Sabtu, 13 Juni 2015

Kuliner Blora yang Ngangeni

Empat tahun yang lalu...

“Asal mana, Mbak?”

“Blora”

“Owh. Blora yang masih banyak pohon jati itu, ya?

“Iya betul”

“Jauh banget, ya. Emang ada kendaraan sampai sana...”

*keluar siung*

Beberapa bulan lalu...

“Tar, aku mau ikut donk kalau kamu mudik?”

“Serius? Rumahku jauh banget loh. Masih ndeso banget. Banyak pohon jati pulak”

“Seriuslah. Emang wajahku keliatan bo’ong gitu? Pengen main dan kulineran gitu”

“Oke. Semoga waktunya cocok”

“Sip”



Kenangan empat tahun lalu kala saya pertama kali menginjakkan kaki di perantauan terkadang membuat geli dan miris. Tempat saya lahir dan besar memang nggak begitu banyak dikenal orang. Blora, sebuah kabupaten paling timur provinsi Jawa Tengah memang ngetop dengan pohon jatinya. Ada salah satu kawasan yang memang menjual aneka hasil olahan pohon jati. Siapin duit atau mau ngiler liat aneka barang yang artistik. Selain itu Blora lebih terkenal dengan kesenian "ledek". Ya, pertama kali merantau dan menyebutkan Blora sebagai daerah asal, beberapa orang yang pernah menetap di sana pasti ingat kesenian satu itu. 

Lalu apa yang membuat miris?

Beberapa orang yang pernah bertemu dan ngobrol dengan saya pasti tanya "Blora itu mana tow?" Ketika saya menyebutkan "Cepu", mereka akan mengangguk bak burung kutilang alias paham. Cepu memang lebih maju dan terkenal dibanding Blora. Padahal Cepu hanya sebuah kecamatan. Wilayah ini lebih maju pesat karena ada perusahaan migas. Kemajuan ini diiringi dengan biaya hidup yang jauh lebih mahal dibanding kabupaten Blora.

Gegara nggak begitu terkenal dan jauh dari jangkauan orang, saya sering minder kala ditanya daerah asal. Padahal harusnya bangga donk ya. Entahlah. Saya sering berfikir, apa yang bisa dibanggakan dari kabupaten kecil di ujung timur Jawa Tengah ini. Tempat wisata minim, cuaca panas, kuliner nggak begitu banyak. Sekali lagi apa yang bisa saya banggakan?

Berkah berkomunitas dan mengenal orang dari berbagai latar belakang perlahan mengubah pemikiran picik itu. Bukan seharusnya saya minder. Justru saya harus bangga dengan kota kelahiran saya. Sayalah yang harus mengenalkan pada mereka tempat saya lahir dan besar ini.

Perlahan saya mulai belajar mengenal kabupaten sendiri. Yes, dulu saya anak rumahan. Jarang keluar kalau memang nggak ada ijin resmi plus ada teman. Muehehee. Taat banget, kan? Bertahun-tahun merantau membuat saya sering kangen sama kuliner khas Blora. Sedangkan kesempatan mudik hanya sebulan sekali, itupun kala weekend tiba. Jarang banget bisa di rumah dalam jangka waktu lama. Sebisa mungkin memaksimalkan waktu untuk tetap bernostalgia dengan kulinernya.

Ini nih kuliner yang bikin kangen sampai termehek-mehek ala indiahe kalau belum mudik.

1. Nasi Pecel

Entah mengapa rasa nasi pecel Blora tuh beda dengan daerah lain. Kalau boleh bilang sih enggak ada yang bisa nandingin gitu. Bumbu kacangnya lebih kental dan bersih. Untuk sayur biasanya ada taoge dan daun ketela rambat. Berbeda dengan tempat lain yang dicampur aneka sayur lain. Hihi. Yang pasti dan paling penting sih harga murah meriah. Sebungkus nasi pecel dihargai Rp.3.000,- saja loh. Gimana masih murah meriah kan? Hal unik lain, nasi pecel nggak hanya sebagai santapan sarapan, tapi juga untuk makan malam. 
  

Nasi Pecel Blora. So Nyummyyyyyy....
Jika ingin sarapan nasi pecel, cobalah berburu ke Pasar Jepon atau Pasar Blora. Di pasar tersebut ada sentra penjual pecel dengan aneka lauk pauknya. Dijamin pasti ngiler. Sedangkan jika ingin mencicip pecel di malam hari bisa datang di Pasar Jepon bagian luar. Tepat berada di samping jalan raya arah ke Cepu. Sekawanan penjual pecel dan aneka olahan makanan lain berjajar di sini. Tinggal pilih-pilih, makan dan jangan lupa dibayar. Hehehe. Para penjual ini mulai buka dari jam 5 sore sampai dini hari. Tergantung habis tidaknya jumlah jualan. Nasi pecel cocok dinikmati dalam kondisi masih hangat dengan lauk tempe goreng. Bisa juga sih dengan sate, telor dadar, bakwan jagung atau sayur, rempeyek atau kerupuk. Tapi menurutku paling pas ya tempe goreng.

2. Lontong Tahu Blora

Sekilas makanan ini memang mirip dengan daerah lain. Tapi menurutku tetap beda. Terutama cita rasanya. Seporsi lontong tahu terdiri dari beberapa potong lontong, tahu putih, taoge, sledri, bawang goreng dan sambal kacang. Lontongnya begitu lembut dan empuk. Bumbu kacangnya baru diulek ketika kita pesan. Sama halnya tahu yang digoreng saat itu juga. Semua serba fresh! Seporsi lontong tahu bisa dinikmati dengan merogoh kocek Rp.8.000,- saja loh. Sudah pasti dijamin ketagihan. Kalau mau nambah lauk biasanya ada tempe goreng, rempeyek dan kerupuk. 

Lontong Tahu "Mas Noor"
Tiap kali mudik saya gemar ngemil warung Lontong Tahu "Mas Noor", yang berada di Jalan Tentara Pelajar No. 5. Warung ini merupakan cabang dari Lontong Tahu Pak Dasrip, yang berada di Jl. RA. Kartini No. 55 Kunden, Blora. Jika Pak Dasrip buka dari sore hingga malam hari, Mas Noor buka dari pagi hingga siang. Jarak dari rumah yang lumayan membuat saya memilih Mas Noor saja. Yang paling saya suka di sini warungnya bersih, berada di komplek pusat kuliner yang asri. Paling penting lagi penjualnya ramah banget. Hehehe.

3. Sate Ayam Blora

Nah, makanan satu ini emang punya ciri khas tersendiri dari sate di daerah lain. Enggak ada yang nandingin deh. Berkat sate, Blora juga terkenal loh. Coba tanya ke orang makanan apa yang pengen dicicipi, pasti jawabnya "sate"! Selain sate ayam ada juga sate sapi loh. Cuma si sapi kalah ngehits sama ayam gitu. Hehehe.

Sate Ayam Pak Teguh. So glek glek glek!
Sate ayam Blora bisa dijumpai di kawasan sate samping alun-alun. Atau lebih tepatnya di seberang pasar Blora. Di sini ada beberapa penjual sate yang cukup ramai setiap hari. Tapi wajib rasanya nyicip sate ayam Pak Teguh di jalan Pemuda No. 25 Blora. Warung ini memang cukup terkenal seantero jagad. Kalau dilihat dari penampakan sih warungnya sederhana banget. Bahkan bisa dibilang cukup kecil untuk ukuran warung yang terkenal ini.

Ada beberapa pembeda sate ayam Blora dengan sate lainnya. Pertama, jika sate pada umumnya seporsi disajikan dalam sepuluh tusuk, sate Blora akan disajikan sepiring penuh dan baru selesai dibakar. Jadi saat datang enggak perlu bilang berapa porsi, cukup duduk manis dan ngomong mau makan sate. Nggak usah heran tiba-tiba ada yang nambahin sate pas lagi asik makan. Itu juga bayar, enggak gratisan. Penjual akan otomatis nambahin sate ketika piring satenya kosong. Tandanya ketagihan, kan? :p Kedua, sate ayam Blora disajikan dengan lontong atau nasi yang bertabur bawang goreng. Ditambah saus kacang dan kuah opor dalam piring tersendiri. Tinggal sesuka kita mau meramunya kek gimana. Bumbu kacangnya begitu lembut di lidah. Cocok untuk menghabiskan bertusuk-tusuk sate :D Ketiga, harga sate ayam Blora tidak dihargai per porsi tapi per tusuk. Jadi jangan sampai itu tusuknya dibuang yaa, apalagi diumpetin. Usai makan tata rapi lagi tusuknya. Hitung berapa jumlah tusuknya dan bayar. Satu tusuk sate ayam dihargai Rp.1.800,- 

4. Soto Kletuk

Saya suka semua soto daerah lain, kecuali soto kerbau. Empat tahun merantau di Kudus, belum pernah sekalipun nyicip soto kerbau. Saya geli ngebayangin badan kerbau yang montok ginuk-ginuk. Hiiiiiii. Kalau saya ngomong gini pasti temen akan ngomel lima hari lima malam. Nggak terima! Hahaha. Lha abisnya mau gimana, tiap mau ke warungnya tenggorokan langsung kek mampet. 

Sebagai penggemar soto, enggak afdhol kalau belum mencicipi kuliner kota sendiri. Soto Kletuk namanya. Ini juga salah satu makanan yang paling nganenin saat nggak mudik. Sedihnya enggak bisa dijumpai di kota perantauan sekarang. Apa saya buka cabang , ya? Hehehe.

Soto Kletuk RM Gajah
Soto Kletuk disajikan dalam mangkok besar. Ya, tepatnya mangkok mie ayam deh. Enggak kayak soto Semarang yang irits itu. Mangkoknya mungil banget. Hihi. Semangkok soto Kletuk terdiri dari nasi, suwiran ayam, taoge, bihun, kucai, bawang goreng dan telor ayam. Disiram kuah kaldu ayam dan ditaburi semacam pilus tradisional. Pilus itu yang disebut kletuk. Terbuat dari singkong kukus yang dipotong kecil-kecil dan digoreng hingga matang. Saat dimakan memang akan berbunyi "kletuk, kletuk, kletuk"

Soto Kletuk juga dilengkapi dengan tempe goreng, bakwan jagung dan kerupuk. Seporsinya dihargai Rp.8000,- saja. Dijamin enggak kemahalan. Jika sedang bertandang ke Blora dan ingin mencicipi Soto Kletuk, bisa datang ke Rumah Makan Gajah di jalan Pemuda No. 1 Blora. Tepatnya berada di pojok sebelah timur alun-alun persis.  Rumah makan ini bersih dan rapi banget, pelayan dan pemiliknya juga ramah. Di rumah makan ini kita bisa memilih, mau makan di rumah makannya atau di anjungan penjualnya langsung. 

Jika ingin menikmati Soto Kletuk yang lain bisa datang ke perintisnya langsung, Soto Kletuk Pak Galo. Warung yang berdiri sejak tahun 1997 ini beralamat di Jalan Gunung Sindoro  No. 1C, Blora.

Walapun kesempatan saya di rumah sangat mepet, sebisa mungkin keempat makanan itu ada yang dicicipi. Kalau toh nggak ada, nanti pas mudik lain waktu harus didobel. Muehehe.


Salam,

@tarie_tar

20 komentar:

  1. Baru tau kao Cepu itu nama kecamatan. Kirain Kabupaten jg Mbak. Aku jg suka banget sama soto, gambarnya bikin ngecezz :D

    BalasHapus
  2. Soto kletuk kayaknya enak tuh, belum pernah nyobain euy. Kebetulan ada sodara di daerah Randu dan pernah naik motor dari Randu ke Blora ama temen. Hampir semua yg dilewati hutaaann...antara seneng, bosan dan takut, apalagi pulangnya malam. Ngeri boo...

    BalasHapus
  3. soto kletuknya kyknya seger bgt ya mbak...mksh dah follow blog sy :)

    BalasHapus
  4. Tarooooo.... ajak aku ke Bloraaa.. Aku mau nyobain soto kletuk ama satenya.

    BalasHapus
  5. Tantenya mas bagus ada di blora dan aku belum pernah kesana, plak! mau dong maiiin...

    BalasHapus
  6. Tariiiii, bawa aku ke Blora, pengen nyoba semua. Terutama Soto Kletuk, aku belum pernah nyoba makanan itu. Jalan di antara Pohon Jati kayaknya romantis xixixixi

    BalasHapus
  7. Sama dengan kota asalku Purworejo, kurang terkenal.....
    Kuliner Blora yang pernah di cobain cuma lontong tahu hihi...

    BalasHapus
  8. Pingin nyobain soto kletuknya, yummmyyy bangettt kayaknya

    BalasHapus
  9. Aku dulu ngiranya cepu itu kota sendiri ternyata malah bagian dr Blora ya mak hehehe...
    Betewe itu lontong tahu isinya apaan?pengeeenn

    BalasHapus
  10. panganane enak kabeh, bungkuske ya Tarooooo :)

    BalasHapus
  11. kalau lontong tahunya pernah nyoba yang milik Mbah Supi. Enak bangeeet :D
    Pernah bikin postingannya https://usemayjourney.wordpress.com/2015/05/12/lontong-tahu-blora-mbah-supi/
    Sate ayamnya juga enaak :D

    BalasHapus
  12. Soto Kletuk! Belum kesampaian makan yang iniii .. :(

    BalasHapus
  13. Eh seriusan cepu itu kecamatan ??? sumpah gw pikir kabupaten :-(

    BalasHapus
  14. Waduhhhh, Tar aku pikir Cepu itu kota gede... :(

    BalasHapus
  15. Memang ngangeni banget nih makanan-makanan khas Blora. Enak, yummy! :D

    BalasHapus
  16. Pingin lontong tahu mas Nur... foto mu asyik asyik Tarie, Berhasil membuatku ngiler :) asline yo doyan mbadok, hahaha

    BalasHapus
  17. Sama dong. Saya juga orang Blora.
    Lahir di Blora tapi besar di Jakarta.
    Saya bangga dengan kota kelahiran saya itu. Apalagi sekarang kalau malam di Blora sudah semakin ramai. Tidak seperti sekitar tahun 1998 - 1999, ketika saya sekolah di sana di STM Negeri 1 tunjungan. Saat itu di Blora kalau di atas jam 9 mlm sudah sepiiii.... Ha3x..
    Setiap sy mudik ke Blora, lgsg berburu kuliner sego pecel atau lontong tahu, dan itu hukumnya wajib buat saya. Wkwkwkwkkk...

    BalasHapus
  18. siti mujiati3 Maret 2016 22.48

    aq arek belitong,tapi aq klairan randu blatung.aq sring nang blora rong sempet nyobo sate seng enak,simbahq yo wong pelem bloro

    BalasHapus
  19. Lontong tahu nikmat banget...........
    Soto kletuk blm pernah nyoba.
    Sate ayam maknyus, bumbunya perpaduan bumbu kacang yg halus dan santan.

    BalasHapus
  20. udah dua minggu di cepu belom nemu makanan yg ada diatas :(

    BalasHapus