Senin, 29 Juni 2015

Terjebak Dalam Lingkaran "MLM"

Saya pernah beberapa kali terjun ke dunia MLM. Pernah merasakan suka dukanya merekrut member, ngejar target, kenalan apa itu tutup point. Enggak lupa juga, saya juga pernah merasakan yang namanya nyetok barang. Enggak dijual tapi dipakai sendiri. Ini sih gegara mau tutup point dan downlinenya enggak nutup-nutup. Alhasil ditutup sendiri. Hahaha. Geje banget, kan? 

Dulu, saya optimis bisa melakoni bisnis MLM dengan baik, tanpa halangan suatu apapun. Tapi nyatanya nggak lama, sayapun tumbang di tengah jalan. Banyak faktor yang membuat nafas saya senin kemis. Kembang kempis seperti ikan yang terlempar ke daratan. Hidup segan mati tak mau. Saya memilih hidup dan melepas nafas tanpa embel-embel bisnis MLM lagi.

Lalu gimana selanjutnya? 

Damaaaiiiii. Perlahan saya mulai menyadari, nggak ada passion sama sekali di bisnis MLM. Saya orang yang cenderung pasif dan malu-malu kala harus merekrut member. Ada beberapa perasaan yang bercampur jadi satu. Muehehe enggak jiwa bisnis banget dyeeeh dakuwwww :D
Tuhan selalu mempunyai rencana terbaik. Rupanya saya belum boleh move on dari MLM. Pertengahan 2014, saya kembali terseret dalam kubangan MLM. Hanya saja MLM kali ini justru membuat saya jatuh cinta. Mendamparkan saya pada realita tentang arti gagal move on yang sesungguhnya. MLM inilah yang mengenalkan saya pada orang-orang berhati lembut dan peduli. Orang-orang yang sering membuat saya keder sekaligus minder. Mereka yang mengajarkan saya akan banyak hal. Tentang ketulusan, kepedulian, kasih sayang juga arti kekeluargaan.

"KELAS INSPIRASI"

Inilah MLM yang membuat saya selalu jatuh cinta berkali-kali. Alih-alih ingin menghindar tapi nyatanya saya nggak bisa. Program yang digagas Gerakan Indonesia Mengajar ini memang tersebar dari mulut ke mulut. Dari sosial media satu ke media lain. Dari sekadar saling mention antar teman. Sayapun dijebloskan kakak tercintah Dewi Rieka, penulis dan blogger yang juga menjadi relawan di Kelas Inspirasi Semarang #1. Thank you, Sista! Kamu bikin diriku gagal move on. Hahaha.

Ketika banyak yang bertanya "apa yang akan saya ajarkan? saya nggak bisa ngomong. saya belum pernah ngajar. saya takut ntar krik krik di depan kelas. saya bla bla bla..."  Ijinkan saya menjawab "semua itu nggak akan sebanding dengan apa yang didapat nanti"

Jangan dikira saya dulu enggak kalah stress saat menjadi relawan pertama kali. Menyiapkan semua ubo rampe di tengah rutinitas kerjaan nggak gampang. Belum lagi diskusi hanya dilakukan via whatsapp. Menjelang hari H, tingkat kestressan semakin bertambah. Hahaha. Saling bercerita gimana persiapannya malah makin bikin down dan stress. Seharusnya makin semangat donk, ya? Saya mah orangnya gampang keder. Muehehe. Saya belum pernah ngajar anak kecil. Dari dulupun saya nggak pernah bercita-cita jadi guru. Nyatanya sekarang saya merindukan sebuah kesempatan menjadi guru. It's amazing!

Tantangan lain adalah persyaratan yang "mewajibkan" cuti. Beruntung saya mempunyai atasan yang kooperatif. Ngerti banget kalau staffnya yang satu ini suka kluyuran nggak jelas. Saya diijinkan dengan senang hati. Sehari sebelumnya saya diusir dari kantor, gara-gara dari pagi ijin kerja setengah hari. Sedangkan jam 2 saya baru beneran ijin. Hahaha. Bahkan saya berkonsultasi gimana cara ngajar, materi yang cocok dibawakan, juga properti ngajar. Sekarang atasan saya sering tanya "Kapan ngajar lagi, Tar?"

Jatah cuti memang berkurang, bahkan mungkin yang luar kota harus cuti 2 hari. Tapi sungguh apa yang didapat sebanding dengan itu semua. Kawan baru, keluarga baru, pengalaman juga melihat sendiri potret pendidikan negeri ini. Tentang besarnya sebuah cita-cita, harapan dan masa depan yang terbelenggu dalam kubang ketidakberdayaan. Anak-anak itu seharusnya bisa tapi keadaan memaksa mereka mengubur mimpi-mimpinya.

Seringkali saya mewek sendiri kala memandangi foto-foto mereka. Saya masih teringat betul bagaimana antusias dan semangat dari wajah polos itu. Rasa ingin tahu yang begitu besar jelas terpancar dari sinar matanya. Okelah, saya memang penganut paham lebayatun kok. Abaikan kalau nggak berkenan, ya :D

Tapi selanjutnya ijinkan saya bertanya...

Apa yang terasa kala mereka berlarian dan menyambut kedatanganmu sambil berkata "Ibu, ibu masuk di kelas saya?" atau "Ibu, saya bantu bawakan tasnya, ya?"

Bagaimana perasaanmu saat jam berakhir mereka memeluk dari belakang dan berkata "Ibu, kapan datang ke sini lagi?" atau "Ibu, jangan pulang sekarang. Di sini dulu yaa"

Tidakkah terharu saat salah satu diantara mereka menuliskan cita-cita sama persis dengan profesi yang kamu kenalkan?

Tidakkah kamu merasakan getaran semangat yang terselip diantara keterbatasaan?

Tidakkah meleleh kala tubuh mungil berbalut seragam merah putih itu tersenyum malu-malu melihatmu masuk kelas?

Merekalah yang membuat saya jatuh cinta berkali-kali. Merekalah yang menyeret saya dalam kubangan positif ini. Merekalah yang membuka mata saya tentang arti rasa empati dan simpati sesungguhnya. Thanks, kiddos!

Bagi saya Kelas Inspirasi bukan hanya sebuah komunitas. Melainkan juga sebuah rumah. Rumah-rumah yang perlahan tapi pasti mulai dibangun di seluruh daerah negeri ini. Rumah paling nyaman untuk singgah dari satu tempat ke tempat lain. Semua saling bersinergi untuk mengambil bagian untuk pendidikan negeri ini.

Bagi saya, Kelas Inspirasi ibarat sebuah bisnis MLM. Dia menawarkan hal yang berbeda dengan MLM lainnya. Semua saling bersinergi satu sama lain. Bergandengan tangan demi satu tujuan. Demi anak-anak Indonesia. Penyebaran dari mulut ke mulut, media ke media, semakin memperpanjang dan memperluas networking

Saya bersyukur bisa terjebak di Kelas Inspirasi. Jika enggak mana mungkin saya bisa mengenal orang-orang hebat di luar sana? Bagaimana mungkin saya tahu tentang potret pendidikan Indonesia? Bagaimana bisa saya mengerti tentang arti sepucuk surat dan kartu pos? Bagaimana mungkin saya bisa mendapat kawan baru yang luar biasa tangguh?

Dear Kelas Inspirasi,

Terima kasih telah memberikan segalanya. Semoga virus dan kerumunan positif ini terus menyebar hingga pelosok negeri. Semakin banyak merangkul para profesional di luar sana. Banyak orang-orang yang terpanggil tapi belum tentu banyak yang terpilih.

Dear Kelas Inspirasi,

Teruslah tumbuh dan menyebar seperti bunga dandelion. Melaju mengikuti ke mana arah angin bertiup. Tumbuh dan berbunga dimana angin berhenti. Begitu seterusnya. Tanpa pernah bosan dan berhenti.

Dear Kelas Inspirasi,

Bagiku kamu adalah rumah. Rumah untuk singgah, belajar dan berkreasi. Bukan pelajaran bangku sekolah tapi tentang arti saling memahami dan mengerti. Mengendalikan ego dan emosi. Kembali lagi semua demi satu tujuan untuk "anak-anak Indonesia"

"Saat kita menganggap komunitas sebagai sebuah rumah, saat itulah ada rasa memiliki. Dari rasa itu akan terdorong kembali. Kembali ke rumah tanpa pernah ingin pergi"

Salam,

@tarie_tar

14 komentar:

  1. Senang sekali bisa menginspirasi anak2 krn sesungguhnya kita sedang mengumpulkan semangat bagi diri sendiri juga.

    BalasHapus
  2. Salut banget buat para relawan ^^b
    terjebak MLM positif ya mba hehehe

    BalasHapus
  3. Pengen ikutan....kangen ngajar lagi

    BalasHapus
  4. Udah kliatan bakatmu mengajar anak2 kecil Taro. Makanya di komunitas kamu dikenal sbg baby sitter krucilnya emak2 hehehe

    BalasHapus
  5. Jadiiii guuuuuruuuu yoooo....
    Sukses kelas inspirasinya ^^ daridulu pengen ikut g jadi2 xD

    BalasHapus
  6. Udah Taro ganti haluan aja, anak-anak banyak banget yang ngefans dirimu. Jadi guru, jadi konsultan Komnas anak kayak yg di tipi itu :)

    BalasHapus
  7. Kelas inspirasi keren ya, mba. aku belum pernah ikutan yang di sini. :D

    BalasHapus
  8. Jadi guru itu memang asyik..apalagi klo murid2nya semangat energi itu pun menular ke gurunya. Eh tapi aku bingung klo ikut KS mo cerita apa..secara profesi guru mereka udah hafal..ga seru lah

    BalasHapus
  9. Saya juga pernah terjebak MLM, emang sih dari segi motivasi bisa bikin pede namun kejar target jualannya itu yang nggak kuku.
    Saya pengin deh terjebak di Kelas Inspirasi, moga tahun ini bisa ikutan di Malang, aamiin

    BalasHapus
  10. Mau juga terjebak DLM MLM jelas inspirasi

    BalasHapus
  11. Dulu pernah jadi manager di salah satu MLM tapi akhirnya saya mundur sampai lepas kememberan.

    BalasHapus
  12. terus berusaha menyampaikan ilmu yang bermanfaat untuk anak2 bangsa.... salut. tetep semangat ya ^ ^

    BalasHapus
  13. kurasa panggilan jiwamu jadi teacher taro...keliatan banget hepinya kamu berada diantara anak2...dan bercerita pada mereka...

    BalasHapus
  14. salut mba, lanjut terus inspirasi anak-anak bangsa!

    BalasHapus