Sabtu, 26 Desember 2015

Norak-norak Hore di Screening Film Ernest Prakasa, Ngenest - Kadang Hidup Perlu Ditertawakan



Kadang apa yang kita inginkan tidak terwujud.
Kadang apa yang kita takutkan tidak terjadi.

So,

Go with the flow!

Ngenest, Kadang Hidup Pelu Ditertawakan
Glek! Saat kalimat tersebut diucapkan Patrick, sahabat Ernest sejak SD, saya langsung kesedak popcorn. Prinsip tokai yang sering diulang-ulang Patrick saat sang sahabat sedang galau atau dirundung masalah memang menohok banget. Sering banget kan kita menginginkan sesuatu dengan nafsu yang menggebu-gebu? Atau terlalu mengkhawatirkan sesuatu hingga lebay? Padahal yang kita inginkan dan khawatirkan belum tentu terjadi. Tapi namanya juga manusia, kadang ada masa di mana sifat "terlalu berlebihan" itu muncul tanpa kita sadari. 

NGENEST - Kadang Hidup Perlu Ditertawakan

Aku donk udah nonton Ngenest. Kamu jangan sampai lupa :p

Film perdana Ernerst Perkasa yang diangkat dari buku best sellernya "Ngenest - Ngetawain Hidup Ala Ernest" sukses membuat saya ngakak terpingkal-pingkal. Film bergenre drama komedi yang sangat ringan, menyentuh dan mengandung unsur persahabatan kental. Diangkat dari kisah kehidupan sehari-hari sang sutradara sekaligus pemeran utama, Ernest Prakasa. Kemaruk banget kan si Ernest? Udah penulis bukunya, skenarionya, ide ceritanya, eh masih jadi pemeran utama. Hahaha. Diborong :D 

Ernest Prakasa, seorang anak keturunan Cina yang sering dibully sejak SD. Memiliki perawakan berbeda dengan yang lain, seringkali membuat dia merasa tersisih. Mata sipit, wajah khas Cina, berkulit putih bersih, membuat dia terlihat sangat berbeda. Dia ingin bisa bebas bermain dengan anak-anak pribumi tapi kehadirannya tidak diterima. Patrick, sahabatnya bahkan menentang berbagai usaha Ernest tapi tak digubris. Berbagai cara telah Ernest coba untuk bergaul dengan anak pribumi. Hasilnya tetap nihil. Hingga menyudut pada sebuah kesimpulan bahwa dia harus menikah dengan wanita pribumi.

Ernest dan Patrick (Morgan Oey), dua anak keturunan Cina yang bersahabat sejak SD. Mereka bersahabat dengan kepribadian yang sangat berbeda. Ernest gampang galau dan Patrick yang super cool. Keduanya sama-sama melanjutkan kuliah di Bandung walau beda universitas. Bagaimana Ernest dan Patrick saling melengkapi satu sama lain, mengingatkan, menemani jika salah satu diantara mereka lagi sedih dan galau. Kerasa banget gaung persahabatan mereka sangat kental. Ngiriii deh bisa punya sahabat kayak gitu. Dear sahabatku yuk kita tiru Ernest dan Patrick *lhaa?

Saat kuliah Ernest bertemu dengan Meira (Lala Karmela) di sebuah tempat les bahasa Mandarin. Keduanya saling menyukai tetapi ditentang Papa Meira (Budi Dalton) menentang. Beliau memiliki trauma terhadap orang keturunan Cina! Walau demikian Ernest tetap menunjukkan bahwa dia tidak sama dengan orang Cina yang membuat trauma sang calon mertua.

Lima tahun pacaran akhirnya mereka menikah. Tapi Ernest rupanya masih memendam trauma mendalam. Dia menunda punya anak. Sampai dua tahun, Bo'! Hanya gara-gara takut kelak anaknya mirip dia dan akan dibully seperti bapaknya. Duh, ketakutan yang wajar nggak sih? 


"Satu hari yang kamu tunda, itu artinya akan mengurangi satu hari di masa depan"

Satu kalimat ajaib keluar lagi dari mulut Patrick, sang sahabat. Kalimat yang menggambarkan betapa ruginya Ernest menunda-nunda memiliki anak. Pergumulan batin, tuntutan istri, keluarga dan sahabat membuat rumah tangga Ernest mulai kisruh. Hingga pada akhirnya Ernest menyadari bahwa tak perlu ada yang ditakutkan sebelum dicoba. 

Ngenest - Kadang Hidup Perlu Ditertawakan

Para pemain film Ngenest. Kece-kece kan?

Film bertajuk drama komedi besutan Starvision nantinya akan tayang di bioskop tanggal 30 Desember 2015. Semarang, ibukota provinsi yang sering kelewatan soal acara beken ternyata mendapat kehormatan. Screening film drama komedi ini pertama kali diadakan di kota Semarang. Horeeeee! Langsung bersorak norak dan senyum lebar lima meter deh. Hahaha. Boleh donk ya sesekali norak? :p

Hadir juga beberapa pemain film Ngenest beserta kru. Ada Ernest Prakasa,  Regina Rengganis (pemeran Nadia istri Patrick), Arie Kriting (pemeran preman), dan Ardit Erwandha (pemeran Fariz remaja). Berkostum kaos ijo muda, mereka keliatan mentereng. Asli. Yaaa emang aslinya udah pada cakep-cakep dan cantik sih. Saya merasa kebanting saat foto bareng dan bersanding dengan Regina. Duh, cantik nian si mbak. Walau dengan make up minimalis tetep kece. Udah dari sono juga sih ya. 

Sah udah nonton Ngenest! Udah foto bareng! :D
Bioskop penuh oleh dedek-dedek emesh para fans berat Ernest. Duh kayaknya saya dan teman-teman salah lapak. Terjebak dalam lautan ABG-ABG emesh. Hahaha. Ramenya nggak ketulungan. Ada yang sibuk motretlah, manggil-manggil namalah, minta tanda tangan, foto bareng. Saya dan Mbak Dedew melipir keluar. Nggak kuat liat kerumunan. Pikirnya sih nanti aja pas press conference dipuaskan poto bareng dan berdiskusi.

Ternyata...

Jreng-jreng...

Press conference yang diadakan di sebuah tempat makan sama aja rame, Bo'! Ya ampun ternyata fans Ernest masih ngintil juga. Bayangan saya bisa dapat ngobrol langsung dengan para pemain sirna sudah. Gimana mau ngobrol wong dedek-dedek emesh sudah memenuhi tempat. Keramaiannya sama kek di bioskop tadi. Ini dedek-dedek emesh nggak dicariin emaknya apa ya? Hahaha. Akhirnya ndepipislah saya dan Mbak Dewi Rieka (www.dewirieka.com) di belakang. Berusaha menyimak dengan baik dan benar walau nggak begitu jelas. Dedek-dedek emesh berisik. Hahaha. Saat media diajakin foto bareng, saya dan Mbak Dedew cuma bisa meringis. Kagak bisa merangkak ke depan. Alhasil kami berdua ikut antre bareng dedek-dedek emesh demi foto. Gini toh rasanya. Hahaha.

Siapa yang nggak tahu Ernest Prakasa?

Jebolan Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) 2011 ini merupakan pelawak tunggal beretnis Tionghoa-Indonesia. Pria 33 tahun serta bapak dua anak juga menyabet juara ketiga dalam SUCI 2011. Hingga pada tahun 2013 Ernest menulis buku "Ngenest, Ngetawain Hidup Ala Ernest" dan berlanjut hingga Ngenest 2 di 2014 dan Ngenest 3 di 2015. Keren yaa? Ketiganya best seller looooh. Produktif bangetttttt! Ngiri! Udah baca bukunya? Saya sih belum dan udah niat buat beli gara-gara nonton filmnya. Keliatan banget kalau kalah gaul sama dedek-dedek emesh :D

Menjadi sutradara, pemeran utama, penulis skenario, ide cerita bukan hal mudah bagi Ernest. Tentu banyak tantangan yang dihadapi. Tapi nyatanya film perdananya sudah bisa dinikmati. Rasanya? Bahagia tentu donk ya, Nest? Semoga harapanmu film ini turut meramaikan persaingan perfilman Indonesia yang sedang marak-maraknya terwujud. Tentu yang nonton juga bisa mendapat pesan yang ingin kamu sampaikan ya, Nest.  

Hal menarik dari film ini adalah Ernest nggak mau jika komedi hanya menjadi bumbu-bumbu saja. Pernah liat kan kadang ada film yang komedinya hanya menjadi selingan? Justru Ernest ingin komedi tersebut menjadi hal utama di film ini. Ternyata berhasil, Sodara! Sepanjang film diputar banyak hal-hal yang membuat tertawa. Tetapi aslinya memiliki makna mendalam. Sejatinya kisah ini asli Ernest alami tetapi dikemas dalam komedi yang sangat apik. Banyak quote-quote menarik seperti yang sering diucapkan Patrick misalnya.

Ernest tidak ingin menyinggung SARA dalam film ini. Dia hanya ingin berbagi pengalaman sebagai warga beretnis yang seringkali mendapat perlakuan berbeda. Menohok banget sebenarnya. Seringkali dalam bergaul kita masih memilah dan memilih. Film ini terlihat lucu tetapi sejatinya pahit. Ernest ingin mengajak penonton untuk melihat itu. Walaupun bangsa kita majemuk tapi sudah bukan saatnya memperlakukan orang dengan berbeda-beda. Stop bullying! Kita berada dalam satu negara yang sama, sama-sama Indonesia ya, Nest?

"Kadang hidup perlu ditertawakan, karena obat kepahitan hidup adalah tertawa"

Hakjleb! Duh, Ernest selalu punya kata yang nendang abis kayak Patrick deh. Terkadang kita bahkan lupa rasanya tertawa saat berada dalam tekanan ya? Padahal justru banyak hal yang bisa membuat kita tertawa. Tertawa juga bikin awet muda bukan? Otot-otot wajah banyak bergerak tuh. Hehehe.

Unsur komedi dalam film ini mengalir tanpa pemaksaan. Semua terangkai apik. Dibawakan oleh para pemain profesional sesuai porsi masing-masing. Kamu sukses jadi sutradara, Nest! Ada Ferry Salim dan Olga Lydia memerankan orang tua Ernest dengan unsur Cina dengan sangat khas. Belum lagi Henky Solaiman dan Elkie Kwee membawakan lagu Mandarin yang mendayu-dayu dengan akting yang bikin ngikik. Ada juga Budi Dalton dan Fitria Sechan mengambil peran papa mama Miera sebagai orang pribumi (Sunda) yang super kocak. Etapi pasti dedek-dedek emesh selain ngefans sama Ernest, juga jungkir balik mengidolakan Morgan Oey yang cool banget memerankan Patrick. Kebayang pasti akan lebih heboh acara screeningnya.

Ada hal menarik lain di sini. Lala Karmela yang memerankan Meira juga mendulang kesuksesan. Kenapa? Sssttt...ternyata Lala Karmela ini bintang baru di perfilman Indonesia. Ngenest merupakan film pertama dimana Lala menjadi pemeran utama. Aktingnya keren loh sebagai wanita pribumi. Salut deh. Selamat ya, Lala! Semoga dari film ini kamu semakin berkibar di industri perfilman Indonesia :)

Bareng teman-teman media Semarang :) Credit Foto : Mas Hyudee

So, bagi yang ngaku-ngaku fans berat Ernest, belum sah kalau belum nonton filmnya! Jangan cuma baca bukunya doank loh ya. Atau kamu yang butuh ketawa ngakak yuk ditonton film ini. Banyak pelajaran yang bisa didapat dari film ini loh. Termasuk quote hakjleb dari Kakak Morgan yang ganteng ituuuu :D

Hai, kami blogger Gandjel Rel :) Credit Foto : Uniek K
Jangan lewatkan yaaa! Bunderin kalender, siapkan uang beli tiket dan cemilan, ajak teman atau pacar kalau punya, lalu datang ke bioskop tanggal 30 Desember 2015. Catet yaa! Tonton keseruan Ngenest, Kadang Hidup Perlu Ditertawakan! :)

Salam,

@tarie_tarr

24 komentar:

  1. Wow ketemu Ernest! aku suka curi-curi baca bukunya kalo ke toko buku hwhwhw.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyalah poto itu kudu dipajang walau wajahku udah kemlumut :p

      Aku donk malah belum pernah baca bukunya. Wkwkwk

      Hapus
  2. Menarik niih aku suka dgn film2 bertema persahabatan kayak giniih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk jangan lupa nonton 30 Desember besok yaaaa. Masih masa liburan kok

      Hapus
  3. Wih. Taro masih pantes gabung sm dedek2 emesh. Hihi. Kece2 deh blogger gandjel rel!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iyaa tuh liatlah wajahku masih sama kek dedek2 emesh :D

      Hapus
  4. Bisa buat agenda libur akhir tahun nih Maakk :D

    BalasHapus
  5. Salah satu film yg saya tunggu neh mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ternyata malah udah nunggu. Tanggal 30 nanti langsung cas cus ke bioskop ya, Mak :)

      Hapus
  6. Aaakkk, postingan ini bikin aku pengin nonton *sodorin baby A ke taro

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha baby A diajakin aja deh. Gimana? Kita nonton bareng :D

      Hapus
  7. Asyiik..!! selamat ya Mba :)

    moga2 aku bs nonton nih.. keknya filmya kocak tapi banyak pelajaran ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget. Kocak tapi menyimpan banyak pelajaran. Yuk ditonton :)

      Hapus
  8. wow lengkaaaap ulasannyaa hihi moga bisa nonton bareng yang oranje yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk kapan kita agendakan? Keburu ditarik tuh film :D

      Hapus
  9. wuih ... aku ada disiniiiii ..... *nongol di blog orang* :))

    BalasHapus
  10. kereenn...kapan film ini main di tipi mbak Tarr...? *keplakkk!

    BalasHapus
  11. Pengen nontonnn ih jadinya! Btw prinsip tokai tuh apa sih Mbak?

    BalasHapus
  12. Filmnya gokil suka banget sama prinsip tokainya����

    BalasHapus
  13. Gokil suka banget sama prinsip tokainya

    BalasHapus
  14. Hah? ini film kapan toh? Kok aku nggak tahu? :))

    BalasHapus