Minggu, 03 April 2016

Pasar Tradisional, Alternatif Liburan Murah Menyenangkan

Pasar Tradisional, Alternatif Liburan Murah Menyenangkan


"Mbak Yuni kalau beli buah di penjual sebelah mana, sih?" tanya saya pada office girl saat mengupas buah di pantry.

"Di Pak Darman, Mbak. Itu loh kios paling ujung sendiri. Lebih murah dan buahnya bagus-bagus"

"Buah lagi mahal banget sekarang, Mbak. Mau cari penjual yang agak miring. Kapan-kapan perlu dicoba belanja di Pak Darman"

Beberapa hari ini saya dirundung kegalauan. Harga buah di pasaran naik drastis. Walaupun sudah memilih buah harga termurah, tetap saja anggaran setiap minggu bertambah. Sedangkan saya tidak bisa absen buah barang sehari. Lambung dan usus saya susah menerima makanan berat sejak belajar pola makan food combining. Walaupun kadang banyak chetting, sarapan buah setiap pagi sudah tidak bisa ditawar. Jika saya bepergian dan kebetulan menginap di hotel masih bisa makan beberapa potong buah. Susahnya jika nginep di tempat temen. Terkadang tuan rumah sudah menyediakan sarapan komplit atau diajak beli di luar sekalian kulineran. Jika sudah begini saya harus banyak-banyak berdoa supaya nggak mules. Tidak mungkin juga saya menolak atau minta dibeliin buah.


Seminggu sekali saya akan keluyuran ke pasar tradisional berburu buah. Kalau lagi kehabisan buah di tengah minggu biasanya melipir ke pasar swalayan. Hitung-hitung sekalian refreshing. Hihi. Motif lain sih membandingkan harga. Terkadang pasar swalayan suka memberikan diskon yang bikin kebat kebit mata.

Pasar Rakyat Jepon
Pasar rakyat di salah satu kecamatan tetangga

Biasanya nggak cuma buah yang jadi sasaran. Jajanan tradisional nggak pernah absen di kantong belanjaan. Saya memang doyan banget sama makanan yang satu ini. Setiap mudik agenda ke pasar nggak pernah terlewat. Gethuk, cenil, cetot, lopis, serabi dan aneka jenis jajanan lain menjadi sahabat saya sejak kecil hingga sekarang. Mereka akan saya temui seminggu sekali.

Gatot jajanan tradisional
Gatot, makanan favorit  saya sejak kecil :D


Sejak kecil saya memang sering diajak ke pasar oleh bapak emak. Cerita tentang pasar menyeret saya pada kenangan beberapa tahun silam. Sebagai anak desa ke pasar adalah liburan yang menyenangkan. Momen yang dinanti-nanti ketika panen tiba, menjelang acara besar di kampung, lebaran, dan libur sekolah. Jauhnya jarak yang ditempuh tak jadi soal. Ngetemnya angkot berjam-jam juga tak pengaruh. Pokoknya bisa ke pasar dan dibeliin jajan. Liburan = pergi ke pasar! Sederhana banget kan?


Pasar Rakyat Jepon
Memandang kayak gini tuh damai banget :)


Kegemaran saya main ke pasar tradisional berlanjut hingga sekarang. Bertahun-tahun merantau pasar tradisional tetap menjadi favorit. Weekend menjadi waktu paling tepat menyusuri lorong-lorong pasar. Bertemu banyak orang dan saling bertegur sapa. Menggunakan bahasa Jawa untuk menawar selalu bikin kangen. Apalagi kalau sudah punya langganan, selalu ada info terbaru soal harga hingga sering dikasih bonus. Saya sering dikasih harga murah tanpa harus menawar dari beberapa langganan loh. Enak kaaann?

Saya selalu menemukan cinta dari setiap orang di pasar tradisional. Cinta yang sulit saya jabarkan bagaimana bentuknya. Kedamaian menyapa dari senyum tulus setiap pedagang. Sapaan khas pedagang terdengar dari balik tumpukan daganngan. Ucapan terima kasih selalu terdengar setiap membeli dagangan mereka. Setiap kali saya jenuh dengan rutinitas, pasar tradisional yang akan menghibur di akhir pekan. Saya tak perlu repot-repot memikirkan itinerary, tiket, penginapan, seperti saat bepergian jauh. Cukup bawa kantong belanjaan, duit secukupnya, nikmati aroma pasar yang begitu khas. Saya selalu suka memandang satu per satu deretan dagangan setiap pedangan. Ada usaha dan doa di setiap tumpukannya.


Cenil jajanan tradisional
Cenil ini enak buanget! :D

Kota tempat saya merantau memang menyediakan beberapa tempat liburan. Jarak yang harus ditempuh juga tak terlalu jauh. Hanya saja harus siap menerjang teriknya sang surya yang bikin kulit eksotis. Bagi saya pasar menjadi pilihan terbaik. Apalagi jarak rumah dan pasar bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sepulang dari pasar masih bisa leyeh-leyeh nonton tivi, baca buku atau nonton film ditemani jajanan pasar. Kenikmatan mewah melebihi apapun.

Tiwul jajanan tradisional
Masih ada lagi favorit saya :D

Liburan ke luar kota, luar pulau atau bahkan luar negeri itu perlu. Katanya kita harus mencari pengalaman sebanyak mungkin. Katanya dengan begitu kita gampang peka dengan lingkungan dan orang sekitar. Tetapi liburan tersebut tentu butuh perhitungan matang dan jauh-jauh hari. Sedangkan stress dan keperluan liburan kadang datang mendadak. Kalau banyak duit sih bisa beli tiket dan pergi kapanpun. Lha kalau lagi cekak? Cukup ke pasar tradisional aja yuk! Jika tak terbiasa berkunjung, anggaplah sedang ngemall :D

Setuju kalau pasar tradisional bisa dijadikan alternatif yang murah dan menyenangkan?



Salam,


@tarie_tarr

3 komentar:

  1. headernya lucu amat #salahfokusdaritulisan

    disini ada cenil sak iprit 5ribu huhuu jadi pengen balik jawa huhuhu

    BalasHapus
  2. Hihihi...sepakay kalau sama pasar yang di Jawa. Kalau pasar tradisional sini...ohhh tidaakk..

    BalasHapus
  3. Pasarnya agak sepi ya? apa krn dah siang?
    Aku tuh lebih suka ke pasar tradisional dr pada pasar modern.
    Lbh asik, krn bisa berkomunikasi lgs dg penjualnya.
    Bisa nawar2 atau sambil becanda, dan bisa liat banyak hal :D

    Aku jg suka gatot, cenil dan segala macam jajanan pasar :D

    BalasHapus