Kamis, 31 Maret 2016

Satu Kenangan Tercipta di Tahun Sembilan Delapan

Satu Kenangan Tercipta di Tahun Sembilan Delapan


Masa kecil saya bisa terbilang biasa saja. Saya tumbuh dan bermain layaknya anak-anak lain. Menghabiskan waktu usai pulang sekolah dengan teman sebaya. Petak umpet, main karet, kelereng, gobak sodor, kasti, masak-masakan, dan berbagai permainan tradisional lain. Saya terkadang lupa waktu. Membuat emak memasang wajah paling garang dengan omelan panjang. Standar banget kan masa kecil saya?

Baik. Jika begitu mari saya ceritakan tentang suatu rahasia yang masih terkenang hingga sekarang.

Jika saya bertanya tentang tahun 1998 apa yang akan terbersit dalam benak teman-teman?
Krisis ekonomi? Jaman orde baru? Tumbangnya pemerintahan?

Sembilan delapan menorehkan sejarah kelam bagi bangsa ini. Sembilan delapan menjadi tahun mencekam di penjuru negeri. Termasuk di desa saya.

Saya lahir dan besar di sebuah kabupaten penghasil kayu jati kualitas terbaik. Terkenal dengan kota sate dan barongan. Blora.


Hutan jati Blora (sumber wikipedia)

Ada yang tahu kabupaten Blora?

Kebanyakan teman akan bertanya di mana Blora. Emang ada ya kota Blora? Blora merupakan sebuah kabupaten kecil yang terletak di ujung timur Jawa Tengah. Kabupaten ini memiliki kecamatan yang sangat tersohor di tanah air. Kecamatan Cepu. Blora merupakan kabupaten pembatas antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Secara geografis, separo wilayah Blora didominasi oleh hutan jati dan tanah kapur. Jadi nggak usah heran kalau ke Blora hanya bertemu hutan jati plus ladang atau sawah di sepanjang perjalanan.

Sembilan delapan menjadi sebuah sejarah penting bagi kabupaten kecil ini. Hutan jati kebanggaan kami mulai dirampas keperawanannya. Penjarahan besar-besaran dimulai. Tahun dimana harga kebutuhan sandang pangan mencekik leher. Tahun di mana masih bisa makan sudah lebih dari cukup. Sedangkan harga panen merosot tajam.

"Di sungai kok banyak kayu besar?" saya kecil bertanya polos.

"Sssttttt....ayo kita pulang. Sudah jangan tanya macem-macem"

Di dekat rumah saya ada sungai tidak terlalu besar. Tahun sembilan delapan sungai itu selalu dipenuhi balok-balok kayu tak berdosa. Entah siapa yang melakukan saya tidak pernah tahu. Dalam ingatan saya setiap malam selalu ada transaksi soal kayu-kayu tersebut. Selain di sungai, ada balok kayu yang dititipkan ke penduduk desa. Berapa hari dititipkan, nanti diambil, nitip baru dan begitu seterusnya. Setiap malam selalu mencekam. Banyak transaksi illegal di depan mata tapi kami tak punya kuasa melawan.

Penjarahan hutan berdampak pada beberapa rumah tetangga saya. Entah karena bisa beli dengan harga murah atau bagaimana, beberapa rumah bertiang kayu jati utuh. Bener-bener kayu jati bulat. Ada yang dibiarkan polosan. Ada juga yang dicat mengkilat. Bisa dibilang 

Sembilan delapan. Tahun penuh kenangan. Penjarahan hutan dimulai sampai tahun 2011. Hutan kebanggaan kami banyak yang gundul. Air juga semakin sulit didapatkan. Sekarang kami sedang berbenah. Hutan dijaga dengan ketat. Padahal masa panen kayu jati puluhan tahun. Ah, semoga kejadian sembilan delapan tidak pernah terulang.

Masih sering terbayang-bayang bagaimana setiap malam dilalui dengan penuh kecemasan. Tidak hanya soal besok bisa makan atau tidak tapi juga hidup dan mati. Penjarah-penjarah itu sudah merampas ketenangan kami. Seolah waktu berjalan terasa begitu lambat.


Salam,

@tarie_tarr

2 komentar:

  1. Kakak ipar saya ada yang dari Blora mbak dan suami sepupu juga ada yang dari Cepu. Tidak banyak yang saya tahu tentang dua daerah itu, yang pasti ibu saya sering dapat oleh-oleh dari Cepu berupa wingko babat tapi bentuknya bulat lebar seukuran lepek (sejenis piring kecil untuk ngopi jaman dulu).

    Saya ikut sedih dengan ilegal logging yang terjadi di Blora waktu itu, sungguh pengalaman yang tak terlupakan ya mbak Tari.

    BalasHapus
  2. 98 di Pekalongan yang kuingat waktu kami naik mobil ke arah kota dan di mobil udah disediain martil kalau kalau kami diserang. Jaman jaman rusuh etnis

    BalasHapus