Selasa, 17 November 2015

Ketika Semua Belum Terpuaskan


"Kita nggak akan bisa memuaskan semua orang"

Kata-kata itu tergiang-ngiang sampai sekarang. Dilontarkan oleh salah satu kawan saya di Kelas Inspirasi Yogyakarta 3. Kala itu kami sedang berdebat kusir soal pelaksanaan hari inspirasi. Banyak kepala. Banyak ide. Minim bertatap muka. Diskusi online memang tak jarang menimbulkan debat. Tapi nggak lama-lama kok debatnya, cukup beberapa jam lalu anteng lagi. Hehehe :D

Ide tulisan ini memang sudah bercokol lama. Cuma maju mundur cantik terus. Ragu. Seperti biasa kadang saya suka mikirin hal-hal yang seharusnya nggak perlu dipikirin. Alhasil nggak maju-maju tulisannya. Blog juga nggak update-update. Alhasil DA naik *sungkem sama yang DA-nya turun* Tapi nggak mau bahas soal DA kok. Biarlah dia naik turun, yang penting berusaha menjaga konsistensi buat posting dan bewe *kretekin jemari

Boleh ya sesekali curhat soal kantor? Semoga yang baca enggak bosan. Hehehe emang ada yang baca, Tar? Adalaaaaahhhh....aku sendiri :p

Bekerja di bidang pelayanan memang harus punya rasa legowo yang luar biasa. Kalau istilah jawa "dadi wong kudu dowo ususe". Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti "jadi orang harus sabar". Menginjak tahun keenam di kantor yang sama, rasanya pengalaman melayani baru seujung kuku. Apalagi perusahaan tempat saya mengais rejeki merupakan salah satu perusahaan monopoli di Indonesia. Mempunyai pelanggan sebesar 57,3 juta jiwa. Dimana notabene pelanggan tersebut tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tentu enam tahun belumlah cukup untuk merasakan manisnya di bidang pelayanan.

"Tar, listrik rumahku mati"

"Ini kenapa sih kok listrik mati terus?"

Sering banget pertanyaan itu nongol di whatsapp. Entah secara japri atau di grup. Saya nggak bisa bantu banyak. Lebih menyarankan untuk menelepon langsung ke call center. Sejak pindah ke kantor distribusi, saya memang cenderung kuper. Kerjaan sekarang lebih pada analisis data. Sesekalinya update soal info kantor paling dari email dan grup. Untuk informasi pemadaman dll kuasa dipegang penuh oleh unit-unit. Jadi mohon maaf ya kalau banyak pertanyaan malah saya lempar untuk menghubungi ke call center :)

Jujur, tulisan ini muncul karena beberapa waktu lalu baca komplain di twitter. Listriknya tiap malam mati dan berlangsung hingga beberapa malam. Emang sih tulisan di twitter itu halus tapi sebenarnya dalam dan menusuk banget. Saya yang baca aja langsung ngelus dada sapi. Antara geregetan dan pengen nyamber. Tapi otak saya berpikir rasional. Toh memang buktinya listrik beberapa malam berturut-turut padam. Perusahaan saya belum bisa melayani maksimal. Saya mau terpancing? Hhhmmmm...mending banyak istighfar :)

Bukan bermaksud melakukan pembelaan atau gimana ya, saya hanya menyarankan beberapa hal jika listrik di rumah padam. Saya juga sepenuhnya sadar kok kalau pelayanan perusahaan belum maksimal. Masih pontang panting sana sini :)

Telpon contact center 123. Responnya lama. Nggak diangkat beberapa kali telpon. Saya pernah juga baca yang beginian. Hehehe. Namanya juga orang ya. Sebenarnya sudah ada beberapa akses yang disediakan. Bisa via telpon (123), hanphone (kode area + 123), website (www.pln.co.id), email (pln123@pln.co.id), twitter (@pln_123), facebook (PLN 123). 

Dulu saya pernah diklat contact center 123. Iya, gini-gini saya mantan orang pelayanan loh. Empat tahun sudah saya berkecimpung dengan pelanggan. Mulai dari pelanggan yang suka ngamuk, ngeles sampai ganjen pernah saya hadapi. Saya tertegun saat salah satu petugas contact center cerita bahwa ada pelanggan yang suka komplain berjam-jam. Padahal SOP concact center nggak boleh matiin telpon duluan. Kebayang nggak panasnya kuping? Saya yang pernah dikomplain setengah jam aja udah geregetan luar biasa. Kadang kebablasan suka narik napas panjang di depan pelanggan. Hihi. Belum lagi SOP lain yang mengikat para call center. Mereka juga dikejar target. Nggak boleh begini. Nggak boleh begitu. Kalau melanggar bisa kena SP dan bisa dipecat. Makanya saya salut sama para call center ini :)

Pengaduan yang diterima para call center nanti akan diteruskan ke unit yang bersangkutan. Sesuai data yang diterima dari pelanggan. Jadi, saya sangat menyarankan data komplit ya. Sebutkan ID pelanggan, nama lengkap, alamat rumah lengkap (yang padam), ancer-ancer, nomor telepon. Emang nggak ada data basenya? Ada kok. Tapi data yang disebutkan ini sangat membantu :)

Datang ke unit layanan terdekat. Kalau malam-malam malas keluar. Pengennya telpon langsung nyala. Ya dikira petugasnya jin apa, sekali tring langsung nyala? Terkadang ada pekerjaan yang mengharuskan listrik padam. Menyalakan kembali juga butuh waktu. Apalagi musim hujan begini. Alam nggak akan bisa dilawan jika sudah berkehendak. Setidaknya dengan datang ke unit layanan terdekat bisa dapat info yang lebih akurat bukan? Unit juga menyediakan telpon gangguan kok.

Pantengin media sosial. Sekarang jaman serba canggih. Orang-orang bisa dengan mudah mengakses aneka media sosial via hanphone. Setahu saya jika akan ada pemadaman untuk pemeliharaan jaringan, akan ada pemberitahuan sebelumnya. Dulu, sewaktu saya di unit pengiriman surat manual kepada kepala desa masih dilakukan. Sekarang sebelum pemadaman dishare juga di media sosial, baik twitter maupun facebook. Jika memang belum ada mohon maaf ya :)

Jangan minta pertolongan yang bukan ahlinya. Ini loh yang sering terjadi. Saking nggak sabarnya nunggu petugas datang atau cari info, seringkali pelanggan menggambil jalan pintas. Tahunya listrik nyala aja gitu. Hehehe. Lebih baik nunggu petugas datang. Resiko meminta tolong yang bukan ahli bisa fatal loh. Ketika terjadi pemeriksaan dan ditemukan pelanggaran bisa kena denda. Besaran denda tergantung pada tingkat pelanggaran.

Memang pelayanan perusahaan saya belum sepenuhnya maksimal. Masih banyak PR yang harus digarap. Banyak yang harus diselesaikan agar seluruh lapisan masyarakat bisa menikmati listrik. Kalau baca note dari teman-teman di daerah perbatasan, saya hanya bisa berdoa dan angkat topi. Semoga mereka sehat dan tetap semangat melayani pelanggan.

Terkadang sedih melihat komplain pedas di media sosial. Di lain sisi saya seorang pelanggan. Saya bisa merasakan kesalnya saat listrik padam. Apalagi jika anak rewel, kepikiran alat elektronik yang akan rusak, hasil ngetik belum disave, masak belum kelar. Sungguh sempurna untuk komplain. Sedangkan saya sendiri juga bagian dari perusahaan monopoli tersebut. Dilema ya? Mau ngebelain siapa? :)

Tentu kritik dan saran sangat membantu perusahaan monopoli ini agar bisa berkembang, bertumbuh dan lebih maju.  Doakan kami ya bisa menyediakan jasa pelayanan yang lebih baik ya. Setidaknya para personil dari perusahaan tersebut bisa mengabdikan sisa hidupnya untuk melayani masyakarat hingga pelosok tanah air.

Lain waktu ingin cerita lebih banyak soal pelayanan. Sampai jumpaaaa...dadaaaahh!
Rulisan ini tanpa bermaksud menyinggung siapapun ya. Please nggak usah merasa tersinggung :)


Salam,

@tarie_tarr


22 komentar:

  1. Aku dari masuk pertama kali di perpus sampai sekarang di pelayanan terus Tar, 15 tahun Je! Udah puas ngadepin aneka macam mahasiswa-mahasiswi dengan berbagai karakter, emang bener harus sabaarrr he3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Semoga ke depannya makin sabar menghadapi tingkah polah aneka pelanggan ya, Mas :))

      Hapus
  2. Semangat mbak Tar, dimana2 pasti ada yg komplain. Dikantor kadang ada yg protes, bahkan nangis didepan saya karena bantuan belum cair. Lha saya cuma staf gabisa ngapa2in,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi kadang suka gemes sendiri, Mbak. Apalagi sekarang udah jamannya medsos :)

      Hapus
  3. "Kita nggak akan bisa memuaskan semua orang"
    Gak asing denger Quetos ini, tapi lupa dimana pernah denger'a

    yang sabar mba, nama'a juga kerja jadi seorang CS
    pasti banyak suka yang kompline :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyak betul. Menambah stok sabar :)

      Hapus
  4. Dari tulisan ini saya belajar untuk tidak mengeluh, apalagi mengeluh dan marah ama seorang CS (alhamdulilah blm pernah) dan gak mau juga. Saya menghargai CS juga manusia... klo listrik padam itu kendala teknik, bagian pelayanan deh yang kena.

    Yang strong ya mbak :D
    Semangattt and always happy blogging :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih supportnya, Mbak. Hehehe lama nih dakuw tak jumpa pelanggan. Kangen :D

      Hapus
  5. semua orang juga pernah mengalami keputusasaan seperti demikian, namun kembali semua dipasrahkan pada yang diatas sja untuk mencari solusi terbaik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap mbaaakk. Hihi kadang enggak sabaran sendiri

      Hapus
  6. ada yang komplain sampe berjam-jam? Berarti bukan saya pelakunya wkwkwk

    Kalau surat manual, beberapa kali rumah saya dapat. Tapi gak pernah tepat. Jadwal padam jam berapa, gak taunya malah hari yang ditentukan gak padam. Besok atau beberapa hari kemudian baru padam. Jadi percuma aja ada surat menurut saya, sih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyak. Ada mbaak. Pas ibuknya meninggal teman-teman datang ke sana.

      Hehehe makasih masukannya, Mbak.

      Hapus
  7. Yes, we can't please everyone. WE CAANNTTTTTT!

    BalasHapus
  8. Aq paling rajin tilpun 123 :D
    Dari sekian lama memakai listrik semarang termasuk jarang gangguan
    Menjelang musim hujan saja bbrp kali matlam dan itu cepet penanganannya.
    Operator jg jelasinnya baik mb, nyebutin jam brp mati dan area mana saja yg matlam bersamaan, sedang ditangani sejauh mana dan dimohon untuk bersabar.

    Publik servis mmg srg kena omelan, termasuk perawat jg kadang kena berbagai masalah yg sbnrnya bkn masalah perawat
    *loh malah curcol*

    Sabar ya mbak Tari
    :)

    BalasHapus
  9. kita gak kan bisa memuaskan semua orang, betul banget ituh mbak, tangan dan kaki cuma dua, otak cuma satu tapi harus melayani banyak ya, sing sabar mbak *sama kaya aku hehe*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar dan subur ya mbak Ev. Semangat yooo

      Hapus
  10. baru tau kalau mau nelpon PLN dari handphone tinggal ketik +123 ya, provider apa saja kan ya hehhee.. nice info nih.. semoga listrik gak sering metong lagi ya cyiinnn..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa provider apa aja kok. Heheh aamiin. Masih terus memperbaiki diri, Mbak :)

      Hapus
  11. hehehee...rada pening ya klo mau komen soal ini, masalahnya kita ngebahas di blog personal sih, coba ini ada di web yg mmg utk pusat keluhan, huaaahhh...pasti udah keluar semua tuh uneg2 hihihii.. ya maklumlah, konsekuensi monopoli kan ya harusnya bisa memenuhi semua kebutuhan pelanggan, klo ga sanggup kenapa pemerintah enggak nyediain vendor lain buat beli listrik? jadi masyarakat punya pilihan, mau langganan di sini atau di sana. ya gini nih klo emak2 blm gosok gigi kasih komentar ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha udah biasa baca uneg-uneg di aneka surat kabar dan medsos. Ini sebentuk pandangan dari orang yang katanya kerja di situ sih. Sepertinya jika ada vendor, harga listrik akan jauh lebih mahal. Apakah masyarakat sanggup? Sedangkan sekarang kita masih disokong subsidi :)

      Hapus