Kamis, 07 April 2016

Tentang Tiga Sahabat Karib : Dua Jempol Tangan, Gadget dan Internet



"Tari ini selalu sibuk sendiri sama dunia maya. Sesekali donk ngobrol sama manusia," nada protes terdengar nyelekit di telinga.

Wajah saya terangkat dari layar handphone. Memandang mereka dengan penuh tanda tanya.

"Jangan sibuk sama henpon sendiri. Kita kan jarang banget bisa ngumpul kayak gini"

Deg. 

Omaigat ternyata ada yang nggak terima gara-gara saya keasyikan balas whatsapp. Padahal selama ini mereka juga nggak kalah sering nyuekin saya. Hiks. Nasib.

Beberapa waktu lalu saya pernah membaca ada yang membuat peraturan saat hang out. Gadget dikumpulin jadi satu dan nggak boleh diambil sebelum selesai. Peraturan ini dibuat demi kenyamanan bersama. Bukan ngomongnya kangen tapi saat bertemu malah sibuk dengan gadget masing-masing. Sayangnya hal ini belum saya coba dengan teman-teman. Kami belum bisa lepas walau cuma nyecroll sesuatu yang nggak penting.


Saya mulai lebih dalam mengenal gadget pertengahan tahun 2013. Pertama kalinya pindah ke kantor induk yang notabene ada di ibukota provinsi. Kayaknya dulu beli gara-gara kepincut dan terprovokasi teman. Lalu saya berdalih beli handphone baru biar bisa ngetik sewaktu-waktu. Mulia banget, kan? Prakteknya? Mari tanyakan pada rumput yang bergoyang. 

Pelan tapi pasti keseharian saya ditemani si putih yang sekarang sudah almarhum. Kebayang nggak gimana noraknya saya saat itu? Dikit-dikit dicek ada whatsapp, BBM, line, messenger masuk apa enggak. Belum lagi ngecek twitter, facebook walau cuma scroll timeline doank. Ah, masa itu! Hahaha.



"Taro, kenapa kamu bisa ngetik cepet banget sih?" tanya teman dengan wajah penasaran.

"Eeengggg...nganu, aku juga nggak tahu. Perasaan sih sama kayak yang lain deh," jawab saya cengengesan kayak biasa.

"Tapi saat kamu ngetik tanpa melihat layar sama sekali. Masih bisa ngobrol sama orang," teman saya masih nggak puas.

"Kalau itu diluar kuasa. Mungkin ini semacam bakat terpendam," jawaban lain tak kalah cengengesan.

Sering banget pertayaan semacam itu terlontar saat makan siang atau mengikuti pertemuan. Banyak yang bilang mata saya ke depan tapi dua jempol menari riang. Saya juga tidak menyadari itu. Bagi saya itu wajar-wajar saja. Semakin lama saya merasa keranjingan dengan gadget. Kemudahan mengakses informasi melalui handphone membuat saya terperosok pada zona nyaman. Satu zona di mana saya mulai terkenal sebagai anak yang sibuk dengan dunia maya. Kurang lebih beberapa teman merasakan hal itu.

Jika diibaratkan saya hanya berkawan akrab dengan dua jempol tangan, gadget dan internet untuk menelusuri dunia maya. Kami saling bergandengan dan tertawa bersama. Saya dimanjakan kemudahan hanya dalam satu genggaman. Saya mulai dibius dan dihipnotis untuk melupakan teman nyata.

Terjebak internet

Perkenalan saya dengan internet pertama kali terjadi baru tahun 2009. Dimana saat itu handphone saya masih jadul. Hanya bisa digunakan untuk SMS dan telepon. Suatu kali dosen tercinta  mengharuskan semua mahasiswanya punya email. Akhirnya kami berbondong-bondong ke warnet. Alhasil tak hanya email yang dipunya, facebook juga nggak mau ketinggalan. Sebagai anak yang masih ababil, dulu saya juga menggunakan nama alay loh. Kalau inget bawaannya pengin nutup muka pakai wajan. Hahaha.

Internet menjadi hal baru dan mengasyikkan pada tahun itu. Punya uang saku dikit ke warnet. Alasan sih nyari bahan buat tugas. Aslinya mainan facebook atau browsing nggak penting. Seperti anak muda pada umumnya, saya dulu hobi banget bikin status di facebook. Apa-apa dibikin status. Entah senang sedih bahagia terharu. Nggak peduli. Belum lagi keranjingan ngetag sana sini. Kebanyakan ngeluh bla bla bla. Saya nggak pernah ambil pusing apakah status itu menyindir atau menyakiti orang lain. Nggak pernah mikirin sampai ke sana. Pokoknya saya senang.

Bertahun-tahun saya berkubang di zona keababilan. Mengumbar semua aktivitas di facebook. Saat punya twitter juga sama. Saya nggak pernah tahu atau memang tidak mau tahu bahwa sosial media bisa jadi teman juga musuh. Puncaknya saat saya sudah berkantor di Semarang. Punya gadget baru dan sangat disayang-sayang. Pulang kerja saya bisa tiduran dan scroll timeline berjam-jam. Atau saat makan siang bersama saya lebih banyak mainan gadget. Nggak salah sih kalau teman-teman protes.

Saya terlena oleh gadget.

Saya terpesona daya magis internet.

Sosial media menjadi tempat saya nyampah.

Hingga suatu hari...

"Taro, nggak semua kejadian atau kegiatan dibikin status. Sosial media bisa jadi kawan sekaligus musuh kita. Hati-hati."

Sebuah pesan datang dari seorang kakak ketemu gedhe, Dewi Rieka atau Dedew. Saya lupa saat itu kami sedang ngobrol tentang apa. Hal terpenting adalah Mbak Dedew sudah menolong saya dari jebakan berinternet yang tidak sehat. Terutama soal mengungkapkan perasaan di sosial media. Mbak Dedew menyadarkan saya dengan cara tersendiri. Tanpa menyakiti perasaan saya sedikitpun. 

Apakah setelah itu saya nggak pernah bikin status di sosial media?

Nggak pernah kecolongan curhat?

PERNAH.

Apakah saya nggak pernah mengakses internet lagi?

Masih donk. Sampai sekarang. 

Tetapi saya mulai membatasi diri. Mengatur waktu yang pas untuk mengakses internet. Menahan diri untuk nggak membuka sosial media lewat handphone di saat kerja. Sungguh ini sangat sulit, Dab! Notifikasi seringkali memancing :(((

Perlahan tapi pasti saya berusaha untuk insyaf. Apalagi sejak masuk ke dunia blogging. Saya mulai mengenal banyak orang. Saya melihat, mengamati, membaca dan berinteraksi di dunia maya. Banyak hal terjadi di sana. Hiruk pikuk dunia maya sama seperti kehebohan saat boss meeting mendadak dan diminta menyiapkan data. Saya mulai sadar bahwa apa yang dibilang Mbak Dedew itu benar. Sekarang jika perasaan sedang meluap-luap, terutama saat marah dan emosi, saya sangat menghindari sosmed. Saya menutup semua akses internet. Memilih tidur atau pergi naik sepeda motor keliling kota. Begitupun jika sedang bahagia atau berduka. Mau nangis-nangis sampai mata bengkak saya milih melipir ke orang terdekat. Orang yang bisa saya whatsapp jam berapapun. Orang yang menyediakan telinga dan hati kapanpun saya butuh.

Apakah saya berhasil?

BELUM.

Semua itu butuh proses. Semua itu butuh waktu.

Saya masih dalam taraf menyesuaikan diri. Dulu saya yang keranjingan nyetatus harus memaksa menahan jempol. Dulu saya yang bisa berjam-jam nyecroll timeline harus mengalihkan diri dengan kegiatan lain. Dulu saya yang suka komen dan ngetag orang lain berusaha memilah dan memilih. Nggak semua harus dikomen. Nggak semua harus ditag. 

Saya masih sering ngetweet hal-hal sepele. Kadang ungkapan perasaan. Kadang hanya sekadar mengucapkan salam, pamer sarapan atau hal sepele lain. Saya terkadang juga masih nyetatus di facebook. Tetapi satu hal yang saya tekankan pada diri sendiri. Status atau tweet saya jangan sampai menyakiti orang lain. Semoga ini tidak pernah terjadi. Status tersebut setidaknya cinta damai. Apalagi kalau bermanfaat. Jika dianggap menyakiti semoga masih ada yang bersedia mengingatkan. Manusia tak luput dari khilaf bukan? Bantu saya ya, kawans!

Alhamdulillah banyak teman yang selalu mengingatkan saat kekhilafan melanda. Di sinilah saya mulai merasa merasakan energi positif dari internet. Saya menemukan teman-teman baik, sahabat-sahabat baru dan saudara. Saya melihat masih banyak orang yang selalu berpikiran positif dan menebar manfaat untuk sesama. Dari sanalah saya menimba banyak pelajaran. Bagaimana bersikap di dunia maya dan nyata. Hal terpenting yang selalu ditekankan teman adalah menjadi diri sendiri. 

Mempunyai banyak teman di dunia maya membuat keseharian saya banyak berurusan dengan internet. Urusan ini lebih pada untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi biar nggak putus. Terkadang saya suka uring-uringan saat posisi urgent tetapi internet ngadat. Doh, bawaannya pengin misuh-misuh dan pasang status. Sayang lagi ngadat. Hahaha.

Kekesalan saya mulai pudar seiring beberapa provider mengupgrade jaringannya menjadi 4G. Sebagai anak muda yang nggak mau ketinggalan jaman saya ikutan upgrade donk. Pengin nyobain rasanya mengakses internet tanpa hambatan. Streaming tanpa buffer sedikitpun. Selalu bisa update informasi (walau saya banyak ketinggalannya) dan menjalin silaturahmi dengan teman-teman maya.

Dua bulan lalu saya upgrade nomor IM3 Ooredo ke 4G. Awalnya memang karena kebutuhan mengakses internet sangat besar. Lalu didukung kota tempat saya tinggal sekarang sudah difasilitasi jaringan 4G. Jadi mari dimanfaatkan dengan baik dan benar. Hasilnya sama sekali nggak mengecewakan. Malah keenakan buat seluncuran di dunia maya. Hahahaha.

Semenjak upgrade 4G dan pindah paket ke freedom combo, tingkat uring-uringan saya berkurang sedikit demi sedikit. Mainan internet sampai bosen paket nggak abis-abis *sombong. Mau nonton youtube berjam-jam tanpa buffer sedikitpun. Mau kepoin gebetan  langsung wush wush wush *eh. Gimana enggak merasa dimanjakan banget coba?

Apa sih freedom combo?

Freedom combo merupakan paket layanan dari Indosat Ooredoo yang memberikan kebebasan akses layanan bagi penggunanya. Mulai dari double kuota tanpa harus bayar ekstra, unlimited telpon dan sms sesama nomor IM3 Ooredoo, kuota dengan harga tetap seharian, jaringan 4G tercepat di Indonesia, dan spotify nggak pakai kuota. 



Indosat Ooredoo meluncurkan 4G dengan didukung paket freedom combo berbagai ukuran loh. Saya memilih ukuran M, sesuai postur tubuh yang kurus tinggi dan langsing. Hihihi. Ini bukan ukuran baju loh yaa. Ada 4 ukuran yang tersedia. Tinggal sesuaikan ukuran kebutuhan sebulanmu ya!

1. Paket M. Harga paket 59 ribu untuk 30 hari dengan fasilitas kuota 1GB + 1GB (4G) + Bonus 10GB (4G). Unlimited SMS dan telepon.

2. Paket L. Harga paket 99 ribu untuk 30 hari dengan fasilitas kuota 3GB + 3GB (4G) + Bonus 10GB (4G). Unlimited SMS dan telepon.

3. Paket XL. Harga paket 149 ribu untuk 30 hari dengan fasilitas kuota 5GB + 5GB (4G) + Bonus 10GB (4G). Unlimited SMS dan telepon.

4. Paket XXL. Harga paket 199 ribu untuk 30 hari dengan fasilitas kuota 10GB + 10GB (4G) + Bonus 10GB (4G). Unlimited SMS dan telepon.



Sudah tiga bulan saya menikmati fasilitas layanan freedom combo. Bulan kedua saya mengalami drama kekurangan kuota. Kok bisa? Ceritanya paket M tersebut saya gunakan untuk tethering berjam-jam. Eh, tahu-tahu kuota abis. Hiks. Jebol deh anggaran untuk pulsa. Akhirnya sekali lagi karena tingkat kebutuhan berinternet yang tinggi, saya membeli kuota tambahan atau paket extra sebesar 2GB. Herannya habis juga. Hahaha. Seminggu sebelum paketan habis saya beli lagi 4GB. Bulan Maret menjadi rekor terboros sepanjang menggunakan kuota internet. Ampun!


Sebagai embak kantoran dan telepon sebagai salah satu sarana berkoordinasi, saya merasa tertolong dengan paket freedom combo. Apalagi kalau enggak soal telepon dan SMS yang gratis! Teman-teman kantor banyak menggunakan IM3 jadi saya nggak perlu khawatir anggaran pulsa bertambah lagi. Mau telepon membahas kerjaan sampai beres nggak masalah. Gratis. Mau ngegosip sampai bibir jontor juga oke-oke aja. Gratis. Mau SMSan sampai berbusa-busa juga gratis. Ngirit banget, kan?


Dulu saya sering kelupaan ngecek paket internet. Biasa embak kan pelupa kelas akut. Ujung-ujungnya pulsa kesedot. Hiks. Boros banget. Nangis bombay anggaran buat internet membengkak. Belum lagi kalau paket unlimited dan di tengah sampai akhir bulan ngadat. Alamak pengen ngebanting handphone ke kasur. 


Sekarang saya menggunakan aplikasi My Care dari Indosat Ooredoo di handphone. Kapanpun saya bisa ngecek sisa paketnya. Termasuk pulsa dan jatuh tempo paket. Nggak perlu khawatir akan kecolongan lagi. My Care menjadi rambu-rambu apakah saya harus nambah paket extra atau tidak. Saya juga tahu tingkat penggunaan kuota baik yang paket kuota biasa dan 4G. 

Paket freedom combo menawaekan kemudahan mengakses internet dalam genggaman. Komunikasi baik dengan media chatting, telepon maupun SMS semakin gampang. Entah mau ngobrol mulai dari pagi, siang, sore sampai malam. Nggak ada cerita lagi soal pesan nyangkut di tengah jalan.

Tantangan saya untuk menekan diri dalam menggunakan internet sangatlah besar. Berbagai macam fitur sosial media yang ada di handphone seringkali mengecoh. Jika saya tidak punya niat yang kukuh tentu akan terjerat ke dalam kubangan masa lalu. Kembali ke masa ababil. Enggak. Saya enggak mau. Saya harus move on!

Sekarang saya sedang menerapkan diri dengan membagi waktu sesuai porsi. Saat hang out dengan teman sebisa mungkin tidak buka handphone. Masih suka gagal dan pengen jitak diri sendiri. Mengakrabkan diri dengan mengobrol apa saja. Jika sudah di rumah saya mulai menyapa teman-teman di dunia maya.

Tiga sahabat karib saya akan terus menemani. Tentu jika saya masih mampu beli kuota internet. Hihi. Dua jempol tangan, gadget dan internet memang sahabat saya diatas jam 6 sore dan hari libur. Tetapi teman-teman di dunia nyata juga tidak boleh dilupakan.


Salam,

@tarie_tarr

1 komentar: