Sabtu, 21 November 2015

Perhatikan Hal-hal Ini Saat Kontrak Rumah


"Pak, besok lagi kalau mau kontrak rumah soal listrik dan PDAM ditanyakan juga. Kalau begini kan kasian bapak. Harus menanggung biaya tunggakan sebanyak ini"

Kalimat itu disampaikan oleh rekan kerja saya di kantor lama. Kami memang ditempatkan pada bagian spesialis tunggakan. Jadi sudah hafal diluar kepala mana-mana alasan pelanggan yang sekadar ngeles dan sungguhan. Entah berapa puluh pelanggan yang datang dengan masalah yang sama.

Sejak pindah ke kantor pusat dan mengalami desperate soal kos-kosan, saya dan seorang teman memutuskan kontrak rumah. Kebetulan ada teman kami yang baru beberapa bulan menempati kontrakan harus pindah ke ibukota. Pucuk dicinta, ulampun tiba. Saya menerima tawaran kontrak rumah tersebut. Lagipula harga juga tak terlalu mahal untuk ukuran rumah dengan 3 kamar, 1 kamar mandi, dapur, ruang tamu dan teras. Menurut saya rumah tersebut sangatlah cukup untuk kami berdua plus anak balita dan baby sitter.
Permasalahan mulai datang saat datang tagihan listrik, PDAM ke rumah. Ternyata rumah tersebut sudah empat bulan kosong tanpa ada pembayaran kewajiban untuk listrik, air dan telepon. Bahkan saya baru tahu saat berkunjung ke pemilik rumah mengurus perpanjangan. Ternyata rumah ini ada telponnya. Terus ke mana? Saya nggak tahu. Hohoho. Kami berdua harus menanggung biaya tunggakan listrik, air dan telepon yang lumayan cukup menegek kantong. Kami juga yang salah sih, hanya berbekal asas kepercayaan langsung menerima begitu saja. Ya, namanya juga kepepet plus berstatus "meneruskan" kontrakan. Harap maklum donk kalau masih gagap *ngeles

Dari pengalaman pertama saya soal kontrak rumah, setidaknya ada hal-hal yang harus diperhatikan. Agar tidak terjadi sesuatu yang bikin emosi sampai ke ubun-ubun.

1. Kondisi rumah dan lingkungan. Cek dan ricek soal ini penting ya. Apakah rumahnya udah mau rusak, masih baru, setengah baru. Setidaknya cari rumah yang nyaman untuk tinggal. Nggak mungkin kan udah kontrak tapi di tengah jalan ingin ngekos? Buang-buang duit! Kecuali dipindah tugaskan loh ya. Kalau ini beda kasus. Kondisi lingkungan juga penting untuk dicek. Harus tahu apakah banyak tetangga, dekat dengan jalan utama, dekat gang, pak RT, dll. Dengan mengenal lingkungan akan mempermudah saat butuh pertolongan.

2. Nomor telpon pemilik rumah. Di sini letak kesalahan fatal saya. Sekali lagi karena asas kepercayaan. Saya manut saat teman bilang bahwa dia telah memberi tahu pemilik rumah jika penghuni kontrakan telah berganti. Kenyataanya saya kelimpungan saat akan perpanjang kontrakan. Nomor pemilik rumah yang diberi pengontrak lama (teman saya) tak bisa dihubungi. Alhasil baru dapat nomor sesungguhnya saat pemilik kontrakan datang dan meminta kepastian.

3. Kewajiban bulanan (listrik, telepon, air, sampah). Perlu dipertanyakan betul bagaimana status kewajiban bulanan tersebut. Ketika pengontrak lama sudah angkat kaki, seharusnya kewajiban tersebut harus sudah lunas. Jadi nggak membebani penggantinya. Sering banget loh kasus pengontrak lama pergi tanpa pemberitahuan, giliran ada tunggakan baru deh ketahuan. Seperti kasus yang saya alami. Hehehe. Sampai sekarang saya beneran nggak tahu loh itu pesawat telepon nyangkut di mana. Pernah liat tapi setelah pengontrak lama mengangkut barang jadi ikutan raib. Dan proses pemasangan telepon itu lama, Dab!

4. Tanyakan tentang surat perjanjian. Nah, ini kedodolan saya yang lain. Pikir saya kontrak rumah tuh nggak bakal ada perjanjian. Ribet gitu mikirnya. Hahaha. Ternyata saya salah sodara-sodara. Rumah kontrakan saya ada surat perjanjiannya antara pengontrak lama dan pemilik rumah. Saya baru tahu saat pemilik rumah datang menanyakan status rumah tersebut. Mau diperpanjang atau selesai. Apalagi saat diberitahu bahwa banyak yang ingin mengontrak rumah tersebut. Saya yang nggak tahu menahu langsung shock donk. Soalnya kesepakatan saya dengan pengontrak lama selisih sebulan. Hiks. Kalang kabutlah saya dan teman. Berdiskusi alot. Sangat tidak mungkin mencari kontrakan pengganti dalam jangka waktu sebulan. Sedangkan harga kos-kosan semakin mendekati angka yang mencekik leher. Setidaknya dengan adanya surat perjanjian, kedua belah pihak sama-sama tahu mana kewajiban dan hak yang harus diterima.

Adakah yang punya pengalaman kontrak rumah? Apa-apa yang biasanya diperhatikan?

Salam,

@tarie_tarr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar