Selasa, 24 November 2015

Mengenal Komik Lebih Dekat di Festival Komik dan Animasi 2015


"Besok penutupan acara festival komik di Lawang Sewu. Kopdar yuk!"

Sebuah pesan nongol di grup. 

"Yuk. Abis dhuhur aja deh. Gimana?"

"Sip. Deal"

Bagi saya dan teman-teman, kopdar itu hal wajib yang harus dilestarikan. Walau kadang cuma ketemu sak nyuk. Sekadar say hello, cipika cipiki, makan bareng, berhosip, eh salah berdiskusi, lalu nggak lupa selpie sukaisih. Entah kenapa selalu ada semangat baru usai kopdar. Kalau kemarin keserang malas berkepanjangan, abis kopdar kenyang mau nulis ketiduran *tunjuk hidung* Abis kopdar bawaannya selalu happy. Hihi.
Sabtu tanggal 21 November 2015 lalu saya datang tepat waktu. Celingak celinguk belum kelihatan batang hidung yang ngajakin kopdar. Daripada nunggu nggak jelas, akhirnya saya masuk terlebih dahulu ke TKP. Lawang Sewu berubah sementara waktu. Ramai. Ada tenda dan kursi yang penuh pengunjung. Saya sempat bingung mau nunggu di mana. Hingga akhirnya nemu kursi panjang kosong di depan pintu masuk. Untung juga yang duduk duluan cakep. Sayang lupa kenalan. Dodolnya lagi nggak sempet ngelirik sederetan nama di name tag. Hiks. 

Rupaya siang itu ada cosplay perfomance sebelum penutupan dari serangkaian acara festival komik dan animasi 2015 ini. Kreatif banget deh yang ikutan lomba. Semua punya ciri khas tersendiri dan menampilkan yang terbaik. Berhubung cuaca semakin panas, saya melipir ngadem ke tempat pameran komik. Celingak celinguk dan keliling beberapa kali, akhirnya nemu booth legendaris Mak Irits dan stand papilon. Tanpa menyia-nyiakan waktu, kami segera narsis di booth Mak Irits. 

Festival komik dan animasi 2015 membuka mata saya tentang komik. Saya bukan pecinta komik. Dari semua koleksi buku, hanya ada beberapa buah komik. Itupun karena penulis naskahnya adalah teman sendiri. Bukan nggak enak kalau nggak beli sih. Tapi memang komik yang dihasilkan bagus dan sarat makna. Gambar dalam komik tersebut juga sangat cantik.

Beberapa waktu lalu teman saya mulai hobi corat coret. Dia mulai gemar menyalurkan kemampuan otak kanannya di tengah kejaran deadline sebagai credit analyst. Siang itu saya membayangkan jika dia mau mengembangkan bakatnya. Tentu tak sekadar doodle yang dihasilkan. Mungkin juga dia bisa membuat komik dan animasi. Ah, kawanku ayo kembangkan bakatmu!

Mata saya terbuka setelah keliling dari stand ke stand. Sungguh saya iri setengah mati pada mereka. Gimana enggak iri, wong saya cuma bisa menggambar standar ala anak SD. Dua gunung berjajar, ada sawah, rumah, sapi, dan dibelah jalan besar. Huhuhu. Standar banget, kan? Sedangkan di festival ini setiap stand menampilkan hal yang berbeda. Semua punya ciri khas masing-masing.  Ada stand yang membuat animasi Sopo Jarwo, Keluarga Somat juga loh. Langsung deh saya teringat dengan Chikita Fawzi, salah satu animator berbakat Indonesia. Dia juga berperan dalam serial legendaris Ipin Upin. Kembalinya dia ke Indonesia sebagai bentuk rasa cinta dan sayang pada negeri ini. Dia merasa bahwa industri animasi di Indonesia masih harus dikembangkan. Semoga niatmu dimudahkan ya, Mbak Chiki.

Dari kacamata ala saya, bisa dilihat banyak anak Indonesia mempunyai bakat di bidang komik dan animasi. Tinggal terus dipupuk dan dikembangkan hingga menghasilkan karya-karya yang membanggakan Indonesia. Tentunya itu tak lepas dari support penuh pemerintah. Setidaknya dengan mengadakan festival komik dan animasi setiap tahun dengan tema dan nuansa yang berbeda.

Cukup disayangkan memang stand yang disediakan tak cukup luas. Walaupun ada pendingin ruangan, tetap terasa pengab dan umpel-umpelan saat pengunjung membludak. Jalan yang digunakan sebagai akses pengunjung hanya cukup untuk satu orang. Semoga festival tahun depan lebih nyaman lagi ya. Biar pengunjung betah.

Saya sempat ngobrol dengan teman yang merupakan peserta festival tentang kemampuan otak kanan dan otak kiri. Sebagai orang seni dia memberikan pencerahan kepada saya bahwa menggambar itu bisa dilatih, 10 persen bakat dan 90 persen latihan. Aha! Setidaknya percakapan itu membuat saya bersemangat latihan menggambar lagi. Wkwkwk. Maklum lagi iri berat sama tukang gambar. Kepengen bisa.

"Coba genggam tanganmu!" perintah dia tiba-tiba.

"Eh, kenapa?" saya melongo tapi tetap nurut.

"Kamu nyaman begini atau begini?" tanya dia sembari membolak balikkan genggaman tangan.

"Aku nyaman gini," saya menunjukkan tangan.

"Otak kiri"

Kamu otak kanan apa kiri? Kredit gambar dari sini
Owh ternyata dia mengetes saya toh. Hahaha. Hasilnya saya memang otak kiri. Saya merasa lebih nyaman saat menggenggam dengan posisi jempol kanan berada di atas. Sedangkan saat menggenggam dengan jempol kiri di atas terasa ada yang mengganjal. Tetapi ada teman kantor yang bilang bahwa saya ada sedikit kemampuan di otak kanan. Gemar sekali bikin kerajinan tangan yang menurut dia itu rumit. Padahal juga cuma kotak tissue dari kardus berlapis kain flanel. Hahaha. Teman saya terlalu berlebihan.

Nggak menyesal rasanya saya meluangkan waktu untuk datang di acara keren ini. Setidaknya mata saya terbuka bahwa anak Indonesia bisa berkarya dengan luar biasa. Cara menghargai karya-karya mereka ya dengan membelinya. Betul? 

Taun depan festival komik dan animasi di kota mana ya? Hehehe. Pengen dateng :D


Salam,

@tarie_tarr

6 komentar:

  1. Podo aku yo otak kiri. Ya ngga heran sih aku memang jago di bidang akademis *sembunyiin rapor*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eaaaaa sombong nih ya :p

      Aku juga otak kiri ini. Hahaha *ikut2an sembuyiin rapot

      Hapus
  2. Aku otak kanan... Udah, cuma mau inpoh itu aja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku minta digambar doooonk kalau gitu :)))

      Hapus
  3. Dulu pernah kepilih ngikutin acara enterprenuer teknologi oleh salah satu merk branded. Sekaligus nampilin anak muda Indonesia yang sudah berkarya, salah satunya komik dan animasi. Sayangnya, mereka berhasil ketika menclok di LN.

    BalasHapus