Minggu, 21 Februari 2016

Sumatera Selatan Tak Hanya Pempek, Sungai Musi dan Jembatan Ampera





“Nah, di foto yang dikirim ini, tempat bermain kami. Namanya Rimau 3. Padang rumput coklat. Kalau sore hari apalagi pas senja, mataharinya suka manja-manja gitu, Mbak”

Sepotong kalimat tersebut sukses menyita perhatian saya. “Padang rumput coklat, senja dan manja”. Sebagai penggemar sunset dan sunrise tentu yang terbayang dalam benak adalah suasa syahdu saat matahari beranjak ke peraduannya. Tak tergambarkan lagi bagaimana bahagianya jika bisa menikmati momen tersebut bersama sahabat-sahabat cilik saya.

Deretan tulisan tangan yang dikirimkan Agung, teman di tanah seberang membuat saya tersenyum simpul. Delapan bulan lalu seorang kurir mengantarkan amplop coklat berisi tiga pucuk surat, tiga lembar foto dan tulisan “terima kasih” dari potongan kertas. Rona bahagia terpancar tulus dari wajah polos anak-anak. Seolah mengisyaratkan pada saya agar segera menemui dan membaca buku bersama mereka. 


Sahabat-sahabat saya di Talang Air Guci :*
(Foto koleksi pribadi)

“Mbak, kapan donk berkunjung ke sini? Kalau ke sini pas musim hujan aja, ya! Nanti kita main air sama anak-anak”

Sebuah pesan melayang ke handphone kesayangan. Siapa lagi pengirimnya kalau bukan Agung. Dia memang gandrung meneror saya untuk segera mengunjungi mereka. Agung juga rajin mengirimi foto anak-anak sedang bermain dan membaca kartu pos. Nggak kalah sering mengirim foto pemandangan yang menajubkan. Membuat saya mati penasaran dengan tanah Sumatera Selatan.

Lain dengan Agung, lain pula teror rekan kerja saya yang pernah menyandang "label" sebagai warga Palembang. Menjadi pendatang dan tuntutan dinas yang mengharuskan tinggal bertahun-tahun, gaya bicara, nada suara, cara makan pempek, sudah persis wong kito galo. Bahkan terkadang kami akan berdebat sengit soal perlakuan pempek sebagai cemilan atau makan besar. Hahaha. Penting banget kan topik perdebatan kami? Di Semarang pempek memang lebih sering diperlakukan sebagai pengganti makan besar, sedangkan rekan kerja saya hanya menganggap cemilan. Jiwa wong kito galonya memang masih menempel kuat hingga sekarang. Termasuk caranya makan pempek dengan menghirup cuko. Berbeda dengan saya yang hanya dicocol-cocol.

Tuntutan kantor untuk dinas ke berbagai unit, membuat dia paham betul seluk beluk daerah di Sumatera Selatan. Saat bercerita tentang Muara Enim, dengan enteng dia menyodorkan satu nama untuk saya kunjungi sekaligus. Sebuah nama yang juga disarankan Agung jika saya berkesempatan berkunjung ke Talang Air Guci, Muara Enim, Sumatera Selatan suatu saat nanti. Lahat dan Muara Enim dipisahkan jarak sepanjang 74,7 kilometer yang bisa ditempuh kurang lebih dua jam. Tidak terlalu jauh, bukan? 

“Di Talang Air Guci hanya ada padang rumput, Mbak. Nanti mampir ke Lahat aja kalau mau menikmati wisata alam”



Salah satu sahabat cilik saya, Jovin :)
(Foto koleksi pribadi)

Lahat


Sebuah nama yang begitu asing di pendengaran saya. Selama ini pengetahuan saya sebatas pempek, Sungai Musi, Jembatan Ampera jika ada orang menyebut “Sumatera Selatan”. Seolah otak saya langsung bekerja bahwa Sumatera Selatan itu, ya, Palembang. Owh, rupanya otak ini telah terkontaminasi dan tersihir kata “Palembang”, sebuah kota yang dimandat sebagai ibukota dari Sumatera Selatan. Malu rasanya pengetahuan saya tentang Bumi Sriwijaya hanya secuil. Duh, ini pasti efek jangka panjang pelajaran geografi yang dulu dianggap membosankan. Hehehe. Padahal dengan luas 87.017,41 kilometer persegi Bumi Sriwijaya menyimpan banyak potensi wisata yang begitu mengagumkan. Menyadarkan dan mengingatkan saya akan satu hal.


Bahwa Sumatera Selatan tak hanya pempek, Sungai Musi dan Jembatan Ampera. 


Menurut Wikipedia Lahat merupakan sebuah kabupaten di Sumatera Selatan yang mempunyai luas 4.361,83 kilometer persegi dengan 22 kecamatan, 14 kelurahan, 509 desa kognitif dan 4 desa persiapan. Pada masa kesultanan Palembang tahun 1930 di kabupaten Lahat telah ada marga. Marga-marga tersebut dibentuk dari sumbai-sumbai dan suku-suku seperti di daerah Lematang, Tebing Tinggi dan Kikim. Bergantinya masa penjajahan mulai dari Inggris, Belanda, Jepang, hingga Indonesia merdeka, Lahat ditetapkan sebagai salah satu kabupaten di Sumatera Selatan berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 1948 dan Keputusan Presiden Nomor 141 Tahun 1950.

Peta Kabupaten Lahat
Sumber Foto : www.ekoagustianrana02.blogspot.com


Kabupaten Lahat dan Palembang berjarak 271 km yang bisa ditempuh kurang lebih 6 jam perjalanan darat. Perjalanan yang lumayan panjang, ya? Letak Lahat yang yang berada di sekitar Bukit Barisan menjadikannya mempunyai potensi wisata alam dan sejarah yang mengagumkan. Membuat saya menyimpan mimpi dan menjadikan Lahat sebagai destinasi impian jika suatu saat kaki ini berkesempatan menjejak Bumi Sriwijaya. 


Lahat


Apakah yang ditawarkan Lahat setelah enam jam perjalanan darat hingga saya begitu tergoda untuk mengunjunginya?

Bukit Serelo. Bukit ini merupakan landmark yang menjadi kebanggaan penduduk Bumi Seganti Setungguan. Terletak di Desa Perangai, Kecamatan Merapi Selatan, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Bukit Serelo lebih terkenal dengan nama Gunung Jempol atau Bukit Tunjuk. Tergantung dari mana kita melihat bukit tersebut. Dari arah kota Lahat, Bukit Serelo  akan terlihat seperti telunjuk manusia. Sedangkan dari arah kabupaten Muara Enim, terlihat seperti jempol manusia. Menajubkan! Terbayang dalam benak saya, kelak jempol dan telunjuk saya bisa bersanding dalam foto dengan Bukit Serelo.

Kelak jempol dan telunjuk saya akan foto bersanding dengan Bukit Jempol :)
(Foto koleksi pribadi )

Bukit Serelo merupakan salah satu bagian dari Bukit Barisan yang dikelilingi oleh sungai lematang dengan air jernih menggoda. Bukit bebatuan yang hanya ditumbuhi semak-semak mirip seperti ilalang menyimpan sumber mata air jernih dan bebatuan grafitti halus. Walaupun saya bukan pecinta gunung, ingin rasanya wajah ini diterpa sejuk angin pegunungan saat mentari terbit. Atau paling tidak kaki ini telah menginjak di kaki bukit Serelo. Hawa dingin pegunungan yang begitu khas akan membuat paru-paru bebas menghirup oksigen sebanyak mungkin. Merangsang otak segar kembali.


Bukit Jempol
Sumber Foto : www.infopalembang.id
Saya ingin mendengar langsung legenda dan kisah lokal tentang Bukit Serelo dari penduduk Lahat. Mendengarkan legenda setempat ditemani semilir angin senja sembari tentu sangat menyenangkan. Saya juga ingin menuntaskan rasa penasaran akan mitos yang beredar di dunia maya. Benarkah mengambil foto Bukit Serelo itu susah? Gambar yang diambil belum tentu dapat tersimpan di hanphone atau kamera. Aha! Mistis-mistis gimana, bukan? 

Sekolah Gajah Perangai. Sudah lama saya ngiler tiap kali membaca postingan tentang Way Kambas. Sebuah taman nasional perlindungan gajah yang berada di kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur. Saya berkeinginan untuk berkunjung dan bisa bermain dengan gajah di sana suatu saat nanti. Tetapi saya kembali terperangah akan kejutan yang disiapkan oleh Lahat. Di kaki Bukit Serelo, tepatnya di Desa Perangai terdapat sekolah gajah. Ternyata sekolah yang mempunyai luas 20 hektar ini menampung gajah-gajah yang didatangkan dari Lampung, Way Kambas, loh. Mengapa sekolah gajah ini ada? 

Sekolah Gajah Perangai
Sumber Foto : www.lahatonline.com



Gajah merupakan hewan yang dilindungi, dengan sekolah diharapkan mereka akan aman dari tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Sedih kan mendengar berita ada gajah mati karena diburu manusia? Sekolah Gajah Perangai juga mendidik para gajah untuk mengikuti perlombaan atau festival taman dua tahun sekali. Keren sekali ya tujuan sekolah gajah ini. Saya sudah tak sabar ingin bertandang ke sekolah gajah. Menyapa para gajah, mengelus-elus tubuh montoknya dan bermain dengan mereka. Tentunya dalam pengawasan pawang donk ya. Jangan sampai badan saya yang langsing ini diangkut oleh belalainya. Hihihi.

Air Terjun Maung. Sejak mendengar kata Lahat, jiwa kepo saya terpanggil untuk bertanya pada simbah google. Oho! Jangan gampang tertipu akan jarak tempuh enam jam. Semua itu akan terbayar dengan wisata alam yang menguras adrenalin selain Bukit Serelo. Lahat memiliki 76 air terjun, Bo’! Mari kita bayangkan! Kabupaten yang hanya mempunyai luas 4.361,83 kilometer persegi ini mempersembahkan ciptaan Tuhan yang luar biasa. Ada Air Terjun Maung, Air Terjun Bidadari, Air Terjun Sumbing, Air Terjun Pandak, Air Terjun Hujan Panas, Air Terjun Bujang Gadis, Air Terjun Naga, Air Terjun Sumbing dan air terjun lain yang menyebar di Kabupaten Lahat.

Air Terjun Maung atau yang lebih terkenal dengan “Curup Maung” menjadi salah satu primadona di Lahat. Air terjun dengan tinggi 80 meter dan lebar yang hampir sama dengan tingginya ini terletak di Desa Rinduhati, Kecamatan Gumay Ulu. Dalam benak saya air terjun ini sangat luuuuaaaassss dan tiiiiiinggiiii. Sejauh mata memandang hanya ada hamparan air terjun dengan aksesoris khasnya, pohon-pohon hijau dan bebatuan. Kebayang nggak sih gimana noraknya saya jika kesampaian mengunjungi Curup Maung? Hahaha. Pasti udah norak-norak main air. Nggak mau kalah donk sama putri duyung. 


Keindahan Curup Maung.
Sumber foto : www.wisatania.com

Sejak ditemukan awal tahun 2014 lalu, air terjun ini menjadi buah bibir dan menjadi trending topic di beberapa destinasi wisata nasional bahkan dunia. Medan yang dilalui untuk menuju Curup Maung memang tantangan tersendiri. Sedangkan di sekitar Curup Maung tercipta pemandangan hijau, gemericik air, batu-batu berserakan yang akan menghapus lelahnya perjalanan. Belum lagi kebun kopi dan hutan menjadi teman perjalanan menuju tempat wisata pujaan warga Lahat. 

Situs Megalitik Pasemah. Jangan sebut Lahat jika tak mampu membius setiap orang yang bertandang. Ingatkah pelajaran jaman masih berseragam putih biru? Sebagai mantan murid yang gemar dengan pelajaran sejarah, dulu saya suka membayangkan bagaimana rasanya melihat langsung aneka benda di jaman Megalitikum. Arca, kubur batu, batu berlubang (rumah batu), dolmen (meja batu), menhir, batu datar, lumpang batu, batu tegak (kosala), kapak persegi, kapak lonjong, punden berundak dan aneka jenis megalitik lain. Ternyata semua benda megalitik itu bisa saya saksikan di Lahat.


Salah satu megalit di Lahat. Arca manusia memeluk gajah
Sumber foto : www.mongabay.co.id

Peraih penghargaan MURI (Museum Rekor Indonesia) pada tahun 2012 sebagai daerah dengan situs megalitik terbanyak di Indonesia, Kabupaten Lahat menyimpan 1.027 peninggalan megalitik yang tersebar di 40 situs wilayah bersejarah. Semua itu bukti bahwa Bukit Barisan Pasemah (Lahat, Muara Enim, Pagar Alam dan Empat Lawang) pernah menjadi saksi kebesaran budaya yang pernah tumbuh dan berkembang sekitar 2.500 tahun sebelum Masehi.

Bisa melihat langsung aneka megalitik yang tersebar di Lahat akan menghempaskan saya ketika masih berseragam putih biru. Ketika saya hanya bisa melihat bentuk benda megalitik dari buku sejarah. Aneka megalitik yang terpampang di depan mata, tentu mampu membayar lunas semua rasa penasaran yang sempat terkubur bertahun-tahun lalu. Saya akan bernostalgia kembali. Berusaha mengingat semua pelajaran sejarah yang pernah diajarkan guru tersayang. Wisata sejarah yang sungguh menyenangkan dan penuh pengalaman tentunya. Waktu pasti akan bergulir tanpa terasa. Seiring kaki, tangan dan mata yang begitu antusias menelusuri satu demi satu megalitik kebanggaan Lahat.


Lahat


Sebuah kabupaten yang terdiri dari lima huruf ini memang istimewa. Wisata alam dan sejarah yang disajikan akan mampu membius setiap orang yang bertandang. Saya salah satu orang yang akan terbius nantinya. Sebagai orang yang bermimpi bisa menginjakkan kaki di Bumi Sriwijaya, tentu Lahat ibarat sebuah doa dan pengharapan. Belum lagi racun traveling yang disebarkan Mas Haryadi Yansyah di blognya membuat saya makin termehek-mehek ingin bertandang. Sebagai wong kito galo, dengan bangga dia menceritakan aneka tempat wisata dan kuliner tersohor di tanah kelahirannya. Jadi kapan kita ke Lahat, Mas?  :D

Lahat meyakinkan saya bahwa Bumi Sriwijaya begitu indah dan luas. Lahat hanya sebagian kecil bukti bahwa Sumatera Selatan tak hanya pempek, Sungai Musi dan Jembatan Ampera.







Referensi penulisan :

www.wikipedia.org
www.lahatkab.go.id
www.infopalembang.id
www.tribunnews.com
www.kemass.tripod.com
www.nationalgeographic.co.id
www.wisataohhwisata.blogspot.com
www.mongabay.co.id
www.wisatania.com
www.ransel.club
www.tiket.com
www.travelmateku.com
www.palembang.tribunnews.com
www.lahatonline.com
www.ekoagustianrana02.blogspot.com

Semarang, 21 Februari 2016
Salam,



@tarie_tarr


26 komentar:

  1. Nah, aku pun baru tahu kalau Lahat punya banyak tempat wisata semenarik ini. Duh....Palembang coret bener aku ini.
    Ayolah Tar, kita mintain Yayan ajak kita keliling Sumsel... *packing* :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha aku ngiler pengen ke Lahat eeeuuy. Iyaa perlu dirayu tuh Mas Yayan buat nemenin keliling Sumsel :p *siapin ramuan*

      Hapus
    2. Memang Lahat itu Palembang coret kakak. Sumsel memang luasss sekali...aku baru tau destinasi2 keren ituuu...

      Hapus
    3. Walau Lahat coret tapi menyimpan banyak cerita yaa. Yuk kapan ke sana. Kita barengan gitu, Mama Dibaaa :*

      Hapus
  2. Waah... keren Mba Tari...

    Semoga kesampaian kesana, sukse ngontesnya.. :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Nuhun doanya, Mbak.

      Hihihi ngiler banget pengen ke Sumsel :)

      Hapus
  3. Wah ternyata Sumsel.punya banyak pesona ya, ga hanya pempek sungai musi dan jembatan ampera

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyak, Mas. Senang kalau denger cerita temen yang pernah tinggal di sana :)

      Hapus
  4. Aku tetap pengen makan pempek dari tempat asalnya... ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoooo.Kapan ki, Mbak?

      Aku tak melu donk :))))

      Hapus
  5. Aku ke sungai musi dan jembatan ampera saja blm pernah hiks. Apalagi ke lahat. Penasaran sama situs megalitik nya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti sekalian donk, Mbak. Jembatan ampera, Musi, pempek, bablas deh ke Lahat :)

      Hapus
  6. Situs megalitiknya menarik banget buat dikunjungi nih mba. Duuh.. kapan ya? Mau ke Palembang ga jadi-jadi mulu :(.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangeeettttt. Penasaran pengen liat langsung. Ayukk ke Palembang. Nanti trs bablas ke Lahat :)

      Hapus
  7. Saya gagal fokus mak, liat foto latarnya Jovin kok malah mbayangin bikin video klip gitu kali keren ya di situ. Persis kaya di film-film :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha toosss! Aku juga ngebayangin itu pertama liat fotonya. Lari-lari di tengah padang rumput coklat. Ambooooyyyy :D

      Hapus
  8. Wow...tulisan ini sukses ngiming2iku utk ke Lahat suatu saat.. Tari..smoga sukses yaa..dan semoga aq bs menjejak kan kaki ke Lahat juga. Aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Yuk kita barengan ke Lahat yuukk :)

      Hapus
  9. Adik iparku sering cerita kalo Sumsel itu punya pemandangan yg kece di banyak tempat. Masih ngiler pengen makan pempek, teteeep. Aku makan pempek juga sampai kuahnya abis, segereee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iyaa nih tiap baca sumsel bawaannya pengen cari tiket mulu :)

      Hapus
  10. Wah ternyata banyak tempat yang wajib dikunjungi di palembang ya. Pengen makan pempek asli sana euy. Saya penggemar berat pempek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaakk Sumsel itu luas dan luar biasa. Yuk kita makan pempek di Palembang rame-rame :)

      Hapus
  11. Belum pernah ke Palembang nih :( semoga suatu saat bisa ke sana. Tari juga yaaa, sukses ngontesnya dan bisa ke Palembang liat gerhana matahari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Yuk nanti kita ke sana barengan ya, Mbak :)

      Hapus
  12. sinih.. sinih, sama ayunda ke Lahat, mampir Muara Enim, bobok di Palembang

    BalasHapus
  13. wahhh dulu pernah punya temen asal Lahat, tapi gak pernah cerita kalo Lahat punya potensi wisata sebanyak ini....tau gitu kan bisa minta ikut waktu dia pulkam dulu hihihi

    BalasHapus