Minggu, 06 September 2015

Inspirasi Anti Jam Karet dari Seorang Dokter Muda


Keterlibatan saya di Kelas Inspirasi Semarang #2 kali ini membuka sejuta wacana. Banyak hal yang ingin saya tuliskan. Tentang aneka tantangan dan inspirasi. Tentang arti sebuah komitmen. Tentang arti rasa tanggung jawab dan "memiliki". Juga tentang hal paling dasar sekalipun, "niat". Tetapi berhubung banyak agenda dan to do list yang harus segera dicentang jadi baru bisa nyicil satu per satu *alasyan :p

Sejak oprec panitia April lalu dan terbentuk kepanitiaan, rapat menjadi santapan mingguan. Bisa jadi seminggu sekali, dua kali, atau bahkan sehari bisa rapat dua kali! Tergantung berapakah jumlah ceklist yang harus diselesaikan dan dibicarakan *halah* Sebagai wakil koordinator sebisa mungkin saya mengikuti rapat semua divisi. Kalau memang nggak memungkinkan biasanya bergilir dengan koordinator. Jika terpaksa nggak bisa hadir, kami hanya bisa memantau lewat whatsapp dan meminta hasil rapat tersebut. Sok sibuk banget, kan? *digiles*
Saking seringnya rapat dengan berbagai macam divisi, saya menemukan satu hal yang selama ini mungkin dianggap biasa. Apalagi orang Indonesia sudah terkenal dengan yang satu ini. Terkenal dengan jam karet maksudnya. Kesepakatan rapat jam berapa dan datang jam berapa itu sudah menjadi hal yang lumrah. Padahal justru dari sanalah penilaian orang kepada kita berawal. Dari rapat ke rapat tersebut saya belajar tentang arti TEPAT WAKTU! Ya, sekali lagi TEPAT WAKTU. Rasanya saya tertampar dan malu, beberapa kali pernah telat datang rapat walaupun memang memberi kabar sebelumnya.

Kredit gambar dari gugel
Kali ini ijinkan saya menuliskan salah seorang panitia yang sangat begitu tepat waktu kala rapat. Ide menulis ini pun muncul kemarin sore, saat menghadiri acara Iaunching buku salah satu relawan kelompok kami. Bu Dokter Lulu, begitulah sapaan akrab kami di grup. Saya mengenalnya setahun lalu, saat kami sekelompok di KI Semarang #1. Hanya saja saya baru menyadari bahwa dia memiliki kelebihan saat sama-sama tergabung di lingkaran kepanitiaan.

Dari sekian rapat yang telah terlaksana, baik rapat divisi maupun rapat besar, Bu Dokter menjadi orang yang paling on time. Selalu menjadi orang pertama yang memberi kabar bahwa dia sudah di tempat rapat. Saya selalu melihat dia sudah duduk manis berdua dengan ransel hitam kesayangan. Menyuguhkan senyum terbaik dan wajah paling ceria kala yang lain berdatangan. Orang yang selalu menghabiskan menu pesanan pertama dan akan berlanjut ke menu-menu berikutnya :p Soal tanggung jawab enggak perlu diragukan lagi. Dia orang yang paling rapih dalam hal dokumen. Detil banget untuk yang satu ini. 

Saat ngobrol tentang on time dan enggak, ada beberapa point yang membuat saya tertampar berkali-kali. Rasanya saya belum pantas menjadi seorang wakil koordinator dengan melihat beberapa kali telat di meja rapat :(

1. Semua balik ke diri sendiri, kita mau jadi pribadi seperti apa?
2. Menunggu itu jauh lebih menjengkelkan
3. Jadilah orang yang "sersan", bisa pegang komitmen
4. Hargai diri sendiri sebelum menghargai orang lain
5. On time bisa jadi penilaian orang lain terhadap diri kita

Di tengah kesibukan sebagai dokter umum bolehlah saya angkat topi untuk dia. Masih menyempatkan waktu untuk tergabung kepanitiaan dengan komitmen yang luar biasa. Dialah contoh sosok leader yang sesungguhnya. Leader untuk dirinya sendiri. Tetapi secara nggak sengaja juga menjadi contoh bagaimana menjadi seorang leader yang baik untuk orang lain. Bukankah semua memang harus diawali oleh diri sendiri?

Bu Dokter Lulu mungkin hanya satu dari sekian orang yang berusaha menghapus "jam karet". Dia memulai hal itu dengan sederhana. Memberi contoh lewat dirinya sendiri tanpa banyak omong. Hingga saya terinspirasi untuk mengikuti langkah sederhana ini.

Jika memang nggak bisa on time datang di suatu rapat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan juga :

1. Kasih kabar kalau misalnya telat. Jangan nggak kasih kabar tapi datang seenak udel. Minimal peserta lain bisa mengestimasi waktu.
2. Pikirkan jika kamu telat. Rapat bisa dimulai tapi kamu nggak bisa menyampaikan aspirasi. Kamu bisa baca notulen tapi nggak bisa protes lebih lanjut.
3. Kasihanilah mereka yang komitmen on time. Mereka enggak nunggu pejabat yang ribet dengan aneka tata cara.
4. Semua peserta rapat akan memandang arah kedatanganmu. Ekspresi mereka berbeda-beda. Ada yang senyum (entah tulus atau enggak), sinis, cuek atau bahkan acuh tak acuh. Lebih ngenes, kan?
5. Jangan mem-PHP-in peserta yang lain. Jika nggak bisa datang bilang "nggak bisa" daripada bilang bisa tapi nggak datang. 

Terima kasih atas pelajaran ini, Bu Dokter. Semoga jam karet yang selama ini kita cipta sendiri akan tergerus perlahan. Selama ada usaha dan niat semua akan terasa mudah bukan?

Ini hanya contoh kecil dari sekian ribu inspirasi yang ada. Masih banyak hal lain yang ingin saya tuliskan. Mengulik hal kecil yang semoga bermanfaat. Jika kemarin saya menuliskan tentang sosok relawan pengajar, kali ini tentang sosok relawan panitia, lalu siapakah berikutnya?


Semarang, 06 September 2015
Salam,

@tarie_tar





12 komentar:

  1. jma karet ala Indonesia ini seolah menjadi darah daging ya Tar.
    Kalau ada yg telat kayaknya sepele, gpp, padahal sudah merugikan orang lain.
    Andai semua orang ingat bahwa waktu ak akan pernah kembali *boboklagi

    Aku suka ranselmu :)

    BalasHapus
  2. aku masih jam karet walau nggak parah2 banget lah hihihi kudu beangkat lebih pagi nih dari atas gunung hehe

    BalasHapus
  3. Sering kebawa tuh kebawa kemari tradisi ngaret kayak gitu... Ada dosen pernah ngamuk2 gegera beberapa teman mahasiswa setanah air, dah janjian ama beliau, eh mending telat, ini gak datang, gak ngabari pula... ira

    BalasHapus
  4. Aku lebih suka menunggu darai pada di tunggu #eeap

    BalasHapus
  5. Salam buat bu dokter Lulu. Teladan yang baik :)

    BalasHapus
  6. Mulai berbenah diri, saatnya tepat waktu :)

    BalasHapus
  7. Berarti mengajarkan tepat waktu itu harusnya sedari anak-anak ya, supaya mereka terbiasa datang tepat waktu ga jam karet :)

    BalasHapus
  8. Err .. di negeri ini, on time koq susah ya *halah, excusenya "kebesaran" inih :D*
    Sungguh bu dokter yang inspiratif ya, terima kasih sudah sharing

    BalasHapus
  9. Menunggu itu jauh lebih menjengkelkan, itu yang ada dipikiran semua orang. makanya gak ada yang mau nunggu dan memilih untuk telat agar tidak terlalu banyak membuang waktu

    BalasHapus
  10. Aku tuuuhh suka banget berangkat telat... orang penting wannabe wkwkwkk....

    BalasHapus
  11. aku salah satunya hehehe selalu ngaret kalot mau berangkat :)

    BalasHapus
  12. Banyak kenal, banyak inspirasi. KI memang selalu sumber inspirasi dari sebuah kerumunan positif

    BalasHapus