Rabu, 30 Maret 2016

Update Info Terkini dari Silaturahmi

Update Info Terkini dari Silaturahmi


"Mbak Tari nggak main ke rumah? Ibu ndak mudik Solo. Farrell mau tes Senin besok," sebuah pesan dari Budhe mengagetkan saya yang lagi asyik ngerumpi.

"Minggu depan gimana, Budhe? Besok saya sudah terlanjur janjian sama teman," alasan klasik saya kirim sebagai pesan balasan.

"Okay. Ibu tunggu minggu depan ya. Farrell katanya kangen sama Mbak Tari"

Duh...

Kalau udah nyodorin si ganteng Farrell pasti saya klepek-klepek alias nggak bisa nolak. Bocah berpipi chubby itu sekarang sudah remaja. Pasti banyak yang berubah. Sudah lama saya tidak berkunjung ke rumah Budhe. Padahal tempat merantau saya sekota dengan Budhe. Kebangetan banget ya? Itulah hal yang sekarang saya rasakan. Sekota tapi untuk sowan saja susah banget. Entah saya yang kebanyakan dinas, acara sama komunitas, pergi ke luar kota atau memang tidak ingin ke mana-mana. Di sisi lain Budhe seorang ibu-ibu kantoran. Dimana jam pulangnya pasti diatas jam kantor normal. Sedangkan saat weekend beliau sering ke Solo atau Salatiga.


"Sering dolan ke rumah budhe nggak, Tar?" tanya Ibu ketika telepon.

"Sudah lama nggak ke sana. Belum sempat," saya menjawab asal-asalan.

"Kamu itu loh ya. Udah sekota apa susahnya meluangkan waktu. Jangan sampai kita dikira melupakan jasa beliau selama ini"

Saya tersentak.

Kalimat terakhir Ibu menampar saya cukup keras. Terkadang saya mikir sendiri apa susahnya meluangkan weekend dengan sowan ke rumah Budhe. Toh jaraknya hanya sekitar 1 jam dengan bersepeda motor. Saya mengukuhkan niat hingga beberapa minggu lalu terlaksana sudah sowan ke rumah Budhe.


Ada hal paling membuat kangen jika lama tak sowan ke rumah Budhe. Saya dan Budhe terbiasa duduk berdua di beranda atau halaman rumah. Kami akan bercerita panjang lebar kali tinggi. Mulai topik yang paling ringan sampai berat. Mulai dari asisten rumah tangga, kerjaan, sekolah Farrel, kerjaan suami beliau, guru les, kegiatan di gereja dan masih banyak lagi. Paling penting sih kami juga bahas soal jodoh. Hahaha. Kami akan bertukar pikiran. Saling mendengarkan ide masing-masing lalu menarik kesimpulan. Jika tidak ada yang bisa disimpulkan maka diskusi kami akan berakhir begitu saja.

Kunjungan ke rumah Budhe memang selalu membawa semangat baru. Merefresh otak sejenak dari rutinitas sehari-hari di belakang meja. Sesama mbak-mbak kantoran curhat tentang kerjaan dan ubo rampenya adalah paling seru.  Cerita demi cerita yang bergulir selalu menggiring saya terus bersyukur untuk banyak hal sekecil apapun itu. Secara tidak langsung Budhe mengajarkan saya pada satu hal. Segala sesuatu perlu diperjuangkan. Tidak lupa perjuangan itu disertai doa. Apapun hasil yang diterima harus disyukuri. Entah menggembirakan atau mengecewakan.

"Farrell pulang sekolah sekarang sering jam 10 malam, Mbak," Budhe nyeletuk saat saya asyik membaca buku.

"Hah?" saya melongo.

"Iya jam 10 malam. Usai pulang sekolah langsung belajar kelompok dengan teman-temannya. Tugasnya banyak. Persaingan di sekolah itu memang ketat."

Saya yang notabene sekolah di kabupaten kecil langsung shock. Dulu jaman sekolah nggak pernah pulang diatas jam 5 sore. Selain memang jadwal bubar pelajaran jam 2 siang, rumah saya jauh dan harus melalui deretan hutan. Kan serem kalau pulang kemalaman. Lagipula orang tua saya luar biasa bawel soal jam pulang. Lha ini kok malah pulang jam 10 malam?

Usut punya usut ternyata kegiatan Farrell luar biasa padat. Sehari-hari sekolahnya sampai jam 4 sore. Usai jam sekolah dia dan teman segenk akan belajar kelompok. Entah itu untuk mengulang pelajaran atau mengerjakan PR. Persaingan nilai terbilang cukup ketat. Selisih sesama murid itu tak sampai 10 point, pasti pakainya koma sekian. Haduw. Bahkan ada teman Farrell sampai pindah sekolah karena nggak sanggup mengikuti ritme pelajarannya.

Sebuah sekolah swasta terkenal di kota Semarang ini sungguh luar biasa mendidik anak-anaknya.  Kebayang nggak sih setiap hari rutinitasnya begitu? Berangkat pagi pulang malam. Remek deh remek. Jika saya jadi murid di sana sudah pasti angkat tangan. Hahaha. Nggak kuat eeeuuuyyy. Wong sekarang kalau lembur diatas jam 9 malam saja sudah kliyengan. Nggak sanggup melawan alarm tubuh.

"Baju sekolah Farrell udah kayak anak kuliahan, lho, Mbak. Nggak seragam lagi."

"Hah????"

Kejutan apa lagi ini? 

Nggosiplah kami tentang sekolah Farrell. Ternyata murid-murid di sekolah ini seragamnya ala anak kuliahan gitu. Cowok bisa bercelana jins, atasan kaos berkerah atau hem dan dipadankan dengan sepatu kets. Cewek boleh pakai rok asal di bawah lutut, celana panjang, atasan hem atau kaos berkerah dan sepatu bebas. Intinya sekolah di sana cukup bebas rapi. Alamaaakkkkkk! Jadi sekarang nggak perlu nyetrika seragam, cukup baju-baju yang formal saja. Hemat? Enggak juga. 

Sowan ke rumah Budhe kemarin benar-benar membuka wacana tentang sekolah jaman sekarang. Peran orang tua dan lingkungan memang berpengaruh banget. Bahkan katanya kalau ada ulang tahun sering dirayain di kafe mahal. Dek, ajak kakak donk. Butuh asupan gizi nih -____-"

Jika saya tak sowan ke rumah Budhe mana mungkin bisa mendengar info terkini? Salah satu info terkininya ya sekolah Farrell yang luar biasa. Takjuuubbbb.

Saya jadi sudah tak sabar untuk berkunjung ke rumah Budhe lagi.


Salam,

@tarie_tarr




2 komentar: