Sabtu, 12 September 2015

Sehari Dua Kali Patah Hati di Kelas Inspirasi


Postingan akhir-akhir memang nggak akan jauh dari Kelas Inspirasi. Semoga sih yang suka mampir di sini nggak pernah bosan ya? *sok punya followers :p Pemilik blog jatuh cintrong nih sama Kelas Inspirasi. Katanya kan segala sesuatu itu berpasangan ya? Nah, kali ini lagi enak-enaknya jatuh cintrong, eh ada hal yang bikin patah hati. Retaaakk retaaakkk hati ini. Lakban tak mampu membalut hati yang udah retak berderak-derak. Tapi biarlah waktu yang akan menyembuhkan dan merekatkan kembali *halah*

Sebagai fasilitator, sudah menjadi kewajiban memastikan kehadiran semua relawan di Hari Inspirasi,  mengetahui seberapa jauh progress persiapan serangkaian opening closing, juga beberapa hal-hal kecil lain yang terkadang sering kelewatan. Apalagi biasanya hanya bisa diskusi via whatsapp. Bisa dibilang metode diskusi ini antara efektif dan enggak. Efektif secara waktu dan jarak. Semua jadi berasa dekat *cieeh. Enggak efektif jika ada yang nggak biasa diskusi via whatsapp, ujung-ujungnya bisa miskom! *kompres kepala* Tapi nggak menutup kemungkinan ada hal yang harus didiskusikan dengan tatap muka aka kopdar *misskopdar :p

Relawan mundur. Inilah yang membuat para fasilitator ketar ketir. Apalagi jika relawan mundur mendekati hari H atau bahkan hari H. Rasanya mau nangis deh. Gedabrugan mengatur kembali jadwal yang telah tersusun. Belum lagi tenaga juga jauh lebih terkuras. 

Patah hati kali ini dipersembahkan dua relawan yang begitu semangat harus mundur. Entah mengapa rasa sedihnya nggak ketulungan. Mungkin karena sudah terlalu berharap mereka bisa hadir di tengah-tengah kami. Ini bukan lagi mungkin tapi benar, Taro!

"Ayah Hadi mundur ya?"

Sebuah pesan dikirimkan salah seorang relawan di grup. Dua fasil yang abis begadang langsung nggak ngantuk dan gedabrugan cek email. Mendapati email Ayah Hadi tentang mundurnya beliau seketika meluluhlantakkan hati ini. Padahal sebelumnya abis telponan dengan Ayah dan seperti biasa beliau bercerita panjang lebar.

Masih ingat tentang Ayah Hadi dicerita sebelumnya? Kalau belum baca dulu deh di sini. Ayah Hadi, sosok inspiratif itu harus mundur karena ada hal yang nggak bisa ditinggalkan. Padahal semangat beliau sungguh luar biasa. Sayang memang tapi mau bagaimana lagi?

Mundurnya Ayah membuat dua fasil menggalau pagi-pagi. Mengingat bagaimana intensnya Ayah berkomunikasi selama ini. Mendengar pengalaman ikut KI, kegiatan mengisi waktu pensiun, semangat dan harapan besar untuk anak-anak, persiapan dan property bahan ajar, saran ke depan dan bahkan soal persiapan pernikahan anaknya. Asik banget kan ngobrolnya? Kalau ingat itu rasanya tersayat-sayat. Kangen ngobrol sama Ayah! :(


Kredit gambar dari google

Rupanya patah hati itu masih berlanjut. Kebetulan hari itu kerjaan lagi banyak, semua grup lagi diskusi, juga beberapa hal remeh temeh lain yang menyita waktu. Fokusku terpecah-pecah. Efeknya juga serampangan dan gampang kepancing emosi. Maafkan kalau kemarin ada yang kena semprot :p *sungkem

"Mbak mas, aku nggak boleh cuti sama bossku. Aku cerita jujur soal KI tapi tetep nggak boleh. Aku mundur :( "

Sebuah pesan nongol di grup. Berhubung nggak sempet nanggapin jadi tak cuekin dulu. Aku pikir nanti sajalah dibahas pas kopdar biar lebih enak. Rasanya aku orang paling oon sedunia saat kopdar. Kala itu aku lagi ngunyah sepiring spaghetti dengan penuh semangat '45. Kelaparan hebat usai seharian terkuras emosi dan tenaga memang membuat daya tangkap melemah. Rasa hambar langsung menyeruak saat melihat Kak Ross mengusap air mata. Gelas berisi strawberry smoothies langsung ikut memburam. Yang paling disesalkan saat liat Kak Ross malah bengong, bingung harus gimana. Bener-bener lagi konslet :((

Sepulang kopdar dua fasil kembali menggalau. Bukannya langsung pulang dan istirahat tapi malah bablas nyari wedang jahe. Bagus! Banyak hal yang kami diskusikan. Salah satunya tentang retaknya hati karena dua relawan mundur. Kami merasakan hal yang sama, patah hati :(

"Padahal kemarin pas kelompok lain pada lapor mundur aku ayem, Mbak. Kelompok kita masih aman. Lha ini malah mundur barengan. Gini rasanya patah hati dua kali. Sehari pulak!", ujar partnerku, Fibi.

Aku mengangguk. Ada hal yang sulit digambarkan. Aku melihat aura semangat luar biasa dari mereka. Tentang arti ketulusan untuk berbagi. Tentang sedikit kepedulian pada masa depan anak bangsa. Mereka mengulurkan tangan dengan sendirinya. Menyempatkan waktu sehari demi anak-anak. Mereka datang bukan diminta. Mereka datang atas dasar sukarela.

Sulit rasanya buat move on. Mengingat semua kenangan selama dua minggu terakhir. Pendek memang waktu kita bersapa ria. Hanya saja karena satu alasan kami klik dan tak ingin terpisah.

Ayah Hadi, Kak Ross, sampai jumpa di Kelas Inspirasi selanjutnya. Tetap menginspirasi di manapun itu :)


Semarang, 12 September 2015

@tarie_tar


8 komentar:

  1. Cerita tentang KI, apapun itu... selalu mengharu biru.. nggak cerita senengnya, cerita sedihnya, semua pasti bikin hati meleleh...
    Tetep semangat yaaa.. ;)

    BalasHapus
  2. Cerita tentang KI, apapun itu... selalu mengharu biru.. nggak cerita senengnya, cerita sedihnya, semua pasti bikin hati meleleh...
    Tetep semangat yaaa.. ;)

    BalasHapus
  3. Mengharu biru. Teteup semangat kakak, tetap menginspirasi. Ketulusan untuk berbagi.

    BalasHapus
  4. Mereka mengulurkan tangan dengan sendirinya. Menyempatkan waktu sehari demi anak-anak. Mereka datang bukan diminta. Mereka datang atas dasar sukarela. <--- *mata lope lope*


    Semangat adeeeek!

    BalasHapus
  5. Semangat terus untuk mengajar mba Taro :)

    BalasHapus
  6. penasaran mau gabung KI jugaa.. sukses ya tariii selalu bersemangattt!!! <3 <3

    BalasHapus
  7. Mungkin hatinya belum terpanggil, doakan saja hatinya terpanggil, karena siapa lagi yang memajukan pendidikan indonesia kalau bukan kita :D

    BalasHapus