Selasa, 29 Maret 2016

Kaempferia Galanga, Kecil Mungil Sahabat Keluarga

Kaempferia Galanga, Kecil Mungil Sahabat Keluarga


"Ibu, nanti kalau pulang jangan lupa kencurnya dibawa. Lumayan bisa ditanam di rumah," ujar saya saat Ibu berkunjung beberapa bulan lalu.

Realitanya kencur tersebut masih nangkring manis di kontrakan. Bahkan ketika saya sudah dua kali pulang ke rumah. Si kencur juga tak kunjung berpindah tempat. Parah banget, kan? Saya memang pelupa garis terdepan. Banyak hal yang sering luput dari ingatan. Bahkan sekalipun itu dicatet. Kali ini kencur yang jadi korban. Wacana untuk menanamnya di ladang tinggal kenangan. Sekarang kencur-kencur tak bersalah itu mulai mengering. Padahal awalnya mereka bersemi cantik. Hiks. 

"Nanti tak tanam di botol bekas aja, ya, Bu. Daripada lupa terus mau dibawa pulang," saya melontarkan ide saat kami bertelepon.

"Emang bisa nanam? Mau ditaruh mana? Siapa yang mau ngerawat? Kamu aja selalu pulang malam. Ujung-ujungnya terlantar."

Duh. Ibu jujur banget sih kalau ngomong. Enggak bisa pencitraan sedikit deh. Hahaha.

Sejak merantau, kegemaran berkebun memang menurun drastis. Terlalu banyak alasan untuk melanjutkan berkebun di perantauan. Belum lagi ditambah rasa malas yang perlahan mengikis kegemaran itu. Lahir dan besar di sebuah desa membuat saya akrab dengan tanah, pupuk dan berbagai macam tanaman. Sewaktu masih sekolah saya sering menanam aneka rempah-rempah. Aslinya sih iseng nyomot bumbu dapur secara diam-diam. Eh, lama-lama ketagihan. Kencur menjadi salah satu bumbu dapur yang menjadi korban eksperimen saya soal berkebun.


Kencur yang akan saya tanam sudah mulai mengering :(

Pekarangan rumah saya tidak luas seperti rumah di kampung kebanyakan. Mungil saja. Hanya berukuran 4 x 2 meter. Beruntung saya masih memiliki halaman samping yang cukup untuk menuntaskan keisengan. Eksperimen saya tentang tanam menanam sukses. Walau biasanya hanya bertahan beberapa saat. Jika mampu bertahan lama berarti ada tangan kedua. Hehehe. Namanya juga masih jaman anak-anak :D

Kencur atau bahasa latinnya kaempferia galanga merupakan salah satu apotek hidup yang paling saya sayangi. Soalnya gampang banget ditanam. Saya suka banget melihat bongkahan kencur di balik daunnya yang merekah. Apalagi saat mencium baunya yang khas. Hahaha. Kebiasaan mencium kencur masih berlaku sampai sekarang loh. 

Kaempferia galanga termasuk dalam suku temu-temuan. Mampu tumbuh subur di dataran rendah atau pegunungan dengan tanah gembur dan tidak terlalu banyak air. Jika lahannya sempit, kencur bisa ditanam di pot. Tetapi memang hasil panennya lebih memuaskan jika ditanam di tanah langsung.

Kencur menjadi bumbu dapur yang selalu ada di rumah. Saya suka banget dimasakin oseng-oseng yang bertabur irisan kencur. Boleh dibilang sebagai ranjau lah. Ada sensasi sendiri saat makan dan menemui ranjau kencur. Sedap-sedap gimana gitu. Hehehe. 

Selain sebagai bumbu masak, kencur adalah obat andalan keluarga. Saat terserang batuk atau radang tenggorokan pasti akan disuruh ngunyah kencur. Entah gimana rasanya. Saya belum pernah mencoba. Tepatnya sih nggak doyan. Mending disuruh minum beras kencur. Hihi. 

Pasti sudah pada tahu beras kencur, kan? Sekarang beras kencur juga banyak dijual di rumah makan. Kalau saya lebih suka beras kencur yang dijual simbok jamu. Rasaya lebih mantap. Apalagi kalau diminum langsung di depan simboknya. Sugesti kali ya, rasanya lebih enak. Hahaha. Jaman saya kecil sering banget dicekokin beras kencur karena nggak doyan makan. Yup. Kencur juga bisa digunakan untuk penambah nafsu makan loh. Nggak perlu beli aneka vitamin, coba aja beras kencur dulu. 

Banyak manfaat lain yang tersedia dalam rimpang si mungil ini. Menurut beberapa sumber, kencur juga bisa digunakan sebagai obat masuk angin, darah kotor, mata pegal, kesleo, radang lambung dan berbagai penyakit lain. Tentu dalam pemanfaatannya tidak hanya dikunyah saja donk ya. Ada yang harus dicampur dengan bahan lain, ditumbuk atau dibakar.

Selain memberi banyak manfaat bagi tubuh, kencur dan apotik hidup lain merupakan penolong saat harga komoditi pangan mulai naik. Memiliki apotik hidup di rumah, walaupun itu hanya kecil berarti sudah mengantisipasi berbagai kemungkinan. Tak perlu merogoh kocek untuk membeli bumbu dapur. Tinggal petik saja di pekarangan. Asyik, kan?

Masalah bagi saya adalah membangkitkan semangat untuk berkebun kembali. Menanam sedikit demi sedikit apotik hidup perlu perjuangan. Intinya memang harus meluruskan niat kembali. Jika tinggal di desa, beberapa tanaman apotik hidup tinggal minta ke tetangga. Di sini? Melipir sana ke pasar atau supermarket. Padahal terkadang butuh mendadak dan di jam-jam yang abnormal. Tentu jika sudah memiliki apotik hidup akan lebih membantu.

Doakan saya istiqomah yaa. Semoga segera merealisasikan. Nggak sekadar wacana belaka. Ganbatte!


Salam,

@tarie_tarr









3 komentar:

  1. Aku juga suka bau kencur. Yey kita anak bau kencur.
    Bikin peyek g mantep klo gda kencurnya

    BalasHapus
  2. semangaat mba...aku juga suka makan kencur..waktu dulu di radio suka habis suara dan obat mujarabnya kencur mentah :)

    BalasHapus
  3. Jamu favorit saya sejak kecil beras kencur, cuma baru tahu rupa kencur setelah beranjak remaja. Hahaha. Sayang, sampai sekarang belum juga bisa membuat ramuan beras kencur sendiri. Njenengan bisa, Mbak? :)

    BalasHapus