Rabu, 17 Juni 2015

Gadis Ayu, Dewi Khairunnisa


"Lestari pasti seneng banget nih. Ada anak yang bercita-cita jadi kayak kamu?" seru rekan pengajar.

"Hah? Siapa? Emang ada?" saya ternganga takjub. Seumur-umur baru kali ini ada yang mau jadi kayak saya.

"Buktinya ada kok. Anak kelas enam. Nih kalau nggak percaya," ujar teman saya bersemangat. Dia menyodorkan handphone dan sukses membuat saya menjerit lebay. Kembang kempis hidung ini. Aneka perasaan berkecamuk jadi satu.

"Huaaaaaa...terharuuuuuu!"

Teman saya terkekeh. "Kamu doktrin apa sampai dia bercita-cita kayak kamu? Pasti kamu ancam, ya?"

"Enak ajaaaaaaa!" 


Gantian saya yang tergelak. Mengingat kembali apa yang saya lakukan di kelas selama 30 menit tadi. Kelas enam menjadi sarapan pembuka. Saya nggak menargetkan apapun. Kebanyakan saya bercerita panjang lebar melalui gambar. Mendorong mereka untuk terus sekolah. Sebelum selesai jam mengajar, saya meminta mereka menuliskan cita-cita dan usaha mereka pada selembar kertas. Berhubung jam sudah berakhir, saya tak sempat meminta mereka membacakan satu per satu di depan kelas. Tak mengapa, toh semua sudah terkumpul, nanti saya baca sendiri saja. Begitu pikir saya. Saya belum tahu apa yang mereka tuliskan pada lembaran yang saya bagikan. Tetapi ada satu murid yang khusyuk mendengar dan antusias kala saya menjelaskan. Gadis itu Dewi Khairunnisa.

Tuliskan cita-citamu, Nak

 ***
Siang itu kami telah menyelesaikan satu misi. (Katanya) mengambil sedikit bagian untuk pendidikan negeri ini. Walau boleh jujur, kiprah saya belumlah ada seujung kuku. Saya sering malu pada diri sendiri. Belum mengambil peran penuh. Saya sadar setiap orang akan berkiprah pada bidangnya masing-masing. Semua akan melengkapi satu sama lain. Saya belajar untuk tak menyalahkan diri sendiri. Saya belajar untuk mengambil bagian itu walau seuprit. Bukankah tak pernah ada kata terlambat?

Menengok kiprah beberapa teman memang membuat saya keder. Mereka enggak tanggung -tanggung lagi. Ketulusan terpancar jelas dari cara mereka bertutur. Saya belajar dan berguru banyak pada mereka. Siapakah mereka? Sebut saja Mas Bayu F Wiranda, Mamak Donna ImeldaMbak Fajarwaty, Mas Agung, juga beberapa teman lain yang nggak semua bisa saya sebutkan. Merekalah contoh orang "peduli" yang pernah saya kenal. Masih banyak lagi orang yang juga berkiprah di jalan sama. Terkadang sempat merasa kecil. Mungkin kalau bahasa masa kini itu "aku mah apa atuh". 

Dewi Khairunnisa, begitu nama yang tertulis di daun cita-cita. Nama yang cantik, seayu wajahnya dalam bingkaian jilbab. Saya yakin orang tuanya mempunyai harapan besar dari nama yang mereka sematkan. Gadis kelas enam ini menuliskan cita-citanya menjadi seperti saya, karyawati PLN.

Duh.

Apa yang harus saya ekspresikan?

Terharu? Bahagia? Sedih? Senang? Bangga?

Entahlah.

Saya justru tak mengerti bagaimana mengungkapkan kecamuk perasaan ini. Pengalaman kedua menjadi bagian dari Kelas Inspirasi, baru kali ini ada yang bercita-cita menjadi seperti saya. Kelas-kelas lain saya cukup bisa dibilang gagal. Hahaha. Maklom ye guru amatir kelas kawe lima. Baru pertama kali masuk aja langsung terserang demam panggung. Udah pengen kabur gitu dari kelas :p

Apakah ini yang disebut "menginspirasi?"

Berulang kali saya bertanya pada diri sendiri. Tapi jawabannya selalu nihil. Saya tak bisa, tepatnya belum berani menyebut hal tersebut menginspirasi. Walau beberapa pengajar lain menyebut saya telah sukses menginspirasi. Saya kembali menelaah, berkaca dan bertanya pada diri sendiri, apa sebenarnya itu "menginspirasi". 

Saya belajar banyak dari gadis ayu ini tentang arti "terinspirasi" dan "menginspirasi". Mungkin dia tersepona pada wajah unyu guru amatirnya ini. Bisa jadi, kan? Atau mungkin bingung mau nulis apa. Jadilah asal saja dia nulis. Bisa jadi lagi, kan? Banyak kemungkinan.

***
Gadis ayu,

Apapun yang kau tuliskan siang itu, doa tak pernah putus dari ibu guru amatir ini. Semoga semesta mengaminkan dan mendukung penuh ikhtiarmu. Seperti pohon cita-cita yang terpajang rapi di sekolah, kokohlah demi mimpi besarmu. Tetap rindang di manapun kelak kakimu berpijak. Tumbuh dan berkembanglah, Nak. Berbunga cantik dan mekarlah.

Jangan pernah bosan menengok daun cita-citamu, ya. Sirami dan siangi agar daun itu tetap segar dan cantik. Jika esok daun itu menguning dan jatuh tak perlu risau. Ibu tahu cita-citamu telah terpatri di sanubari. Tak apa jika kelak kamu tak jadi seperti yang pernah tertulis. Tuhan selalu punya rencana indah untukmu.

Dewi Khairunnisa,

Binar mata dan kesungguhan wajahmu pagi itu membuat ibu yakin bahwa kamu gadis kuat. Gadis dengan sejuta mimpi dan harapan. Antusiasmu menyambut ibu juga telah menunjukkan segalanya. Terima kasih, Nak, atas semua pelajaran yang kamu berikan.

Ibu titipkan doa untukmu lewat angin dan hujan.

Cantik kan?


Ketjup sayang dari ibu guru amatirmu,

@tarie_tar


34 komentar:

  1. Terharu! Selalu menarik baca-baca pengalaman relawan KI ketika hari inspirasi. Masih banyak orang-orang baik yang tulus ya :)
    Ikut mendoakan yang terbaik untuk gadis kecil Dewi Khairunnisa, semoga apa yang dicita-citakan kelak bisa terwujud. Aamiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih doanya, Mbak Dee. Jadi pengen balik ke sono lagi nih :)
      Pokoke KI itu amazing tenan <3

      Hapus
  2. Uapikkk, Tar... Moga2 cita2mu tercapai, Dik Dewi. Aamiin...ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih banyak, Mbak Ira :)

      Hapus
  3. Terinspirasi ama dirimu pasti mbak, semoga tercapai cita2 nya gadis cilik itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku mah apa atuh, Mbak. Aamiin makasih doanya, Mbak :)

      Hapus
  4. Subhanallah :') jadi foto anak itu diambil pake HP teman ya mba?

    BalasHapus
  5. Menjadi inspirasi bagi orang lain itu sesuatu ya Mbak. Semoga Dewi bisa meraih cita-citanya. Sukses jg buat Mbak Lestari ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Sukses juga buat mbak yaa <3

      Hapus
  6. Pengin deh merasakan pengalaman seperti Tari dan guru2 Kelas Inspirasi itu.
    Semoga cita-cita Dewi terwujud kelak, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayok ikutan KI di Jatim, Mas. Pantengin terus timelinenya :)

      Aamiin. Makasih doanya, Mas :)

      Hapus
  7. Taroo cucok dah jadi ibu guru, bikin TK po Tar, ntar Thifa kusekolahke sana, kupasrahkan padamyuu hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha doooh berat kiiiii. Nek wis dipasrahke ki urusane abot :p

      Hapus
  8. taroo so inspiring, ayoo buka sekolahan ajaa..calon muridnya dah akeh tuh hahaha..*lirik nai alde thifa hana ali...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga kelak bisa buka sekolah, Maaakk. Wah kalau muridnya mereka ntar diajakin plesiran muluk sama gurunya wkwkwkwk :p

      Hapus
  9. Tari......aku terharu T_T

    Kamu memang menginspirasi!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Rien juga tak kalah menginspirasi :)

      Hapus
  10. semoga cita-citanya tercapai yah,, semangat terus pantang menyerang

    BalasHapus
  11. Uhuk..... Kamu memang menginspirasi Tarie, Lanjutkan semangatmu dalam kelas Inspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halah aku mah cuma sebutiran debu :)

      Terima kasih supportnya, Mamak Indiahe

      Hapus
  12. Ahhhh... merinding bacanya. Dunia volunteering membawa kita pada penemuan2 yang kadang tidak kita duga yang membahagiakan, mungkin tak berwujud benda atau uang, tapi nilainya tak terukur, priceless. Aku menyebutnya sebuah kemewahan yang tak dapat daya beli dengan uang. Masih banyak orang hebat di luar sana, tari... aku hanya serpihan roti di kaleng Khong Guan hehehe. Tapi apapun itu, kamu perempuan hebat, bangga bisa mengenalmu. Tabik...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaahhh, aku masih jauh dari hebat kali, Mak. Masih sering up down kek kincir angin. Mamaklah yang menginspirasiku terus belajar berbuat baik dan menekuni bidang ini. Dirimulah roti istimewa di kaleng Khong Guan :)

      Betul sekali, Mak. Dakuw sampai termehek-mehek sendiri. Nggak bisa diulang tapi selalu membekas :)

      Hapus
  13. Hiks.. mewek aku Mba... :'(

    Pengen deh ikutan KI ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayuk ikutan KI Semarang #2, Mbak :)

      Hapus
  14. Widiiiiw.. Mbak Fajar ngehits ya di KI manapun :D
    Selalu menginspirasi ya mbak Tarie!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenal juga sama Mbak Fajar? Hihi emang doi itu ngehits :)

      Selalu menginspirasi juga, Mas. Salam kenal :)

      Hapus
  15. Wah senangnya bisa menjadi iinspirasi bagi calon generasi muda nih ^^

    Salam kenal ya, sudah follow juga ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah malu aku disebut begitu. Hehehe salam kenal juga, Mbak :)

      Hapus
  16. Ikut terharu bacanya...
    Izin follow blognya, ya. Yuk saling follow :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah follow, Mak. Salam kenal. Siap mampir yaa.

      Hapus
  17. you never know ya mba...mudah-mudaha cita-citanya tercapai, apapun itu kelak..dan dirimu sudah menjadi inspirasi baginya dan banyak anak :)..keep up the good work..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin :) Semoga Allah menuntun mereka sesuai harapan itu, Mbak :)

      Hapus