Senin, 09 November 2015

Kenali Diri Demi Cegah Kanker Sejak Dini

Kenali Diri Demi Cegah Kanker Sejak Dini

Untuk bercerita tentang hal ini butuh keberanian dan keleluasaan hati. Saya pernah menuliskan tentang ini dengan termehek-mehek. Rasanya campur aduk. Nggak kebayang gimana rasanya teman-teman yang tengah divonis menderita kanker :( Saya yang tumor jinak aja udah down luar biasa. Terkadang ada perasaan takut yang menguasai. Saya takut kehilangan teman-teman baik. Saya takut sahabat tak lagi mau mengandeng kala tersungkur.  Bahkan sempat terbersit, akankah seseorang mau meminang saya dengan kondisi seperti ini? Hahaha. Cetek memang pemikiran saya. Plus saya masuk dalam golongan menye-menye alias gampang mellow *halah. Padahal jelas bahwa jodoh, rejeki dan maut telat digariskan. Siapapun tak akan bisa menolak.

Jika seorang sahabat pernah berujar “waktu yang akan mengikis semua” itu benar adanya. Saya belajar dan menempa diri bersama waktu. Melihat beberapa teman yang diberi kanker bisa survive, kenapa saya enggak? Belum lagi seorang sahabat yang setia menemani saat mengetahui vonis ini. Menemani bukan berarti harus selalu berada di samping kita. Walau jauh tapi cukup intens bertukar pesan. Sekadar mengingatkan minum jus apa, pamer masakan, nyetok buah dan sayur, atau ajakan jalan bareng. Hihihi.

Sebagai penderita tumor payudara, potensi menjadi kanker memang ada. Istilahnya sudah ada bibit yang ditanam. Menjaga bibit-bibit agar tak tumbuh itu butuh perjuangan besar. Saya sampai terseok-seok untuk mematuhi komitmen diri sendiri. Terkadang patuh tapi beberapa kali melanggar. Apalagi saya, gadis kantoran seringkali diserang rasa malas yang keterlaluan *nyari kambing hitam :p. Malas belanja buah dan sayur, malas olahraga, tak bisa menolak traktiran, berbinar-binar kala menerima oleh-oleh, gampang tergoda ngangkut cemilan dari supermarket kala bete. 

Sejak vonis dan operasi yang sudah berjalan tahun lalu, saya mulai mendisiplinkan diri. Sekadar menerapkan hal-hal sederhana. Walau kadang banyak yang protes. Kenapa begini dan kenapa begitu. Jawaban itu cukup singkat “saya masih ingin sehat!”

Disiplin akan hal apa?

Positif thinking. Ini itu gampang-gampang susah loh. Enggak semua orang bisa menerapkan dengan legowo. Dulu pertama divonis aja saya termehek-mehek dan down berbulan-bulan. Masih ada perasaan nggak ikhlas. Seiring berjalan waktu saya mulai memahami, bahwa ini cara Allah menyayangi. Tak perlu risau. Bukankah segala sesuatu diciptakan berpasangan? Sakit pasti ada obatnya donk! Diluar rasa sakit, saya menghalau pikiran-pikiran negatif. Pokoknya mengedepankan positif thinking.

Be happy. Masuk dalam kategori golongan menye-menye, saya tuh gampang sekali mewek. Ada masalah dikit, kepikiran, lalu mewek. Sekarang? Belajar menjalani sesuatu dengan happy. Mengerjakan kerjaan semampunya tapi tak lupa akan tanggung jawab. Happy bukan berarti mengerjakan sesuka hati, kan? Kalau kata temen sih “dilakoni karo mlaku”

Jaga asupan makanan. Ini sangat-sangat penting! Sejak divonis dan operasi saya mulai beralih jadi pemilih makanan. Dulu suka makan sembarangan, sekarang mau makan pasti ribut nggak mau ini dan itu. Dulu nggak terlalu peduli soal pentingnya asupan buah dan sayur, sekarang saya mewajibkan keduanya setiap hari. Bahkan saya suka ngemil brokoli dan wortel rebus. Kalau malasnya lagi minggat sempet juga bikin jus. Dulu saya gemar makan daging ayam, sekarang kalau nggak ayam kampung nggak mau makan. Pelan-pelan saya menghapus aneka daging dari daftar makan. Lebih memilih golongan ikan sebagai gantinya. Saya menyiasati saat bepergian, mencari makanan yang “wajar” alias masih bisa ditolerir. Saya gemar mencicipi makanan khas, tetapi ketika di rumah saya harus menghajarnya dengan asupan buah dan sayur lebih tinggi. 

Say no to mie instant dan junk food. Mau tahu berapa kali saya makan mie instant dan makanan cepat saji? Kalau nggak salah ingat setahun ini saya sekali makan indomie dan sekali makan ayam cepat saji, dua kali makan burger. Ketiganya saya lakukan dalam kondisi kepepet. Secara waktu dan kondisi memang sangat mendesak. Demi para cacing, saya nekat dan ujung-ujungnya nyesel. 

Emang nggak tergoda sama mereka? Sungguh tergoda bangeeetttt! Apalagi memasuki musim hujan begini. Sebagai mbak-mbak kantoran akan mager buat cari makan. Beberapa teman sudah pasti akan beralih ke mie instant dan junk food. Hiks. Saya mending makan di kantin walau menunya itu lagi itu lagi deh. Seringkali saya berdiskusi dengan diri sendiri. Dan...saya menang! Nggak tergoda buat makan mie instant dan junk food!

Stop MSG. Kebanyakan orang memang memberi MSG pada masakan adalah wajib. Saya pernah mengalami hal itu. Dimana saya belum sreg kalau belum menaburkan MSG pada masakan. Sekarang saya orang pertama yang akan komen soal MSG di warung makan. Jika warung bakso atau soto, sudah pasti saya pesen non MSG. Lho katanya stop daging? Iya sesekali ada masa khilaf. Hahaha. Jika di warung makan, saya gampang mengenali masakan tersebut menggunakan MSG atau tidak. Saya paling gampang pusing jika makan makanan berMSG. Yang menyebalkan pusing akan datang dalam selang tak beberapa lama.

Kurangi cemilan instant. Dulu saya hobi ngemil. Sewaktu belanja bulanan sudah pasti cemilan nggak akan ketinggalan. Sekarang masih nyemil tapi sudah bisa membatasi. Jika tergoda untuk membeli cemilan A, pasti akan saya berlama-lama di supermarket hanya untuk berdiskusi dalam hati. Beli enggak beli enggak. Saya benar-benar membatasi soal cemilan. Lebih baik mengalokasikan duitnya untuk buah dan sayur daripada cemilan instant. Jika teman membawa oleh-oleh saya mengingatkan tangan dan mulut tidak serakah.

Sadar diri. Hanya kita yang akan mengenal dan memahami siapa diri ini. Jika sudah tahu punya suatu penyakit, sebisa mungkin menghindari makanan pemicu penyakit tersebut. Saya terkenal sebagai orang yang pemilih soal makanan. Ini nggak mau. Itu nggak mau. Maunya yang sehat-sehat saja. Tapi namanya mbak-mbak kantoran, seringkali dapat undangan makan siang. Nolak? Namanya undangan sebisa mungkin jangan ditolak. Saya tetap memilih makanan yang sesuai dengan aturan main. Repot? Kadang. 

Olahraga. Seminggu sekali saya mengikuti senam di kantor. Dulu sih ada temen jogging. Tapi sekarang udah pada absen. Ihik. Paling mentok jalan kaki. Olahraga juga berperan penting loh. Melawan rasa malas berolahraga yang butuh kerja keras. 

Jangan begadang. Alhamdulillah saya tipe orang yang gampang tidur. Nempel bantal dikit pasti udah molor. Saat dinas ke luar kota, selama perjalanan saya pasti bobok cantik. Saya orang yang sangat jarang begadang. Enggak kuat. Jika ada hal yang mendesak, lebih baik tidur dulu baru ngerjain. Pernah bisa begadang sampai jam 4 pagi, malam berikutnya saya nggak bisa melek sama sekali. Yup! Begadang memang tak baik untuk kesehatan. 

Sadari. Saya tak pernah tahu akan tumor payudara jika nggak nekat melakukan sadari. Usai menerima hasil lab, dokter mengatakan bahwa saya memang baik-baik saja. Wajar untuk gadis seusia saya. Tetapi sejak pindah kantor saya mulai melek, benjolan itu harus segera ditindak lanjuti. Kadang ada perasaan ngeri saat melakukan sadari. Apalagi jika sudah merasa ada benjolan. Rasanyaaa..... Tapi nggak mau kan kita terlambat tahu? Yuk lakukan sadari sejak dini. Nggak perlu takut. Jika ada benjolan segera ke dokter. Lakukan usg dan konsultasi pada dokter onkologi. 

Manusia memang hanya bisa berusaha, sedangkan Tuhan yang berhak menentukan segalanya. Mari bersemangat mengenal diri sendiri. Jika saya sudah belajar menerapkan prinsip-prinsip diatas, sekarang hanya bisa memasrahkan hasilnya. Apapun itu pasti yang terbaik. Walau terkadang ada rasa takut. Pelan-pelan saya tepis dengan doa-doa panjang. Saya melangitkan doa untuk sejumput asa dan impian yang telah terpupuk. Jangan sampai sebuah penyakit memporak-porandakannya. Katanya hidup adalah sebuah pilihan. Saya memilih untuk memupuk semangat agar terus bisa melangkah walau selangkah demi selangkah. Belajar hidup sehat. Agar kelak saya tak pernah menyesal. Bergabung dengan grup food combining Indonesia salah satunya. Walau enggak jarang saya sering ditanya kenapa mau makan aja repot. Bahkan ada yang bilang "hidup hanya sekali jadi harus dinikmati!" Saya hanya bisa mesem dan ngelus dada. Antara sedih dan miris. Bener, sejak mendapat teman si mamae dextra ini, saya menjadi orang yang lebih selektif dari biasanya.

Jangan pernah takut akan kanker! Dia bisa hilang, dia bisa tuntas, asal kamu mau dan mampu melawannya! Keberhasilan seseorang lolos dari kanker karena dia mempunyai semangat untuk hidup. Juga support dan pelukan dari keluarga, sahabat dan orang-orang sekitar. Bergaul dengan orang-orang dalam lingkaran positif juga memberi semangat tersendiri. Kamu tak pernah sendiri. 

Bagi yang sehat wal afiat, yuk belajar juga mengenali diri sendiri. Ternyata apa yang dikonsumsi berpengaruh besar pada diri kita loh. Kala sehat mungkin tak begitu menyadari. Saat sudah diberi sakit baru bisa merasakan dampaknya. Sehat itu dimulai dari hal-hal kecil dan itu dari diri sendiri dulu :)

Kampanye #finishthefight #gopink #breastcancerawareness



Salam, 

@tarie_tarr


13 komentar:

  1. tipsnya bermanfaat sekalii...dan aku tau rasanya beraaat dengan godaaan untuk tetap stay healthy :). Semangaaat ya mbaaa...mari kita selalu hidup sehat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat, Mbak! Iya susah dan berat bangeeettttt :)

      Hapus
  2. Aku kalo mi instant gk begitu suka, jd gk tergoda. Nah kalo ayam burger pizza dan sejenisnya itu, jarang makan juga bkn krn kurang suka, tapi ngga kuat duitnya. Wkwkwk... Jadi aman laah, dr kecenderungan mkn junk food. Hihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwwk aku kalau kepepet dan kondisi mendesak baru makan. Kalau nggak ya enggak :D

      Hapus
  3. Semoga sembuh total ya dan teteup semangat.

    hadew, merasa bersalah, kemarin tak ajak mbadok sembarangan. Yo wis, besok ketemua lagi, kita makan serba brkoli wae. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.

      Ora sembarangan nek kuwi. Tenang aja wis ada antisipasi :)

      Hapus
  4. Setuju, Tar... kesehatan itu mahal harganya. Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi? ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup. Nek wis loro ki nembe kroso ya, Mbak :)

      Hapus
  5. Wajar ketika rasa takut itu ada, Mbak. Tapi saya salut dengan semangatnya. hadirnya tulisan ini tentunya hasil dari proses ikhlas yang tak mudah. Salut! semoga teman-teman di luar sana yang menderita kanker bisa membaca ini, biar tertular semangatnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat karena ada teman-teman yang jauh lebih semangat, Mbak. Aslinya nulis sambil mewek-mewek. Hihi

      Hapus
  6. Sehat terus ya tarooo. Kapan2 kita jalan lagi menunya buah ajaaa hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Maaciiih. Nanti aku dibawain bekal buah yo :)

      Hapus
  7. klo saya, yg susah di hindari tuh MSG,, soalnya kita gak tau kandungan makanan klo jajan diluar.

    BalasHapus