau kamu anggap ini berat, nanti akan jadi berat. Begitu juga sebaliknya. Semua itu berawal dari pikiranmu. Percayalah ada sahabat dan keluarga yang selalu menyayangimu”

Begitulah sepenggal pesan yang aku terima dari seorang sahabat baikku. Pesan yang setelah kuresapi membuat perasaanku kembali membaik. Belum lagi beberapa sahabat mengirimi serentetan semangat. Mencoba menguatkan, memelukku walau mereka jauh. Dan seorang rekan kerja yang membuatku tertawa, terima kasih banyak. Nasehat dan pelukanmu semakin menguatkanku untuk sembuh. Aku tahu ketulusan ini tak mampu aku balas.

Happy selaluuuuu ^^
Terkadang bayangan ketakutan yang membuatku menangis tanpa henti. Aku takut vonis kedua kali ini terlalu menyakitkan. Aku takut tak mampu menjalani hidup selanjutnya dengan baik. Aku takut tak bisa menggapai mimpi yang pernah aku rajut. Aku takut kehilangan sahabat-sahabat baikku. Sungguh aku masih punya satu ketakutan besar yang tak bisa aku tuliskan.

Bebaskan. Bebaskan. Bebaskan.

Satu per satu nasehat para sahabat aku cerna. Perlahan tapi pasti semangatku kembali lagi. Semua bayang ketakutan itu hanyalah sebuah bayanganku belaka. Yang harus aku lakukan saat ini adalah menerima vonis, mencari solusi dan menjalani langkah selanjutnya. Bukan bersembunyi dalam bayang-bayang ketakutan belaka. Aku masih punya Tuhan. Aku masih punya keluarga, sahabat dan yang pasti semangat.

Setiap hari, sebelum dan sesudah bangun tidur, aku menerapkan mantra baru. Mantra ciptaanku sendiri sih. Hehe. Aku mengafirmasi diri dengan segala hal yang positif.  Nggak mau memikirkan pekerjaan di luar jam kerja. Melakukan hal-hal yang membuatku happy seperti bercanda di whatsapp, chatting, berbelanja buku, berdiskusi ringan, menulis, membaca dan hangout. Pokoknya melakukan hal-hal yang membuatku bersemangat dan lupa tentang semua ini.

Aku nggak ingin terus bersedih. Karena justru ini yang membuat penyakitku happy. Aku ingin lebih bersahabat dengan penyakitku ini. Mencoba memahami dia. Pelan tapi pasti aku ingin dia pergi. Meninggalkanku dengan senyum. Bahwa aku orang kuat yang pernah dia kenal. Aku mampu menjalani hidupku dengan indah. 

Dialah sahabat baru yang akan menempaku menjadi orang yang lebih tegar dan kuat. Dialah sahabat yang akan mengajariku untuk hidup sehat dan belajar menyayangi diri sendiri. Bersamanya aku akan terus belajar akan banyak hal. Memaknai kehidupan yang sangat berarti ini. Dialah sahabat baruku, tumor mamae dextra.

Walau pada kenyataannya untuk memulai semua ini perlu perjuangan. Aku janji aku tak akan menyerah. Walau terkadang aku down tak mengapa. Aku akan bangkit dan terus berjalan. Menapaki satu per satu tangga kehidupan. Semoga inilah jalan pelebur dosa yang ditunjukkan Tuhan. Mungkin inilah sebuah pengingat agar diri ini tak pernah alpa. Sebuah teguran agar jiwa ini tak pernah lelah untuk memeluk-Nya. Bukankah Tuhan selalu punya alasan dibalik sebuah rencananya?


“Aku punya Tuhan. Aku punya keluarga. Aku punya sahabat. Aku sehat. Aku happy. Aku pasti sembuh. Aku nggak kenapa-napa. Aku anak kuat. Aku anak ceria. Aku anak riang. Aku bersemangat. Aku siap menghadapi hari. Aku selalu tersenyum. Aku selalu tertawa. Aku orang bahagia”

"postingan ini untuk mengikuti giveaway echaimutenan"

Salam,

@tarie_tar

15 komentar:

  1. Semangat ya Makk. Yakinlah dengan semangat yg tinggi utk sembuh maka penyakit kita 50% sdh bisa kita atasi.. Pernah baca cerita ttg Rima Melati yg terkena ksnker payudara? Beliau hingga kini msh bertahan dan ttp fit krn belisu pny semangat tinggi berjuang melawan penyakitnya.. Smga cpt sembuh ya dan berjaya dlm GAnya..

    BalasHapus
  2. Semangat Maakk. Tidak ada penyakit tanpa ada obat. Get well soon :)

    BalasHapus
  3. Sahabat baru yang menuntun berjalan lebih dekat Kepada NYA. Dibalik Masalah, ALLAH menunjukkan kekuatan dan bakat tersembuyi yang ada pada kita. Masalah yang mengasahnya.

    Semoga sehat dan aktif selalu. Amin ya Rabb.

    BalasHapus
  4. Semangat ya mba..yakin setiap masalah pasi ada hikmat dan kebahagiaan dibaliknya. Semoga sehat selalu
    Salam kenal :)

    BalasHapus
  5. Semoga sehat dan terus semangat, Taro. ira

    BalasHapus
  6. Semangat Taro, kamu kuat, kamu bisa sehat.

    BalasHapus
  7. Skrg mkn nya masih pantang ga mb?

    BalasHapus
  8. Semangat yaaa, banyak sahabat di sekelilingmu *Peluk Tarooo ^^

    BalasHapus
  9. semangat ya mbaa... yakin setiap penyakit ada obatnya.. yang kuat ya mba... salam kenal ^_^

    BalasHapus
  10. *Hugh*. Semangat, mbak. Hebat euy, bisa disiplin makan. Aku cuma kuat beberapa bulan disiplin makan pasca operasi kista di rahim tahun 2012 silam. Habis itu aku bandel, makan cemilan dan jajan ini itu hehehe. Ya, meskipun kalau bakso aku ga pake vetsin, sih.

    BalasHapus
  11. Semangat ya mak..... berdamai dengan diri sendiri adalah self healing yg terbaik

    BalasHapus
  12. *hugs tarooooo
    Tetap semangat yaaa.....

    BalasHapus
  13. Semangat mba, selalu berpikir posi5if dan berbaik sangka ya mba, betul sekali ^_^

    BalasHapus
  14. Hugs Taroooo.......
    Semangat terus mak dan selalu positif thinking ya. Moga2 cepet sembuh :*

    BalasHapus