Jumat, 08 April 2016

Perlukah Sharing Kerjaan dengan Rekan Kerja?

Perlukah Sharing Kerjaan dengan Rekan Kerja?

Menginjak tahun ketiga di kantor induk, memaksa saya untuk melek tentang banyak hal. Berbagai dinamika ada di kantor tujuh lantai ini. Pengetahuan bertambah? Pasti! Kesabaran dan kecantikan bertambah? Wajib! *uhuk* Teman dan jejaring makin melebar? Banget! Intinya di kantor induk itu menyenangkan. Terkadang ada juga hal (agak) menyebalkan sebagai bumbunya. Dari kantor inilah saya belajar tentang "elu elu gue gue", kemandirian, tanggung jawab juga kerja keras. Bagaimana menjadi diri sendiri dan bisa survive ditengah gempuran ritme pekerjaan, gaya hidup dan hingar bingar ibukota provinsi *padahal juga cuma ibukota kecil :p 

Sekitar dua ratus tiga puluh karyawan menempati bangunan samping tol ini. Sisanya menyebar ke unit-unit. Jangan heran sewaktu bertandang ke kantor hanya berjumpa segelintir orang. Kalau nggak dinas, sakit, cuti, ijin, ya, memang itu personilnya. Termasuk  sub bagian saya yang hanya empat orang termasuk supervisor. Jika jadwal dinas merepet, ada yang cuti atau sakit, bisa dipastikan satu orang yang stand by di kantor. 


Sejak pindah ke kantor induk, tuntutan untuk dinas harus siap diterima kapan saja. Mulai dari tujuan yang masih bisa dijangkau dalam hitungan jam, harus ditempuh dengan kereta atau pesawat terbang. Entah untuk jangka waktu sehari atau lebih dari itu. Semuanya tergantung jenis kegiatan, jarak tempuh dan waktu pelaksanaan. Mensiasati kerjaan di kantor agar tetap berjalan normal saat dinas atau cuti, saya biasanya "nitip" ke rekan kerja. Namanya nitip terkadang ada yang nggak bisa diselesaikan. Demikian juga saya kalau dititipi, sebisa mungkin diselesaikan. Tapi kalau nggak selesai ya nggak apa-apa. Wong namanya juga nitip.

Melihat ritme pekerjaan, tuntutan dinas luar kota, kebutuhan cuti, sering menimbulkan pertanyaan dalam benak. Pertanyaan yang sengaja saya lemparkan ke beberapa teman. Semacam survey kecil-kecilan. Pertanyaan hasil mengamati hal-hal sepele dan sederhana di kantor. 

Perlukah sharing kerjaan dengan rekan kerja?


Good team and good player!

Beberapa teman kantor menjawab "PERLU". Jawaban mereka disertai berbagai opini yang membuat saya semakin yakin bahwa sharing kerjaan memberi banyak manfaat. Beberapa point yang disampaikan teman-teman saya antaranya :

1. Jaga-jaga jika dimutasi

Selama bekerja, kita tidak mungkin selalu berada di satu bagian atau bidang yang sama. Pasti ada masanya kita akan dimutasi ke tempat lain. Entah ke kantor lebih besar atau unit kecil nun terpencil. Siap tidak siap, mau tidak mau, baik yang akan meninggalkan atau ditinggal harus bisa menerima. Untuk yang ditinggalkan tentu harus siap menerima limpahan pekerjaan selama menunggu pengganti. Bagi yang meninggalkan biasanya hanya diberi jangka waktu tertentu untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya di kantor lama. Jika sudah sharing soal kerjaan masing-masing, nggak akan kaget saat salah satu ada yang dimutasi. Rasanya akan plong meninggalkan kantor tanpa tanggung jawab apapun. 

2. Kaderisasi dan promosi

Setiap atasan pasti ingin staffnya berkembang atau istilah kerennya menjadi "orang". Mereka berlomba-lomba mempromosikan para staff dengan berbagai cara. Terkadang ada yang lupa bahwa ketika berpromosi juga harus dibekali ilmu dan melihat potensi staff. Jangan asal promosi. Nggak mau toh nanti malah mengecewakan orang?

Sharing kerjaan dengan atasan itu perlu banget. Biasanya nanti akan ada diskusi bagaimana satu keputusan penting diambil. Boleh dibilang di sini letak seorang atasan menyiapkan staff untuk promosi. Atasan memberikan contoh secara tidak langsung bagaimana menjadi seorang leader. Saat staff keluar dan menjadi "orang" sudah memiliki bekal yang cukup mumpuni. Apakah kalian suka sharing dengan atasan? Mereka rekan kerja juga loh :)

3. Biar nggak kaget kalau ditinggal cuti.

Bagi saya point ini krusial banget. Kita nggak pernah tahu kan segala sesuatu bisa terjadi kapan saja? Bagi yang sudah berumah tangga, kegiatan domestik bisa membuat seseorang tiba-tiba nggak masuk kerja karena beberapa alasan. Saat seseorang tidak masuk kerja, akan ada satu rute atau mengurangi produktivitas. Misal seharusnya dikerjakan hari itu dan selesai, tetapi terpaksa pending. 

Jika kita sudah sharing kerjaan dengan rekan kerja, tentu bisa minta tolong saat ada hal mendesak terjadi. Memang telah ada job desc masing-masing pegawai, tetapi tidak bisa dipungkiri satu waktu  kita harus cuti. Sharing kerjaan bukan berarti kerjaan kita bisa diambil alih orang lain loh ya :)

Setiap tempat kerja memiliki peraturan dan gaya berbeda-beda. Tidak semua orang juga bisa diajak sharing apa kerjaan mereka. Takut diakuisisi. Hihi.

Gimana di tempat kerjamu? Kira-kira perlu nggak sharing kerjaan dengan rekan kerja?


Salam,

@tarie_tarr

1 komentar: