Kamis, 23 April 2015

Mereka, Para Penakluk Hatiku

“Siapa yang akan masuk ke kelas kita?” Sayup-sayup kudengar suara cadel berbicara pada fasilitatorku.

Ini jam terakhirku sok berperan menjadi guru sehari di Kelas Inspirasi Yogyakarta #3. Rekan pengajar sebelumnya bilang kelas 1 sangat luar biasa alias sulit dikendalikan. Terutama untuk anak cowok. Aktifnya luar biasa. Terbukti saat upacara, semuanya riuh rendah. Entah antara cari perhatian pada kami, sepuluh orang asing yang berjejer rapi di depan mereka. Atau memang mereka aktif. Tapi enggak boleh menyerah donk ya. Sudah jauh-jauh hari persiapan dan datang dari jauh masak mundur? No! Maju terus! Nggak boleh kalah sama kelas 1!

“Tenang, tenang, tenang. Setidaknya udah ada pengalaman pegang kelas 1,” batinku menghibur diri. Walau kalau boleh jujur, aku ndredeg luar biasa. Aku mengajar di kota yang berbeda, sudah pasti mereka punya segala keunikan tersendiri. Enggak bisa disamakan dengan anak-anakku di KI Semarang 1. Aku sudah siap dengan segala kejutan yang akan datang tiba-tiba.

“Ibu itu yang akan masuk ke kelas kalian,” ujar fasilitator menunjuk ke arahku. Otomatis anak-anak yang tadinya riuh rendah di depan pintu menoleh. Senyum mereka mengembang. Baru sampai tengah lapangan kaki ini melangkah, tubuh-tubuh kecil itu berlari menyongsongku. Kurentangkan kedua tangan dan berjongkok menyambut mereka. Kami berpelukan seolah bertemu sahabat lama. Entah perasaan apa yang perlahan merayapi hati. Selalu begini ketika menjumpai wajah-wajah mungil yang antusias. Rasanya pelukan ini tak pernah ingin lepas.

“Ibu, aku bantu bawa tasnya!” salah seorang anak merebut tas selempangku.

“Aku mau bawa yang ini!” yang lain nggak mau kalah.

“Aku juga mau bantuin bawa!”

“Boleh bantuin bawa tapi nggak boleh rebutan,” seruku menengahi.

Mereka mengangguk. Tapi dasar anak-anak masih aja rebutan. Haha.

“Tas ibu berat. Dibawa berdua aja, ya?” ujarku melanjutkan. Nggak tega rasanya tangan mungil itu menenteng tas yang persis karung semen. Wong pundakku aja bilang berat, apalagi mereka? Ini mau ngajar apa pindahan sih :p

Satu per satu barang bawaanku berpindah di tangan mungil mereka. Semua berjalan mendahuluiku. Kuamati punggung-punggung kecil itu. Tuhan, andai bisa aku ingin membersamai mereka setiap waktu,” batinku.

“Ibu, kenapa lama jalannya? Ayo kita masuk kelas! Teman-teman sudah menunggu loh,” teriak seorang anak nggak sabar.

Aku tersenyum. Kulangkahkan kaki lebih cepat. Ingin segera bertemu matahari kecilku. Lebih tepatnya penasaran dengan cerita pengalaman pengajar sebelumnya. Apapun itu, jelas kelas ini telah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sambutan mereka sungguh di luar perkiraanku. Terima kasih, Anakku!

Feelingku nggak salah. Jika dulu temanku bilang bahwa kelas 1 itu momok benar adanya. Tingkah polah yang mereka tunjukkan saat upacara nggak jauh beda saat di kelas. Lalu jika di Kelas Inspirasi Semarang #1 aku sukses menghendel kelas 1, di sini boleh dibilang setengah gagal. Haha. Dan yang terakhir, aku ingin sungkem pada guru kelas 1. Pengen menimba ilmu bagaimana cara menghendel anak-anak yang luar biasa aktif. Sungguh butuh kesabaran ekstra mengatasi bocah-bocah berwajah polos ini. Jadi kebayang sendiri jika kelakuanku jaman dulu juga kayak mereka :D

Seperti pengalaman sebelumnya, aku nggak menargetkan berhasil menyampaikan apa profesiku. Tapi masih ada sedikit harapan ketika boneka tangan dan boneka jari menemaniku. Setidaknya aku mengeluarkan mereka saat alat peragaku susah diteima. Ya, aku memang bergantung banyak pada boneka ini. Juga pada gambar-gambar sederhana tentang penjelasan profesiku.

Berhasil?

Bolehlah dibilang gado-gado alias setengah berhasil dan setengahnya lagi gagal! Yep! Akhirnya aku menjumpai apa yang disebut momok bagi sebagian relawan. Saat aku memperkenalkan diri, sebagian menyimak, sebagian lagi main kejar-kejaran. Baru menulis nama, beberapa anak ikut heboh menuliskan nama mereka. Kuajak mereka menyanyi, sebagian ikut dan yang lain asik menggambar di meja. Sebagian besar anak cowok malah berlarian, klotekan, naik turun meja, lempar-lemparan kertas dan jejeritan!

“Apa ibu guru amatirmu ini cara mengajarnya nggak menarik, Nak?” ratapku dalam hati.

Kutarik napas dan kuhembuskan pelan-pelan. Meresapi tips abal-abal ala guru amatir bahwa akulah yang harusnya memahami mereka. Bukan mereka yang harus nurut manut denganku. Mereka bukan robot! Oke, kuubah strategi!

“Anak-anak, sekarang kita lesehan yuk! Ibu mau cerita. Ada yang tahu profesi ibu sebagai apa?” tanyaku sambil mengeluarkan kumpulan gambar penjelasan profesiku.

“Enggak tahu, Bu!” mereka menjawab antusias sambil geleng-geleng.

Aku nyengir. Kali ini aku memang melepas seragam kebanggaan selama mburuh. Hanya menggunakan stelan sederhana rok batik dan kemeja.

“Nah, sekarang kita amati gambar ini. Di rumah kalian siapa yang biasa melakukan pekerjaan ini?” tanyaku sambil menunjukkan gambar ibu rumah tangga.

“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuu.....!”

“Kalian cerdas!”

Pelan tapi pasti aku mulai bisa menjelaskan apa profesiku pada mereka. Sungguh aku sangat berterima kasih pada rekan kantorku. Merekalah yang memberi ide-ide ciamik ditengah rasa stress dan deg-degan menyiapkan ubo rampe. Hingga akhirnya aku bisa menjelaskan apa profesiku dengan gamblang.

Kalau ini sesi pengenalan profesi :D *cieh
Entah berapa kali aku mengajak anak-anak menari dan bernyanyi. Aku masih gagal mengendalikan anak cowok! Entah berapa banyak energi mereka. Heran! Sejak masuk kelas hanya bisa diem kalau aku mendekati mereka. Tapi itu nggak sampai 1 menit, Sodara-sodara! Baru selesai aku ngomong dan beralih ke tempat lain, mereka langsung bubar berjamaah! Rasanya pengen garuk-garuk tembok atau ikut lari-larian deh. Haha.

Berhubung kelas semakin tak terkendali dan ideku tambah cupet kala melihat kegaduhan, keluarlah senjata terakhir. Boneka tangan! Yak, mendongeng lagi kita, Nak!

“Ada yang mau didongengin nggak?” seruku lantang mencari perhatian.

“Mauuuuuuuuuuu....!!!” Suara lantang mereka mengalahkan suaraku.

“Sekarang kalian duduk tenang. Ibu nggak mau cerita kalau kalian masih gojek sendiri,” aku mengeluarkan kartu As. Oke, mungkin ini nggak bagus tapi sungguh cuma trik ini yang mempan. Walau hanya bertahan 5 menit! Sesuai tips dari Kang Iwok, dongengku ini masih tentang profesi. Enggak pernah ada di buku dongeng manapun. Karena dongeng ini resmi karangan ibu guru amatir.  

Sesi mendongeng ala guru amatir :p
Tahu apa yang terjadi saat mulai mendongeng?

“Bu, aku pinjam bonekanya, ya!”

“Aku mau yang pake jilbab!”

“Aku yang satunya aja!”

Bubar konsentrasi! Kedua boneka tangan ditowal towel. Hari semakin siang, energiku benar-benar terkuras di kelas ini. Baru kali ini 30 menit begitu terasa lama. Kuserahkan kedua boneka tangan dengan syarat mereka harus main peran. Boleh bercerita apa saja asal mereka memasukkan peran ibu di dalamnya. Ya, aku mengenalkan profesiku sebagai seorang ibu di sebuah perusahaan. Prakteknya metode ini lebih sukses loh. Bermain analogi sederhana menggunakan hal-hal yang dekat dengan keseharian mereka.

Sebagian sukses bermain peran tapi sebagian lagi malah asik naik turun meja dan klotekan. Ada yang duduk anteng menggambar, keluar masuk kelas, nulis di papan tulis, main petak umpet. 

“Aku mau duduk di deket, Ibu,” ujar seorang anak cewek mendekatiku.

Aku mengangguk.

“Aku juga!” seorang lagi mendekatiku.

“Iya, sini duduk deket ibu semua, ya,” kembali kutengahi sebelum terjadi perang dunia.

Kubiarkan kelas yang sudah tak terkendali. Toh sebentar lagi jam mengajar berakhir. Kuamati tingkah mereka. Lucu. Menggemaskan. Wajah polos itu memang selalu bikin hati mencelos. Pikiranku menerawang jauh. Tentang masa depan mereka. Tentang sebuah cita-cita yang mulai terajut. Juga segenap harapan untuk mimpi yang akan terwujud. Semudah itukah?

“Bu, kapan ke sini lagi?” tiba-tiba seorang anak memelukku dari belakang.

“Lha ini ibu masih di sini kok. Kenapa?” jawabku kaget. Selama mengikuti KI, baru kali ini terdengar kalimat itu.

“Ibu jangan pulang, ya!”

“Ibu harus pulang, Nak. Emangnya kapan ibu harus ke sini lagi?” tanyaku penasaran.

“Besok!”

“Kenapa?”

“Biar kita bisa main-main lagi”

“Doakan ibu bisa berjumpa dengan kalian lagi, Nak,”sahutku berbisik.

Hatiku menghangat. Mataku terasa buram. Ingin menangis tapi malu. Enggak nangis tapi merembes mili. Kupeluk mereka erat. Walau kelas ini sulit terkendali, tapi aku menemukan hal lain yang lebih indah. Kejutan kecil seperti inilah yang selalu membuatku gagal move on. Pelukan mereka akan aku rindukan saat kembali ke perantauan. Pancaran penuh harap dan ingin tahu dari mata bening itu selalu membuat hatiku luluh. Senyum tulus dari wajah polos kian membuatku jatuh cinta. Mereka membuatku gemas tapi hati meleleh dengan dua kejutan tak terduga.

“Ibu pasti akan merindukan kalian, Nak”

Tuhan, kutitipkan mereka, tunas-tunas harapan bangsa. Beri mereka kesempatan layaknya anak-anak lain. Seperti seuntai mimpi yang mereka tuliskan di pohon cita-cita. bersama doa yang dilantunkan dengan segenap jiwa. Terselip harap dalam wajah dan tangan yang menegadah.



                   ...karena kelak pada merekalah negeri ini dititipkan...

Tunas bangsa SDN Bener Yogyakarta

Note : semua foto kredit dari Mas Momon, fotografer KIY #3

Semarang, 23 April 2015

Salam,

@tarie_tar




32 komentar:

  1. Huhuhuhu... ikut terharu... :'(
    Kelas Inspirasi emang luar biasa ya, Tar... Harus siap mental kala dapet pertanyaan atau jawaban tak terduga. Pokoknya pengalaman jadi relawan KI merupakan salah satu moment terbaik dalam hidup :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul! Nggak pernah nyesel ikut KI. Yang ada malah ketagihan ikut lain tempat. Selalu ada pengalaman berbeda :)

      Hapus
  2. Saya yang setiap hari bertemu dengan mereka tak pernah merasa bosan mbak. Ada-ada saja yang mereka lakukan. Jengkel? Ya pasti. Tapi itulah mereka. Unik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa. Kagum dan salut buat guru-guru SD dah. Mereka luar biasa :*

      Hapus
  3. Susah ya jadi guru. Tapi ortu sering menuntut guru untuk sempurna padahal yg dihadapin macem2 satu kelas. Semoga kehadiranmu menginspirasi anak2 itu ya. Amiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurutku susah sih, Mbak. Gimana yaa. Hahaha. Enggak kebayang aja tiap hari ngadepin tingkah polah mereka. Ada aja gitu, seolah nggak abis. Iya, terkadang gimana gitu kalau ada ortu nuntut macem-macem :)

      Halah, aku mah apa. Cuma sebutiran debu yang nyangkut di KI :D

      Hapus
  4. Keren, ih Taro. Pengalaman luar biasa. Baik bagi guru maupun murid, yaks.. Semoga ilmunya barokah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin. Makasih mbakyuuu :*

      Hapus
  5. aku yo melu mrebesmili mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari mrembes mili berjamaah, Mbak. Etapi bener sering misek-misek kalau inget mereka :(

      Hapus
  6. Terharu banger :) bangga visa berbagi dp penerus bangsa. Semoga Allah memberkahi at as ilmu yg dibagi. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin aamiin :)

      Semoga mbaaakyuuu

      Hapus
  7. aku dirumah juga baru beliin anakku boneka tangan kok mbak :D
    asik buat ngedongeng :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku boleh pinjem kagak, Mas? :p
      Emang asyikk buat mendongeng siih haha. Aku aja sukak

      Hapus
  8. Saya ingin ikut kegiatan ini. Kegiatan yang mencerahkan. Mana tau anak yang kita ajar nanti jadi salah satu profesi yang diceritakan. Keren, maju terus.

    BalasHapus
  9. Ih seru... Btw mba dee an juga pake boneka tangan sbg oeraga KI. Kalau gak salah hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi kayaknya gitu sih, Zahra :)

      Hapus
  10. Mbaa tarii aku penasaran sama kelas inspirasinyaa... 😍 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoookk ikutan yoookk. Ada KI Semarang niiiih :)

      Hapus
  11. terharuu...taro hebat, ayoo ikuti passionmu taro, jadi guruu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halah hebat apa. Aku mah apa atuh :)

      Hapus
  12. terharu bacanya juga, tetap semangat ya mba

    BalasHapus
  13. Tetap semangat ya, jeng wakil koordinator :) siiip

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat terus! Doaiiiiiiiiiiiiiiinn

      Hapus
  14. Balasan
    1. Hahaha nagiih je, Mas. Asyik ketemu konco anyaaarr :)

      Hapus
  15. kalau jadi buguru memang naluri keibuan nya otomatis akan terbentuk :)

    BalasHapus
  16. Dari sini kita menjadi tahu bahwa tidak mudah ya menjadi guru SD, tapi sekaligus seru dan menyenangkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, Pak. Enggak mudah. Keinget masa dulu yang suka iseng sama guru *sungkem

      Hapus