Senin, 28 Maret 2016

Menjadi Bagian Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) Dari Sudut Pandang Seorang Karyawati


Menjadi Bagian Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) Dari Sudut Pandang Seorang Karyawati



"Nanti kalau anak wedok udah gede, aku mau kuliah S2, Tar. Pengin ambil jurusan teknik listrik", ujar seorang teman kantor suatu siang.

"Mau di mana? UGM apa UNDIP?" tanya saya penasaran.

"Secara jarak sih aku lebih sreg UNDIP. Salatiga-Semarang kan nggak jauh-jauh amat. Kamu nggak pengen nerusin S2?"

"Pengin buanget, Sis. Cuma sekarang targetnya nunggu jodoh datang dulu sih. Walau banyak yang bilang sapa tahu dari kuliah bisa dapat jodoh," cengir saya lebar.

"Bener itu. Ambillah S2, siapa tahu ada pangeran di sana. Ngomong-ngomong mau ambil jurusan apa, Tar?"

"Psikologi. Entah kenapa, ya, aku itu tertarik banget sama dunia psikolog. Kayaknya dulu aku salah jurusan deh"

"Bisa ditebak. Keliatan banget kamu suka dunia psikologi"

Menyandang status sebagai analyst anggaran di sebuah perusahaan milik pemerintah membuat saya merasa salah jurusan. Gimana enggak salah, background pendidikan saya adalah akuntansi. Kecintaan saya terhadap akuntansi dimulai sejak SMK, berlanjut hingga kuliah. Dulu saya pernah memupuk mimpi menjadi seorang akuntan. Dalam bayangan saya profesi akuntan itu keren dan nggak ada duanya. Hihi. Bahkan akan kuliah di sebuah perguruan tinggi dimana jurusan akuntansinya sangat tersohor di tanah air. Nyatanya Tuhan menunjukkan kehendak lain. Walau jurusan saya akuntansi tapi bidang pekerjaan sekarang justru keuangan. Kalau dulu mikir gimana jurnal-jurnal transaksi ini itu, sekarang beralih soal pembayaran dan tetek bengeknya. 

Lalu kenapa saya tertarik dunia psikologi?

Entahlah. Saya juga tak pernah tahu sebab musababnya. Bagi saya membaca buku-buku psikologi, sharing dengan para psikolog itu menjadi hal yang sangat menyenangkan. Seperti ada magnet yang menarik diri ini untuk mempelajari lebih dalam.

Sebagian besar rekan kantor saya memang berlatar belakang akuntansi, teknik, manajemen, psikologi dan hukum. Tetapi rata-rata saat melanjutkan kuliah S2, mereka akan banting stir ke jurusan manajemen. Rekan kantor yang sudah mengambil magister memang kebanyakan akan menjabat atau menempati posisi struktural. Baik mereka yang menempuh magister di dalam maupun luar negeri. 


Sebagai pegawai yang mempunyai background akuntansi, saya galau sendiri memilih jurusan saat mengambil magister nanti. Padahal rencana ini masih beberapa tahun ke depan. Akankah tetap setia dengan akuntasi atau berpaling ke lain hati yaitu psikologi? Apalagi saat mendengar desas-desus MEA. Kegalauan saya meningkat seratus delapan puluh derajat. Ihiks.

MEA? 

Apa itu MEA?

Mengapa saya harus galau saat mendengar tentang MEA?





Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) memang tidak santer dibicarakan di kantor saya. Bahkan berita ini seolah tidak memiliki pengaruh apapun. Saat saya iseng tanya ke beberapa teman, mereka tidak tahu apa itu MEA. Saya mendengar desas desus MEA juga dari beberapa teman blogger. Kudet banget ya saya? Bisa jadi begitu. 

Tidak ingin tingkat kekudetan meningkat, sowanlah saya pada simbah google. Bertanya banyak hal tentang MEA. Alohaaaaa...ternyata MEA sudah disepakati para petinggi negara-negara di Asia Tenggara dan  diterapkan pada akhir 2015 lalu. MEA merupakan pasar tunggal yang memungkinkan satu negara menjual barang atau jasa dengan mudah ke negara-negara di Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat. Bisa dibilang bahwa setiap orang dari berbagai negara akan dengan mudah keluar masuk mencari pekerjaan. Tentu mereka memiliki kompetensi yang mumpuni di bidangnya.



Insinyur, arsitek, tenaga pariwisata, akuntan, dokter gigi, tenaga survei, praktisi medis, perawat merupakan profesi yang akan terkena dampak kebijakan pasar bebas yang  tertuang dalam ASEAN Mutual Recognition Arrangement (MRA). Profesi-profesi ini telah memiliki standar dan kompetensi yang diperlukan di kancah ASEAN. Ngeri atau tertantang untuk memiliki kompetensi yang lebih baik? 

Lalu apakah MEA akan berpengaruh pada seorang karyawati seperti saya?

Ya.

Profesi saya saat ini memang tidak masuk ke dalam ASEAN MRA. Tetapi saya sadar persaingan pasar bebas nantinya tidak hanya delapan profesi tersebut. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa tidak bisa dipungkiri akan gosip yang pernah beredar di kalangan karyawan. Pemutusan hubungan kerja atau PHK merupakan salah satu gosip yang sempat bikin panas. Siapa sih yang nggak galau kalau mendengar tentang PHK? Pikiran-pikiran buruk dan ketakutan menerima PHK tentu menghinggapi setiap karyawan. Belum lagi beberapa gosip lain yang semakin bikin ketar ketir hati. Siapkah kami? 

Dari sisi perusahaan tentu ingin mendapatkan benefit lebih dengan memiliki tenaga kerja yang handal dan mumpuni. Apalagi menurut riset, MEA akan menurunkan ongkos produksi 10-20%. Bagi sebuah perusahaan tingkat penurunan ongkos produksi akan berpengaruh besar pada laba. Seperti dalam pelajaran akuntansi, semakin kecil biaya produksi maka laba yang diperoleh akan semakin besar. 

Tidak ingin terkurung dalam kekudetan dan kegalauan menghadapi MEA, saya mulai menata satu per satu tujuan hidup *tsah. Tepatnya saya harus mulai memikirkan bagaimana meningkatkan skill. Duh, berat banget deh bahasanya :D

Nggak mau ngoyo dengan target ini tapi setidaknya saya terpacu untuk ikut bersaing kecil-kecilan menjadi bagian dari MEA. Seorang kawan baik pernah berujar bahwa saya harus mempunyai goal. Setidaknya meningkatkan skill merupakan goal terbesar yang harus segera saya capai. 

Beberapa hal yang saya siapkan setelah menjadi bagian dari MEA antara lain :

1. Rajin dan ketat belajar bahasa Inggris.
Kemampuan bahasa Inggris saya tuh masih standar banget. Yes no yes no gitu kali ya? Hihi.  Saya menantang diri sendiri untuk mengupgrade kemampuan berbahasa yang satu ini. Bersama beberapa rekan kantor kami terkadang ngobrol dengan bahasa Inggris. Percakapan sederhana saja sih. Beberapa waktu lalu general manajer saya mewajibkan sekretarisnya untuk berbahasa Inggris saat berbincang dengan beliau setiap hari Jum'at. Seru kayaknya kalau diterapkan untuk semua karyawan. Praktek langsung di lapangan :D

2. Disiplin
Saya termasuk karyawan yang plin plan soal kedisiplinan. Kadang rajin banget. Kadang juga malas banget. Padahal disiplin menjadi kunci jitu terhadap penilaian. Tidak hanya disiplin soal waktu tapi juga ilmu. Saya mulai berbenah diri soal disiplin waktu. Menggunakan delapan jam sehari dengan sebaik-baiknya untuk menyelesaikan pekerjaan. Mengurangi jatah online saat jam kerja adalah tantangan terbesar saat ini. Tangan kadang gatel euy buat nggak buka sosmed :D *curcol*

Saya juga mulai belajar ilmu baru dari berbagai bidang di kantor. Walau tidak menguasai semua, setidaknya saya harus rajin update info terbaru. Biar selalu kekinian ya. Hehehe. Alhamdulillah ada website, email, coffee morning yang mendukung. Bahkan dari kantor pusat sering mengirim email tentang berita dan informasi terkini.

3. Mengambil magister
Walau belum tahu kapan akan mengambil magister, saya tetap menuliskan target ini. Alasannya mengapa belum tahu kapan sudah saya tuliskan di awal ya. Hahaha. Tetapi niat untuk mencari ilmu sudah saya tulis rapi di dalam hati. Setiap hari saya bawa dalam doa. Inginnya sih bisa mengambil magister di luar negeri seperti beberapa teman kantor. Tidak bisa dipungkiri karyawan baru di kantor termasuk jebolan universitas ternama. Rata-rata mereka memiliki skill yang cukup mumpuni. Jika saya tidak belajar lebih banyak tentu akan ketinggalan donk ya. Jangan sampai saya tergeser. Jangan sampai pula saya lupa untuk tetap belajar.

4. Memperluas networking
Beberapa teman kantor selalu berujar kalau teman saya itu banyak. Ada di mana-mana. Bahkan ada yang bilang kalau setiap tempat selalu ada teman saya. Tetapi justru saya merasakan hal yang sebaliknya. Saya masih perlu menambah teman sebanyak mungkin di lingkaran pertemanan. Entah dari manapun itu. Semakin banyak teman dan luasnya networking, tentu akan mempermudah untuk update informasi terkini. Apalagi sekarang mengakses informasi dan sharing bisa dilakukan melalui berbagai media chatting.

5. Berdoa
Hal ini sangat penting loh. Semua usaha harus didukung oleh doa. Bukan begitu? Jangan lupa dipasrahkan usaha tersebut kepada Tuhan. Hehehe.


Saya sedih saat berita tentang MEA tidak begitu menyebar di kantor. Entah saya yang kudet atau memang manajemen tidak menyebarkan informasi tentang hal ini. Untuk menuntaskan rasa penasaran tersebut, saya berencana mengobrol santai tentang MEA dengan beberapa teman dan supervisor. Bukan obrolan serius. Hanya bertujuan untuk sharing dan membuka wawasan. Pasti nantinya akan ada berbagai macam sudut pandang tentang MEA. Sehingga saya bisa menambah atau memperbaiki lima poin dalam menghadapi MEA. Telat ya baru membahas MEA sekarang? Lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Katanya begitu :)
Tahun 2016 baru menginjak triwulan pertama. Saya belum tahu apakah MEA telah memberi dampak signifikan pada Indonesia. Hanya tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan pasar global semakin meningkat. MEA dipersiapkan sebagai pasar keempat terbesar di dunia dengan 630 juta penduduk di kawasan Asia Tenggara. Sudah sepatutnya setiap orang menyikapi MEA dengan bijak. 

Bagaimana pendapatmu tentang MEA?


Salam,

@tarie_tarr

6 komentar:

  1. MEA ternyata berpengaruh pada banyak aspek ya. Kalo kita nggak mengupgrade kemampuan diri, bakalan tersingkir sama yang lebih memiliki potensi. Cuuz...upgrade diri. :D

    BalasHapus
  2. Kalau sudah membaca dan mengulas MEA, jadi berasa juga ya bakal keimbas dampaknya. Besar atau kecil itu tergantung posisi kita. :)

    BalasHapus
  3. Sebagai Ibu Rumah Tagga ak harus mengupgrade diri dengan terus membaca dan belajar. Mau menerima kritikan dari sahabat maupun aak demi perbaikan.

    BalasHapus
  4. Dalam menghadapi MEA para jomblo harap segera menikah. Hahahha

    BalasHapus
  5. networking sangat penting memang..semoga sukses MEA kita

    BalasHapus
  6. Adanya MEA membuat saya harus semakin mengupgrade diri :)

    BalasHapus