Senin, 06 April 2015

Wiskul Murmer Ala Kota Kretek



Suatu saat kamu pasti akan merindukan kota ini. Walau sekarang ngeyel bilang enggak. Semakin kamu pergi jauh, rasa rindumu akan semakin besar

Begitulah ucapan seorang teman saat aku menerima sebuah surat keputusan (SK) cinta alias mutaasi. Mau nggak mau aku harus angkat kaki meninggalkan kota yang telah empat tahun menjadi “rumah”. Waktu itu perasaanku standar orang pindahan. Sedih, seneng, bingung dan tetek bengek campur jadi satu. Yang jelas aku nggak ingin kembali ke kota ini. Kenangannya terlalu menyesakkan hati *uhuk.

Menginjak tahun kedua menjadi warga sementara ibukota Jawa Tengah, ternyata memberikan pelajaran lain. Semuanya harus dilakukan secara mandiri. Kalau dulu ada yang direpotin, sekarang enggak bisa. Kalau dulu mau cari makan tinggal ngesot, sekarang mikirin waktu dan jarak. Tetiba aku rindu kota itu. Kota yang bagi sebagian kaum pendatang kurang hiburan. Mall minim, bioskop baru ada tak lama setelah aku pindah, café tak banyak, tempat nongkrong jarang. Tapi kota itu menyimpan geliat industri yang pertumbuhannya luar biasa. 
KUDUS

Seperti menelan ludah sendiri. Itulah istilah yang pantas buatku. Sekarang aku merindukan kota ini. Rindu akan damai dan sepinya kala malam tiba. Rindu hawa panas khas kota industri. Rindu melihat para santri asyik ngaji di pondok atau mushola. Suasana religi yang begitu kental menyelimuti kota kecil ini. Bahkan saking kentalnya pernah ada orang ngemall berdandan necis ala anak pesantren. Belum lagi rindu pada biaya hidup yang begitu murah. Enggak kayak sekarang yang menegek kantong. Kota Kretek ini memang menawarkan aneka makanan yang beneran murah meriah. Serius! Enggak akan bikin kantong jebol kecuali ngajak rombongan keluarga sirkus

Berjarak 1 jam dari Terminal Terboyo, Semarang – Kudus bisa ditempuh dengan bus. Tinggal pilih mau bus yang trayek Semarang-Kudus, Semarang - Lasem atau Semarang - Surabaya. Sebagai salah satu kota yang di deretan jalur pantura, enggak usah khawatir bakal kehabisan bus. Trayek Semarang - Surabaya 24 jam. Tarif busnya nggak mahal juga, Semarang – Kudus ditarif 8.000 rupiah untuk bus ekonomi dan 10.000 bus patas.

Jika berkunjung pagi atau sore hari, bus akan masuk ke daerah kota. Pom bensin menjadi tempat pemberhentian terakhir. Sedangkan siang hari bus hanya sampai terminal saja. Setelah itu bisa disambung dengan angkot, ojek atau becak.

Bertandang ke Kudus enggak cukup sehari jika untuk kulineran. Kudus memang menawarkan makanan tradisional yang luar biasa. Capek usai jalan-jalan, haruslah menyicipi cemilan kelas berat seperti : 

1. Lentog Kudus

Dulu aku agak aneh dengan makanan satu ini. Hanya lontong disiram sayur nangka tahu tempe. Penyajiannya pun pake piring super mini. Eh, setelah beberapa kali nyicip malah ketagihan. Di Kudus lentog menjadi salah satu menu sarapan. Bahkan di sini ada sentra kuliner lentog yang tersohor. Lentog Tanjung. Kawasan ini terletak di Jalan Tanjung. Enggak jauh dari jalur pantura lingkar selatan. Selamat kebingungan cari lentog yang pas di lidah. Hihi. Lentog Pak Mitro menjadi populer diantara yang lain. Jangan heran kalau siang dikit antrenya udah nggak ketulungan. 

Lentog Kudus
Harga lentog dibandrol 2.500 per porsi. Sebagai lauk ada bakwan sayur, kerupuk, sate telur. Jangan minta minuman bersoda atau beralkohol di sini, selain dilarang juga enggak ada. Hanya ada teh botol dan air putih. Jarang sekali penjual lentog menyediakan teh panas. Kalau malas ke pusat lentog, bisa nyicip di daerah kota. Hampir menyebar kok. Ada lentog enak di Jl. A. Yani, jalan Agil Kusumadya dan Pasar Wergu. Semua memberikan cita rasa tersendiri. Tergantung mau pilih mana.

2. Garang Asem Kudus

Entah kenapa makanan satu ini begitu tersohor seantero jagad. Tiap kali kenalan dengan orang baru pasti yang ditanyain tentang garang asem. Melegenda banget deh. Rumah Makan Sari Rasa, inilah tempat garang asem paling tersohor dan terfavorit. Tiap hari ramenya nggak ketulungan. Apalagi ketika jam makan siang tiba, beuh antrenya udah ngalahin antre raskin. Walau harganya terbilang cukup mahal, makanan ini sangat diminati. Terbukti dengan naiknya harga dari tahun ke tahun nggak bikin pelanggannya beralih hati. Wajar sih naik wong bahan bakunya dari ayam kampung. Tau sendiri kan gimana harga si ayam? Walau dari kampung tapi mihilnya aje gile. 

Garang Asem Kudus
Garang asem sendiri adalah seporsi makanan berbungkus daun pisang. Dalamnya terdapat potongan daging ayam atau bagian yang lain, cabe dan tomat. Di warung ini sebagai pembeda terletak pada tusuknya. Jika tusuk di daun satu berarti daging ayam, dua ceker, tiga jerohan, empat kepala. Harganya pun nggak kalah bervariasi. Menu daging menjadi harga tertinggi. Garang asem sangat cocok dimakan bersama nasi panas yang pulen. Dijamin bakal ngabisin nasi sebakul. Apalagi kuahnya seger berpadu dengan ayam yang empuk. Enaaakkk! Warung makan ini terletak di Jalan Agil Kusumadya yang merupakan jalan utama. Kalau dari terminal bisa langsung naik angkot atau becak. Warungnya gede berwarna ijo. Ada plang papan petujuk dan dua patung ayam di pagarnya. 

3. Soto Kudus

Setiap tempat emang punya soto tersendiri. Enggak tahu kenapa sih. Saking kreatifnya kali ya? Soto Kudus juga tersohor loh. Yang menjadi pembeda, soto Kudus ini berkuah kental, baik soto ayam maupun daging kerbau. Cara penyajiannya pun menggunakan mangkok besar. Semangkok udah kenyang, kecuali perut melar mau nambah :)

Soto mari nyoto :D

Soto Bu Djatmi menjadi makanan yang wajib dicicipi. Ada soto ayam atau soto daging. Lauknya tergantung selera. Jika ingin menaikkan kolestrol secara ugal-ugalan bolehlah nyicip sate paru, sate telor, sate jeroan. Tapi jika ingin irit atau lagi ngepres, cukuplah berlauk tempe goreng.

Sekarang nyari soto Bu Djatmi lebih gampang loh. Sudah ada cabang di Jalan Museum Kretek. Bertempat di rumah adat Kudus, tempat makan ini terasa lebih asik. Bisa juga mampir di Museum Kretek jika ingin belajar banyak tentang sejarah rokok.

Tapi jika ingin menikmati asap mengepul dan hawa panas, berkunjunglah di warung yang asli.

4. Sate Kerbau

Perlu diketahui, Kudus merupakan kota yang menjadikan daging kerbau untuk dikonsumsi. Sampai tulisan ini dipublish, aku masih nggak ngerti gimana enaknya daging kerbau. Tiap kali nganter temen beli sate kerbau, selalu kebayang si pemilik badan hitam yang jalan ginak ginuk di sawah! Ujung-ujungnya nggak berani nyicip. Takut muntah. Sayang kan duit dibuang-buang :D

Jika ingin nyicip sate kerbau, bisa dateng di Taman Bojana. Ada beberapa penjual yang menawarkan bertusuk-tusuk sate kerbau. Atau bisa juga di Ruko Agus Salim. Keduanya mempunyai cita rasa tersendiri loohh. Enggak usah ikut aku yang kebayang-bayang si item manis yaa :D

5. Pindang

Pertama kali ke Kudus, dalam pikiranku "pindang" adalah sejenis ikan. Dan ternyata aku salah besar, Sodara. Kudus tuh orangnya kreatif banget yak. Pindang di Kudus berarti secentong nasi disajikan bersama suiran ayam atau daging kerbau, daun mlinjo dan kuah santan. Sekilas mirip dengan rawon, hanya saja pindang nggak pakek kecambah.

Pindang Ayam

Taman Bojana menjadi tempat yang tepat jika ingin mencicipi pindang. Selamat kebingungan memilih pindang yang tepat sesuai selera. Pindang sangat cocok dinikmati dengan tempe goreng. Perpaduan tempe yang krispi dan gurih manis kuah pindang emang bikin merem melek. 

6. Tahu Gimbal

Kalau ditanya siapa pemilik makanan yang satu ini aku jawab "enggak tahu". Lha di Semarang juga terkenal dengan tahu gimbal. Di Kudus saat sore datang, akan banyak penjual tahu gimbal berjajar mesra. Enggak usah kebingungan cari makan jika tersesat di alun-alun. Berjalan kakilah ke arah Menara Kudus, di sepanjang jalan mudah ditemui penjual tahu gimbal.

Ada dua penjual tahu gimbal yang enak, satu di depan lapas dan satu lagi Pak Gareng di depan Pasar Kliwon. Buka dari jam 5 sore sampai dagangan abis. Tapi wong di Kudus jam 10 aja udah sepi :D

7. Susu Muria

Tempat nongki AGK minggu pagi :D
Tempat ini berubah bak pasar kala minggu tiba. Jangan harap bisa dapet tempat duduk. Wong mau parkir aja harus antre. Ya, inilah yang terjadi di sebuah tempat pemerahan susu. Tempat ini menyediakan susu dengan aneka rasa. Bisa diminum di tempat atau dibawa pulang. Tersedia juga aneka cemilan buatan pabrik susu sendiri. Cita rasanya memang berbeda dengan tempat lain.

Roti Manna menjadi satu makanan favorit. Teksturnya yang lembut memang terasa berbeda di lidah. Terpenting adalah susu dan roti yang disajikan selalu baru. Kita bisa loh menikmati roti hangat, segelas susu sambil memandang sapi pacaran. Ya, tempat nongkrong AGK (Anak Gaul Kudus) minggu pagi memang satu tempat dengan kandang sapi. Jadi jangan dibayangkan tempatnya cozy dan bikin betah lama-lama. Yang ada lama gegara antre dan memandang iri sapi yang pacaran :D

8. Angkringan

Lidah ndesoku emang nggak bisa dibohongi. Aku nggak bisa hidup tanpa makanan angkringan *jiah. Tiap kali dines ke Solo atau Jogja, angkringan jadi menu pilihanku walau banyak nggak kesampaian. Huhu. Pilihanku emang berbeda dengan yang lain. Mall vs angkringan.

Empat tahun menetap di Kudus, ada angkringan yang menjadi idola. Tergantung mau murah, mahal, tempatnya cozy, sederhana atau yang antrenya panjang. Jika ingin agak mahal pilihlah angkringan "Mak Monyong". Mau sambil nongki cantik plis pilih angkringan GOR. Atau mau yang murah tapi antrenya naudzubillah mampir ke angkringan Sunggingan. Jika ke sini mending bawa penerjemah. Si penjual akan menghitung makanan kita dengan bahasa Jawa loh. Dan beliau ngitungnya tanpa kalkulator! Keren kan?

9. Jenang Kudus

Kudus memang terkenal sebagai sentra jenang. Makanan berwarna coklat ini memang sudah tersohor ke mana-mana. Tiap orang berkunjung makanan ini menjadi oleh-oleh wajib. Seputaran alun-alun menjadi sentra penjualan jenang. Tinggal pilih ingin bertempat di toples, kardus, mau seperempat atau sekilo. BISA!

Di sentra oleh-oleh dan pembuatan jenang, dijual juga bermacam-macam makanan lain. Tergantung selera dan dompet kita. Jenang juga disajikan dengan aneka rasa. Tinggal pilih dan bayar saja ke kasir. Kalau wisatawan nggak nyicipin jenang berarti belum berkunjung ke Kudus.

10. Kacang Gelis

Dulu aku nggak ngerti kenapa kacang ini begitu tersohor. Mau beli aja kudu pesen jauh-jauh hari. Enggak ada barang ready kecuali lagi bernasib baik. Kacang Gelis memang berbeda dengan kacang-kacang lain. Diolah seperti kacang asin tapi dibungkus padat dan montok. Kacangnya pun gede-gede. Keliatan kalau memang kacang pilihan.

Toko ini terletak di dekat sungai Kali Gelis. Itulah mengapa orang-orang menyebutnya dengan "Kacang Gelis". Lebih gampang diinget bukan?

Masih belum puas dengan 10 daftar di atas? Enggak perlu khawatir. Saat sore tiba dan ingin kulineran, cobalah menelusuri gang ke gang dari alun-alun. Orang-orang menyebutnya "Gang 1-4". Setiap gang akan menawarkan makanan yang menggoda iman dan kantong. Wajib dicicipi! Ada bakso Pak Bari berkuah bening yang endes gila, sate ayam, wedang ronde, sop ayam kampung, sop kaki kambing, prasmanan rumahan, ayam goreng, dll. Atau ingin cemilan? Enggak perlu khawatir. Mari cicipi kue putu, martabak, gorengan atau pukis.

Semua makanan diatas enggak mahal loh. Walaupun di Kudus banyak pendatang, biaya hidup dan harga makanan masih relatif wajar. Enggak bikin kantong bolong. Kudus, kota kretek yang menawarkan surga kuliner bagi pecintanya. Walaupun sering digunjingkan minim hiburan, Kudus tetap menjadi kota favorit untuk dikunjungi. Tak cukup sekali dua kali. 

Karena di kota itulah aku menemukan rumah. Rumah untuk kembali jika program penggemukan berada di ambang pintu kegagalan. Lupakan sejenak timbangan jika berkunjung ke Kudus, cukup nikmati aneka kuliner yang berciri khas manis ini. Siapkan dompet dan perut :D

Salam,

@tarie_tar


7 komentar:

  1. Wah lentog kudus ketoke enaaak... :)

    BalasHapus
  2. Yummii..ini yang mesti ne buat lomba ya taro?

    BalasHapus
  3. Duuuuh mantepp eh..
    Siang-siang baca tulisanmu bikin laper Mbak Tarie..
    Kalo bisa kirimin yang masih kemebul donk,,
    Minumnya es teh..
    *lah malah cem di warung

    BalasHapus
  4. Nyam nyamm... drolling... :)

    BalasHapus
  5. Soto kerbau enak loh Taro

    BalasHapus
  6. Pingin ngerasain soto kudus. Kalo pindangnya beda ya dengan yang Palembang.

    BalasHapus